Membumikan Preferensi Fotografi

Kini saatnya bangun dari mimpi indah. Anda membayangkan akan memulai dan mengabadikan foto-foto sesuai selera anda. Mendownloadnya dan menampilkan di monitor, memolesnya sedikit dengan photoshop dan dishare ke teman-teman minta tanggapan.

Still-life ukiran daun ©2004

Sepertinya saat-saat seperti itu masih belum tiba. Sekarang adalah saatnya untuk melakukan reality check setelah anda menyesuaikan preferensi fotografi anda. Kita menghitung sumber daya yang tersedia untuk melakukan kegiatan fotografi kegemaran kita.

Pertama-tama yang kita tengok adalah kantong kita. Seberapa dalam saku itu, dan seberapa tebal lembaran-lembaran uang di sana? Kita buka situs-situs toko kamera online, lihat seberapa mahal harga kamera digital di sana. Memang jika dibandingkan dengan jaman fotografi analog dulu, saat ini kamera digital dan perlengkapan fotografi lainnya harganya relatif sudah jauh lebih murah. Namun, bukan berarti ia barang murah. Fotografi seindah apapun, bagi kebanyakan orang adalah kebutuhan tersier (bukan sekunder, apalagi primer).

Kedua, fotografi adalah kesenangan yang bisa membuat kecanduan. Kecanduan disebabkan oleh faktor penarik dan pendorong (push & pull factor). Faktor pendorong berasal dari diri kita yang suka memiliki barang canggih (walaupun belum tentu tahu memanfaatkan secara optimal), karena fungsi kamera saat ini adalah bagian penting dari konvergensi gadget.

Faktor penarik berasal dari industri fotografi. Saat ini hampir tiap minggu benak kita disesaki oleh perkembangan fitur kecanggihan kamera. Kamera untuk di helm, ada. Kamera untuk mikroskop, ada. Kamera untuk periksa mesin mobil, ada juga. Dan semuanya ada pada tataran konsumen (consumer goods) bukan cuma milik profesional saja.

Jika melihat tawaran-tawaran menarik, peri kecil bernama “konsumsi” di lubuk hati kita akan menggelitik kalbu dengan bisikan “beli… beli…”. Namun kita harus maklum apa yang kita hadapi di balik tawaran-tawaran kecanggihan kamera itu. Jangan hanya memandang kamera-kamera digital sekarang sebagai alat optik perekam gambar. Pandanglah kamera sekarang sebagai sebuah komputer yang perkembangannya mengikuti kaidah Moore. Dengan kata lain, jangan terseret arus kecanggihan kamera dalam mengomsumsinya.

Untuk memikirkan seberapa jauh tingkat konsumsi peralatan fotografi kita, gunakanlah pencabangan preferensi fotografi kita. Coba uraikan preferensi fotografi anda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Cobalah membayangkan (jangan dibeli dahulu) kelengkapan alat yang diperlukan untuk mendukung arah itu. Berikut ini ilustrasi kemungkinan apa yang bisa dikembangkan bila anda menyenangi fotografi manusia.

Kita lihat, beberapa pengembangan pencapaian artistik akan berakibat ke meningkatnya kebutuhan akan alat fotografi. Jadi sebaiknya membeli alat fotografi sebaiknya karena kebutuhan dari sisi pencapain teknis, bukan dari keinginan memiliki saja. Apalagi kalau sekedar ingin tampak canggih.

Masalah sumber daya lain adalah soal waktu dan tenaga. Tapi kita akan bahas di lain waktu.

Leave a comment