
Ngenuman, hanya situs itu yang paling langgeng di sepanjang riwayat Hutan Wonosadi. Di jaman PKI, situs itu menjadi benteng hijau terakhir yang menaungi hutan di sana. Lima pohon besar menjadi saksi zaman akan pasang surut kepedulian manusia terhadap alam lingkungannya.
Tiap tahun, di awal bulan Juli serombongan penduduk desa tampak menaiki Hutan
Wonosadi menuju Ngenuman. Para pria dewasa berpakaian ala petani, berbaju hitam dengan ikat kepala. Ibu-ibunya walau berkebaya juga turut ke hutan. Sementara anak-anak ikut pula menyemarakkan upacara dengan berpakaian anak petani.
Di situs pusat hutan itu, mereka melakukan upacara tahunan nyadran sebagai ucapan terima kasih kepada yang membuat hutan tersebut. Yang unik, selain mengucapkan doa untuk arwah para leluhur, mereka juga melantunkan tembang-tembang dengan alat musik rinding dengan formasi lengkap yang disebut Rinding Gumbeng. Ada 5 orang peniup rinding, 7 orang pemukul gumbeng , dan 3 orang sebagai sinden alias pelantun tembang.
© 2010
Ritual itu punya makna ganda, pertama ia dilakukan sebagai penghormatan kepada yang dipercaya sebagai sang pencipta musik itu, yaitu mbah Onggoloco. Selain itu, Mbah Onggoloco sendiri menurut hikayat menciptakan musik rinding untuk menghormati Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pertanian.
Rinding adalah kepeloporan lain dari Sudiyo. Sebagai sebuah bentuk budaya, musik dan alat musik ini sempat memudar di tahun 1960-an hingga 1980-an. Sudiyo yang sepertinya tak pernah berhenti melakukan revitalisasi kehidupan di desanya, kemudian mulai membuat kembali alat musik itu dan memainkannya dalam bentuk formasi lengkap dengan gumbeng.
Kedua alat ini susah-susah gampang memainkannya. Namun bunyi yang keluar –kombinasi resonansi dari rongga mulut, hembusan nafas dan getaran pipih bambu– adalah gaung yang unik. Dimainkan di dalam hutan, sukma terasa mendayu. Ia bukanlah musik yang menghentak, tetapi semacam alunan musik yang selaras dengan suasana alam.
Seperti siang itu ketika Sudiyo memainkannya bersama cucunya yang remaja bernama Yogo Pangestu. Yogo memainkan Rinding bersama Sudiyo dengan fasihnya. Saling sahut dengan nada harmonis dihiasi oleh alunan tembang dari mulut Sudiyo.
Sudiyo biasa berlatih dengan salah satu dari 3 Kelompok Rinding Gumbeng di Desa Beji: kelompok kasepuhan yang terdiri dari para orang tua, kelompok remaja dan kelompok anak-anak. ”Regenerasi pemain Rinding Gumbeng penting agar tidak mengalami kepaten obor (kehilangan generasi) seperti masa lalu,” papar Sudiyo lagi sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Hutan Wonosadi, menuju salah satu mata airnya.
Upaya Sudiyo yang multi dimensi itu dalam Tahun 2009 menghasilkan penghargaan Kehati Award dalam kategori Prakarsa Lestari. Penganugerahan itu sepertinya makin memacu upayanya akan kehidupan desa yang berkesinambungan. Mengambil nama dari penghargaan yang diterimanya,”Saya sekarang membuat taman kehati (keanekaragaman hayati), mulai tahun 2009 seluas 5 hektar,” jelas Sudiyo.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Kidul menyambut baik upaya ini dan membantu lebih dari 3.000 batang tanaman yang terdiri dari 71 jenis. Jika selama ini Hutan Wonosadi menjadi rujukan penelitian hayati bagi kalangan akademisi, nantinya hutan tersebut juga akan digarap sebagai taman wisata. Beberapa tempat sudah dipersiapkan sebagai homestay bagi mereka yang ingin menikmati desa, budaya dan alamnya.
Sebanyak 3.300 batang bibit tanaman seperti bendo (Artocarpus elasticus), wadang (Pterospermum javanicum), johar (Senna siamea), hingga duwet (Syzygium cumini) telah ditanam di taman kehati Wonosadi. Warga sekitar turut berswadaya menanam aneka tanaman obat tradisional jenis rempah-rempah seperti buah wuni (Antidesma bunins) atau daunnya yang disebut mojar.
Sebagian bibit itu sempat ditengok Sudiyo saat berjalan ke arah hutan. Menelusuri pipa yang mengalirkan air minum ke desa, usia tampaknya tak berpengaruh terhadap semangat Sudiyo melestarikan alam desanya. Jalan yang makin mendaki ditapakinya dengan langkah pelan namun tegap.
Setibanya di bak penampungan mata air, Sudiyo sempat membetulkan sambungan pipa yang merembeskan air sedikit. Lalu ia dengan penuh nikmat menampung air segar dengan kedua tangan dan meminumnya langsung. Sang cucu juga mengikuti kakeknya menghilangkan dahaga dengan air sumber kehidupan yang mereka jaga selama ini.
Melihat semangat pelestarian antar generasi yang mewujud seperti ini, gelora jiwa sang kakek tanpa banyak petuah dan wejangan tampaknya sudah mengalir ke generasi-generasi di bawahnya. Sudiyo hanya memberi contoh nyata bahwa alam, religi, pengetahuan dan seni budaya dapat berpadu selaras untuk hidup yang ramah lingkungan. Memberi contoh tanpa mengenal kata henti, seperti mata air yang terus mengalir karena lestarinya hutan sekelilingnya.
End
