PEGUNUNGAN MULLER

Bagian terberat dari Ekspedisi Kapuas Mahakam adalah memintas pegunungan Muller. Mengarungi jeram-jeram dan hutan perawan di perbatasan Kalbar-Kaltim. Darah pun dihisap pacet tiap hari. Tantyo Bangun, wartawan MATRA, bercerita khusus untuk Anda* (tahun ini tepat 20 tahun perjalanan kami).

          Pelangi membelah hutan hujan Kalimantan sore itu. Warna cahaya putih yang dibiaskan oleh air menjadi lima unsur warna melarik indah di atas kanopi hutan yang berselimut kabut tipis. Beberapa orang suku Dayak Punan yang sedang berenang di sungai Bungan terhenyak sebentar menyaksikan karunia alam bagi hidup mereka. Pemandangan itu memperkaya batin.

 Tanggal 15 Juni 1894, Nieuwenhuis berangkat bersama kontrolir Kapuas Hulu, van Velthuysen dan Geolog Mullengraaf. Mereka dibantu oleh 19 prajurit Hindia Belanda, 5 kuli Melayu, 8 orang Iban Batang Lupar, dan 85 orang suku Dayak Kayan Mendalam yang mengemudikan 24 sampan.

            Untuk saya, pemandangan itu menganggu kerja. Sehabis hujan di Tanjung Lokang, desa terujung di kaki pegunungan Muller, kami sedang sibuk-sibuknya mengepak dan menghitung lagi perbekalan yang akan dibawa selama dua belas hari melintas di pegunungan Muller. Tidak kurang dari 72 koli logistik yang akan kami bawa. Indahnya pemandangan membuat kerja terhenti sebentar. Kami ingin menikmatinya. Namun, tak percuma rasanya kami berhenti bekerja. Sebab pemandangan-pemandangan seperti inilah yang menjadi salah satu alasan kami melintas hutan hujan Kalimantan.

image

            Gendon, dibantu Zaenal, Tya, Dolly dan Iyun tampak berkeringat – meski sudah telanjang dada. Mereka sibuk dengan puluhan sak hijau yang berisi mulai dari makanan kaleng hingga radio all band. Selagi bekerja memang lebih enak bertelanjang dada daripada mengenakan kaus. Udara Kalimantan yang panas dan sangat lembab menyebabkan baju cepat basah. Iyun bilang, badannya sudah bukan sekedar berkeringat, tetapi “berkuah”.

            Hari itu, 30 Juni, memang hari terakhir untuk mengepak segala macam logistik yang diperlukan untuk perjalanan menembus jantung Kalimantan. Kami akan berjalan terus ke hulu, menelusuri mata-mata air sungai Kapuas, menyeberangi pegunungan Muller, melintas batas propinsi Kalimantan Barat dan Timur, dan menuruni anak-anak sungai Mahakam dan mencumbu riam-riamnya.

            Di luar rumah panggung yang kami tempati sekarang, Don Hasman, wartawan foto veteran yang dalam ekspedisi ini bertugas mengurusi porter, sibuk kasak kusuk soal kepastian jumlah porter. Soal pengangkut barang ini memang bukan hal yang mudah diurus di pedalaman. Saat kami datang, laki-laki di pedalaman Kalimantan sedang sibuk untuk membuka ladang dan membakarnya. Mereka siap menyambut musim hujan dan untuk menanam.

            Dengan jaminan Tumenggung Dalung, kepala adat Dayak Bungan di Tanjung Lokang, maka terkumpulnya para pengangkut barang. Persoalan harga menjadi masalah. Sebab mereka harus menunda waktu membuka ladang. Maka, sebagai kompensasi, mereka meminta bayaran lebih tinggi.

            Dengan berat hati permintaan ini diluluskan, namun dengan negosiasi yang alot. Itu pun kami masih harus mengimpor lebih dari dua puluh orang porter dari Matalunai.

            Ekspedisi Kapuas Mahakam ini memang akhirnya menyibukkan orang sepanjang Kapuas Mahakam selama lebih dari satu bulan. Di daerah yang masih agak ke hilir, masyarakat setempat memanjakan ekspedisi dengan sajian-sajian budaya yang jarang digelar. Dan kini, di ujung hulu Kapuas, ekspedisi pun masih merepotkan orang desa dengan penyedotan tenaga kerja laki-laki di saat mereka akan membuka ladang.

            Pada awalnya, ekspedisi dengan dua puluhan anggota ini – rombongan “topeng monyet” istilah saya – agak kerepotan menjelaskan maksud dan tujuannya. “Bapak mau mengikuti Belanda-Belanda dulu?” tanya beberapa penduduk pada Rudy Badil, pimpinan ekspedisi. Tentu tidak.

            Tetapi, ekspedisi ini memang diilhami oleh perjalanan yang dipimpin oleh seorang dokter militer sekaligus antropolog Belanda, Anton W Nieuwenhuis dalam sebuah misi pemerintah kolonial Belanda tepat seratus tahun yang lalu. Meski ekspedisinya adalah ekspedisi pemerintah kolonial, namun sebagai seorang ilmuwan banyak perhatian Nieuwenhuis yang tersita justru pada segi etnografi dan medis dari manusia Dayak dan alam sepanjang Kapuas-Mahakam.

            Semangat penjelajahan Nieuwenhuislah yang mengantar kami untuk menelusuri alam budaya Kalimantan selama empat puluh hari. Kalimantan dalam kurun waktu seratus tahun, tentulah banyak berubah. Jika dulu yang terjadi adalah perang antarsuku Dayak, kini yang terjadi di pulau ketiga terbesar di dunia ini adalah perang suku antara “suku” aktivis lingkungan yang memujanya sebagai paru-paru dunia dengan “suku” para pengusaha kayu yang melihatnya sebagai tambang emas hijau.

            Lalu kami termasuk “suku” apa? Ekspedisi kami rupa-rupanya tidak mempunyai warna politik apa pun. Kami berjalan di antara konflik, dan bersikap seperti negatif film, bereaksi terhadap sinar yang menerpa. Merekam apa-apa yang kami lihat, apa-apa yang terpancar dari hijaunya warna daun, birunya warna air, dan indahnya suara burung.

            Tanggal 15 Juni 1894, Nieuwenhuis berangkat bersama kontrolir Kapuas Hulu, van Velthuysen dan Geolog Mullengraaf. Mereka dibantu oleh 19 prajurit Hindia Belanda, 5 kuli Melayu, 8 orang Iban Batang Lupar, dan 85 orang suku Dayak Kayan Mendalam yang mengemudikan 24 sampan. Ekspedisi ini hanya bertahan selama sebulan karena dihadang berita permusuhan suku Dayak di Mahakam. Ekspedisi kedualah yang mencatat hasil gemilang, di mana rutenya kami ikuti. Dari Hulu Kapuas, kami memasuki anak sungai Bungan, naik lagi ke hulu sungan Bulit. Kami lalu memintas pegunungan Muller dan turun di sungai Penaneh dan Kasau, lalu bersua dengan urat nadi Kalimantan Timur, sungai Mahakam.

            Tanggal 1 Juli 1994, dimulailah perjalanan kami menembus hutan selama dua belas hari menuju hulu Mahakam. Dua puluh orang anggota Ekspedisi sudah turun dari rumah panggung. Pendamping kami adalah 19 porter dari Mata Lunai, 37 porter dari Tanjung Lokang dan 14 motoris spid (sebutan untuk speed boat di Kapuas) yang dipimpin oleh Lujung, Kepala urusan pemerintahan desa Tanjung Lokang. Tiga belas perahu spid juga telah berjejer di tepi sungai Bungan.

            Pengangkut barang yang mengantar kami sangat berbeda dengan masa Nieuwenhuis. Pada saat ini kami didampingi oleh beragam suku. Ada suku Bungan, penduduk asli Tanjung Lokang, juga Dayak Punan, Kayan Mendalam, Embaloh, hingga orang dari Mandai. Saat ini orang-orang Dayak memang sudah saling bercampur dalam tempat tinggal. Tiada lagi sisa kebudayaan ayau (memenggal kepala) dari perang suku zaman dahulu.

            Camat Yusuf dari Putussibau dan Tumenggung Dalung melepas kami dengan penuh haru. Merekalah yang telah bekerja keras menyiapkan segala sesuatunya hingga kami bisa berangkat pagi ini, melintas menuju Kalimantan Timur.

            Air sungai Bungan di awal musim kemarau ini lebih turun lagi permukaannya dibanding kemarin. Hujan selama dua hari sebelumnya tidak banyak menolong. Dengan teriakan-teriakan keras kami menyeru desa Tanjung Lokang seraya meninggalkannya. Bunyi mesin-mesin perahu segera membahana di tengah hutan. Para motoris memainkan gasnya dengan piawai. Naik ke hulu melawan arus dan jeram.

            Kondisi itu hanya bisa dinikmati pada beberapa jam pertama. Pada jeram-jeram selanjutnya, perahu kerap ditarik karena air sungai terlalu dangkal untuk baling-baling motor tempel. Apalagi sesudah kami masuk ke sungai Bulit yang lebih kecil. Beberapa motoris masih nekat mengemudikan perahunya di air dangkal. Akibatnya, pen baling-balingnya patah. Hitung punya hitung, kami harus melewati 42 jeram besar dan kecil hari itu.

image

            Motoris perahu kami tampak sabar. Tiap kali air dangkal, baling-baling diangkat naik dan perahu didorong. Saya dan Muke harus turun dan membantu mendorong. Sementara Iis dan Cenil, dua wanita dalam ekspedisi ini, tetap duduk di perahu. Mereka bukannya tidak mau turun membantu, tetapi jika turun pun tidak akan banyak membantu – malah merepotkan. Jangan disangka mendorong perahu melawan arus itu ringan, Sudah beratnya bukan main, kaki harus tahan karena terantuk batu kali berkali-kali.

            Di sepanjang sungai kami tidak menemui kampung satu pun, kecuali beberapa pondok untuk menunggu ladang. Ini menandakan bahwa kami benar-benar menuju ujung akhir peradaban di sungai Kapuas. Kami akan mulai pergaulan kami dengan alam secara langsung, tanpa embel-embel peradaban lagi.

            Pergaulan itu ditandai dengan tidur berdinding hutan dengan beranda tepian sungai. Suara kumbang malam mulai berderik dengan kencang, menandakan senja telah tiba. Asap pun mulai mengepul dari kayu-kayu bakar yang digunakan porter untuk memasak di tepi sungai. Nikmatnya makan malam di pinggiran arus sungai, tidak melenakan kami untuk bermalam tepat di tepi sungai. Kami harus naik ke atas sedikit untuk menghindari air pasang di malam hari.

            Etape kedua akan berlanjut ke Liu Banyu, sebuah tempat berkemah yang sangat ideal. Ia juga menjadi kemah induk kami untuk mendaki Gunung Terata. Perjalanan ke Liu Banyu mulai memakan korban. Cenil, yang sepatunya jebol di hari pertama, terpelanting ketika menuruni anak sungai. Muke, Iis, Hary Sur dan Heri sibuk dengan pacet dan lintahnya. Sementara Tya dan saya mendapat pengalaman terpeleset dan hampir masuk ke lubuk sungai.

            Setibanya di Liu Banyu, Don Hasman, Toto, Caca, Rama, Letkol Sumadji (pendamping kami dari Pemda Kalbar) dan Wardi, wartawan Suara Kaltim segera menyiapkan perbekalan untuk mendaki Gunung Terata. Saat itu mereka salah paham soal konsumsi. Toto minta mi instant dikurangi dan beras ditambah. Ternyata yang terjadi adalah mi instant dikurangi tetapi beras tidak ditambah. Akibatnya selama dua hari mendaki Terata, mereka mengumbar segudang keluh kesah. Nasi satu rantang dimakan bersepuluh. Keadaan diperburuk dengan hujan terus menerus di daerah puncak Terata.

            Puncak ini walaupun tidak tinggi sekali, memang penting untuk didaki. Sebab di sepanjang pegunungan di Kalimantan, daerah ini punya vegetasi yang khas. Beberapa lumut emas ditemukan di sini. Tumbuhan parasit kantung semar yang unik juga ada.

            Sisa tim yang menunggu di Liu Banyu menghabiskan waktu dengan istirahat dan merancang perjalanan selanjutnya. Porter-porter dari Mata Lunai dipulangkan hari itu, karena kebutuhan tenaga sudah berkurang. Malamnya, Zekky yang bertugas melakukan komunikasi mencoba menghubungi Sekretariat Mapala UI di Salemba, Jakarta dengan radio All-band.

            Sebenarnya sukses tidaknya hubungan radio ini sangat tergantung pada desain antenna dan medannya. Zekky memang sudah menyiapkan desain antenna, tetapi pemasangan antenanya tetaplah bergantung pada orang-orang Dayak. Lawing, si orang Punan, dengan tenang memanjat pohon setinggi 10 hingga 20 meter, sampai-sampai kabelnya hampir tidak cukup. Dan hubungan radio pun sukses. Melihat ini, Agung berkomentar, “Ini sih yang hebat bukan Zekky, tetapi orang Dayaknya.”

            Sedang asyik-asyiknya kami mendengarkan suara dari dunia ramai, tiba-tiba ketenangan malam di hutan yang berhujan rintik itu terpecah oleh kegaduhan para porter dari arah sungai. Mata yang setengah mengantuk sesudah makan malam mendadak sontak terbuka mendengar teriakan: “Ular, ular!”

            Beberapa orang segera memburu ke bawah. Tampak tujuh orang porter sedang memegangi sebentuk benda seperti batang kayu sepanjang lima meter. Ternyata itu bukan batang kayu, melainkan ular piton yang telah terkulai. Kepalanya hampir lepas tersabet oleh mandaunya Nyuk, seorang porter Tanjung Lokang.

            Nyuk sedang mencari binatang buruan malam itu. Ketika ia menyisir sungai mengharap babi hutan, ternyata ular yang datang. Naluri mempertahankan hidupnya seketika keluar. Ia bukannya lari melihat ular sebesar tiang telepon itu, tetapi malah dikejarnya. Hasilnya, ia menyibukkan seisi kemah induk. Malam yang tenang tiba-tiba menjadi hidup oleh kesibukan menguliti dan mengasap daging ular agar tidak busuk.

            Berjalan bersama orang-orang Dayak yang sedari kecil diasuh oleh ganasnya sungai dan hutan, membuat kita kagum dan berpikir-pikir. Saya pribadi merasa bahwa konsep pelestarian lingkungan yang mereka kenal bukanlah membatasi diri untuk tidak menebang pohon atau pun membunuhi binatang. Mereka akan tetap menebang pohon untuk membuka ladang, memburu binatang untuk dimakan, selama itu merupakan pemenuhan kebutuhan lokal, kebutuhan subsistensinya. Dengan mengikuti hukum alam, semoga tidak melebihi daya dukung lingkungannya. Lain dengan para perusak hutan yang berkedok di balik industri perkayuan dan pulp. Mereka serakah sekali.

Perjalanan berlanjut dengan memotong punggung bukit dan menyusuri sungai. Kali ini kami menuju Nanga Bohoang di tepi sungai Bungan Lewa. Perjalanan ini agak berat karena jalan menjadi sangat licin diguyur hujan bertubi-tubi. Sungai Bungan Lewa pun naik airnya sehingga kami harus menyeberang dengan air setinggi perut. Ransel-ransel terpaksa dipanggul di atas kepala.

            Di Nanga Bohoang (Nanga: muara) kemah yang sudah disiapkan oleh Tya dan Agung sehari sebelumnya telah berdiri. Babi hutan pun sudah didapat untuk santapan para porter. Lagi-lagi tempat ini sangat ideal untuk tempat tinggal manusia. Dalam hati saya bertanya-tanya, pemberian nama-nama tempat berkemah ini mirip nama kampung. Apa memang dulu pernah ditinggali? Dan rupanya, dari cerita-cerita para porter pada malam-malam selanjutnya, pertanyaan itu terjawab.

            Dulu, tempat-tempat di Liu Banyu dan Nanga Bohoang itu memang merupakan perkampungan suku-suku Dayak. Pijar, salah satu porter bahkan pernah menemukan bekas tiang Totem mereka di Nanga Bohoang. Lalu, beriring dengan waktu, terjadi proses penghiliran dari suku-suku Dayak di pedalaman. Tempat tinggal mereka makin turun ke sungai-sungai utama seperti Kapuas dan Mahakam. Alasannya macam-macam, mulai dari ekonomi hingga pendidikan.

            Malam-malam di Bohoang, para porter membuat keributan lagi. Kali ini bukan soal ular, tetapi sebagian dari mereka hendak cepat pulang untuk membuka ladang. Dari tujuh puluh orang pada saat berangkat hari pertama, di Nanga Bohoang tinggal 25 orang yang akan lanjut hingga akhir perjalanan. Sementara koli barang yang harus diangkat masih banyak.

            Akhirnya, saya bersama Caca dan Agung tinggal untuk menjadi tim penyapu dan melakukan operasi logistik. Menyeleksi barang yang tidak perlu. Tim besar berangkat ke Soa Apun dan beberapa porter akan bolak-balik menjemput kami lagi.

            Di rute inilah saya ketiban sial. Ketika hendak menuruni sungai, kaki saya terpeleset akar. Seluruh badan melayang dan hanya sebuah pergelangan tangan kanan yang menahan berat badan plus ransel dua puluh kilo. Klek! Terdengar pergelangan tangan berbunyi. Teriakan kesakitan saya menggema dalam hutan.

            Saya pikir tangan saya patah. Namun jari-jari saya masih bisa digerakkan. Berarti tulang masih normal. Hanya pergelangan berdenyut sakit. Akhirnya saya yang bertugas sebagai tim resque dalam perjalanan ini terpaksa berjalan dengan tangan terbalut. Esoknya pergelangan itu membengkak besar.

            Soa Apun menjadi tempat yang paling menyengsarakan selama perjalanan. Tempatnya merupakan sebuah sudut lereng bukit Baring Apun, perbatasan Kalbar-Kaltim. Kami bermalam di kemiringan lerengnya. Dengan sendirinya suhu udara di sana menjadi paling dingin. Airnya sedikit. Dan tangan yang membengkak berdenyut-denyut sepanjang malam.

            Esok, target kami adalah menembus dua etape sekaligus untuk menyusul rombongan besar. Turun ke sungai Penaneh, melewati Nanga Popong dan terus menembus ke Lepuhun Keto, tempat berakhirnya perjalanan menembus pegunungan Muller.

            Target boleh jauh, namun apa daya kaki tidak mampu. Walau sudah mulai berjalan sepagi mungkin, tetap saja Lepuhun Keto tidak sampai. Kami berjalan secepat mungkin turun Baring Apun.

            Nah, begitu menghiliri sungai Penaneh, kesulitan timbul. Rute orang Dayak selalu mengikuti sungai. Maka repotlah kami karena hampir setiap kelokan sungai, jalan setapak terlihat memotong sungai. Kami pun harus menyeberanginya. Hitung-hitung, hari itu lebih dari 30 kali kami menyeberangi sungai. Tenaga habis untuk berjalan di atas batu-batu sungai yang licin. Belum lagi beberapa bagian bisa setinggi pinggang hingga dada.

image

            Gendon sempat hampir tercebur. Beruntung Agung sempat menahannya dari belakang. Hingga mendekati Magrib, tuntas sudah 9 jam kami berjalan hari itu. Ini adalah rute terberat yang kami tempuh, dan ditutup dengan makan malam yang mengenaskan hati. Tiada nasi untuk malam ini.

            Pasalnya, makanan pokok seperti beras dan mi instant terbawa oleh porter yang melaju di depan kami untuk menyusul rombongan di depan. Konsumsi kami tinggal buah berkaleng-kaleng dan lauk berbungkus-bungkus. Malam pun lewat dengan cocktail dan opor ayam. Perpaduan yang sangat menurunkan selera.

            Berbekal dendam terhadap nasi, hari terakhir kami berjalan secepat kemarin. Hingga di suatu muara sungai, kami turun dengan cepat dan mendengar suara orang di depan. Rendi dan Unun, dua orang porter paling depan berteriak-teriak. Teriakan itu disahuti. Dan muncullah dua orang suku Dayak Aoheng memegang senapan tabur. Mereka adalah motoris dari Tiong Ohang yang menjemput kami. “Wah bapak-bapak tadi hampir kami tembak,” katanya.

            Rupanya, sambil berjalan mereka mencari-cari rusa. Dan saat bersua seekor rusa di pinggir kali, ternyata rusa itu berada di antara kami. Laras yang sudah dibidikkan pun terpaksa diturunkan. Salah-salah menembak rusa, mendapat manusia.

            Para motoris perahu ces itu lalu berebutan membawa barang kami. Dengan segala gengsi, kami pura-pura menolak, padahal kegirangan. Akhirnya, selama dua belas hari perjalanan ini, sempat juga kami satu jam berjalan lenggang. Kini kami mengakhiri perjalanan darat, dan siap mengarungi jeram-jeram Mahakam.

*MATRA, September 1994.