Menemukan preferensi fotografi

Gadis kecil dan reruntuhan rumahnya, Ambon, © 2002 .

Di tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata 24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/ detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).

Tentu ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi? Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret, terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah pembelajaran yang benar tentang fotografi.

Jika kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi. Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.

Banyak yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi :).  Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.

Saya beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari sambil jalan.

Kembali ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin ideal.

Kumpulkan foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.

Anda sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.

Aconcagua

Delapan belas tahun lalu di tanggal yang sama, saya merayakan ulang tahun di Buenos Aires, seturun mendaki Aconcagua. berikut tulisan saya soal pendakian itu:

Melunasi hutang Puncak Aconcagua, wartawan MATRA Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono mendakinya kembali. Terancam oksigen tipis dan bersaing dengan tim pendaki putri

Jalan panjang terlihat berkelok-kelok, seolah menembus dinding pegunungan Andes. Mobil van yang mengantar kami ke Puente del Inca tancap gas menelusuri terowongan-terowongan. Sungguh perjalanan yang bervariasi. Di bangku depan, dua orang staf kedutaan RI, Medy dan Didik terlihat terkantuk-kantuk. Mereka tampak lelah setelah perjalanan 1.200 kilometer dari Buenos Aires.

Saya sama lelahnya dengan mereka. Namun mata sulit terpejam. Apalagi setelah lewat dari Uspallata, sekitar satu jam sebelum Puente del Inca, mata jadi awas dan terjaga. Saya ingin secepatnya bisa melihat gunung Aconcagua. Tantangan dan tujuan kami.

Menjelang Puente de Vacas, di kejauhan terlihat menyembul segitiga hitam bersaput salju. Aconcagua mulai menampakkan dirinya. Rasa sedih dan senang muncul sekaligus tatkala bisa bertatapan muka dengan gunung itu. Sedih, karena di gunung inilah dua sahabat kami, Norman Edwin dan Didiek Samsu, melepas jiwa mereka. Senang, karena dengan sampainya kami di sini, kesempatan untuk memenuhi panggilan solidaritas kedua sahabat kami menjadi terbuka. Kali ini adalah kesempatan yang kedua bagi Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Aconcagua.

Saya menengok ke sebelah kiri. Ripto juga menatap ke arah yang sama. Matanya memantulkan semangat yang mirip dengan apa yang saya rasakan. Dengan segera ia mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa gambar puncak gunung yang terlihat dari jalan raya Argentina-Chili tersebut. Langit yang biru bersih membantu timbulnya kontras yang indah, “Tyo, akhirnya kesampaian juga niat kita mendaki gunung ini. Mudah-mudahan cuaca baik terus,” gumam Ripto.

Saya hanya bisa mengangguk. Kami berdua memang merasakan betul sulitnya perjalanan ini semenjak di Jakarta. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan kali ini. Dan semuanya menjadi beban berat untuk kami. Mulai dari tuduhan melanggar peraturan organisasi hingga prasangka bahwa kami ingin menggagalkan prestasi tim putri Indonesia yang pada saat ini juga tengah bersiap mendaki Aconcagua.

Padahal, awalnya sederhana sekali. Di bulan September, Ripto mengajak saya untuk mendaki Aconcagua sebelum memasang plakat peringatan meninggalnya Norman dan Didiek. Kami berdua waktu itu sepakat untuk menjadikannya sebagai proyek pribadi. Dengan berjalannya waktu, Badan Pengurus Mapala UI setuju untuk membantu.

Pada saat itu kami tahu ada beberapa tim pendaki Indonesia lainnya yang akan berangkat, antara lain rekan dari FPTI dan tim Putri Indonesia. Namun selera kami tidak bangkit untuk mendahului mereka. Kami tidak perduli dan hanya memikirkan bagaimana pendakian kami berhasil sebaik-baiknya. Halangan pertama muncul pada masalah imigrasi. Rute kami ke Argentina melalui Amerika Serikat terpaksa dirubah. Pasalnya, visa untuk Ripto ditolak tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya kesombongan negara adidaya terhadap orang Asia saja. Buktinya visa melewati Belanda dengan mudah kami dapat.

Halangan kedua timbul ketika pesawat Garuda ke Los Angeles penuh hingga awal Januari. Bantuan yang diberikan perusahaan penerbangan nasional ini jadi mubasir. Akhirnya memang kami harus mengubah penerbangan melalui Eropa.

Tanggal 24 Desember 1992 kami berangkat dari Jakarta. Setelah mengambil peralatan pendakian yang kami pesan dari Asbari Krishna di Amsterdam, perjalanan berlanjut ke Buenos Aires. Menempuh separuh lingkaran bumi. Beruntung, setelah halangan-halangan itu, perjalanan di daratan Argentina lancar. Bahkan duta besar Abdullatief Taman menyertakan dua orang stafnya mengantar hingga Puente del Inca. Jadilah Medy Jufri dan Didik Satria menjadi “manajer” kami.

Pada saat di Argentina, barulah kami tahu bahwa tim putri masih tertahan di Santiago karena urusan kargo dengan bea cukai Chili. Baru di sinilah semangat kompetisi kami timbul untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua. Sebelumnya, kemungkinan ini tidak terbayangkan karena tim putri berangkat tiga hari lebih dahulu dari kami.

Dan rupanya problem tim putri dengan bea cukai Chili cukup serius. Hingga kami berangkat ke Puente del Inca, kabar tentang keberangkatan tim putri belum terdengar. Padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke Menteri Lingkungan Hidup Mendoza, bertukar cerita mengenai masalah lingkungan di negara masing-masing.

Di Hosteria (hotel) Puente del Inca, suasana sepi siang itu. Angin musim panas bertiup lembut dari arah lembah Horcones. Kami segera masuk dan mendaftar. Jorge, manager hosteria untuk para pendaki Aconcagua itu langsung berseru, ketika membaca negara asal kami, “Si, todos ustedes amigo de Indonesio (kawan dari Indonesia)! Como esta (apa kabar) Rudy?”

“Bien, mui bien (baik, sangat baik),” jawab saya.

Jorge si ramah ini rupanya berteman akrab dengan Rudy Nurcahyo, teman kami yang sempat tinggal selama dua bulan di hosteria saat evakuasi jenasah Norman dan Didiek  dilakukan tahun lalu. Jorge sangat membantu persiapan kami di Puente del Inca. Amat membekas diingatannya bagaimana musibah yang pernah menimpa pendaki Indonesia dan ia tidak mau itu terulang, “Pokoknya kalau ingin bantuan apapun, katakan pada saya.” Janji Jorge pada kami.

Tak ketinggalan Fernando Grajales turut membantu. Veteran pendaki yang pada tahun 1953 sempat membuat rute baru di Aconcagua ini dengan tangkas menyediakan mulas (bagal) dan pendaki pendamping untuk kami. Pada pertemuan pertama singkat saja nasehatnya: “Jangan memaksa diri. Jika kalian juga gagal dalam pendakian kali ini, kapan-kapan kalian masih bisa kembali. Aconcagua itu akan tetap berada di sini sepanjang sejarah manusia.”

Pendapat Grajales itu sejiwa dengan semangat kami. Tak ada unsur dendam pada hati kami terhadap gunung yang telah menewaskan kedua teman kami itu. Emosi kami mendaki gunung ini kami anggap sama seperti pendakian puncak-puncak lain. Kalaupun ada tambahan, itu adalah semangat pantang menyerah dari almarhum kedua teman kami. Dan seandainya pendakian ini gagal, kami tidak akan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Ketika kami sedang mengurus bagal, maka datanglah rombongan pendaki putri Indonesia. Kejutan juga, karena menurut perkiraan mereka akan datang esok pagi. Dengan hangat kami sambut mereka sekaligus berkenalan. Pada awal pertemuan dengan Aryati, Jonet, Clara, Lala, dan Nina sebagai manajer mereka, kami terus terang agak kikuk juga.

Bagaimanapun saya yakin di dalam hati kami masing-masing timbul perasaan bersaing untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai Aconcagua. Saat ini kami berada pada posisi awal yang sama dan kesempatan yang sebanding. Namun perasaan bersaing itu tidak berkembang ke arah negatif. Sebagai orang sebangsa di negeri orang, kita tetap fair dan saling menolong.

Di dalam kamar, Ripto bertanya lagi masalah itu: “Tyo, bagaimana pandangan orang soal “persaingan” ini. Masalahnya kita kan berdua laki-laki, sedang mereka pendakinya empat-empatnya perempuan.”

Saya terdiam sejenak, lalu balik bertanya kepada Ripto. “Andaikan kita berdua perempuan juga. Apakah tidak akan terjadi persaingan ke Puncak? Tetap saja ada. Dan kalau memang kita tidak bisa mendaki lebih baik dari mereka, dan mereka sampai puncak lebih dahulu, ya kita terima saja.”

Ripto terdiam menyetujui. Hari-hari berikutnya kami tetap menyiapkan pendakian sesuai dengan jadual. Di hari kedua, gunung-gunung sekitar hosteria kami jelajahi untuk aklimatisasi. Malam yang hendak digunakan untuk beristirahat dibatalkan karena kami berpesta tahun baru dengan karyawan hotel.

Berkali-kali gelas sampanye diangkat untuk mendoakan kesuksesan bagi pendakian di musim ini. “Salut para Indonesio! Peli ano nuevo (selamat tahun baru)!” teriak Jorge, yang sudah setengah mabuk, berkali-kali.

Di luar, begitu lonceng tengah malam terakhir di tahun 1992 lewat, terdengar bunyi rententan senjata api ke udara dari markas Ejercito (pasukan serbu gunung) Argentina. Rupanya begitulah cara militer merayakan tahun baru.

Alhasil, rencana esok untuk berangkat pagi menuju Confluencia dan Plaza de Mulas batal. Kami kesiangan. Para penunggang bagal pengangkut barang kami juga minum-minum sampai pagi, sehingga bangun tengah hari. Akhirnya, kami baru berangkat dari Puente del Inca pukul tiga petang.

Perjalanan hari itu seperti mengantar kami memasuki gerbang ke alam lain. Jalan raya sudah kami tinggalkan. Sebagai gantinya, jalan setapak berliku-liku menuju Laguna (danau) Horcones. Tumbuhan-tumbuhan mulai menipis, gersang, dan berganti batuan. Padahal ketinggian belum sampai 3.500 meter.

Keganjilan alam Aconcagua membangkitkan inspirasi suku Indian Cuzco untuk menganggap gunung ini sebagai tempat bersemayamnya dewa mereka. Sang Dewa Putih, demikian arti gunung ini dalam bahasa Indian Cuencha. Di ketinggian Aconcagua, pendeta Indian Cuzco mengorbankan seorang anak kecil untuk persembahan bagi Dewa Matahari, dewa tertinggi mereka. Empat ratus lima puluh tahun kemudian mumi korban itu ditemukan. Sang saksi sejarah itu membuktikan peradaban tinggi manusia di Aconcagua.

SESAMPAINYA di Confluencia, hari menjelang senja. Panas matahari yang menghangatkan badan perlahan menghilang. Terlihat di tenda-tenda para pendaki yang ada, kompor mulai menyala untuk memasak makan malam. Kami pun merasa perut sudah berontak minta diisi. Ripto celingukan mencari bagal yang membawa barang kami. Tapi mereka tidak tampak.

Sial, bagal yang membawa perlengkapan memasak dan tidur belum sampai. Saya lalu meminta salah seorang penunggang bagal untuk menjemput ke bawah. Sambil menunggu, kami segera menyuruk ke dalam sebuah tenda kosong. Pemiliknya entah pergi kemana.

Tetapi masuk ke dalam tenda saja belum cukup. Udara dingin tetap saja menyerbu masuk. Badan yang hanya dilindungi sweater terasa dingin. Apalagi kalori yang ada tidak mencukupi. Jadilah kami menikmati malam itu berteman dingin dan lapar. Sang bagal baru tiba hampir tengah malam.

Paginya kami “balas dendam” dengan makan sebanyak mungkin. Hari ini jalanan panjang menyebrangi pada batu Playa Anca menuju Plaza de Mulas telah menanti. Alamnya pun berganti lagi. Gunung-gunung memagari lembah dengan bentuk yang bervariasi. Sementara terik matahari musim panas seperti mau membutakan mata. Topi dan kacamata pelindung mengurangi siksaan ini. Terkadang, kami harus menunduk menghindari gulungan debu yang terangkat naik oleh angin Aconcagua.

Yang paling menjengkelkan adalah ketika kami mulai memasuki daerah aliran glacier Horcones. Dalam satu lembah alirannya, terkadang terpecah menjadi berpuluh-puluh anak sungai. Kami terpaksa menjalani latihan intensif lompat jauh di sini. Berpuluh kali kami menyusur mencari lebar aliran glacier yang bisa dilompati.

Dengan berlompatan seperti itu tenaga cepat terkuras. Belum lagi jalan setapak yang kami tempuh menanjak. Aklimatisasi yang belum sempurna membuat badan makin lemah setiap menambah ketinggian. Air sebanyak tiga liter diteguk dengan hemat agar tidak cepat habis.

Di pertengahan perjalanan, terlihat pantulan cahaya menyilaukan dari arah Plaza de Mulas. Kami memicingkan mata memperhatikan dengan seksama. Samar-samar pantulan itu terlihat berasal dari atap sebuah bangunan. “Hotel Plaza de Mulas sudah terlihat. Kita sudah dekat,” kata Ripto dengan bersemangat.

Kami pun bergegas melangkah. Namun, setelah lama berjalan, tidak sampai-sampai juga. Kami sempat disusul oleh Mariano Casteli, pendaki pendamping yang ditugaskan Fernando Grajales. Ia dengan santainya naik bagal.

Empat jam berjalan sejak atap hotel kelihatan, barulah sampai di Plaza de Mulas. Puluhan tenda nampak menjamur memenuhi Plaza de Mulas. “Ini masih belum apa-apa. Minggu depan, di puncak musim pendakian, jumlah tenda bisa dua kali lipat,” kata Mariano.

Sesuai dengan rencana, kami bertiga beraklimatisasi di Plaza de Mulas selama tiga hari. Hari pertama istirahat, hari kedua treking ke Plaza Canada (4.800 m), dan hari ketiga istirahat lagi.

Selama di Plaza de Mulas, tidak ada keluhan terhadap perubahan ketinggian yang kami rasakan. Yang lebih dirasakan justru ujian mental. Tiap hari kami mendengar berita-berita buruk pendakian. Entah itu pendaki yang terpaksa turun karena menderita accute mountain sickness atau yang dipapah oleh ranger taman nasional karena terkena radang paru-paru. Puncaknya adalah tewasnya seorang pendaki Yunani di Refugio Berlin.

Berita itu cukup mengguncang kami. Trauma tewasnya Norman dan Didiek kembali teringat. Awal pendakian menjadi kurang menyenangkan. Kami berharap mayat itu segera diturunkan, hingga kami tidak perlu bertemu dengannya di atas nanti.

Harapan kami percuma. Hari berlalu tanpa ada usaha penurunan mayat. Mariano bilang: “Selama tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jenasah itu, ia tidak akan diturunkan. Soalnya ongkos penurunannya mahal, sekitar 5000 dollar.”

Pendakian lalu dimulai dengan menambah ketinggian ke Plaza Canada (4.800 m). Dihantam badai satu malam, kami turun lagi ke kemah induk. Sesudah istirahat, kami langsung mendaki ke Cambio Pediente (5.000 m). Esoknnya menambah ketinggian ke Nido de Condores (5.400 m). Semua masih berjalan lancar, kecuali saya sempat terserang sakit perut.

Lalu bagaimana dengan tim putri? Kami masih sempat saling menjamu di Plaza de Mulas. Hanya entah kenapa, mereka lebih perlahan penyesuaian dirinya. Saat kami tiba di Nido de Condores, mereka masih treking ke Plaza Canada. Lewat radio kami dengar bahwa salah satu dari mereka mountain sickness-nya tidak hilang-hilang.

Karena segala sesuatu berjalan lancar, di Nido de Condores kami menjadi agak lengah. Dengan agak tergesa diputuskan untuk summit attack esoknya. Hasilnya mengecewakan. Dengan memaksakan diri menambah ketinggian hingga lebih dari 1.000 meter dalam satu hari, paru-paru tersiksa oleh tipisnya oksigen.

Di Plaza Independencia (6.400 m) kami bertiga mulai limbung. Mariano yang sudah delapan kali mendaki Aconcagua pun tak bisa menghindar dari siksaan ini. Paru-paru kami menghisap udahra dengan susah payah. Di sini bernapas pun memerlukan tenaga besar. Habis enerji kami hanya untuk bernapas.

Rasanya sulit untuk meneruskan perjuangan ini. Badan terasa ringan, tetapi tak bertenaga. Keseimbangan tubuh sudah banyak berkurang. Empat ratus meter menjelang puncak Aconcagua, di mulut Canaleta, saya memutuskan untuk berhenti. Emosi saya berteriak ingin terus, tetapi rasio memerintahkan kaki untuk berhenti melangkah.

Begitu mendengar keputusan saya, Ripto memandang seolah tak percaya. Ia masih berkeras untuk terus. Kami kemudian berdebat agak lama, disaksikan Mariano yang kebingungan. Akhirnya dengan berkeras hari saya tetap memerintahkan turun. Ripto dengan muka masih penasaran menuruti.

Saat turun saya menghibur diri dengan berpikir bahwa yang baru saja kami lakukan adalah treking untuk aklimatisasi, bukan suatu pendakian ke puncak yang gagal. Tetapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya. Apakah keputusan saya ini terlalu dini? Apakah nanti kami masih memiliki kesempatan yang sama? Apakah kondisi tubuh kami nanti akan membaik? Yang terakhir, jika kami lama memulihkan diri, apakah tidak didahului oleh tim putri?

Pertanyaan itu kemudian terjawab satu demi satu. Cuaca bagus di hari-hari berikutnya. Kondisi kami yang kelelahan bisa pulih setelah satu hari beristirahat. Pada saat itu tim putri menyusul naik. Jadilah kami bersama-sama pindah kemah ke Refugio Berlin (5.800 m). Dari sini kami akan melakukan summit attack yang kedua.

Apakah keputusan saya terlalu dini sewaktu summit attack yang gagal? Ternyata tidak. Bagian Canaleta setinggi empat ratus meter menjelang puncak adalah nerakanya rute normal di Aconcagua. Kemiringan yang terjal dan batuan runtuh menghadang pendakian. Bila kami kemarin memaksakan diri, saya rasa akibatnya akan  fatal. Dalam kondisi yang lebih fit saja, kami menghabiskan waktu empat jam lebih berkutat di sana.

Ripto yang lebih cepat melangkah, berada duapuluh menit di depan saya. Menjelang puncak, ia seakan berhenti menanti saya. Rupanya ia ingin bersama-sama mencapai puncak. Saya berteriak-teriak menyuruhnya naik ke puncak secepatnya. Tetapi ia tetap tak bergeming.

Sekilas saya lihat titik-titik hitam bergerak di bawah. Rupanya tim putri masih konstan mendaki di bawah kami. Akhirnya saya memaksakan diri melangkah secepat mungkin menyusul Ripto. Sambil berlompatan saya merayap ke atas. Semangat rupanya terlalu tinggi, hingga berakibat ke pernapasan. Tiba-tiba kerongkongan saya seperti tercekik. Hidung seolah tak mampu lagi menghirup udara yang cukup. Tersedak-sedak napas dibuatnya. Kepala yang terbungkus wool terasa kegerahan di kebekuan Canaleta. Tak mampu lagi bertahan di udara tipis, saya jatuh terduduk.

Dengan mata terpejam, napas saya tarik dalam-dalam. Penglihatan yang tadinya gelap berangsur normal kembali. Saya kemudian melambaikan tangan ke arah Ripto, menyuruhnya naik ke puncak lebih dulu. Saya berhenti memulihkan diri.

Setelah agak tenang, kembali terdengar teriakan dari atas. Kali ini teriakan gembira karena Ripto telah berhasil mencapai puncak Aconcagua. Saya perlahan menyusulnya. Dataran puncak menyambut dengan hening. Ripto tampak sedang mengikat bendera Merah Putih di tongkat skinya.

Begitu melihat saya tiba, ia langsung berbalik. Kami bersalaman dan berpelukan dalam haru. Kami gembira, tetapi sekilas saya sempat melihat mata Ripto berair. Air matanya jatuh di puncak Aconcagua ketika mengenang kedua sahabat kami.

MATRA, April 1993

 

Pulang sekolah, menyelam.

Anak suku bajau ini belum sampai rumah sudah tidak tahan untuk meloncat masuk ke dalam air. Kampung orang bajau kecil di Pulau Buton ini apakah masih berbentuk seperti ini atau sudah berubah, masih menjadi pertanyaan. Saya memotretnya hampir sepuluh tahun lalu. Namun memori visual ini memudahkan kita untuk memahami bagaimana dekatnya laut dengan kehidupan orang bajau.

Secara utuh tampilan visual ini –dengan rumah di atas air dan sosok anak “melayang” di air sebagai latar depan– membantu kita untuk memahami betapa berbedanya kehidupan mereka dengan kehidupan kita yang mayoritas berada di daratan. Bagaimana membesarkan anak-anak di lingkungan yang sekelilingnya air saja menjadi satu tantangan tersendiri, belum lagi bila mereka berpindah tempat tinggal, karena orang bajau dikenal juga sebagai pengembara lautan.

Slowing down to higher profit

Menarik apa yang dikemukakan oleh Eivind Kolding, CEO Maersk Line, perusahaan pelayaran terbesar di dunia pada bincang tentang logistik di CNBC sabtu malam, “Jika kami mengurangi kecepatan dengan 20% kami akan menghemat konsumsi bahan bakar sebanyak 40%. Jadi mengurangi kecepatan akan sangat menghemat biaya.”

Pengurangan kecepatan kapal kargo alias slow steaming itu juga berarti slow service, alias 2-3 hari lebih lambat mereka sampai di tujuan. Namun, klien-klien Maersk Line menerima konsekuensi itu. “Mereka menerimanya selama kami bisa diandalkan dan bisa mengirimkan kontainer sesuai dengan waktu yang kami janjikan,” jelas Eivind lagi. Hasil akhirnya adalah win-win untuk setiap pihak.

Di Indonesia kebijakan yang sama dengan alasan yang berbeda diterapkan oleh PT Kereta Api: kecepatan maksimal akan diturunkan rata- rata lima persen dari kecepatan awal. Dicontohkan, bila sebelumnya kecepatan maksimal di lintasan Jawa Tengah bagian selatan sekitar 90 kilometer per jam, kini menjadi 80 kilometer per jam. Alasannya? Mengurangi tingkat kecelakaan KA dan merespons meningkatnya laporan adanya lintasan KA yang patah.

Bagaimana kondisi kereta api kita? 348 unit dari 380 unit kereta kelas ekonomi umurnya di atas 30 tahun harus diganti. Panjang rel kereta kita dibandingkan jaman penjajahan sudah berkurang jauh. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ada sumbangan kelemahan republik, tetapi juga ada lobi kalangan industri. Kita akan bicarakan di lain posting.

Foto ini diambil dengan suasana sekelilingnya sebagai acuan. Saat itu salju telah selesai turun dan saya berjalan di taman Malou menikmati indahnya kebekuan. Di jalan dengan pagar-pagar pohon gundul ini secara visual sudah menjadi frame yang menarik, tinggal saya menunggu apa point of interestnya.

Sekitar setengah jam saya berjalan-jalan dan mengabadikan beberapa kemungkinan-kemungkinan. Akhirnya di bagian belakang taman saya bertemu dengan petugas kebersihan yang sedang memeriksa tempat-tempat sampah di taman itu mengenakan pakaian safety berwarna merah scothlight. Tuhan memang maha pemurah 🙂

Saya tunggu dan ikuti beliau sampai pada saat dan posisi yang tepat…

Foto ini menarik dari 2 sisi, momentum dan pesan. Saat di dalam Fine Art Museum di Brussels di salah satu ruangan karya seni rupa klasik, lukisan-lukisan yang terpajang menampilkan suasana-suasana musim dingin di Eropa.

Ada seorang ibu dan 3 anak datang, saya pikir mereka akan berhenti sebentar kemudian pergi, namun ternyata si ibu mengajak mereka duduk di depan lukisan itu dan menceritakan isinya. Sampai di sini foto ini sudah punya pesan.

Lalu saya melihat ke arah jendela, di pemandangan musim dingin di luar dengan pohon-pohon rontok daun menampilkan apa yang terjadi di lukisan. Saya pun lalu melakukan metering di tengah-tengah, agar mendapatkan cahaya yang cukup untuk mengabadikan adegan di dalam dan suasana di luar.