Quito

Berbagi cerita saat mengunjungi Quito untuk mendaki Cayambe dan Chimborazo. Mengiringi upaya teman-teman pendaki wanita yang mendaki puncak-puncak salju katulistiwa guna menggalang dana untuk penyakit Lupus. Semoga niat baik itu mendapat lindungan, lancar selama perjalanan dan selamat kembali ke tanah air.

Ibukota Ecuador dengan ketinggian 2.850 meter, Indian Inca dan Mestizo berbaur di sana. Ada permainan voli tiga orang yang menjadi arena judi. Wanitanya cantik-cantik. Sebelum mendaki gunung, Tantyo Bangun menceritakan perjalanannya.


Dua orang pria di downtown Quito (hanya jumpa satu foto Quito yang sudah terscan 🙂 ©1990

Suara pilot terdengar merdu di telinga. Mengumumkan bahwa pesawat akan segera menurunkan ketinggian, bersiap mendarat. Setelah tujuh jam terbang terguncang-guncang dari Mexico City karena cuaca buruk, akhirnya mendarat juga di bandar udara internasional Quito, ibukota Ecuador.  Lega rasanya bisa menginjak daratan lagi.

Begitu menuruni tangga pesawat, angin dingin langsung menerpa muka. Baru ingat kalau kota ini terletak hampir 3.000 meter di atas permukaan laut. Bisa jadi ia merupakan ibukota tertinggi di dunia.

Quito tampak dari udara bagaikan sarang lebah dipagari gundukan pegunungan Andes. Ia terletak di sisi Coldillera Blanca bagian tengah dari pegunungan Andes. Karena itu ia merupakan bagian yang unik. Geografisnya masuk di daerah tropis, tapi memiliki banyak gunung bersalju. Bahkan beberapa diantaranya masih aktif bergolak. Namun, ini bukan berarti situasi politik negeri itu juga turut bergolak. Paling tidak pada saat kunjungan saya.

Mulanya memang sempat terpikir bahwa negara ini situasinya ikut “panas” juga. Apalagi waktu masuk bagian imigrasinya. Banyak petugas berseragam militer mondar-mandir. Saya rasa mereka belum pernah mendengar nama Indonesia. Maka besar kemungkinan prosedur akan tambah rumit.

Untunglah dugaan saya meleset. Petugas imigrasi cuma heran, kamu datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk naik gunung. Tapi mereka tetap ramah juga. Hanya faktor bahasa saja yang sedikit menghambat. Kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi Ecuador ternyata minim, sedangkan untuk bahasa Spanyol, kami cuma mengandalkan kamus. Gejala ini ternyata jadi hal umum di Quito. Di sana orang masih jarang yang bisa berbahasa Inggris. Akibatnya kamus saku kecil keluaran Berlitz itu jadi kitab suci saya selama di Quito, selama belum pergi ke daerah pegunungan. Di daerah pegunungan, digunakan bahasa Indian Quencha.

Dari bandara, saya ke hotel dengan menyewa sebuah van. Dan ini merupakan pengalaman pertama saya tertipu dalam soal-soal transportasi. Si wanita pemiliknya berhasil meyakinkan saya bahwa Hotel Grand Casino, hotel yang saya tuju terletak jauh di kota tua. Jadilah ongkos yang saya bayar dua kali dari yang seharusnya. Dino, bell boy Hotel Grand Casino mentertawakan saya sewaktu mendengar cerita itu.

Hotel Grand Casino bukan hotel berbintang. Tanpa AC dan air hangat dan shower-nya hanya kadang-kadang saja keluarnya. Untungnya udara cukup dingin. Tentu saja sewanya murah. Hanya 7 dollar Amerika semalam untuk double room. Tetapi bukan karena sewanya murah saya pilih di situ, sebab rata-rata tarif hotel memang murah.

Bandingkan saja tarif Hotel Grand Casino dengan Residencial Los Alpes. Hotel kelas satu ini pun hanya pasang tarif 16 dollar Amerika untuk double room. Lalu kenapa saya pilih Grand Casino? Selain lokasinya, Grand Casino merupakan hotel transitnya para pendaki gunung mancanegara. Jadi minimal saya dapat bertukar pengalaman dengan mereka.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya menyaksikan kedua wajah Quito. Wajah Quito modern yang beranjak jadi kota metropolitan yang pertama kami lewati. Nampak kesibukan-kesibukan khas kota yang sedang membangun. Kultur orang-orangnya pun selintas terkesan sebagai masyarakat maju. Tapi jangan salah, daerah ini bukan down town-nya Quito.

Down town-nya Quito justru terletak di old city-nya. Di daerah ini, di sela-sela bangunan khas peninggalan Spanyol dari abad 16, terpusat kesibukan kota itu. Entah kenapa orang-orang Quito tampaknya senang bersibuk-sibuk di tempat yang sempit. Bayangkan, desain kota zaman dahulu yang tidak mengenal mobil, pasti jalannya sempit-sempit. Sepanjang Calle (semacam boullevard) dan Avenida (Avenue) yang hanya pas untuk dua mobil, terletak pusat-pusat mercado (pasar).

Di down town, kombinasi orangnya berbeda dengan di kota baru. Kalau di kota baru, umumnya orang-orang Meszo (keturunan Spanyol) yang tampak. Hidung mancung, rambut coklat dan pirang dan wajah yang rata-rata cantik mendominasi wanita-wanitanya. Pantaslah kalau wanita kawasan Amerika Latin sering mendominasi pemilihan ratu kecantikan.

Beruntung sekarang saya bisa menyaksikan wajah-wajah cantik yang khas itu. Seabad yang lalu, ketika pendaki besar Eropa yang menjelajah puncak-puncak tertinggi Ecuador – Edward Whymper – berada di Quito , wanita-wanitanya tak terlihat seluruh wajahnya. Tulisnya: “Di sini sebagaimana di bagian lain Amerika Selatan, kebiasaan wanitanya bila keluar rumah menyelimuti wajah dan tubuhnya. Tapi saya melihat ada ketimpangan di soal ini. buruh wanita-wanita miskin (Indian) tidak begitu mengindahkan aturan kesopanan ini. Rupanya, sejak abad ke 19, yang namanya perbedaan norma antara keturunan Spanyol dan penduduk asli sudah timbul.

Keadaan kota baru dengan wajah modern dan orang-orang kelas atas kontras dengan kota tuanya. Di daerah ini umumnya yang beredar orang-orang kelas menengah ke bawah (baca Indian). Mereka dengan pakaian khasnya ponco (semacam selimut yang jadi jaket) dan topi tampak mendominasi daerah ini. Terkadang tampak orang-orang negro, daerah inilah hotel grand casino terletak.

Lokasi hotel ini terletak di daerah down town yang punya atmosfer kota, jelasnya daerah Quito Selatan – kota tua di sekitar hotel itu, sejak tahun 1978 berada di bawah ordonansi UNESCO. Ia dideklarasikan sebagai salah satu cagar budaya dunia. Dan di kota tua Quito, bangunan dan perubahan lainnya diawasi sangat ketat.

Di siang hari, suasana kota kuno ini kurang terlihat karena terlalu penuh dengan hiruk-pikuknya manusia. Namun, bila malam tiba , ketika suhu udara mulai menggigilkan tubuh dan orang-orang mulai enggan keluar rumah, suasana itu baru terasa. Anda seolah-olah berjalan-jalan di masa lampau. Terbayang tentara-tentara Simon Bolivar, pahlawan nasional Ecuador, berbaris melewati jalan-jalan tua yang terbuat dari susunan batu. Cuma sekali-sekali saja renungan itu terganggu oleh ocehan orang-orang mabuk cerveza (bir), atau wino (anggur).

Suasana itu bikin saya betah. Nantinya, tiap-tiap perjalanan “pulang kandang”, saya selalu jalan kaki. Dari kumpulan bangunan berarsitektur maju di Quito Selatan ke arah kota tua. Anda seolah berjalan menyusuri lorong waktu. Dan saya selalu menggunakan variasi-variasi rute untuk pulang hingga selalu berjumpa dengan pemandangan berbeda.

Hari pertama di Quito tidak banyak yang bisa dilakukan. Kepala terasa berat dan pusing. Malas sekali untuk pergi. Sesiangan diisi dengan tidur-tiduran. Pusingnya kepala bukan karena jet lag tapi karena penyakit ketinggian. Ingat, Quito tingginya 2.850 meter di atas muka laut. Agak sore sedikit kemalasan baru bisa dikalahkan. Saya turun ke arah Plaza de la Independencia terus menyusuri Avenida Colombia. Maksud hati ingin melongok museum. Ini sesuai dengan anjuran teman saya yang pakar jalan-jalan. Nasehatnya, kalau untuk melihat satu tempat yang mewakili satu negara, museumlah tempatnya. Nyatanya saya terlambat. Casa de Cultura Museum di Avenida Colombia sudah tutup ketika saya tiba.

Acara utama saya untuk melihat museum jadi batal. Maka, tak tentulah arah jalan saya. Sampai di Parque La Alamed, hati agak terhibur. Di taman terbesar di Quito ini mata terpancing melihat kerumunan orang di pinggir lapangan. Saya mendekat. Rupanya ada permainan voli khas Ecuador yakni pada jumlah pemain. Kalau permainan bola voli internasional satu regu pemainnya enam orang, di sini hanya tiga. Dan ada keheranan waktu saya melihatnya.

Suporter kedua regu yang bertanding terlihat semangat sekali. Tapi saya tidak melihat bahwa itu suatu pertandingan serius. Paling tidak pemain-pemainnya tidak berpotongan atlet. Rata-rata gendut dan pakai jaket jeans. Bukan kostum olahraga. Kesannya malah main-main.

Rasa ingin tahu saya bangkit. Dengan sedikit susah payah bertanya dengan bahasa tarsan, saya mendapat informasi. Kesan saya tadi salah. Yang dikira pemain voli sembarangan ternyata lebih dari itu. Mereka ternyata pemain profesional. Kenapa? Ternyata kalau dilihat lagi, penonton tidak terbagi dua sebagai suporter dari dua regu. Mereka ada dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu orang terlihat serius mengamati pertandingan. Mereka adalah kelompok penjudi dengan para bandarnya. Pantas, pertandingannya sendiri kurang seru, tapi penontonnya semangat sekali. Mereka bertaruh rupanya.

Dengan sedikit mengkal, saya tinggalkan pertandingan voli tiga orang itu. Perut terasa lapar. Mata mulai mencari-cari rumah makan. Di mana-mana ternyata populer sekali yang namanya Pollo (ayam). Dari Pollo Superman sampai Pollo E.T ada semua. Harganya pun relatif murah. Makan model Lunch Box hanya 900 Sucre berdua. Itu kira-kira sama dengan 2.500 Rupiah.     

Keluar dari tempat makan malam hari belum terlalu larut. Tapi udara mulai mendingin. Saya jalan perlahan kembali ke hotel. Jalanan cepat sekali lengang. Tapi tengoklah di rumah-rumah minum, laki-laki mengobrol di  sana.

Di Grand Casino ternyata suasananya sama. Café hotel juga penuh dengan orang-orang yang menghabiskan malam di sana. Saya mengambil tempat duduk di tengah, dan memesan sebotol Cola. Sedang enak-enaknya mengamati tamu-tamu lainnya, mendadak seorang bertampang militer dengan jaket hijau tua berdiri di depan meja saya. “Boleh saya duduk di sini?” ia bertanya sopan.

Saya mengangguk. Tapi rupanya dia tidak sendirian. Ada dua orang gadis yang ikut bersamanya. Kami pun berkenalan. Si “militer” bernama Juan, seorang perwira polisi, sedangkan dua gadis temannya adalah Maria dan Theresa. Sambil bersalaman saya menduga-duga maksudnya. Ada pikiran jahil juga, jangan-jangan Juan mau menawarkan mereka pada saya. Memang dugaan saya beralasan. Seorang laki-laki, bawa dua gadis, dan menghampiri lelaki sendirian di Café sebuah hotel. Skenarionya cocok dengan “prosedur” mucikari.

Saya akui kedua gadis itu rata-rata cantik. Dan pikiran yang tidak-tidak itu berlangsung terus sampai kami sudah membuka obrolan. Ternyata dugaan saya meleset. Mereka ternyata hanya orang Quito yang ingin mencari teman untuk melakukan “conversation” bahasa Inggris. Lucu juga jadinya, memperdalam bahasa Inggris dengan orang Indonesia.

Waktu mereka tahu saya dari Indonesia, bukannya mereka sadar bahwa mereka “salah alamat”, tetapi justru tertarik. Macam-macam hal yang kami obrolkan, membanding-bandingkan keadaan negara masing-masing yang kebetulan sama-sama terletak di lingkar katulistiwa. Sampai suatu saat Juan menanyakan keadaan politik Indonesia. Dengan bangga saya jawab, “Indonesia adalah negara demokrasi paling damai di dunia.”

“Lalu, apakah sosialisme, komunisme, dan semacamnya diterima juga di Indonesia?” tanya Juan ingin tahu.

Saya jawab dengan yakin, “Apa sosialisme? Komunisme? Kami benci itu.”

Juan hanya tersenyum sedikit aneh mendengar jawaban saya. Tapi perhatian saya segera beralih ke topik-topik baru yang lebih menarik. Dan tahukah Anda betapa menyesalnya saya mengeluarkan pernyataan itu. Senyum anehnya Juan ternyata beralasan. Alasannya baru saya mengerti esok harinya ketika saya jalan lebih jauh ke Quito Utara. Sepanjang tembok jalan banyak sekali grafiti berisikan dukungan terhadap sosialisme. Ecuador baru saja melakukan Pemilu, dan pemenangnya Juan Antonio Borja dari pihak sosialis. Mau tidak mau was-was juga hati memikirkan akibat dari pernyataan benci sosialis tadi.

Hari selanjutnya saya isi tetap dengan niatan lama saya: melihat museum. Hari itu pelancongan dimulai agak pagi. Menyusuri Avenida 10 de Agosto, turun terus melewati Banco Central. Di depan Bank Sentral itu banyak anak sekolah berseragam antri. Mata mau tidak mau terangsang juga untuk memperhatikan lebih lanjut. Langkah kaki pun berbelok memasuki gedung Bank. Sesudah di dalam, baru teringat kalau di Bank Sentral ada museum juga. Bahkan dari omong-omong orang hotel, untuk koleksi arkeologisnya, Museo de Banco Central adalah yang paling baik di Ecuador.

Museum ini bisa jadi museum paling aman di dunia. Letaknya di tingkat atas Bank Sentral. Sebelum masuk saja saya harus melewati tatapan mata beberapa orang pengawal bersenjata laras panjang lengkap. Sesudah naik lift dan melangkah ke lantai museum, baru suasana museumnya terasa.         

Pajangan benda-benda dan artefak-artefak purbakala Ecuador menjadi pelengkap wawasan saya. Sesudah melihat wakil zaman kolonial dari arsitektur Spayol di kota lama. Displainya cukup apik. Dari koleksi tembikar, ornamen-ornamen emas, mumi, diikuti juga peralatan dan dokumentasi penggalian awal. Dari bukti-bukti arkeologi itu disimpulkan oleh arkeolog bahwa nenek moyang orang Ecuador berasal dari Asia Pasifik. Ada kemungkinan punya akar sejarah yang sama dengan kita.

Sejarah awal Ecuador dimulai dengan ekspansi suku Indian Inca dan Peru sekitar abad 14. Tapi, sekali lagi bukti arkeologi menyebutkan bahwa sejarah wilayah ini telah dimulai beribu-ribu tahun sebelumnya. Teori yang umum diterima adalah bahwa suku bangsa nomaden dari Asia menyeberang Selat Bering pada 25.000 tahun SM, dan mulai merambah bagian Selatan benua Amerika sekitar 12.000 tahun SM. Dan juga beberapa ribu tahun kemudian ada koloni Trans Pasifik dari orang-orang Polynesia. Buktinya, ditemukan juga beberapa perahu-perahu yang terbuat dari jerami yang sama dengan peninggalan di pulau-pulau Pasifik. Hanya umurnya saja yang lebih muda. Ternyata hubungan kita “dekat” dengan nenek moyang orang Ecuador.

Sesudah zaman batu itu, datang suku bangsa Inca yang mulai mengenal logam. Mereka punya peninggalan barang-barang emas yang jadi incaran kolektor-kolektor kelas dunia. Yang terkenal dari zaman ini adalah dinasti Atahualpa yang berkuasa sampai abad 16 hingga penjelajah Spanyol Pizarro yang pada 1532 tiba dengan rencana untuk menaklukan wilayah itu.

Ekspansi Pizarro bergerak dengan cepat dan dramatik. Pasukan berkuda, regu baju zirah dan pasukan meriamnya menebar teror, jadi lembaran hitam di kalangan suku Indian. Bekas itu pun masih tampak hingga kini. Suku Indian dan Mestizo keturunan Spanyol tampak tidak pernah jadi satu bangsa yang utuh.

Ecuador pun tidak merdeka dengan perjuangannya sendiri. Ecuador merdeka oleh idealisme pahlawan Amerika Latin Simon Bolivar. Pemberontak dari Venezuela ini berhasil mengusir Spanyol dari negerinya. Dia kemudian berderap bersama pasukannya turun ke Selatan. Mereka membebaskan Columbia pada tahun 1819 dan membantu orang-orang Guayaquil – kota kedua terbesar di Ecuador – waktu mereka mengklaim kemerdekaannya pada tanggal 9 Oktober 1820. Tapi semuanya makan waktu hampir dua tahun untuk membuat Ecuador benar-benar bebas dari kekuasaan Spanyol. Sampai diakhiri dengan perang besar Jendral Sucre, salah satu Jendral terbaik Simon Bolivar. Ia berhasil merebut Pichinca dan Quito. Atas jasanya, nama Jendral ini diabadikan sebagai nama mata uang Ecuador.

Tak terasa keluyuran di koridor-koridor museum menghabiskan waktu cukup banyak. Hari sudah tinggi begitu saya keluar dari gedung bank sentral. Hari terakhir saya di Quito ini harus maksimal pelancongannya. Sialnya, saya tidak punya rencana sasaran kunjungan, jadi hanya jalan-jalan asal tembak.  Begitu pula ketika keluar dari museum, mata saya langsung mencari-cari objek lain. Mata langsung terpaku pada Landmark dari Quito. “Perawan Quito” yang terletak di bukit Panecillo memang seolah-olah jadi pengayom kota ini. Ekspresi suci dari patung monumental setinggi tiga puluh meter itulah penyebabnya.

Untuk sampai ke sana, saya harus melakukan pendakian kecil. Sekitar seperempat jam mendaki sampai di kaki monumen itu dengan terengah-engah. Dengan membayar sekitar 30 Sucre saya masuk dan naik ke atas. Tapi sungguh mati saya menyesal naik ke atas.

Pemandangan di atas memang sangat ideal untuk mengamati lansekap kota Quito. Namun saya menyaksikannya dengan iri hati. Coba, dengan latar belakang hamparan kota Quito, serta sembulan gunung-gunung salju di kejauhan, sepasang anak muda asyik berciuman di depan saya. Saya menggerutu dengan keras, “Kalau enak lupa sekeliling!” Sepasang remaja itu tetap saja asyik masyuk, soalnya saya menggerutu dengan bahasa Indonesia.

Pemandangan di atas karena “terlalu menarik” membuat saya tidak berselera, lagipula waktu sudah habis. Saya putuskan turun kembali ke hotel. Dan di sana teman-teman sudah menunggu di bak belakang pick up yang akan mengangkut kami ke Cayambe, kota tua di Utara Quito untuk mendaki Gunung Cayambe dan kemudian lanjut ke Gunung Chimborazo. Wajah mereka cemberut, kesal menunggu saya mungkin. Nyatanya tidak. Kami tertipu lagi dalam soal transportasi. Mobil van yang dijanjikan berubah jadi mobil bak terbuka. Olala, kami berpanas-panas sepanjang jalan jadinya.

MATRA, Agustus 1990

VW Beetle, long time favorit. Saat turun dari Cayambe, gagal karena badai salju. Di Chimborazo cukup beruntung bisa ke puncak.

Leave a comment