Sebelum kita bahas jebakan ketiga dalam memilih kamera, patutlah dicatat bahwa jebakan-jebakan ini bukanlah sesuatu yang dibuat oleh industri fotografi dengan sengaja untuk memperdaya konsumen. Industri fotografi memang mau tidak mau harus mengembangkan pemasaran produknya sedemikian rupa sehingga berlebihan, karena industri fotografi itu sendiri mengalami perubahan besar. Kalau di produk elektronik kita mengenal konvergensi, hal itu merambat pula ke produk kamera.

Air menghitam di Bengawan Solo © 2009
Dahulu kita hanya mengenal beberapa merek kamera saja, seperti Nikon, Canon, Pentax, Olympus, Hasselblad, dan lain-lain. Kita mengenal Sony, tetapi sebagai peralatan video, juga Samsung sebagai peralatan elektronik. Karena teknologi digital, yang terjadi sekarang adalah konvergensi (pembauran) dalam industri –terutama– elektronik. Industri kamera pun sekarang dasarnya adalah industri elektronik yang memakai sarana optik (lensa).
Handphone (hp) bisa buat memotret, kamera still bisa merekam suara dan video, bahkan menjadi GPS. Pabrik kamera terbesar, paling tidak dua tahun lalu, bukanlah Nikon atau Canon, melainkan Nokia. Karena tiap hp yang dibuat memiliki kamera. Bahkan GE (General Electric) pun sekarang membuat kamera digital.
Dengan mudah dan murahnya memotret, pasar kamera digital juga meledak beberapa tahun terakhir. Namun dengan harga murah, tingkat keuntungan juga menipis dan daur hidup kemajuan teknologinya memendek. Akhirnya mau tidak mau mereka berlomba menawarkan fitur-fitur baru tiap bulan, bahkan tiap pekan.
Konsumen banyak yang diuntungkan, tapi banyak pula yang dirugikan. Yang diuntungkan adalah yang bisa memilih, karena punya informasi yang cukup. Yang dirugikan adalah yang tidak bisa memilih karena tidak punya informasi atau terlalu banyak informasi sehingga kebingungan.
Kita ambil contoh pemilihan kamera pertama bagi seorang pemula. Banyak orang yang ingin belajar fotografi memiliki kamera point and shoot (poket). Di jaman fotografi analog pemula tidak sesulit kelarang memilih kamera poket. Saat itu hanya ada dua jenis, yang lensanya fixed (biasanya 35mm) atau yang lensanya zoom.
Saat ini kamera pocket digital dibagi lagi untuk yang: pemula awam; yang pemula tapi stylish (biasanya ditandai dengan desain menarik, atau warna yang atraktif); yang pemula mahir ditandai dengan fungsi manual atau fitur lebih lengkap, body metal; sampai pemula yang suka jalan-jalan dengan fitur body tahan banting dan tahan siraman air.
Untuk yang SLR (single lens reflex) pun saat ini terbagi-bagi pula. SLR terbagi pada tingkatan pemula, lanjutan hingga profesional. Yang tingkatan pemula biasanya mudah ditandai dengan mteod penjualan bundling alias paket body plus lensa. Nah saat ini bahkan untuk kamera-kamera SLR yang di tingkat lanjutan dan profesional pun ditawarkan dengan bundling. Gejala apa ini?
Jika para fotografer profesional dan mahir yang ingin mengupgrade kameranya dengan model yang lebih baru, mereka rata-rata sudah memiliki lensa yang cukup. Jadi pembelian pun hanya body kameranya saja. Artinya, banyak pemula yang terjebak untuk membeli kamera guna belajar dengan membeli kamera untuk tingkat lanjutan secara bundling. Pemula seperti ini biasanya memiliki banyak uang dan menganggap dengan membeli kamera mahal fotonya akan menjadi lebih bagus 😉
Di bawah ini sekilas pembagian kamera digital saat ini. Bila ada yang kurang jelas silakan tanya, atau tunggu ulasan berikutnya.

