Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (03)

Sekarang kita memasuki bagian ketiga dari perbincangan soal sumber daya kita dan preferensi fotografi. Masih berkisar soal jebakan dari pemilihan alat foto paling vital yaitu kamera. Di awal-awal fotografi digital, kita sering membaca para penggemar fotografi di Indonesia sering menyinggung-nyinggung masalah SARA dalam forum-forum diskusi, berkenaan dengan “agama” alias kefanatikan terhadap mereka kamera tertentu.

Mencari buah matang di senja hari, Gunung Halimun ©2007

Saat itu ada dua agama yang sama-sama berasal dari Jepang. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh para pemasarnya, semata-mata mendongkrak bisnis. Mengapa? Dengan mengangkat masalah SARA fotografi ini, akhirnya dua agama itulah yang “tampaknya” mendominasi jagat –terutama– kamera SLR.

Pangsa pasar SLR mungkin bukan yang terbesar dari jumlah unit yang terjual, tetapi jika dari margin keuntungan jelas paling besar. Pengguna kamera jenis ini akan cenderung mengembangkan dua hal, pertama memperbanyak koleksi lensanya dan kedua melakukan upgrade bodi kameranya. Ujung-ujungnya adalah menggemukkan kocek produsen.

Sebetulnya apa yang membuat timbulnya sebutan “agama” dalam pemilihan alat fotografi? Yang pertama-tama untuk seseorang pemeluk agama tertentu, ia kemungkinan besar selamanya akan memeluk agama tersebut. Akan sulit sekali bagi seseorang untuk pindah “agama”. Kalau memilih sistem kamera SLR tertentu yang membuatnya jadi semacam “agama” adalah koleksi lensanya.

Bagian yang termahal dari sebuah kamera adalah lensanya. Sistem optik ini biasanya berkembang sesuai dengan keahlian si fotografer. Ia akan melakukan investasi yang cukup besar untuk mempunyai jenis lensa yang cukup beragam agar ia bisa melakukan fotografi sesuai keinginannya.

Di sisi lain banyak pemula yang ingin belajar menggunakan kamera SLR kemudian terjebak oleh jargon “agama”. Membeli satu paket kamera dengan lensa kit seolah-olah sudah membuat sang pemula memeluk “agama” tertentu. Ini pemahaman yang kurang tepat.

Di ujung lain, sebetulnya “agama” fotografi di dalam ranah teknologi digital saat ini menjadi nisbi. Seperti disebutkan terdahulu, konvergensi teknologi memungkinkan semuanya itu. Munculnya teknologi baru yang dilakukan oleh para pemain baru dengan terobosan teknologi kini bisa mengambil alih dominasi merek-merek lama.

Di dunia komputer, lima tahun lalu kita tidak membayangkan bahwa Apple akan cukup mendominasi smartphone dengan iPhone. Di dunia kamera sinema, beberapa tahun lalu kita tak mendengar adanya kamera Red yang kini bahkan dipakai oleh sutradara Peter Jackson untuk membuat The Hobbit, prequel dari Lord of The Rings. Red bahkan didesain oleh pembuat kacamata Oakley, hampir tak ada hubungannya dengan dunia sinematografi bukan?

Di dunia kamera, terobosan-terobosan baru tidak saja dilakukan oleh para pelaku lama. Dulu kita tidak mengenal sistem 4/3 yang kini dipopulerkan oleh Panasonic dan Olympus. Sekarang bahkan berkembang model kamera SLR yang translucent mirror hingga yang mirror-less. Fuji X-100 bahkan mengembangkan hybrid view finder untuk mengisi celah pasar kamera range finder, yang belum diisi oleh Leica yang merajai jenis ini dengan seri M-nya.

Dengan melihat cakrawala perkembangan teknologi, memang “agama” di dalam fotogafi menjadi kurang relevan lagi. Yang membuat orang menjadi tetap memeluk “agama” fotografi adalah seberapa banyak lensa yang dia punya. Jika hanya 1-2 lensa rasanya belum “beragama” 🙂 Jadi, jangan terlalu fanatik dengan “agama”, jadilah humanis dahulu.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (02)

Sebelum kita bahas jebakan ketiga dalam memilih kamera, patutlah dicatat bahwa jebakan-jebakan ini bukanlah sesuatu yang dibuat oleh industri fotografi dengan sengaja untuk memperdaya konsumen. Industri fotografi memang mau tidak mau harus mengembangkan pemasaran produknya sedemikian rupa sehingga berlebihan, karena industri fotografi itu sendiri mengalami perubahan besar. Kalau di produk elektronik kita mengenal konvergensi, hal itu merambat pula ke produk kamera.

Air menghitam di Bengawan Solo © 2009

Dahulu kita hanya mengenal beberapa merek kamera saja, seperti Nikon, Canon, Pentax, Olympus, Hasselblad, dan lain-lain. Kita mengenal Sony, tetapi sebagai peralatan video, juga Samsung sebagai peralatan elektronik. Karena teknologi digital, yang terjadi sekarang adalah konvergensi (pembauran) dalam industri –terutama– elektronik. Industri kamera pun sekarang dasarnya adalah industri elektronik yang memakai sarana optik (lensa).

Handphone (hp) bisa buat memotret, kamera still bisa merekam suara dan video, bahkan menjadi GPS. Pabrik kamera terbesar, paling tidak dua tahun lalu, bukanlah Nikon atau Canon, melainkan Nokia. Karena tiap hp yang dibuat memiliki kamera. Bahkan GE (General Electric) pun sekarang membuat kamera digital.

Dengan mudah dan murahnya memotret, pasar kamera digital juga meledak beberapa tahun terakhir. Namun dengan harga murah, tingkat keuntungan juga menipis dan daur hidup kemajuan teknologinya memendek. Akhirnya mau tidak mau mereka berlomba menawarkan fitur-fitur baru tiap bulan, bahkan tiap pekan.

Konsumen banyak yang diuntungkan, tapi banyak pula yang dirugikan. Yang diuntungkan adalah yang bisa memilih, karena punya informasi yang cukup. Yang dirugikan adalah yang tidak bisa memilih karena tidak punya informasi atau terlalu banyak informasi sehingga kebingungan.

Kita ambil contoh pemilihan kamera pertama bagi seorang pemula. Banyak orang yang ingin belajar fotografi memiliki kamera point and shoot (poket). Di jaman fotografi analog pemula tidak sesulit kelarang memilih kamera poket. Saat itu hanya ada dua jenis, yang lensanya fixed (biasanya 35mm) atau yang lensanya zoom.

Saat ini kamera pocket digital dibagi lagi untuk yang: pemula awam; yang pemula tapi stylish (biasanya ditandai dengan desain menarik, atau warna yang atraktif); yang pemula mahir ditandai dengan fungsi manual atau fitur lebih lengkap, body metal; sampai pemula yang suka jalan-jalan dengan fitur body tahan banting dan tahan siraman air.

Untuk yang SLR (single lens reflex) pun saat ini terbagi-bagi pula. SLR terbagi pada tingkatan pemula, lanjutan hingga profesional. Yang tingkatan pemula biasanya mudah ditandai dengan mteod penjualan bundling alias paket body plus lensa. Nah saat ini bahkan untuk kamera-kamera SLR yang di tingkat lanjutan dan profesional pun ditawarkan dengan bundling. Gejala apa ini?

Jika para fotografer profesional dan mahir yang ingin mengupgrade kameranya dengan model yang lebih baru, mereka rata-rata sudah memiliki lensa yang cukup. Jadi pembelian pun hanya body kameranya saja. Artinya, banyak pemula yang terjebak untuk membeli kamera guna belajar dengan membeli kamera untuk tingkat lanjutan secara bundling.  Pemula seperti ini biasanya memiliki banyak uang dan menganggap dengan membeli kamera mahal fotonya akan menjadi lebih bagus 😉

Di bawah ini sekilas pembagian kamera digital saat ini. Bila ada yang kurang jelas silakan tanya, atau tunggu ulasan berikutnya.

Sudiyo (01)

Kakek itu masih berjalan dengan tegapnya mendaki ke arah kawasan hutan di atas bukit desanya. Di beberapa titik ia berhenti dan menyapa beberapa pria yang sedang bekerja di pembibitan pohon. Sampai di jalan masuk hutan, ia berhenti dan duduk di atas pipa yang mengalirkan air dari tiga sumber di Hutan Adat Wonosadi.

©2010

Cucunya yang sejak tadi mengiringi mengambil tempat tak jauh darinya. Sepilah bambu sejengkal tangan dikeluarkan, dipegang di depan mulutnya dan ditarik berbareng dengan hembusan getaran udara dari rongga mulut. Sang kakek meningkahi dengan denting senar-senar yang membujur di atas sebatang bambu bulat. Tak lama kemudian menggaung suara eksotik di dalam hutan dari duet kakek-cucu. Sang kakek menembang dengan syahdu.

Alat musik yang bernama rinding itu hanya salah satu dari upaya Sudiyo, sang kakek, untuk melestarikan alam dan budaya desanya. Upaya pelestarian lainnya adalah hutan itu sendiri. Hutan yang diberi nama Hutan Adat Desa Wonosadi itu membentang seluas 25 hektar, rimbun kukuh di perbukitan batas desa.

Melihat topografinya, hutan ini memang layak dilestarikan. Tingkat kemiringannya pun mengisyaratkan terjadinya erosi, bahkan ancaman tanah longsor apabila tak ada pepohonan rimbun yang menyerap dan menampung air hujan. Bencana bukan tak pernah singgah di Wonosadi,“Tahun 1964-1965 hutan ini gundul sebanyak 99 persen. Mata air mati, terjadi erosi, banjir kerikil dari gunung,” kenang Sudiyo.

Sudiyo mengakui bahwa kondisi politik masa itulah yang menjadi salah satu pendorong rusaknya hutan Wonosadi. ”Waktu itu kan pamong desanya kan ketua PKI. Lurah juga orang PKI, dia bilang,’itu kan hutanmu, di-tegori (tebangi-red) aja kalau butuh.’ Waktu itu politiknya PKI kan membodohi masyarakat agar miskin. Kalau sudah  miskin harta, miskin pengetahuan, kan mudah dipengaruhi.”

Waktu itu Sudiyo sudah menjadi guru selama 6 tahun. Walaupun dipandang cukup berpendidikan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dominasi kekuatan politik PKI waktu itu. ”Saya juga takut,” akunya.

Selewat tahun 1965, lurah desa dijabat seorang polisi, saat itulah ia meminta Sudiyo yang dianggap sebagai seorang muda yang berpengetahuan untuk memulihkan hutan Wonosadi. Selain dipandang berpengetahuan seorang Sudiyo muda juga dipandang pantas karena keluarganya turun temurun menjadi juru kunci hutan itu.

Setelah saya memulihkan hutan tahun 1966, lalu  masyarakat kami kerahkan untuk menanam pada musim penghujan menanam kayu-kayuan dalam hutan, kayu apa saja, dengan syarat tidak boleh mematikan tumbuhan kayu yang tumbuh dengan sendirinya,” kenangnya.

Masyarakat desa menuruti ajakan Sudiyo. Tentunya menanami hutan kembali tidak bisa segera terlihat hasilnya. Mereka bekerja bersama hingga tahun 1969 terlihat pohon-pohon mulai tumbuh lagi. Pohon kayu semacam pohon jati (tectona grandis), pohon sengon (albizia falcataria), pohon johar (senna siamea) dan pohon mahoni (swietenia macrophylla) mereka tanam. Selain menanam baru, pokok-pokok tegakan pohon di hutan yang masih ada seperti pohon gondang (keluarga beringin, ficus variegata) dan pohon sengkek dibiarkan tumbuh.

Diakui oleh Sudiyo, masyarakat desa mengikuti ajakannya bukan karena pertimbangan lingkungan semata. Masalah kepercayaan juga menjadi latar belakang keinginan mereka memperbaiki Hutan Wonosadi. Mereka percaya orang-orang PKI yang tertumpas pada tahun 1965 itu sebagian disebabkan karena tingkah laku menebang hutan serampangan.

Ada cerita pula bagaimana sebuah keluarga melanggar pantang untuk menebang kayu di musim kemarau untuk membuat rumah. Rumah yang mereka bangun lalu  terbakar. ”Itu karena kekuatan gaib,” yakin Sudiyo.

Kekuatan gaib itu diyakininya bisa selaras juga dengan ajaran religi. Seperti keimanan yang meyakini bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, disepakati oleh Sudiyo.”Kalau menguasai alam untuk hidup itu tidak apa-apa. Misalnya tumbuhan untuk dimakan ya boleh dilakukan. Tapi bagi tumbuhan yang memastikan kelanjutan hutan ya tidak boleh. Kalau lebih banyak merusaknya seperti menebang hutan dan tumbuhan hingga mengeringkan mata air itu kan memutus hidup namanya. Sebagai khalifah di dunia, manusia itu harus memelihara daripada ciptaan Tuhan, iya toh?”

Pandangan lain soal hutan dan alam oleh Sudiyo adalah posisi kita sebagai pelaku di tengah jaman. Dari generasi sebelumnya kita mengusung amanat orang tua, bagi generasi berikutnya kita dititipi sumber daya itu agar bisa dimanfaatkan oleh anak cucu.

Posisi terhadap generasi sebelumnya dijabarkan olehnya,”Sopo sing urip-urip  –siapa yang memelihara–? Orangtua, maka taatilah mereka.  Seperti menjaga hutan ya taatilah, jangan dirusak hutannya orangtua. Orang jawa bilang mikul dhuwur mendem jero, menjunjung tinggi contoh yang baik dari orang tua dan menguburkan dalam-dalam hal yang kurang baik.”

Ia juga meyakini tanggung jawab berikutnya,”bahwa hutan ini bukan hutan kita tapi titipan anak cucu, ini tertulis di dalam aturan soal hutan ada Wonosadi. Dalam agama, kalo mati hanya membawa 3 hal. Pertama, ibadah. Kedua, ngamal. Kita buat hutan kan beramal buat anak cucu. Ketiga, kiriman anak cucu. Kiriman itu apa? Ya doa dari anak cucu. Kalau kita membuat hutan, kita mendapat ucapan terimakasih dari anak cucu. Anak cucu kita ingat, ’untung si mbah dulu membuat hutan.”

Keyakinan-keyakinan itu ditularkannya ke masyarakat desa. Tidak dengan model menggurui, tetapi dengan –istilah Sudiyo– nggonceng alias menumpang. Di desa yang masih kental dengan peristiwa-peristiwa komunal dimanfaatkannya. Misalnya ada rapat dusun atau upacara orang habis melahirkan atau kematian, mereka jagongan –berkumpul sambil berbincang–. Untuk berbincang mengenai pelestarian hutan, Sudiyo memulainya dengan pertanyaan sederhana. Apakah ada sesuatu yang buat kita lakukan untuk anak cucu?

bersambung…

Notes: ini adalah seri profil bersambung untuk buku mengenai Kehati Award.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (01)

Ini adalah bagian kedua membumikan preferensi fotografi kita dengan dua sumber daya yang lain yaitu waktu dan uang. Jangan sampai terbuai oleh godaan-godaan hasil foto yang indah tanpa anda memikirkan prosesnya. Proses pertama tentunya menyangkut pengadaan alat dan biaya-biaya untuk melakukan melaksanakan kegemaran ini.

Serasah di dasar rawa gambut, Tanjung Puting ©2002

Alat yang esensial adalah kamera. Untuk masalah memilih kamera ini banyak jebakan-jebakannya yang berujung pada bolongnya kantong kita alias bokek. Jebakan pertama adalah soal pixel. Pixel alias picture element adalah satuan untuk mengukur besaran imaji digital. Makin besar kemampuan sensor untuk menangkap pixel umumnya berbanding lurus dengan besarnya imaji yang dihasilkan.

Hingga akhir tahun lalu kita masih mendengar perlombaan pixel di dalam industri kamera yang berlomba menghasilkan sensor dengan ukuran lebih besar yang berarti lebih bagus atau lebih hebat. Banyak juga fotografer yang kemudian mengincar sensor yang besar dengan asumsi fotonya akan lebih bagus.

Sampai derajat tertentu, asumsi itu benar. Artinya ada minimal pixel yang diperlukan untuk menghasilkan foto yang bagus, menunjukkan cukup banyak pixel yang tertangkap untuk menampilkan detil gambar, saturasi warna, hingga menghilangkan fringement foto pada situasi intensitas cahaya rendah. Namun tentunya ada juga besaran optimal dari pixel untuk kegunaan fotografi itu sendiri.

Berapa besaran pixel yang optimal? Tidak ada angka yang pasti, semuanya tergantung kegunaan. Anda harus kembali pada penggunaan foto-foto yang dihasilkan. Sebagian besar foto yang kita hasilkan berujung untuk display pada layar monitor komputer, baik itu di monitor kita ataupun monitor orang lain saat kita berbagi foto itu melalui jejaring sosial. Untuk memenuhi layar monitor saat ini, resolusi yang umum adalah 1280 x 800 pixel. Ukuran sebesar itu sudah bisa dipenuhi oleh sensor sekecil 3 Megapixel, bahkan kurang.

Sebagian orang akan bertanya, apa kita tidak sebaiknya memotret dengan kamera dengan sensor sebesar mungkin? Jika filenya dibutuhkan untuk cetak besar 20R guna pameran bagaimana? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita sebaliknya bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak kita mencetak foto dalam setahun atau dua tahun terakhir? Seberapa besar cetakannya?

Saya yakin sebagian besar orang tidak mencetak lebih besar dari ukuran 10R. Untuk mencetak sebesar itu sensor sebesar 6 Megapixel sudah cukup. Kalaupun ingin lebih sempurna gambarnya dan bisa mencetak sebesar ukuran A3 (297mm × 420mm) dengan ukuran 10-11 Megapixel sudah bisa tercapai.

Sampai di sini sebetulnya sudah cukup batasan besar pixel sensor yang umumnya kita butuhkan. Saat ini banyak iming-iming industri fotografi dengan embel-embel kategori kamera “prosummer” dan menaikkan kapasitas sensornya hingga 16-18 mega pixel. Sungguh, kecuali anda benar-benar ingin mencetak ukuran besar lebih besar dari A3 atau menjadi profesional, tidak perlu termakan oleh iming-iming itu.

Jebakan kedua adalah teknologi. Kita akan membicarakan dua contoh jebakan teknologi di sini. Pertama adalah hype soal HDR (High Dynamic Range), yang mana teknologi mencoba mensimulasikan kemampuan mata kita dalam menangkap spektrum intensitas cahaya dalam suatu adegan.

Mata kita mempunyai sensor yang luar biasa hingga bisa menangkap intensitas cahaya sebuah benda dalam bayangan di bawah terik matahari siang bolong. Sensor kamera hingga saat ini masih menyerah dalam kondisi intensitas cahaya yang ekstrem perbedaannya. Untuk itu dipakai teknologi HDR dengan mengambil sebuah adegan yang sama berulang kali dengan variasi penyerapan cahaya yang berbeda-beda.

Biasanya cahaya intensitas tinggi, intensitas sedang dan intensitas rendah yang direkam. Kemudian hasilnya dikomputasi dan digabungkan sehingga mendapatkan sebuah foto yang menangkap intensitas tinggi sampai rendah di dalam sebuah adegan yang kontras cahayanya besar.

Teknologi ini berguna, tetapi jangan sampai termakan kecap industri fotografi dengan adanya HDR ini masalah kontras yang besar dalam foto bisa diatasi. Dalam keadaan tertentu HDR sangat bermanfaat untuk foto-foto pemandangan dan foto-foto keadaan yang still lainnya (arsitektur dan lain-lain).

Apabila anda senang memotet keadaan yang dinamis seperti manusia dan polah tingkahnya, peristiwa kemanusiaan ataupun olahraga, jangan berpikiran HDR akan membantu. Karena HDR digunakan dengan mengambil foto beberapa kali dan mensadwichnya di dalam prosesor. Jika sebuah adegan obyek bergerak, ia akan menjadi seperti multiple shots dalam satu frame atau time lapse photography. Tentunya anda tidak ingin ini terjadi pada foto anda. Mungkin suatu saat teknologi HDR bisa dikemas dalam satu kali pengambilan, nah itu saatnya kita menggunakannya secara optimal.

Contoh jebakan teknologi lain adalah perkembangan kamera 3 dimensi saat ini. Teknologi 3D adalah sesuatu yang baru, dan sebagai teknologi yang layak dikonsumsi sebetulnya masih prematur. Namun tuntutan persaingan industri mengharuskan para produsen untuk berlomba menghadirkan teknologi dan terkadang konsumen menjadi seperti “kelinci percobaan” untuk mengetes produknya.

Menghadapi tawaran teknologi canggih itu, tidak ada cara selain bersabar dan mengikuti perkembangan teknologi tersebut hingga cukup “matang” di tingkat konsumen, artinya kemudahan penggunaan, format yang universal dan lain-lain. Itu pun setelah matang harus kita timbang lagi apakah kita memang membutuhkannya?

bersambung…

Quito

Berbagi cerita saat mengunjungi Quito untuk mendaki Cayambe dan Chimborazo. Mengiringi upaya teman-teman pendaki wanita yang mendaki puncak-puncak salju katulistiwa guna menggalang dana untuk penyakit Lupus. Semoga niat baik itu mendapat lindungan, lancar selama perjalanan dan selamat kembali ke tanah air.

Ibukota Ecuador dengan ketinggian 2.850 meter, Indian Inca dan Mestizo berbaur di sana. Ada permainan voli tiga orang yang menjadi arena judi. Wanitanya cantik-cantik. Sebelum mendaki gunung, Tantyo Bangun menceritakan perjalanannya.


Dua orang pria di downtown Quito (hanya jumpa satu foto Quito yang sudah terscan 🙂 ©1990

Suara pilot terdengar merdu di telinga. Mengumumkan bahwa pesawat akan segera menurunkan ketinggian, bersiap mendarat. Setelah tujuh jam terbang terguncang-guncang dari Mexico City karena cuaca buruk, akhirnya mendarat juga di bandar udara internasional Quito, ibukota Ecuador.  Lega rasanya bisa menginjak daratan lagi.

Begitu menuruni tangga pesawat, angin dingin langsung menerpa muka. Baru ingat kalau kota ini terletak hampir 3.000 meter di atas permukaan laut. Bisa jadi ia merupakan ibukota tertinggi di dunia.

Quito tampak dari udara bagaikan sarang lebah dipagari gundukan pegunungan Andes. Ia terletak di sisi Coldillera Blanca bagian tengah dari pegunungan Andes. Karena itu ia merupakan bagian yang unik. Geografisnya masuk di daerah tropis, tapi memiliki banyak gunung bersalju. Bahkan beberapa diantaranya masih aktif bergolak. Namun, ini bukan berarti situasi politik negeri itu juga turut bergolak. Paling tidak pada saat kunjungan saya.

Mulanya memang sempat terpikir bahwa negara ini situasinya ikut “panas” juga. Apalagi waktu masuk bagian imigrasinya. Banyak petugas berseragam militer mondar-mandir. Saya rasa mereka belum pernah mendengar nama Indonesia. Maka besar kemungkinan prosedur akan tambah rumit.

Untunglah dugaan saya meleset. Petugas imigrasi cuma heran, kamu datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk naik gunung. Tapi mereka tetap ramah juga. Hanya faktor bahasa saja yang sedikit menghambat. Kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi Ecuador ternyata minim, sedangkan untuk bahasa Spanyol, kami cuma mengandalkan kamus. Gejala ini ternyata jadi hal umum di Quito. Di sana orang masih jarang yang bisa berbahasa Inggris. Akibatnya kamus saku kecil keluaran Berlitz itu jadi kitab suci saya selama di Quito, selama belum pergi ke daerah pegunungan. Di daerah pegunungan, digunakan bahasa Indian Quencha.

Dari bandara, saya ke hotel dengan menyewa sebuah van. Dan ini merupakan pengalaman pertama saya tertipu dalam soal-soal transportasi. Si wanita pemiliknya berhasil meyakinkan saya bahwa Hotel Grand Casino, hotel yang saya tuju terletak jauh di kota tua. Jadilah ongkos yang saya bayar dua kali dari yang seharusnya. Dino, bell boy Hotel Grand Casino mentertawakan saya sewaktu mendengar cerita itu.

Hotel Grand Casino bukan hotel berbintang. Tanpa AC dan air hangat dan shower-nya hanya kadang-kadang saja keluarnya. Untungnya udara cukup dingin. Tentu saja sewanya murah. Hanya 7 dollar Amerika semalam untuk double room. Tetapi bukan karena sewanya murah saya pilih di situ, sebab rata-rata tarif hotel memang murah.

Bandingkan saja tarif Hotel Grand Casino dengan Residencial Los Alpes. Hotel kelas satu ini pun hanya pasang tarif 16 dollar Amerika untuk double room. Lalu kenapa saya pilih Grand Casino? Selain lokasinya, Grand Casino merupakan hotel transitnya para pendaki gunung mancanegara. Jadi minimal saya dapat bertukar pengalaman dengan mereka.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya menyaksikan kedua wajah Quito. Wajah Quito modern yang beranjak jadi kota metropolitan yang pertama kami lewati. Nampak kesibukan-kesibukan khas kota yang sedang membangun. Kultur orang-orangnya pun selintas terkesan sebagai masyarakat maju. Tapi jangan salah, daerah ini bukan down town-nya Quito.

Down town-nya Quito justru terletak di old city-nya. Di daerah ini, di sela-sela bangunan khas peninggalan Spanyol dari abad 16, terpusat kesibukan kota itu. Entah kenapa orang-orang Quito tampaknya senang bersibuk-sibuk di tempat yang sempit. Bayangkan, desain kota zaman dahulu yang tidak mengenal mobil, pasti jalannya sempit-sempit. Sepanjang Calle (semacam boullevard) dan Avenida (Avenue) yang hanya pas untuk dua mobil, terletak pusat-pusat mercado (pasar).

Di down town, kombinasi orangnya berbeda dengan di kota baru. Kalau di kota baru, umumnya orang-orang Meszo (keturunan Spanyol) yang tampak. Hidung mancung, rambut coklat dan pirang dan wajah yang rata-rata cantik mendominasi wanita-wanitanya. Pantaslah kalau wanita kawasan Amerika Latin sering mendominasi pemilihan ratu kecantikan.

Beruntung sekarang saya bisa menyaksikan wajah-wajah cantik yang khas itu. Seabad yang lalu, ketika pendaki besar Eropa yang menjelajah puncak-puncak tertinggi Ecuador – Edward Whymper – berada di Quito , wanita-wanitanya tak terlihat seluruh wajahnya. Tulisnya: “Di sini sebagaimana di bagian lain Amerika Selatan, kebiasaan wanitanya bila keluar rumah menyelimuti wajah dan tubuhnya. Tapi saya melihat ada ketimpangan di soal ini. buruh wanita-wanita miskin (Indian) tidak begitu mengindahkan aturan kesopanan ini. Rupanya, sejak abad ke 19, yang namanya perbedaan norma antara keturunan Spanyol dan penduduk asli sudah timbul.

Keadaan kota baru dengan wajah modern dan orang-orang kelas atas kontras dengan kota tuanya. Di daerah ini umumnya yang beredar orang-orang kelas menengah ke bawah (baca Indian). Mereka dengan pakaian khasnya ponco (semacam selimut yang jadi jaket) dan topi tampak mendominasi daerah ini. Terkadang tampak orang-orang negro, daerah inilah hotel grand casino terletak.

Lokasi hotel ini terletak di daerah down town yang punya atmosfer kota, jelasnya daerah Quito Selatan – kota tua di sekitar hotel itu, sejak tahun 1978 berada di bawah ordonansi UNESCO. Ia dideklarasikan sebagai salah satu cagar budaya dunia. Dan di kota tua Quito, bangunan dan perubahan lainnya diawasi sangat ketat.

Di siang hari, suasana kota kuno ini kurang terlihat karena terlalu penuh dengan hiruk-pikuknya manusia. Namun, bila malam tiba , ketika suhu udara mulai menggigilkan tubuh dan orang-orang mulai enggan keluar rumah, suasana itu baru terasa. Anda seolah-olah berjalan-jalan di masa lampau. Terbayang tentara-tentara Simon Bolivar, pahlawan nasional Ecuador, berbaris melewati jalan-jalan tua yang terbuat dari susunan batu. Cuma sekali-sekali saja renungan itu terganggu oleh ocehan orang-orang mabuk cerveza (bir), atau wino (anggur).

Suasana itu bikin saya betah. Nantinya, tiap-tiap perjalanan “pulang kandang”, saya selalu jalan kaki. Dari kumpulan bangunan berarsitektur maju di Quito Selatan ke arah kota tua. Anda seolah berjalan menyusuri lorong waktu. Dan saya selalu menggunakan variasi-variasi rute untuk pulang hingga selalu berjumpa dengan pemandangan berbeda.

Hari pertama di Quito tidak banyak yang bisa dilakukan. Kepala terasa berat dan pusing. Malas sekali untuk pergi. Sesiangan diisi dengan tidur-tiduran. Pusingnya kepala bukan karena jet lag tapi karena penyakit ketinggian. Ingat, Quito tingginya 2.850 meter di atas muka laut. Agak sore sedikit kemalasan baru bisa dikalahkan. Saya turun ke arah Plaza de la Independencia terus menyusuri Avenida Colombia. Maksud hati ingin melongok museum. Ini sesuai dengan anjuran teman saya yang pakar jalan-jalan. Nasehatnya, kalau untuk melihat satu tempat yang mewakili satu negara, museumlah tempatnya. Nyatanya saya terlambat. Casa de Cultura Museum di Avenida Colombia sudah tutup ketika saya tiba.

Acara utama saya untuk melihat museum jadi batal. Maka, tak tentulah arah jalan saya. Sampai di Parque La Alamed, hati agak terhibur. Di taman terbesar di Quito ini mata terpancing melihat kerumunan orang di pinggir lapangan. Saya mendekat. Rupanya ada permainan voli khas Ecuador yakni pada jumlah pemain. Kalau permainan bola voli internasional satu regu pemainnya enam orang, di sini hanya tiga. Dan ada keheranan waktu saya melihatnya.

Suporter kedua regu yang bertanding terlihat semangat sekali. Tapi saya tidak melihat bahwa itu suatu pertandingan serius. Paling tidak pemain-pemainnya tidak berpotongan atlet. Rata-rata gendut dan pakai jaket jeans. Bukan kostum olahraga. Kesannya malah main-main.

Rasa ingin tahu saya bangkit. Dengan sedikit susah payah bertanya dengan bahasa tarsan, saya mendapat informasi. Kesan saya tadi salah. Yang dikira pemain voli sembarangan ternyata lebih dari itu. Mereka ternyata pemain profesional. Kenapa? Ternyata kalau dilihat lagi, penonton tidak terbagi dua sebagai suporter dari dua regu. Mereka ada dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu orang terlihat serius mengamati pertandingan. Mereka adalah kelompok penjudi dengan para bandarnya. Pantas, pertandingannya sendiri kurang seru, tapi penontonnya semangat sekali. Mereka bertaruh rupanya.

Dengan sedikit mengkal, saya tinggalkan pertandingan voli tiga orang itu. Perut terasa lapar. Mata mulai mencari-cari rumah makan. Di mana-mana ternyata populer sekali yang namanya Pollo (ayam). Dari Pollo Superman sampai Pollo E.T ada semua. Harganya pun relatif murah. Makan model Lunch Box hanya 900 Sucre berdua. Itu kira-kira sama dengan 2.500 Rupiah.     

Keluar dari tempat makan malam hari belum terlalu larut. Tapi udara mulai mendingin. Saya jalan perlahan kembali ke hotel. Jalanan cepat sekali lengang. Tapi tengoklah di rumah-rumah minum, laki-laki mengobrol di  sana.

Di Grand Casino ternyata suasananya sama. Café hotel juga penuh dengan orang-orang yang menghabiskan malam di sana. Saya mengambil tempat duduk di tengah, dan memesan sebotol Cola. Sedang enak-enaknya mengamati tamu-tamu lainnya, mendadak seorang bertampang militer dengan jaket hijau tua berdiri di depan meja saya. “Boleh saya duduk di sini?” ia bertanya sopan.

Saya mengangguk. Tapi rupanya dia tidak sendirian. Ada dua orang gadis yang ikut bersamanya. Kami pun berkenalan. Si “militer” bernama Juan, seorang perwira polisi, sedangkan dua gadis temannya adalah Maria dan Theresa. Sambil bersalaman saya menduga-duga maksudnya. Ada pikiran jahil juga, jangan-jangan Juan mau menawarkan mereka pada saya. Memang dugaan saya beralasan. Seorang laki-laki, bawa dua gadis, dan menghampiri lelaki sendirian di Café sebuah hotel. Skenarionya cocok dengan “prosedur” mucikari.

Saya akui kedua gadis itu rata-rata cantik. Dan pikiran yang tidak-tidak itu berlangsung terus sampai kami sudah membuka obrolan. Ternyata dugaan saya meleset. Mereka ternyata hanya orang Quito yang ingin mencari teman untuk melakukan “conversation” bahasa Inggris. Lucu juga jadinya, memperdalam bahasa Inggris dengan orang Indonesia.

Waktu mereka tahu saya dari Indonesia, bukannya mereka sadar bahwa mereka “salah alamat”, tetapi justru tertarik. Macam-macam hal yang kami obrolkan, membanding-bandingkan keadaan negara masing-masing yang kebetulan sama-sama terletak di lingkar katulistiwa. Sampai suatu saat Juan menanyakan keadaan politik Indonesia. Dengan bangga saya jawab, “Indonesia adalah negara demokrasi paling damai di dunia.”

“Lalu, apakah sosialisme, komunisme, dan semacamnya diterima juga di Indonesia?” tanya Juan ingin tahu.

Saya jawab dengan yakin, “Apa sosialisme? Komunisme? Kami benci itu.”

Juan hanya tersenyum sedikit aneh mendengar jawaban saya. Tapi perhatian saya segera beralih ke topik-topik baru yang lebih menarik. Dan tahukah Anda betapa menyesalnya saya mengeluarkan pernyataan itu. Senyum anehnya Juan ternyata beralasan. Alasannya baru saya mengerti esok harinya ketika saya jalan lebih jauh ke Quito Utara. Sepanjang tembok jalan banyak sekali grafiti berisikan dukungan terhadap sosialisme. Ecuador baru saja melakukan Pemilu, dan pemenangnya Juan Antonio Borja dari pihak sosialis. Mau tidak mau was-was juga hati memikirkan akibat dari pernyataan benci sosialis tadi.

Hari selanjutnya saya isi tetap dengan niatan lama saya: melihat museum. Hari itu pelancongan dimulai agak pagi. Menyusuri Avenida 10 de Agosto, turun terus melewati Banco Central. Di depan Bank Sentral itu banyak anak sekolah berseragam antri. Mata mau tidak mau terangsang juga untuk memperhatikan lebih lanjut. Langkah kaki pun berbelok memasuki gedung Bank. Sesudah di dalam, baru teringat kalau di Bank Sentral ada museum juga. Bahkan dari omong-omong orang hotel, untuk koleksi arkeologisnya, Museo de Banco Central adalah yang paling baik di Ecuador.

Museum ini bisa jadi museum paling aman di dunia. Letaknya di tingkat atas Bank Sentral. Sebelum masuk saja saya harus melewati tatapan mata beberapa orang pengawal bersenjata laras panjang lengkap. Sesudah naik lift dan melangkah ke lantai museum, baru suasana museumnya terasa.         

Pajangan benda-benda dan artefak-artefak purbakala Ecuador menjadi pelengkap wawasan saya. Sesudah melihat wakil zaman kolonial dari arsitektur Spayol di kota lama. Displainya cukup apik. Dari koleksi tembikar, ornamen-ornamen emas, mumi, diikuti juga peralatan dan dokumentasi penggalian awal. Dari bukti-bukti arkeologi itu disimpulkan oleh arkeolog bahwa nenek moyang orang Ecuador berasal dari Asia Pasifik. Ada kemungkinan punya akar sejarah yang sama dengan kita.

Sejarah awal Ecuador dimulai dengan ekspansi suku Indian Inca dan Peru sekitar abad 14. Tapi, sekali lagi bukti arkeologi menyebutkan bahwa sejarah wilayah ini telah dimulai beribu-ribu tahun sebelumnya. Teori yang umum diterima adalah bahwa suku bangsa nomaden dari Asia menyeberang Selat Bering pada 25.000 tahun SM, dan mulai merambah bagian Selatan benua Amerika sekitar 12.000 tahun SM. Dan juga beberapa ribu tahun kemudian ada koloni Trans Pasifik dari orang-orang Polynesia. Buktinya, ditemukan juga beberapa perahu-perahu yang terbuat dari jerami yang sama dengan peninggalan di pulau-pulau Pasifik. Hanya umurnya saja yang lebih muda. Ternyata hubungan kita “dekat” dengan nenek moyang orang Ecuador.

Sesudah zaman batu itu, datang suku bangsa Inca yang mulai mengenal logam. Mereka punya peninggalan barang-barang emas yang jadi incaran kolektor-kolektor kelas dunia. Yang terkenal dari zaman ini adalah dinasti Atahualpa yang berkuasa sampai abad 16 hingga penjelajah Spanyol Pizarro yang pada 1532 tiba dengan rencana untuk menaklukan wilayah itu.

Ekspansi Pizarro bergerak dengan cepat dan dramatik. Pasukan berkuda, regu baju zirah dan pasukan meriamnya menebar teror, jadi lembaran hitam di kalangan suku Indian. Bekas itu pun masih tampak hingga kini. Suku Indian dan Mestizo keturunan Spanyol tampak tidak pernah jadi satu bangsa yang utuh.

Ecuador pun tidak merdeka dengan perjuangannya sendiri. Ecuador merdeka oleh idealisme pahlawan Amerika Latin Simon Bolivar. Pemberontak dari Venezuela ini berhasil mengusir Spanyol dari negerinya. Dia kemudian berderap bersama pasukannya turun ke Selatan. Mereka membebaskan Columbia pada tahun 1819 dan membantu orang-orang Guayaquil – kota kedua terbesar di Ecuador – waktu mereka mengklaim kemerdekaannya pada tanggal 9 Oktober 1820. Tapi semuanya makan waktu hampir dua tahun untuk membuat Ecuador benar-benar bebas dari kekuasaan Spanyol. Sampai diakhiri dengan perang besar Jendral Sucre, salah satu Jendral terbaik Simon Bolivar. Ia berhasil merebut Pichinca dan Quito. Atas jasanya, nama Jendral ini diabadikan sebagai nama mata uang Ecuador.

Tak terasa keluyuran di koridor-koridor museum menghabiskan waktu cukup banyak. Hari sudah tinggi begitu saya keluar dari gedung bank sentral. Hari terakhir saya di Quito ini harus maksimal pelancongannya. Sialnya, saya tidak punya rencana sasaran kunjungan, jadi hanya jalan-jalan asal tembak.  Begitu pula ketika keluar dari museum, mata saya langsung mencari-cari objek lain. Mata langsung terpaku pada Landmark dari Quito. “Perawan Quito” yang terletak di bukit Panecillo memang seolah-olah jadi pengayom kota ini. Ekspresi suci dari patung monumental setinggi tiga puluh meter itulah penyebabnya.

Untuk sampai ke sana, saya harus melakukan pendakian kecil. Sekitar seperempat jam mendaki sampai di kaki monumen itu dengan terengah-engah. Dengan membayar sekitar 30 Sucre saya masuk dan naik ke atas. Tapi sungguh mati saya menyesal naik ke atas.

Pemandangan di atas memang sangat ideal untuk mengamati lansekap kota Quito. Namun saya menyaksikannya dengan iri hati. Coba, dengan latar belakang hamparan kota Quito, serta sembulan gunung-gunung salju di kejauhan, sepasang anak muda asyik berciuman di depan saya. Saya menggerutu dengan keras, “Kalau enak lupa sekeliling!” Sepasang remaja itu tetap saja asyik masyuk, soalnya saya menggerutu dengan bahasa Indonesia.

Pemandangan di atas karena “terlalu menarik” membuat saya tidak berselera, lagipula waktu sudah habis. Saya putuskan turun kembali ke hotel. Dan di sana teman-teman sudah menunggu di bak belakang pick up yang akan mengangkut kami ke Cayambe, kota tua di Utara Quito untuk mendaki Gunung Cayambe dan kemudian lanjut ke Gunung Chimborazo. Wajah mereka cemberut, kesal menunggu saya mungkin. Nyatanya tidak. Kami tertipu lagi dalam soal transportasi. Mobil van yang dijanjikan berubah jadi mobil bak terbuka. Olala, kami berpanas-panas sepanjang jalan jadinya.

MATRA, Agustus 1990

VW Beetle, long time favorit. Saat turun dari Cayambe, gagal karena badai salju. Di Chimborazo cukup beruntung bisa ke puncak.

Membumikan Preferensi Fotografi

Kini saatnya bangun dari mimpi indah. Anda membayangkan akan memulai dan mengabadikan foto-foto sesuai selera anda. Mendownloadnya dan menampilkan di monitor, memolesnya sedikit dengan photoshop dan dishare ke teman-teman minta tanggapan.

Still-life ukiran daun ©2004

Sepertinya saat-saat seperti itu masih belum tiba. Sekarang adalah saatnya untuk melakukan reality check setelah anda menyesuaikan preferensi fotografi anda. Kita menghitung sumber daya yang tersedia untuk melakukan kegiatan fotografi kegemaran kita.

Pertama-tama yang kita tengok adalah kantong kita. Seberapa dalam saku itu, dan seberapa tebal lembaran-lembaran uang di sana? Kita buka situs-situs toko kamera online, lihat seberapa mahal harga kamera digital di sana. Memang jika dibandingkan dengan jaman fotografi analog dulu, saat ini kamera digital dan perlengkapan fotografi lainnya harganya relatif sudah jauh lebih murah. Namun, bukan berarti ia barang murah. Fotografi seindah apapun, bagi kebanyakan orang adalah kebutuhan tersier (bukan sekunder, apalagi primer).

Kedua, fotografi adalah kesenangan yang bisa membuat kecanduan. Kecanduan disebabkan oleh faktor penarik dan pendorong (push & pull factor). Faktor pendorong berasal dari diri kita yang suka memiliki barang canggih (walaupun belum tentu tahu memanfaatkan secara optimal), karena fungsi kamera saat ini adalah bagian penting dari konvergensi gadget.

Faktor penarik berasal dari industri fotografi. Saat ini hampir tiap minggu benak kita disesaki oleh perkembangan fitur kecanggihan kamera. Kamera untuk di helm, ada. Kamera untuk mikroskop, ada. Kamera untuk periksa mesin mobil, ada juga. Dan semuanya ada pada tataran konsumen (consumer goods) bukan cuma milik profesional saja.

Jika melihat tawaran-tawaran menarik, peri kecil bernama “konsumsi” di lubuk hati kita akan menggelitik kalbu dengan bisikan “beli… beli…”. Namun kita harus maklum apa yang kita hadapi di balik tawaran-tawaran kecanggihan kamera itu. Jangan hanya memandang kamera-kamera digital sekarang sebagai alat optik perekam gambar. Pandanglah kamera sekarang sebagai sebuah komputer yang perkembangannya mengikuti kaidah Moore. Dengan kata lain, jangan terseret arus kecanggihan kamera dalam mengomsumsinya.

Untuk memikirkan seberapa jauh tingkat konsumsi peralatan fotografi kita, gunakanlah pencabangan preferensi fotografi kita. Coba uraikan preferensi fotografi anda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Cobalah membayangkan (jangan dibeli dahulu) kelengkapan alat yang diperlukan untuk mendukung arah itu. Berikut ini ilustrasi kemungkinan apa yang bisa dikembangkan bila anda menyenangi fotografi manusia.

Kita lihat, beberapa pengembangan pencapaian artistik akan berakibat ke meningkatnya kebutuhan akan alat fotografi. Jadi sebaiknya membeli alat fotografi sebaiknya karena kebutuhan dari sisi pencapain teknis, bukan dari keinginan memiliki saja. Apalagi kalau sekedar ingin tampak canggih.

Masalah sumber daya lain adalah soal waktu dan tenaga. Tapi kita akan bahas di lain waktu.

Sesuaikan Preferensi Fotografi

Melalui proses penajaman, anda sudah menemukan preferensi fotografi. Sekumpulan foto yang menunjukkan selera dan kegemaran telah terpilih. Apakah langsung bisa ditekuni? Saatnya untuk memadupadankan dengan dua hal, yang pertama dengan cara hidup/ pandangan anda, kedua dengan sumber daya yang tersedia.

Punggung Geger Bentang dilihat dari arah kawah Gunung Gede ©2007

Idealnya preferensi fotografi anda sesuai dengan cara hidup anda. Contoh, foto bentang alam atau lansekap yang luar biasa indah adalah favorit, namun sehari-hari anda tidak pernah bangun tidur sebelum jam 06.30. Hal ini akan menyulitkan bila ingin menekuni fotografi bentang alam atau lansekap. Cahaya yang terindah untuk fotografi bentang alam adalah saat matahari di kondisi kemiringannya, alias awal pagi atau awal petang.

Anda bisa saja tetap memotret bentang alam tengah hari sekalipun, tidak ada yang melarang. Tetapi dengan arah cahaya sudah terlalu tinggi, tekstur bentukan alam dan dimensi-dimensi kedalaman bentangan alam akan sulit dimunculkan dan menjadi dramatis. Bisa, tetapi tidak optimal.

Contoh lain adalah soal foto portrait. Fotografi adalah seni visual, jadi wajar kalau kita senang akan wajah-wajah indah. Anda senang dengan foto-foto portrait glamour. Wajah-wajah dan manusia yang secara fisik nyaris sempurna. Namun sehari-hari anda luar biasa pemalu atau pendiam. Sifat seperti itu agak kurang cocok untuk mendapatkan foto portrait yang akrab.

Untuk memotret manusia, salah satu unsur keberhasilan adalah komunikasi. Seorang fotografer portrait yang berhasil apabila ia bisa mencapai tingkatan komunikasi tertentu dengan subyeknya. Ada seorang fotografer Inggris yang bisa memotret seorang presiden dengan mudahnya dan dalam pose yang tidak biasa. Tentunya hal ini membutuhkan kepercayaan diri yang besar dan bukan orang pemalu pastinya.

Jika memang preferensi fotografi anda tidak sesuai dengan cara hidup dan kepribadian, ada dua cara: pertama anda berupaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan subyek preferensi fotografi anda, atau anda memilih subyek yang sesuai dengan kepribadian anda.

Untuk mereka yang sulit bangun pagi, mungkin harus mulai belajar bangun pagi. Pertama-tama mungkin dengan bantuan alarm, tetapi lama kelamaan motivasi anda meninggi. Lihat bedanya foto bentang alam yang dihasilkan oleh cahaya awal hari, saat matahari terbit dan beberapa waktu setelahnya dengan foto bentang alam di siang bolong. Seiring kepuasan anda terhadap hasil karya, akan meningkatkan motivasi untuk bangun pagi dan mengejar cahaya.

Namun bila merubah kebiasaan menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk anda, mungkin pilihlah subyek yang sesuai dengannya. Anda terlalu pemalu untuk mendekati orang dan membuatnya santai, sehingga dapat mengabadikannya dengan pose sealami mungkin? Jika mendekati orang saja membuat anda berkeringat, lebih baik anda memilih subyek fotografi yang tidak banyak bersentuhan dengan manusia.

Macro fotografi yang memfokuskan pada dunia benda kecil bisa menjadi pilihan karena tak bersentuhan dengan manusia. Pilihan lain adalah fotografi benda (still life). Anda bisa berdialog dengan benda dan membuatnya berkarakter yang seolah hidup dengan memberikan cahaya pada bagian dan arah yang tepat. Jadi, setelah anda mengenali preferensi fotografi, kendali di tangan anda.

Mempertajam Preferensi Fotografi

Orangutan di sekolah rimba, membiasakan kebiasaan alami tumbuh kembali ©2008

Setelah mengumpulkan foto-foto yang mewakili selera pribadi, kini saatnya menyeleksinya. Terkadang pada saat mengumpulkan foto-foto itu mungkin saja kita menyenangi lebih dari satu subyek. Artinya bisa menyenangi foto-foto lansekap, tapi juga sama senangnya dengan foto-foto travel dan portrait umpamanya.

Hal semacam itu wajar saja terjadi. Boleh-boleh saja memiliki beberapa fokus kegemaran subyek fotografi, namun harus diingat, untuk kepentingan pembelajaran, tentunya kita harus membatasi fokus preferensi fotografi. Mendalami fotografi juga dibatasi oleh sumber daya yang dimiliki seperti dana, waktu dan kecakapan artistik serta teknis.

Jika memiliki beberapa subyek kegemaran, tentunya sebaiknya kita melakukan urutan. Pertama tentunya berdasarkan tingkat kegemaran. Foto-foto jenis apa yang paling  disukai? Untuk menyeleksinya sebaiknya pisahkan foto-foto itu dalam folder terpisah di komputer. Kemudian review masing-masing foto, bila anda tertarik, pisahkan dalam folder seleksi tahap berikutnya. Kemudian adu lagi dengan foto-foto yang lain, dan pilih yang lebih disukai. Lakukan itu berulang hingga mendapatkan 10 foto terbaik.

Satu hal yang perlu diingat, dalam mempertajam preferensi fotografi ini, lupakan kaidah “foto yang baik” dari teori-teori yang anda baca. Artinya tidak perlu foto-foto yang dipilih itu pencahayaannya harus terang, warnanya harus cerah, modelnya harus cantik jelita, momennya harus tepat dan lain sebagainya. Foto-foto ini dikumpulkan bukan untuk kursus fotografi, foto-foto itu dikumpulkan untuk menemukan selera pribadi anda.

Kalau anda senang dengan foto yang kurang fokus, itu sah-sah saja. Senang dengan foto yang abstrak sehingga tidak ketahuan bentuknya, boleh. Gemar dengan potret wajah orang yang menunjukkan guratan-guratan dari kerasnya hidup, dibandingkan dengan wajah mulus ayu seorang gadis, silakan. Yang penting, ikuti intuisi bahwa anda suka foto itu, tidak usah dicarikan alasannya. Selera itu personal, tidak usah repot-repot menjelaskan.

Setelah itu, jangan langsung diputuskan bahwa foto yang paling anda sukai itulah yang akan didalami tehniknya (ingat di tataran ini kita belum melakukan investasi untuk peralatan fotografi sama sekali, kalaupun sudah sebaiknya minimal saja). Endapkan preferensi fotografi yang sudah anda “temukan” karena itu adalah tuntutan artistik dan selera pribadi. Tahap berikutnya adalah kembali ke dunia nyata, menghitung sumber daya yang ada. Kita bicarakan dalam posting berikutnya.

International Year of Forests 2011, Indonesia style

Tahun ini adalah Tahun Hutan Internasional (THI 2011), namun apakah Indonesia yang mengaku sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia akan ikut merayakannya? Kita tengok kalender kegiatan PBB dalam rangka Tahun Hutan Internasional, tak ada satu pun agenda kegiatan internasional yang berasal dari Indonesia.

Siaran pers Kementerian Kehutanan soal THI 2011 baru diterbitkan tanggal 14 Januari, itu pun isinya hanya sekedar harapan ke jajaran kementerian kehutanan untuk ikut merayakannya. Perayaannya secara internasional akan dicanangkan Senin besok tanggal 24 Januari, sementara Presiden SBY menurut siaran pers yang sama baru akan merayakan THI 2011 di Indonesia bulan April.

Kita lihat apakah pencanangan THI di Indonesia oleh SBY akan juga menjadi peristiwa pencanangan moratorium kehutanan atau tidak. Ironisnya justru di awal Tahun Hutan Internasional ini lobi industri kehutanan dan perkebunan ingin membatalkan rencana itu. Jika lobi ini berhasil, lengkap sudah potret Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar dari sektor kehutanan.

Moratorium kehutanan diperlukan selain sebagai jeda bagi hutan-hutan kita untuk bertumbuh, juga untuk memberi waktu sektor kehutanan dan perkebunan membenahi diri dari sisi data, administrasi dan regulasi. Ibarat orang berlari maraton yang tali sepatunya lepas. Moratorium kehutanan memberi kita kesempatan untuk mengikat tali sepatu itu secara benar dan melanjutkan maraton, daripada terus berlari dan terjerembab dalam petaka lingkungan.