Pose Sang Bajak Laut

image

Saat kawan lama saya Oscar Motuloh, kurator GFJA bertanya soal foto-foto bajakl laut di Selat Malaka, saya terhenyak. “Ada pameran soal maritim di Bali. Bisa gak Bro, siapin foto-foto bajak laut?" 

Saya pun  mulai coba-coba mencari, ada atau tidak filenya di Drobo RAID saya. Beberapa file memang ada, namun resolusinya ternyata bukan resolusi tinggi. Setelah sempat berkeringat dingin –khawatir yang ada hanya file resolusi rendah– akhirnya dapat juga file resolusi tinggi.

Memandangi lagi foto-foto tersebut setelah sekian lama, membawa kenangan tersendiri bagi saya. Teringat ketika saya pertama kali mencoba berhubungan dengan para bajak laut di wilayah Selat Malaka. Saat itu, untuk sebuah cerita mengenai Laut China Selatan, sahabat saya Michael Yamashita meminta tolong untuk melakukan kontak dengan bajak laut yang bersedia untuk difoto. Kesempatan kedua datang ketika majalah TIME meminta saya memotret bajak laut.

Saya pun mengontak teman di Batam. Waktu itu Batam sedang booming dan hubungannya dengan Singapura seperti Dr Jeckyl dan Mr Hide. Tentu Singapura menjadi si wajah baik Dr. Jeckyl-nya, dengan ekonomi dan gaya hidup cosmopolitan mereka. Sementara Batam, walau tidak kalah maju ekonominya, namun menyiratkan citra lain yang lebih urakan, dan "norak”.

Bukan rahasia lagi jika akhir pekan para pria Singapura antri feri ke Batam sambil menenteng tas golf mereka, sebagian besar memang bermandi peluh di lapangan golf Batam dan Bintan yang jauh lebih murah tarifnya daripada di Singapura. Namun banyak juga yang berakhir pekan dengan gundiknya di Batam. Sebagian lagi menghabiskan malam panjang dengan narkoba yang mudah di dapat di keremangan pusat kota Batam.

Di belanga peradaban yang centang perenang itulah, saya menyigi cafe demi cafe ditemani oleh Axel –teman yang pernah menjadi pelaut cukup lama dan lebih lama lagi menjadi pecandu narkoba– menyambangi kelompok-kelompok bajak. Dari sekitar empat kelompok bajak yang kami coba dekati, akhirnya ada satu yang menyanggupi. Bahkan mereka mengajak untuk melakukan pemotretan secara live in action.

Tentunya niatan itu tidak bisa saya penuhi. Pertama, karena risiko terlalu besar. Kedua karena mereka biasa beraksi dalam pekatnya kegelapan malam. Dalam kondisi seperti itu, foto apa yang bisa dihasilkan.

Akhirnya sepakatlah kami melakukan pemotretan dengan mereka memperagakan cara mengikat, cara membuat kait, hingga beberapa manuver untuk mengejar dan mendekati sebuah sasaran. Dari sebuah pulau kosong kami kemudian bermanuver di sekitarnya.

Sedang asyik bermanuver, tiba-tiba sang tekong (juru mudi) panik. Ia melepas gas dan segera membuang topengnya dan meminta yang lain melakukan hal serupa. Ternyata di depan kami hanya berjarak beberapa ratus meter saja, sebuah kapal petroli polisi perairan sedang melintas.

Pemotretan selesai, dan kini saatnya memeriksa kebenaran cerita para bajak laut ini. Kami pun lanjut ke sebuah pulau yang dikenal sebagai tempat lokalisasi. Di sana cerita-cerita para bajak ini terkonfirmasi dari teman-teman mereka. Sambil bercanda dengan ditemani beberapa botol bir, mereka bertukar kenangan. Mulai dari cerita dukun yang harus disambangi di Jawa Barat sebelum beraksi, hingga seorang rekan mereka yang kehilangan buah zakarnya karena tersangkut pengait. Mengalami semua itu, saya hanya bisa menghela nafas. Kehidupan di sini terasa sangat keras, reality is harder than a fiction.

image