
Daun musim semi ©2010
Kini saatnya kita memasuki pertimbangan mengenai waktu dalam menekuni preferensi fotografi. Pada pembahasan mengenai penentuan preferensi fotografi saya sempat menyinggung juga mengenai waktu, tetapi kaitannya antara kebiasaan kita dengan pilihan preferensi fotografi. Kini saatnya kita berbincang mengenai waktu sebagai sumber daya dalam mempertimbangkan pilihan preferensi fotografi.
Adakalanya dimensi waktu, berbanding lurus dengan dimensi ruang. Artinya, anda yang memiliki waktu yang cukup banyak untuk didekasikan untuk kegiatan fotografi, umumnya juga bisa memiliki keleluasaan untuk menjelajahi ruang alias tempat-tempat yang menarik. Tempat-tempat yang menarik bisa berarti terjadinya peristiwa yang menarik, kondisi alam yang tidak biasa atau manusia yang memiliki budaya atau kebiasaan unik. Ini adalah kondisi idealnya.
Saat ada di tempat yang menarik, terkadang waktunya tidak mengijinkan untuk berada lebih lama guna mengeksplorasi tempat tersebut lebih lanjut. Jika anda seorang pengusaha atau karyawan yang sering ditugaskan ke tempat-tempat yang menarik, dilema ini sering muncul. Alokasi waktu yang diberikan biasanya hanya betul-betul pas dengan kebutuhan pekerjaannya. Anda lalu berpikir,“Nanti saja pas liburan bersama keluarga bisa datang ke tempat ini lagi.”
Sebaiknya hal di atas jangan menjadi pertimbangan. Saat anda libur bersama keluarga, gunakan waktu itu bersama keluarga, dan belum tentu anda bisa datang ke tempat yang sama. Lagipula, ngapain berlibur ke tempat yang sudah pernah dikunjungi untuk kerja?
Saat anda ditugaskan ke tempat yang menarik (semua tempat sebetulnya menarik, tergantung cara anda melihatnya 🙂 usahakan ada waktu luang entah setengah hari atau sehari untuk memotret. Orang-orang yang berpikir memotret bisa dilakukan sambil traveling adalah pikiran yang keliru. Memotret harus dilakukan dengan dedikasi dan konsentrasi penuh, apapun preferensi fotografinya. Waktu serasa terbang ketika kita sedang asyik mengeksplorasi subyek untuk difoto.
Kondisi di atas adalah situasi yang cukup ideal, artinya waktu dan dana tersedia bagi seseorang untuk menyalurkan minat fotografinya. Bagaimana dengan yang memiliki waktu terbatas?
Waktu yang terbatas, bisa disiasati dengan kesiagaan fotografi secara penuh. Artinya, kamera selalu berada di sisi anda nyaris setiap saat. Karena waktu anda sempit, manfaatkan setiap jendela peluang fotografi yang terbuka untuk mengabadikannya. Ini mirip kerja seorang jurnalis foto.
Kemiripannya hanya sampai di situ, sama-sama memanfaatkan momentum, namun momentum yang anda manfaatkan terfilter oleh preferensi foto anda. Anda lebih mirip seorang kolektor visual yang mengabadikan scene kesukaan anda menjadi sebuah body of work alias koleksi foto yang memiliki benang merah.
Apabila anda gemar memotret halte bis, mungkin anda bisa memotretnya tiap anda bertemu dengan sebuah halte bus yang kondisinya unik, atau situasinya secara visual menggoda. Anda lakukan itu selama bertahun-tahun, dan saat anda mengamati lagi dengan seksama, anda akan kagum sendiri dengan kumpulan fotografi anda.
Anda tidak perlu pergi jauh untuk melakukan hal ini. Di sela-sela kesibukan sehari-hari “fotografi halte bus” bisa dilakukan. Atau, anda ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk fotografi karena anak-anak sudah sibuk masing-masing. Mainan masa kecil anak-anak anda bisa jadi obyek yang menarik, bahkan bisnis fotografi.
Satu hal yang jelas, dengan semakin seringnya anda memotret –apapun preferensinya– kepekaan anda dan fokus preferensi fotografi anda akan semakin menajam. Mata anda akan semakin peka terhadap subyek, komposisi atau pun kondisi cahaya yang menggoda tangan untuk meraih kamera dan membidiknya.
Jadi, andaikan waktu anda terbatas, gunakan kreatifitas anda untuk menyiasatinya. Kalau anda tekun, waktu untuk memotret serasa banyak. Kalau anda malas, seberapa banyak pun waktu yang tersedia, tak akan cukup.
