Aconcagua

Delapan belas tahun lalu di tanggal yang sama, saya merayakan ulang tahun di Buenos Aires, seturun mendaki Aconcagua. berikut tulisan saya soal pendakian itu:

Melunasi hutang Puncak Aconcagua, wartawan MATRA Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono mendakinya kembali. Terancam oksigen tipis dan bersaing dengan tim pendaki putri

Jalan panjang terlihat berkelok-kelok, seolah menembus dinding pegunungan Andes. Mobil van yang mengantar kami ke Puente del Inca tancap gas menelusuri terowongan-terowongan. Sungguh perjalanan yang bervariasi. Di bangku depan, dua orang staf kedutaan RI, Medy dan Didik terlihat terkantuk-kantuk. Mereka tampak lelah setelah perjalanan 1.200 kilometer dari Buenos Aires.

Saya sama lelahnya dengan mereka. Namun mata sulit terpejam. Apalagi setelah lewat dari Uspallata, sekitar satu jam sebelum Puente del Inca, mata jadi awas dan terjaga. Saya ingin secepatnya bisa melihat gunung Aconcagua. Tantangan dan tujuan kami.

Menjelang Puente de Vacas, di kejauhan terlihat menyembul segitiga hitam bersaput salju. Aconcagua mulai menampakkan dirinya. Rasa sedih dan senang muncul sekaligus tatkala bisa bertatapan muka dengan gunung itu. Sedih, karena di gunung inilah dua sahabat kami, Norman Edwin dan Didiek Samsu, melepas jiwa mereka. Senang, karena dengan sampainya kami di sini, kesempatan untuk memenuhi panggilan solidaritas kedua sahabat kami menjadi terbuka. Kali ini adalah kesempatan yang kedua bagi Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Aconcagua.

Saya menengok ke sebelah kiri. Ripto juga menatap ke arah yang sama. Matanya memantulkan semangat yang mirip dengan apa yang saya rasakan. Dengan segera ia mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa gambar puncak gunung yang terlihat dari jalan raya Argentina-Chili tersebut. Langit yang biru bersih membantu timbulnya kontras yang indah, “Tyo, akhirnya kesampaian juga niat kita mendaki gunung ini. Mudah-mudahan cuaca baik terus,” gumam Ripto.

Saya hanya bisa mengangguk. Kami berdua memang merasakan betul sulitnya perjalanan ini semenjak di Jakarta. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan kali ini. Dan semuanya menjadi beban berat untuk kami. Mulai dari tuduhan melanggar peraturan organisasi hingga prasangka bahwa kami ingin menggagalkan prestasi tim putri Indonesia yang pada saat ini juga tengah bersiap mendaki Aconcagua.

Padahal, awalnya sederhana sekali. Di bulan September, Ripto mengajak saya untuk mendaki Aconcagua sebelum memasang plakat peringatan meninggalnya Norman dan Didiek. Kami berdua waktu itu sepakat untuk menjadikannya sebagai proyek pribadi. Dengan berjalannya waktu, Badan Pengurus Mapala UI setuju untuk membantu.

Pada saat itu kami tahu ada beberapa tim pendaki Indonesia lainnya yang akan berangkat, antara lain rekan dari FPTI dan tim Putri Indonesia. Namun selera kami tidak bangkit untuk mendahului mereka. Kami tidak perduli dan hanya memikirkan bagaimana pendakian kami berhasil sebaik-baiknya. Halangan pertama muncul pada masalah imigrasi. Rute kami ke Argentina melalui Amerika Serikat terpaksa dirubah. Pasalnya, visa untuk Ripto ditolak tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya kesombongan negara adidaya terhadap orang Asia saja. Buktinya visa melewati Belanda dengan mudah kami dapat.

Halangan kedua timbul ketika pesawat Garuda ke Los Angeles penuh hingga awal Januari. Bantuan yang diberikan perusahaan penerbangan nasional ini jadi mubasir. Akhirnya memang kami harus mengubah penerbangan melalui Eropa.

Tanggal 24 Desember 1992 kami berangkat dari Jakarta. Setelah mengambil peralatan pendakian yang kami pesan dari Asbari Krishna di Amsterdam, perjalanan berlanjut ke Buenos Aires. Menempuh separuh lingkaran bumi. Beruntung, setelah halangan-halangan itu, perjalanan di daratan Argentina lancar. Bahkan duta besar Abdullatief Taman menyertakan dua orang stafnya mengantar hingga Puente del Inca. Jadilah Medy Jufri dan Didik Satria menjadi “manajer” kami.

Pada saat di Argentina, barulah kami tahu bahwa tim putri masih tertahan di Santiago karena urusan kargo dengan bea cukai Chili. Baru di sinilah semangat kompetisi kami timbul untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua. Sebelumnya, kemungkinan ini tidak terbayangkan karena tim putri berangkat tiga hari lebih dahulu dari kami.

Dan rupanya problem tim putri dengan bea cukai Chili cukup serius. Hingga kami berangkat ke Puente del Inca, kabar tentang keberangkatan tim putri belum terdengar. Padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke Menteri Lingkungan Hidup Mendoza, bertukar cerita mengenai masalah lingkungan di negara masing-masing.

Di Hosteria (hotel) Puente del Inca, suasana sepi siang itu. Angin musim panas bertiup lembut dari arah lembah Horcones. Kami segera masuk dan mendaftar. Jorge, manager hosteria untuk para pendaki Aconcagua itu langsung berseru, ketika membaca negara asal kami, “Si, todos ustedes amigo de Indonesio (kawan dari Indonesia)! Como esta (apa kabar) Rudy?”

“Bien, mui bien (baik, sangat baik),” jawab saya.

Jorge si ramah ini rupanya berteman akrab dengan Rudy Nurcahyo, teman kami yang sempat tinggal selama dua bulan di hosteria saat evakuasi jenasah Norman dan Didiek  dilakukan tahun lalu. Jorge sangat membantu persiapan kami di Puente del Inca. Amat membekas diingatannya bagaimana musibah yang pernah menimpa pendaki Indonesia dan ia tidak mau itu terulang, “Pokoknya kalau ingin bantuan apapun, katakan pada saya.” Janji Jorge pada kami.

Tak ketinggalan Fernando Grajales turut membantu. Veteran pendaki yang pada tahun 1953 sempat membuat rute baru di Aconcagua ini dengan tangkas menyediakan mulas (bagal) dan pendaki pendamping untuk kami. Pada pertemuan pertama singkat saja nasehatnya: “Jangan memaksa diri. Jika kalian juga gagal dalam pendakian kali ini, kapan-kapan kalian masih bisa kembali. Aconcagua itu akan tetap berada di sini sepanjang sejarah manusia.”

Pendapat Grajales itu sejiwa dengan semangat kami. Tak ada unsur dendam pada hati kami terhadap gunung yang telah menewaskan kedua teman kami itu. Emosi kami mendaki gunung ini kami anggap sama seperti pendakian puncak-puncak lain. Kalaupun ada tambahan, itu adalah semangat pantang menyerah dari almarhum kedua teman kami. Dan seandainya pendakian ini gagal, kami tidak akan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Ketika kami sedang mengurus bagal, maka datanglah rombongan pendaki putri Indonesia. Kejutan juga, karena menurut perkiraan mereka akan datang esok pagi. Dengan hangat kami sambut mereka sekaligus berkenalan. Pada awal pertemuan dengan Aryati, Jonet, Clara, Lala, dan Nina sebagai manajer mereka, kami terus terang agak kikuk juga.

Bagaimanapun saya yakin di dalam hati kami masing-masing timbul perasaan bersaing untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai Aconcagua. Saat ini kami berada pada posisi awal yang sama dan kesempatan yang sebanding. Namun perasaan bersaing itu tidak berkembang ke arah negatif. Sebagai orang sebangsa di negeri orang, kita tetap fair dan saling menolong.

Di dalam kamar, Ripto bertanya lagi masalah itu: “Tyo, bagaimana pandangan orang soal “persaingan” ini. Masalahnya kita kan berdua laki-laki, sedang mereka pendakinya empat-empatnya perempuan.”

Saya terdiam sejenak, lalu balik bertanya kepada Ripto. “Andaikan kita berdua perempuan juga. Apakah tidak akan terjadi persaingan ke Puncak? Tetap saja ada. Dan kalau memang kita tidak bisa mendaki lebih baik dari mereka, dan mereka sampai puncak lebih dahulu, ya kita terima saja.”

Ripto terdiam menyetujui. Hari-hari berikutnya kami tetap menyiapkan pendakian sesuai dengan jadual. Di hari kedua, gunung-gunung sekitar hosteria kami jelajahi untuk aklimatisasi. Malam yang hendak digunakan untuk beristirahat dibatalkan karena kami berpesta tahun baru dengan karyawan hotel.

Berkali-kali gelas sampanye diangkat untuk mendoakan kesuksesan bagi pendakian di musim ini. “Salut para Indonesio! Peli ano nuevo (selamat tahun baru)!” teriak Jorge, yang sudah setengah mabuk, berkali-kali.

Di luar, begitu lonceng tengah malam terakhir di tahun 1992 lewat, terdengar bunyi rententan senjata api ke udara dari markas Ejercito (pasukan serbu gunung) Argentina. Rupanya begitulah cara militer merayakan tahun baru.

Alhasil, rencana esok untuk berangkat pagi menuju Confluencia dan Plaza de Mulas batal. Kami kesiangan. Para penunggang bagal pengangkut barang kami juga minum-minum sampai pagi, sehingga bangun tengah hari. Akhirnya, kami baru berangkat dari Puente del Inca pukul tiga petang.

Perjalanan hari itu seperti mengantar kami memasuki gerbang ke alam lain. Jalan raya sudah kami tinggalkan. Sebagai gantinya, jalan setapak berliku-liku menuju Laguna (danau) Horcones. Tumbuhan-tumbuhan mulai menipis, gersang, dan berganti batuan. Padahal ketinggian belum sampai 3.500 meter.

Keganjilan alam Aconcagua membangkitkan inspirasi suku Indian Cuzco untuk menganggap gunung ini sebagai tempat bersemayamnya dewa mereka. Sang Dewa Putih, demikian arti gunung ini dalam bahasa Indian Cuencha. Di ketinggian Aconcagua, pendeta Indian Cuzco mengorbankan seorang anak kecil untuk persembahan bagi Dewa Matahari, dewa tertinggi mereka. Empat ratus lima puluh tahun kemudian mumi korban itu ditemukan. Sang saksi sejarah itu membuktikan peradaban tinggi manusia di Aconcagua.

SESAMPAINYA di Confluencia, hari menjelang senja. Panas matahari yang menghangatkan badan perlahan menghilang. Terlihat di tenda-tenda para pendaki yang ada, kompor mulai menyala untuk memasak makan malam. Kami pun merasa perut sudah berontak minta diisi. Ripto celingukan mencari bagal yang membawa barang kami. Tapi mereka tidak tampak.

Sial, bagal yang membawa perlengkapan memasak dan tidur belum sampai. Saya lalu meminta salah seorang penunggang bagal untuk menjemput ke bawah. Sambil menunggu, kami segera menyuruk ke dalam sebuah tenda kosong. Pemiliknya entah pergi kemana.

Tetapi masuk ke dalam tenda saja belum cukup. Udara dingin tetap saja menyerbu masuk. Badan yang hanya dilindungi sweater terasa dingin. Apalagi kalori yang ada tidak mencukupi. Jadilah kami menikmati malam itu berteman dingin dan lapar. Sang bagal baru tiba hampir tengah malam.

Paginya kami “balas dendam” dengan makan sebanyak mungkin. Hari ini jalanan panjang menyebrangi pada batu Playa Anca menuju Plaza de Mulas telah menanti. Alamnya pun berganti lagi. Gunung-gunung memagari lembah dengan bentuk yang bervariasi. Sementara terik matahari musim panas seperti mau membutakan mata. Topi dan kacamata pelindung mengurangi siksaan ini. Terkadang, kami harus menunduk menghindari gulungan debu yang terangkat naik oleh angin Aconcagua.

Yang paling menjengkelkan adalah ketika kami mulai memasuki daerah aliran glacier Horcones. Dalam satu lembah alirannya, terkadang terpecah menjadi berpuluh-puluh anak sungai. Kami terpaksa menjalani latihan intensif lompat jauh di sini. Berpuluh kali kami menyusur mencari lebar aliran glacier yang bisa dilompati.

Dengan berlompatan seperti itu tenaga cepat terkuras. Belum lagi jalan setapak yang kami tempuh menanjak. Aklimatisasi yang belum sempurna membuat badan makin lemah setiap menambah ketinggian. Air sebanyak tiga liter diteguk dengan hemat agar tidak cepat habis.

Di pertengahan perjalanan, terlihat pantulan cahaya menyilaukan dari arah Plaza de Mulas. Kami memicingkan mata memperhatikan dengan seksama. Samar-samar pantulan itu terlihat berasal dari atap sebuah bangunan. “Hotel Plaza de Mulas sudah terlihat. Kita sudah dekat,” kata Ripto dengan bersemangat.

Kami pun bergegas melangkah. Namun, setelah lama berjalan, tidak sampai-sampai juga. Kami sempat disusul oleh Mariano Casteli, pendaki pendamping yang ditugaskan Fernando Grajales. Ia dengan santainya naik bagal.

Empat jam berjalan sejak atap hotel kelihatan, barulah sampai di Plaza de Mulas. Puluhan tenda nampak menjamur memenuhi Plaza de Mulas. “Ini masih belum apa-apa. Minggu depan, di puncak musim pendakian, jumlah tenda bisa dua kali lipat,” kata Mariano.

Sesuai dengan rencana, kami bertiga beraklimatisasi di Plaza de Mulas selama tiga hari. Hari pertama istirahat, hari kedua treking ke Plaza Canada (4.800 m), dan hari ketiga istirahat lagi.

Selama di Plaza de Mulas, tidak ada keluhan terhadap perubahan ketinggian yang kami rasakan. Yang lebih dirasakan justru ujian mental. Tiap hari kami mendengar berita-berita buruk pendakian. Entah itu pendaki yang terpaksa turun karena menderita accute mountain sickness atau yang dipapah oleh ranger taman nasional karena terkena radang paru-paru. Puncaknya adalah tewasnya seorang pendaki Yunani di Refugio Berlin.

Berita itu cukup mengguncang kami. Trauma tewasnya Norman dan Didiek kembali teringat. Awal pendakian menjadi kurang menyenangkan. Kami berharap mayat itu segera diturunkan, hingga kami tidak perlu bertemu dengannya di atas nanti.

Harapan kami percuma. Hari berlalu tanpa ada usaha penurunan mayat. Mariano bilang: “Selama tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jenasah itu, ia tidak akan diturunkan. Soalnya ongkos penurunannya mahal, sekitar 5000 dollar.”

Pendakian lalu dimulai dengan menambah ketinggian ke Plaza Canada (4.800 m). Dihantam badai satu malam, kami turun lagi ke kemah induk. Sesudah istirahat, kami langsung mendaki ke Cambio Pediente (5.000 m). Esoknnya menambah ketinggian ke Nido de Condores (5.400 m). Semua masih berjalan lancar, kecuali saya sempat terserang sakit perut.

Lalu bagaimana dengan tim putri? Kami masih sempat saling menjamu di Plaza de Mulas. Hanya entah kenapa, mereka lebih perlahan penyesuaian dirinya. Saat kami tiba di Nido de Condores, mereka masih treking ke Plaza Canada. Lewat radio kami dengar bahwa salah satu dari mereka mountain sickness-nya tidak hilang-hilang.

Karena segala sesuatu berjalan lancar, di Nido de Condores kami menjadi agak lengah. Dengan agak tergesa diputuskan untuk summit attack esoknya. Hasilnya mengecewakan. Dengan memaksakan diri menambah ketinggian hingga lebih dari 1.000 meter dalam satu hari, paru-paru tersiksa oleh tipisnya oksigen.

Di Plaza Independencia (6.400 m) kami bertiga mulai limbung. Mariano yang sudah delapan kali mendaki Aconcagua pun tak bisa menghindar dari siksaan ini. Paru-paru kami menghisap udahra dengan susah payah. Di sini bernapas pun memerlukan tenaga besar. Habis enerji kami hanya untuk bernapas.

Rasanya sulit untuk meneruskan perjuangan ini. Badan terasa ringan, tetapi tak bertenaga. Keseimbangan tubuh sudah banyak berkurang. Empat ratus meter menjelang puncak Aconcagua, di mulut Canaleta, saya memutuskan untuk berhenti. Emosi saya berteriak ingin terus, tetapi rasio memerintahkan kaki untuk berhenti melangkah.

Begitu mendengar keputusan saya, Ripto memandang seolah tak percaya. Ia masih berkeras untuk terus. Kami kemudian berdebat agak lama, disaksikan Mariano yang kebingungan. Akhirnya dengan berkeras hari saya tetap memerintahkan turun. Ripto dengan muka masih penasaran menuruti.

Saat turun saya menghibur diri dengan berpikir bahwa yang baru saja kami lakukan adalah treking untuk aklimatisasi, bukan suatu pendakian ke puncak yang gagal. Tetapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya. Apakah keputusan saya ini terlalu dini? Apakah nanti kami masih memiliki kesempatan yang sama? Apakah kondisi tubuh kami nanti akan membaik? Yang terakhir, jika kami lama memulihkan diri, apakah tidak didahului oleh tim putri?

Pertanyaan itu kemudian terjawab satu demi satu. Cuaca bagus di hari-hari berikutnya. Kondisi kami yang kelelahan bisa pulih setelah satu hari beristirahat. Pada saat itu tim putri menyusul naik. Jadilah kami bersama-sama pindah kemah ke Refugio Berlin (5.800 m). Dari sini kami akan melakukan summit attack yang kedua.

Apakah keputusan saya terlalu dini sewaktu summit attack yang gagal? Ternyata tidak. Bagian Canaleta setinggi empat ratus meter menjelang puncak adalah nerakanya rute normal di Aconcagua. Kemiringan yang terjal dan batuan runtuh menghadang pendakian. Bila kami kemarin memaksakan diri, saya rasa akibatnya akan  fatal. Dalam kondisi yang lebih fit saja, kami menghabiskan waktu empat jam lebih berkutat di sana.

Ripto yang lebih cepat melangkah, berada duapuluh menit di depan saya. Menjelang puncak, ia seakan berhenti menanti saya. Rupanya ia ingin bersama-sama mencapai puncak. Saya berteriak-teriak menyuruhnya naik ke puncak secepatnya. Tetapi ia tetap tak bergeming.

Sekilas saya lihat titik-titik hitam bergerak di bawah. Rupanya tim putri masih konstan mendaki di bawah kami. Akhirnya saya memaksakan diri melangkah secepat mungkin menyusul Ripto. Sambil berlompatan saya merayap ke atas. Semangat rupanya terlalu tinggi, hingga berakibat ke pernapasan. Tiba-tiba kerongkongan saya seperti tercekik. Hidung seolah tak mampu lagi menghirup udara yang cukup. Tersedak-sedak napas dibuatnya. Kepala yang terbungkus wool terasa kegerahan di kebekuan Canaleta. Tak mampu lagi bertahan di udara tipis, saya jatuh terduduk.

Dengan mata terpejam, napas saya tarik dalam-dalam. Penglihatan yang tadinya gelap berangsur normal kembali. Saya kemudian melambaikan tangan ke arah Ripto, menyuruhnya naik ke puncak lebih dulu. Saya berhenti memulihkan diri.

Setelah agak tenang, kembali terdengar teriakan dari atas. Kali ini teriakan gembira karena Ripto telah berhasil mencapai puncak Aconcagua. Saya perlahan menyusulnya. Dataran puncak menyambut dengan hening. Ripto tampak sedang mengikat bendera Merah Putih di tongkat skinya.

Begitu melihat saya tiba, ia langsung berbalik. Kami bersalaman dan berpelukan dalam haru. Kami gembira, tetapi sekilas saya sempat melihat mata Ripto berair. Air matanya jatuh di puncak Aconcagua ketika mengenang kedua sahabat kami.

MATRA, April 1993

 

Leave a comment