Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (04)

Daun musim semi ©2010

Kini saatnya kita memasuki pertimbangan mengenai waktu dalam menekuni preferensi fotografi. Pada pembahasan mengenai penentuan preferensi fotografi saya sempat menyinggung juga mengenai waktu, tetapi kaitannya antara kebiasaan kita dengan pilihan preferensi fotografi. Kini saatnya kita berbincang mengenai waktu sebagai sumber daya dalam mempertimbangkan pilihan preferensi fotografi.

Adakalanya dimensi waktu, berbanding lurus dengan dimensi ruang. Artinya, anda yang memiliki waktu yang cukup banyak untuk didekasikan untuk kegiatan fotografi, umumnya juga bisa memiliki keleluasaan untuk menjelajahi ruang alias tempat-tempat yang menarik. Tempat-tempat yang menarik bisa berarti terjadinya peristiwa yang menarik, kondisi alam yang tidak biasa atau manusia yang memiliki budaya atau kebiasaan unik. Ini adalah kondisi idealnya.

Saat ada di tempat yang menarik, terkadang waktunya tidak mengijinkan untuk berada lebih lama guna mengeksplorasi tempat tersebut lebih lanjut. Jika anda seorang pengusaha atau karyawan yang sering ditugaskan ke tempat-tempat yang menarik, dilema ini sering muncul. Alokasi waktu yang diberikan biasanya hanya betul-betul pas dengan kebutuhan pekerjaannya. Anda lalu berpikir,“Nanti saja pas liburan bersama keluarga bisa datang ke tempat ini lagi.”

Sebaiknya hal di atas jangan menjadi pertimbangan. Saat anda libur bersama keluarga, gunakan waktu itu bersama keluarga, dan belum tentu anda bisa datang ke tempat yang sama. Lagipula, ngapain berlibur ke tempat yang sudah pernah dikunjungi untuk kerja?

Saat anda ditugaskan ke tempat yang menarik (semua tempat sebetulnya menarik, tergantung cara anda melihatnya 🙂 usahakan ada waktu luang entah setengah hari atau sehari untuk memotret. Orang-orang yang berpikir memotret bisa dilakukan sambil traveling adalah pikiran yang keliru. Memotret harus dilakukan dengan dedikasi dan konsentrasi penuh, apapun preferensi fotografinya. Waktu serasa terbang ketika kita sedang asyik mengeksplorasi subyek untuk difoto.

Kondisi di atas adalah situasi yang cukup ideal, artinya waktu dan dana tersedia bagi seseorang untuk menyalurkan minat fotografinya. Bagaimana dengan yang memiliki waktu terbatas?

Waktu yang terbatas, bisa disiasati dengan kesiagaan fotografi secara penuh. Artinya, kamera selalu berada di sisi anda nyaris setiap saat. Karena waktu anda sempit, manfaatkan setiap jendela peluang fotografi yang terbuka untuk mengabadikannya. Ini mirip kerja seorang jurnalis foto.

Kemiripannya hanya sampai di situ, sama-sama memanfaatkan momentum, namun momentum yang anda manfaatkan terfilter oleh preferensi foto anda. Anda lebih mirip seorang kolektor visual yang mengabadikan scene kesukaan anda menjadi sebuah body of work alias koleksi foto yang memiliki benang merah.

Apabila anda gemar memotret halte bis, mungkin anda bisa memotretnya tiap anda bertemu dengan sebuah halte bus yang kondisinya unik, atau situasinya secara visual menggoda. Anda lakukan itu selama bertahun-tahun, dan saat anda mengamati lagi dengan seksama, anda akan kagum sendiri dengan kumpulan fotografi anda.

Anda tidak perlu pergi jauh untuk melakukan hal ini. Di sela-sela kesibukan sehari-hari “fotografi halte bus” bisa dilakukan. Atau, anda ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk fotografi karena anak-anak sudah sibuk masing-masing. Mainan masa kecil anak-anak anda bisa jadi obyek yang menarik, bahkan bisnis fotografi.

Satu hal yang jelas, dengan semakin seringnya anda memotret –apapun preferensinya– kepekaan anda dan fokus preferensi fotografi anda akan semakin menajam. Mata anda akan semakin peka terhadap subyek, komposisi atau pun kondisi cahaya yang menggoda tangan untuk meraih kamera dan membidiknya.

Jadi, andaikan waktu anda terbatas, gunakan kreatifitas anda untuk menyiasatinya. Kalau anda tekun, waktu untuk memotret serasa banyak. Kalau anda malas, seberapa banyak pun waktu yang tersedia, tak akan cukup.

McKinley di Alaska

Rombongan Mapala UI berhasil menaklukkan puncak tertinggi Amerika Utara. Ketemu sosok misterius. Tantyo Bangun, Project Officer pendakian menuliskan khusus untuk Matra (November 1989).

Norman keluar, diikuti Didiek, Deddy, dan Sute. Keempatnya melongok kiri dan kanan. Putih semua. Mata mereka mencari-cari perlengkapan pendakian yang terkubur hujan es semalam suntuk. “Huh… Tabiat asli Denali baru kelihatan. Kemarin-kemarin masih

tenang, hari ini mengamuk…” catat Didiek di buku hariannya. Denali adalah nama asli gunung McKinley. Dalam bahasa Indian Athabasca, Denali berarti Yang Tinggi. Hari itu adalah hari keempat pendakian. Mereka kini berada di ketinggian 3.165 meter sesudah Kahiltna Pass.

Memang, hari-hari pertama mereka menyapa Denali disambut dengan sopan. Cuaca begitu bagus sejak mereka meninggalkan kemah induk di Kahiltna Glacier, 2.195 meter. Akhir musim panas yang biasanya diwarnai dengan angin kencang di Alaska tak terlihat. Ketinggian demi ketinggian bertambah. Kesulitan hanya timbul dari masalah teknis kecil.

Sute, misalnya, harus sering terjatuh sebelum Kahiltna Pass. Kikuknya belum hilang dengan cara berjalan menggunakan snow shoe. Penyesuaian langkahnya keliru. Seharusnya, ia lebih banyak melangkah dengan menggeser telapak kakinya. Namun ia melangkah dengan langkah lebar, bak pria habis dikhitan. Snow shoe-nya yang lebar sering mengganjal. Terjungkallah dia. Memang tak mudah berjalan di salju dengan budaya Eskimo.

Halangan lain yang menimpa Sute adalah kesehatannya. Tak tahu kenapa, kondisi anak Sastra Prancis yang pendiam ini jadi menurun. Norman menulis di laporan pendakiannya: “Perjalanan terhambat karena Sute merasa pusing-pusing dan terpaksa berhenti. Sementara di kiri-kanan banyak sekali crevasse (jurang es).”

Didiek lain lagi masalahnya. Sepatu saljunya seringkali lepas. Untuk membetulkan dalam kondisi biasa mungkin tidak masalah. Tapi ia ada dalam tim. Satu orang berhenti, yang lain akan ikut berhenti. Norman yang biasanya tidak kenal kompromi, saat itu bersikap lain. Berkali-kali sled Didiek dihelanya mendaki lereng terjal. Dan rombongan “kura-kura” itu dapat mendaki sedikit lebih cepat.

Kahiltna Pass mereka lewati. Lereng salju semakin terjal. Sekali-kali mereka menengok ke arah Mount Foraker, “istri” dari Denali. Cuaca buruk terlihat mendatangi. Untuk yakinnya, Deddy dengan lensa panjang melihat puncak Denali. Benar, Lenticular Caps yang terbentuk dari hamburan es yang tertiup badai tampak menyelimutinya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti.

Deddy dan Didiek mengeluarkan sekop salju. Mereka harus menggali salju lebih dalam. Tenda harus tertanam lebih banyak untuk dapat menahan serangan badai. Hanya ujung atapnya saja yang boleh terlihat. Setengah jam menggali, selasai sudah bunker salju mereka.

Jam delapan malam badai menghantam mereka. Terus-menerus menderu. Kain tenda yang membeku karena tiupan badai berderak-derak suaranya. “Pertama-tama McKinley adalah gunung sub-Arctic. Udara ‘terhangat’ pada musim dingin adalah minus 40 derajat celcius, dengan rekor kecepatan angin 40 kilometer per jam,” begitu tulisan Bradford Washburn, Direktur Boston Museum of Science, kembali terlintas dalam benak mereka.

Washburn orang yang pertama kali membuka rute West Buttress pada tahun 1953. Ia, waktu itu, dihantam badai pada posisi yang sama dengan para pendaki Indonesia sekarang. Pendaki Jepang, pada beberapa tahun lalu juga terhantam di sini. Nasib buruk menimpa mereka. Mereka hilang disapu angin. “Fakta-fakta itu, terus terang membikin kami terjaga sepanjang malam,” tutur Didiek. McKinley malam itu memang sungguh menakutkan.

Syukurlah, ketakutan mereka tidak berkepanjangan. Di Jakarta, pukul setengah empat dinihari tanggal 11 Juli, mereka mengabarkan hal ini: “Sukses! Kami sudah sampai dengan selamat di Puncak McKinley tanggal 7 Juli. Nggak kurang sedikit pun. Pokoknya normal.” Itu kata-kata pertama dari facsimile yang kami tunggu-tunggu. Hilang semua kepenatan selama delapan bulan terakhir.

Memang, persiapan matang akhirnya menentukan. Mereka mendaki dengan cepat. Malah boleh dibilang terlalu cepat. Saya ingat telepon Didiek dari Talkeetna, beberapa saat sebelum terbang ke kemah induk di Kahiltna Glacier, “Sampai tanggal 22 Juli kami ada di McKinley. Kira-kira pendakian akan makan waktu tiga minggu.”

Ternyata tanggal 11 Juli mereka sudah di bawah lagi dan berhasil. Hasilnya memang di atas rata-rata. Pendakian tercepat di McKinley, sejak diresmikan menjadi taman nasional, tercatat 9 hari dan pendakian terpanjang 24 hari. Orang-orang tropis Indonesia ini baru pertama kali mencoba membukukan waktu 10 hari. Saya lalu teringat awal semua petualangan ini.

Waktu itu, dalam pertemuan di Jakarta, 29 Oktober 1988, semua yang hadir sibuk berdebat. Adi Seno dengan segala pengetahuannya tentang gunung salju di seluruh belahan bumi membeberkan pandangannya. Saya bersama Sulis, Eka dan Makky mendengarkan dengan antusias. Adi mengajukan usul sasaran ekspedisi berikutnya, setelah cukup berhasil menapaki pegunungan Andes pada bulan Juli.

“Yang paling mungkin memang McKinley. Ia layak dijadikan sasaran antara sebelum kita kembali ke Himalaya, atau meneruskan program “seven summit”, pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.” Kata Adi membandingkan Denali (McKinley) dengan kandidat lain, seperti Makalu (Nepal) dan Aconcagua (Argentina).

“Pat (Morrow) juga menyiapkan diri ke Everest dari McKinley dan Aconcagua. Sesudah itu baru puncak lainnya,” Adi menambahkan. Pat adalah rekan pendaki asal Kanada yang telah mencapai seven summit.

Rapat Badan Khusus Ekspedisi Mapala Universitas Indonesia hari itu selesai. Keputusannya secara bulat menetapkan Gunung McKinley sebagai sasaran tahun ini. Gunung itu menjulang menjadi titik tertinggi di Alaska. Letaknya yang 390 kilometer dari lingkaran Artik, menawarkan medan yang tidak bersahabat. Dan saya mendapat tugas berat untuk menjadi project officer-nya.

Setelah saya pikirkan selama seminggu, akhirnya saya terima tawaran itu. Sebab tugas itu punya banyak konsekuensi. Misalnya, harus menunda skripsi, menahan diri untuk tidak bisa ikut ekspedisi ke Irian, dan mengurangi perhatian ke masalah keluarga. Yang paling berat adalah mengatur sejumlah ego untuk bekerja bersama mencapai puncak McKinley.

Mengatur masalah ego ini dituntut kepintaran tertentu. Dengan tenaga yang ada sekarang, terus terang kepercayaan terhadap kemampuan teman-teman untuk sampai ke puncak McKinley tidak diragukan. Mula-mula tiga belas orang yang mendaftar seleksi. Tapi akhirnya terpilih empat orang. Semuanya cukup handal, dan “jam terbang” mereka lumayan panjang. Tapi rasanya ada yang kurang. Saya butuh motivator.

“Kenapa tidak mengajak Norman?” pertanyaan setengah usul dari Sulis.

Norman Edwin. Terbayang di kepala saya sebuah ego lain yang sangat dominan. Saya teringat pengalaman hitam dengannya. Tragedi Ekspedisi Arung Jeram Sungai Alas melintas kembali. Kami kehilangan Mas Budi Belek dan Tom Sukaryadi waktu itu. Jeram-jeram ganas sungai Alas mengalahkan mereka. Saat itulah saya melihat – untuk pertama kalinya – orang sekeras Norman bisa menangis. Tapi itu jelas bukan tangisnya yang pertama jika kehilangan teman dalam ekspedisi.

Tahun 1981, Norman juga menangis waktu mendengar Hartono Basuki meninggal di dinding Selatan Carstensz Pyramid. Saat itu ia yang menjadi ketua ekspedisinya. Walaupun secara teknis ekspedisi itu sukses, dengan korban satu nyawa tak urung Norman sempat “diadili”.

Pengalaman-pengalaman itu membuahkan anekdot-anekdot. Teman-temannya bilang kalau ia bertualang, pulangnya selalu membawa peti (mati). Di sisi lain dengan keberuntungannya yang tinggi, mereka berkomentar bahwa ia punya nyawa cadangan.

Tapi orang yang satu ini benar-benar fenomena kepribadian yang unik. Orang mungkin berpendapat, semangat egaliter yang sangat ditanamkan dalam keseharian di Mapala, membentuk pribadi-pribadi yang semau-maunya. Bebas. Dan paling buruk: tidak mengenal disiplin. Memang itu yang terjadi. Tapi ada nuansa lain juga dari pergaulan dengan alam.

Orang yang belajar dari alam tidak mengenal larangan. Namun siapa yang ceroboh, hukumannya adalah maut. Ini kalimat kunci dan itu yang menyebabkan terbentuknya kepribadian “tanpa larangan, tapi siap menanggung risiko”. Norman tak terkecuali.

Rambutnya gondrong berkuncir. Lelucon-leluconnya selalu menyerempet-nyerempet porno, dan hanya memiliki satu kemeja di antara seluruh T-shirtnya. Semuanya berkesan urakan. Tapi ada faktor yang berlawanan. Semangat hidupnya kadang terasa kelewatan.

Waktu pertama mendapat tawaran itu, sambutannya baik. “Tapi gua mesti ke Sulawesi dulu, barang sebulanlah,” begitu katanya. “Kalau bisa gua sudah dapat referensi yang mesti dibaca.”

Saya lalu menyodorkan Surviving Denali. “Problem paling besar menghadapi frostbite (sengatan dingin). Artinya perlengkapannya harus ultra ekstrem untuk bisa lewat di kondisi minus 40 derajat Celicius,” kata saya menjelaskan.

Anggota tim sudah terseleksi. Didiek Samsu sebagai orang kedua setelah Norman. Didiek dengan pengalaman Himalaya dan Andes punya cukup disiplin. Walaupun tulisannya seperti cakar ayam, pengaturan administrasinya cukup rapi. Dan yang penting ia dapat bekerja di bawah pimpinan Norman. Sarjana arkeologi ini bertekad hidup dari bergiat di alam bebas.Ini langka di sini, tapi saya butuh orang seperti itu. Saya tidak senang dengan orang yang setengah-setengah.

Personil lainnya adalah Deddy. Si “easy going” yang sangat menelantarkan kuliahnya di fakultas sastra ini bisa cocok untuk ekspedisi McKinley. Pengalaman saya bersamanya mendaki di Chimborazo, Andes memang menyiratkan apa yang perlu saya ketahui tentang dirinya. Untuk kepemimpinan memang Deddy tidak terlalu menonjol, tetapi sebagai pasukan komando, tidak pernah ada kata “tidak bisa” dalam kamusnya.

Deddy sangat jarang marah. Kalau marah pun mudah ketahuan. Ia akan menyendiri dan diam. Ini sikap marah yang “bagus”. Artinya tidak merusak ekspedisi dengan mengamuk dan mengomel tanpa kejelasan.

Anggota terakhir adalah anak paling muda dari kami. Sugihono Sutedjo. Ia meroket dengan cepat sebagai pendaki, dan mematahkan mitos bahwa anak sastra Perancis harus lemah lembut. Tahun 1987 ia masih anak bawang. Tapi dengan cepat ia belajar dan belajar. Januari lalu ia memimpin rekan-rekannya menaklukkan Mount Cook, gunung tertinggi di Selandia Baru.

Saat tengah menyeleksi tim McKinley, satu keputusan besar lagi saya buat. Saya memutuskan untuk tidak ikut. Saya merasa ini yang terbaik untuk tim. Dengan usaha fund raising selama enam bulan sudah cukup menyita waktu. Ditambah lagi persiapan fisik dan teknis untuk mendaki gunung dengan tingkat kesulitan seperti McKinley, sungguh di luar kemampuan.

Tim sudah ada, masalah belum terpecahkan. Orang-orang ini tetap punya ego yang sangat besar. Dalam stress berat bisa timbul konflik yang bisa merusak tim. Memikirkan bagaimana cara menyelaraskannya, saya bicara dengan beberapa psikolog. Saya tanyakan baiknya suatu program latihan. Mereka setuju dengan usul saya untuk mengumpulkan tim ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling tidak mereka terbiasa mengenal kepribadian teman seperjalanan ke Puncak McKinley. Saya satukan di rumah Norman selama dua bulan.

“Ini perlu untuk tim. Bayangkan saja beda usia gua dengan Sute sekitar tiga belas tahun. Dan dia entar jadi satu tim yang harus gua anggap punya kemampuan rata dengan lainnya. Paling tidak dia tidak usah sungkan sama gua. Jangan mentang-mentang gua lebih tua, Sute nggak berani menegur kalau gua salah. Kalau di McKinley bisa jadi bahaya.”

Kalau dari referensi Barat memang agak lain. Pendaki terkenal macam Reinhold Messner, Chris Bonington, Doug Scott, Lou Whittaker tidak memerlukan model seperti ini. Mereka profesional disitu. “Kerja”nya memang naik gunung. Paling tidak usia mereka pun matang.

Persiapan teknis mulai berjalan. Lari 10 kilometer sehari, latihan beban 3 kali seminggu, memanjat dan mendaki pada akhir minggu. Semua memang berat dan membosankan. “Camping dong sekali-sekali,” pinta Deddy.

Permintaan Deddy terkabul, saya aja mereka camping di dalam Cold Storage. Semalam berlangsung dengan aman. Suhu di awal kami masuk hanya 20 derajat di bawah nol. Makin lama perlahan merayap turun sampai titik minus 40. Kamera video 8 mm yang saya coba untuk mengabadikan mereka hanya bertahan lima menit. Baterainya ngadat membeku. Tapi hasil simulasi di Cold Storage ini banyak. Semua merasa siap untuk berada lebih lama di kebekuan itu.

Tapi ada halangan kecil lain. Dokter Dangsina Moeloek, pengamat medis tim ini menemukan bahwa Hb darah mereka turun setelah tes faal yang ketiga. “Pendaki gunung harus punya Hb tinggi. Di ketinggian oksigen susah diangkut ke otak kalau Hb rendah,” kata dokter Dangsina,“tapi saya akan cek ke PMI, apakah sesuai dengan kondisi Indonesia.”

Jawabannya positif, ternyata darah mereka masih lebih baik dibanding dengan kondisi darah rata-rata orang Indonesia. Saya kurang puas. Kami lakukan simulasi ketinggian di Lakespra Saryanto. Hasilnya bagus, saya puas.

Ekspedisi McKinley masuk tahap in action. Didiek dan Sute berangkat lebih awal seminggu. Di Anchorage mereka akan belanja di REI. Mapala UI tercatat sebagai member di sana. Paling tidak bisa dapat potongan. Tiap orang rata-rata menghabiskan biaya sebesar 4.000 dollar untuk perlengkapan pendakian di suhu ekstrem dingin. “Soal perlengakapan kami dipuji oleh pendaki lain. Untuk Alpine tacic memang tidak ada pilihan lain. Kami harus mendaki cepat dan aman. Peralatan yang baik jadi salah satu jaminan keamanan,” kata Didiek.

Norman dan Deddy menyusul mereka ke Anchorage, dan langsung ke Talkeetna. Siap-siap sebentar dan terbang lagi ke Kahiltna Glacier. Cepat memang, tapi bukannya berlangsung mulus. Rudi Badil, teman dekat Norman bertanya pada saya, “Siapa lagi kali ini yang jadi ”korban” sasaran amukan Norman?”

“Korban” memang tidak ada. Namun bukan berarti ia tidak keras. “Di lapangan ia kerasnya minta ampun. Untung kita-kita sudah hapal kelakuannya. Toh dia berlaku keras untuk kebaikan tim juga,” kata Sute yang entah kenapa jadi orang yang paling lemah kondisinya. Artinya ia jadi orang yang paling sering didorong-dorong semangatnya untuk tetap mendaki.

“Saya sempat diberi pilihan tidak enak oleh Norman. Bisa ikuti kecepatan yang lain sampai ke puncak McKinley atau menjaga kemah. Mungkin karena pilihan yang sulit seperti itu, semangat justru bangkit,” lanjut Sute.

Norman sendiri bukan tanpa cacat. Ia sempat panik waktu memanjat tebing es dengan kemiringan 75 derajat di atas Windy Corner, 3.930 meter. Crampoon-nya sering kali lepas. Dan memanjat tebing es tanpa crampoon sama seperti mengais pasir tanpa jari.

Bayangkan kondisinya waktu itu. Ia ada di tebing es, membungkuk membetulkan crampoon dan menahan beban 40 kilogram di punggungnya. “Perbedaharaan makian joroknya terlontar semua,” komentar Deddy.

Langkah-langkah akhir ke puncak McKinley mulai ditapakkan. Semuanya tampak beres. Tebing terjal Denali Pass di ketinggian 5.547 meter dirayapi dalam waktu dua jam. Dari atas, piramida puncak McKinley memanggil-manggil. Tapi terlihatnya tak lama, sebab kabut dan angin kencang segera menutupinya. Suhu langsung meluncur turun ke titik 25 di bawah nol derajat Celcius. Down Jacket harus segera dipakai.

Dua ratus meter menjelang puncak, Didiek menengok ke arah puncak Utara. Antara percaya dan tidak, terlihat sosok mengenakan jacket parka merah melambai-lambai. Dia memberitahu Norman, “Man, ada orang di Puncak Utara.”

Norman juga melihat tapi ia membisu dan mendaki terus. Deddy dan Sute yang ikut mendengar ucapan Didiek menyanggah. Didiek akhirnya terdiam dan melangkah terus. Soal sosok misterius ini tetap jadi misteri sampai mereka kembali.

Di dekat puncak, Norman diam. “Hampa banget waktu itu. Emosi gue hilang. Yang ada hanya keinginan sampai (puncak) dan kembali,” begitu ia menceritakan pikirannya waktu itu. McKinley, titik tertinggi di Amerika Utara setinggi 6.194 meter, pun akhirnya bisa dijejaki.

Bendera-bendera yang wajib diabadikan dikeluarkan satu per satu. Wajah-wajah di balik goggles menahan mual. Norman terserang kantuk hebat. Penyakit ketinggian sedang hebat-hebatnya menyerang. Untunglah mereka tahan. Terakhir, seperti ditulis Didiek di catatan hariannya: “Kami harus turun, karena masih ada puncak-puncak lain yang harus didaki.”

Sudiyo (03)

© 2010

Jika pada awalnya Mbah Onggoloco melakukan usaha pelestarian Hutan Wonosadi berdasarkan kepercayaan dan hal-hal yang supernatural, tidak demikian dengan Sudiyo yang berlatarbelakang bidang pendidikan. Pada awalnya apa yang dilakukan lebih pada gerakan hati melihat bencana alam yang menimpa desanya. Namun dengan pengalaman pahit di jaman PKI, ia menghendaki Hutan Wonosadi lebih terjaga secara administratif.

Lurah Desa Beji memberi mandat kepada Sudiyo untuk memulihkan hutan wonosadi seluas 25 hektar dengan Surat Keputusan Lurah Desa,”Jadi saya diberi mandat untuk memulihkan, menjaga, mengamankan dan melestarikan hutan wonosadi,” jelasnya.

 

Dengan surat resmi itu tidak saja Sudiyo bisa menjelaskan mengapa ia berwenang menjaga Hutan Wonosadi, tetapi juga bisa menjaganya dengan berhak melaporkan kepada penegak hukum apabila ada pihak-pihak yang ingin merusak hutan tersebut.

Sudiyo sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendirian mengamankan hutan. Maka penduduk dari Dusun Duren dan Dusun Sidorejo yang berbatasan dengan hutan, membentuk organisasi bernama Kelompok Ngudi Lestari. Entah sengaja atau tidak, tapi untuk mengamankan Hutan Wonosadi seluas 25 hektar itu kelompoknya berjumlah 25 orang.

Sudiyo bertindak sebagai koordinator dari kelompok itu. Ia tidak saja mengatur secara internal jalannya organisasi untuk mengamankan dan melestarikan hutan, tetapi juga berusaha mengembangkan kegiatan kelompok tersebut untuk makin memperkaya keanakeragaman hayati hutan itu. ”Saya berhubungan dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan untuk meminta bantuan bibit,” Sudiyo menjelaskan perannya.

Selain kewajiban anggota Kelompok Ngudi Lestari untuk menjaga hutan, sebagai imbalan mereka juga diberi beberapa keringanan seperti: tidak dikenakan kerja bakti tingkat desa; tidak dipungut dana tingkat desa, misalnya minta ijin untuk keramaian; dan tidak harus membayar pungutan desa, yang besarnya Rp 5.000 tiap satu tahun.

Keringanan-keringana yang didapat oleh anggota kelompok penjaga hutan sebetulnya tidak seberapa dibandingkan kewajiban mereka. Tiap hari harus ada yang melakukan penjagaan terhadap hutan dengan cara bergilir. Tiap musim hujan mereka juga menanam bibit baru dari jenis tanaman apa saja, baik swadaya masyarakat maupun bila ada bantuan dari luar desa. Tapi kewajiban-kewajiban itu dipandang sebagai amanat, hingga menjadi ringan. Bahkan untuk memperkuat ikatan kekeluargaan mereka mengadakan arisan dalam Kelompok Ngudi Lestari.

Setelah Hutan Wonosadi kurang lebih berhasil dijaga dan makin hijau, Sudiyo lalu berupaya melapis penjagaannya dengan membentuk hutan penyangga seluas 28,7 hektar pada tahun 1997.  Jika Hutan Wonosadi ada di tanah negara, maka hutan penyangga adalah tanah-tanah milik masyarakat –bersertifikat hak milik– yang dengan sukarela oleh pemiliknya dihutankan kembali.”Tapi diatur, boleh ditebang selama dalam kesepakatannya. Dalam setahun boleh menebang satu batang pohon, tapi paling tidak harus menanam 3 batang pohon juga setahun sebelumnya.”

Dengan ditanam setahun sebelumnya, sudah bisa dipastikan 3 pohon usia satu tahun itu akan bertahan hidup. Jaminan ini untuk menggantikan satu pohon yang layak dijual kayunya dan akan ditebang. Pohon-pohon yang ditanam di situ umumnya adalah pohon jati, akasia dan mahoni. Jadi semacam hutan kemasyarakatan prosesnya.

Organisasinya pun berjalan tertib. Tanggal 7 setiap bulan mereka berkumpul mengadakan rapat anggota untuk evaluasi, baik yang memiliki tanah maupun yang tidak. Kepemilikannya pun bervariasi,  ada yang 5.000 meter persegi, ada yang 2.000 meter persegi. Sudiyo sendiri mengaku memiliki 2.500 meter persegi.

Jika Hutan Wonosadi itu yang mengawasi dan melestarikan adalah kelompok Ngudi Lestari, maka hutan penyangga yang memelihara adalah pemilik tanah. Kelompok hanya membantu saja, seperti memintakan bibit ke dinas-dinas pemerintah daerah terkait seperti bibit jati dan bibi mahoni.

Senangnya Sudiyo adalah dukungan banyak pihak terhadap upayanya ini. Mulai dari masyarakat desa, dinas-dinas, pemerintah daerah, semuanya membantu. Ia terus terang mengakui,”Saya berhasil tidak hanya –karena upaya– sendiri, tapi dengan dukungan pemerintah. Untuk tanah miring umpamanya, diberi masukan bahwa tanah seperti itu cocok ditanami tanaman jenis tertentu. Kemudian kami diberi bibit,”

Dan yang membuatnya makin bangga adalah keterlibatan dunia perguruan tinggi,”Pihak-pihak luar itu tidak hanya menyaksikan, tapi meneliti dan membuktikan. Universitas seperti UGM dan Atmajaya meneliti disini,” bangga Sudiyo.

Keberadaan Hutan Wonosadi menjadi lengkap dengan dilakukannya pemetaan hutan pada tahun 2005. Saat ini ada peta berskala 1:25.000 yang secara rinci memaparkan batas-batas hutan, flora faunanya, kontur dan titik-titik empat sumber mata air yang terletak di dalam hutan itu. Artinya, hutan ini tidak saja dilindungi berdasarkan kepercayaan semata, tetapi juga karena fungsi ekologisnya  sudah jelas bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Kepercayaan masyarakat sendiri diwakili oleh sebuah tempat di tengah hutan, berpagar lima batang pohon besar yang seolah menjadi pusat dari hutan tersebut. Tempat yang dipercaya sebagai tempat untuk melakukan ritual-ritual penting masyarakat desa seperti sadranan. Tempat di mana Mbah Onggoloco dipercaya mencapai kesempurnaan  dari ikatan duniawi, menjadi moksa. Tempat yang bernama: Ngenuman.

bersambung…

Sudiyo (02)

Hutan Wonosadi memang bukan hutan desa biasa. Namanya menyiratkan keunikan riwayatnya. “Hutan ini dinamakan Wonosadi. Wono itu artinya alas atau hutan, sedangkan sadi berarti rahasia,” jelas Sudiyo.

Namanya rahasia, sampai sekarang menurut Sudiyo tak ada yang tahu rahasianya apa. Selain namanya menyimpan teka-teki, riwayatnya pun berselimut misteri. Menurut sejarah lisan, pada sekitar abad 15 –ketika Majapahit runtuh karena diserang oleh Demak, salah seorang bangsawannya mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kidul.


Jika dirunut data sejarah, lebih mungkin hal itu terjadi pada sekitar pertengahan abad 16 saat  terjadi perang antara Daha (pecahan Majapahit akibat perang saudara antara Ranawijaya yang mengalahkan Kertabhumi) dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi.

Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527.Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.

Dari data sejarah itulah bisa diduga bahwa kemungkinan bangsawan Majapahit yang datang ke Desa Wonosadi adalah bagian dari anggota keluarga kerajaan yang dikalahkan oleh Demak. Menurut cerita turun temurun sang bangsawan adalah putra ke dua dari istri kelima Prabu Ranawijaya. Dalam kepercayaan masyarakat Wonosadi, beliau itu disebut sebagai Mbah Onggoloco. Sebagai pelarian, wajar bila nama aslinya mungkin tidak pernah akan bisa diketahui.  

Mbah Onggoloco datang bersama adiknya yang disebut Raden Gadingmas. Mereka melakukan pertapaan tepatnya di Dusun Nduren. Sesuai dengan titah ayahanda prabu, mereka datang untuk mencari wahyu keraton. Dengan wahyu itu mereka dipercaya bisa menjadi raja lagi.

Walaupun disebutnya bertapa, tetapi pengertiannya justru melakukan bakti terhadap masyarakat setempat.”Kalau orang dulu namanya  topo ngrambe, artinya bertapa dengan membantu masyarakat yang ada. Lalu dikumpulkan orang desa, Mbah Onggoloco berbagi pengalaman dan pengetahuan,” tutur Sudiyo lagi.

Bakti yang dilakukan oleh Mbah Onggolojo saat itu adalah memberikan bekal sumber kehidupan bagi masyarakat desa dengan bertapa sambil membuat hutan di Wonosadi. Adiknya Raden Gadingmas bertapa di utara, sebelah hutan wonosadi.

Sambil melakukan penanaman hutan, Mbah Onggoloco juga memberikan pelajaran pada orang setempat. Ia mendirikan perguruan. Oleh masyarakat yang menganggapnya sebagai orang yang berpengetahuan ia lalu disebut Ki Ageng.

Memang tidak terlalu jelas mengapa pilihan Mbah Onggoloco itu menghutankan kawasan bukit di atas Dusun Nduren itu. Bisa jadi memang ia berwawasan lingkungan atau mungkin beliau hanya membutuhkan tempat bertapa yang sunyi, daripada dikejar-kejar oleh tentara  Kerajaaan Demak.

Mbah Onggoloco bersemayam di Hutan Wonosadi hingga hari tuanya. Ia meninggal di sana, namun kesaktiannya makin dipercaya karena saat meninggal tidak ada seorangpun yang tahu dan tidak ditemukan jasadnya,”Istilahnya moksa,” jelas Sudiyo.

Keyakinan masyarakat Wonosadi Mbah Onggoloco telah mencapai tahapan moksa yang dalam pengertian Hindu artinya telah mencapai kesempurnaan dengan kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas dari putaran reinkarnasi –kelahiran kembali– kehidupan. Mereka percaya akan hal itu karena terkadang terdengar suara, tetapi tidak terlihat wujud orangnya.

Hutan itu pun kemudian dianggap keramat. Dengan mengeramatkan hutan itu, orang tidak akan merusak. Sudah dipesankan oleh Mbah Onggolojo jangan sampai merusak hutan wonosadi karena merupakan peninggalan anak cucu. Dosa akibatnya.

Kepercayaan akan berdosa jika merusak hutan ini diyakini cukup ampuh untuk menjaga kelestarian Hutan Wonosadi. ”Kalau merusak hutan dianggap bersalah yang mengadili hukum di dunia saja. Tetapi kalau merusak hutan dianggap berdosa hukumannya di akhirat dan dunia,” jelas Sudiyo.

Lagipula,”Kalo seseorang bersalah hukumannya hanya di bumi. Jika bibirnya pinter bicara dan punya uang banyak, bisa bebas. Makanya kami tekankan jangan merusak Hutan Wonosadi, dosa!” tandas Sudiyo.

Namun pendekatan kekeramatan itu seperti kehilangan khasiatnya ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) naik panggung politik di masa-masa 1960-an. Bukan berarti mereka lebih sakti, namun teori dialektika materi yang secara umum melandasi komunisme menyebabkan mereka tidak menyandarkan diri pada kepercayaan agama.  Dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional serta keluar dari kebenaran materi, orang-orang PKI kerap melabrak rambu-rambu tradisi. Seperti kepercayaan tradisional atas kekeramatan Hutan Wonosadi.

”Ya memang saat itu Hutan Wonosadi rusak karena politik. Dulu bupati Gunung Kidul ketua PKI, anggota-anggotanya banyak. Sampai lurah di sini juga, dia yang menyuruh orang-orang untuk menebang,” kenang Sudiyo.

Mungkin Mbah Onggoloco memang telah moksa, namun sifat-sifat melindungi dan menyayangi hutan tampaknya merintis pada Sudiyo sebagai salah satu keturunanannya. Setelah tumpasnya PKI Sudiyo memotori penanaman kembali Hutan Wonosadi. Ia juga menghidupkan kembali nilai kekeramatan hutan itu.

Bila bupati pada masa PKI menjadi pihak yang tidak mempercayai akan adanya kekeramatan atas hutan-hutan yang ada, sehingga masyarakat lalu meninggalkan nilai itu dan menebang hutan, Bupati Gunung Kidul pasca era PKI justru menjadi pendorong kembali kehijauan di Wonosadi. Pada tahun 1970 ia datang dan melihat  apa yang dikerjakan masyarakat untuk hutan di sana. Ia menyatakan Wonosadi menjadi contoh dan mengintruksikan agar masyarakat Gunung Kidul yang lain belajar ke sana.

bersambung…

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (03)

Sekarang kita memasuki bagian ketiga dari perbincangan soal sumber daya kita dan preferensi fotografi. Masih berkisar soal jebakan dari pemilihan alat foto paling vital yaitu kamera. Di awal-awal fotografi digital, kita sering membaca para penggemar fotografi di Indonesia sering menyinggung-nyinggung masalah SARA dalam forum-forum diskusi, berkenaan dengan “agama” alias kefanatikan terhadap mereka kamera tertentu.

Mencari buah matang di senja hari, Gunung Halimun ©2007

Saat itu ada dua agama yang sama-sama berasal dari Jepang. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh para pemasarnya, semata-mata mendongkrak bisnis. Mengapa? Dengan mengangkat masalah SARA fotografi ini, akhirnya dua agama itulah yang “tampaknya” mendominasi jagat –terutama– kamera SLR.

Pangsa pasar SLR mungkin bukan yang terbesar dari jumlah unit yang terjual, tetapi jika dari margin keuntungan jelas paling besar. Pengguna kamera jenis ini akan cenderung mengembangkan dua hal, pertama memperbanyak koleksi lensanya dan kedua melakukan upgrade bodi kameranya. Ujung-ujungnya adalah menggemukkan kocek produsen.

Sebetulnya apa yang membuat timbulnya sebutan “agama” dalam pemilihan alat fotografi? Yang pertama-tama untuk seseorang pemeluk agama tertentu, ia kemungkinan besar selamanya akan memeluk agama tersebut. Akan sulit sekali bagi seseorang untuk pindah “agama”. Kalau memilih sistem kamera SLR tertentu yang membuatnya jadi semacam “agama” adalah koleksi lensanya.

Bagian yang termahal dari sebuah kamera adalah lensanya. Sistem optik ini biasanya berkembang sesuai dengan keahlian si fotografer. Ia akan melakukan investasi yang cukup besar untuk mempunyai jenis lensa yang cukup beragam agar ia bisa melakukan fotografi sesuai keinginannya.

Di sisi lain banyak pemula yang ingin belajar menggunakan kamera SLR kemudian terjebak oleh jargon “agama”. Membeli satu paket kamera dengan lensa kit seolah-olah sudah membuat sang pemula memeluk “agama” tertentu. Ini pemahaman yang kurang tepat.

Di ujung lain, sebetulnya “agama” fotografi di dalam ranah teknologi digital saat ini menjadi nisbi. Seperti disebutkan terdahulu, konvergensi teknologi memungkinkan semuanya itu. Munculnya teknologi baru yang dilakukan oleh para pemain baru dengan terobosan teknologi kini bisa mengambil alih dominasi merek-merek lama.

Di dunia komputer, lima tahun lalu kita tidak membayangkan bahwa Apple akan cukup mendominasi smartphone dengan iPhone. Di dunia kamera sinema, beberapa tahun lalu kita tak mendengar adanya kamera Red yang kini bahkan dipakai oleh sutradara Peter Jackson untuk membuat The Hobbit, prequel dari Lord of The Rings. Red bahkan didesain oleh pembuat kacamata Oakley, hampir tak ada hubungannya dengan dunia sinematografi bukan?

Di dunia kamera, terobosan-terobosan baru tidak saja dilakukan oleh para pelaku lama. Dulu kita tidak mengenal sistem 4/3 yang kini dipopulerkan oleh Panasonic dan Olympus. Sekarang bahkan berkembang model kamera SLR yang translucent mirror hingga yang mirror-less. Fuji X-100 bahkan mengembangkan hybrid view finder untuk mengisi celah pasar kamera range finder, yang belum diisi oleh Leica yang merajai jenis ini dengan seri M-nya.

Dengan melihat cakrawala perkembangan teknologi, memang “agama” di dalam fotogafi menjadi kurang relevan lagi. Yang membuat orang menjadi tetap memeluk “agama” fotografi adalah seberapa banyak lensa yang dia punya. Jika hanya 1-2 lensa rasanya belum “beragama” 🙂 Jadi, jangan terlalu fanatik dengan “agama”, jadilah humanis dahulu.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (02)

Sebelum kita bahas jebakan ketiga dalam memilih kamera, patutlah dicatat bahwa jebakan-jebakan ini bukanlah sesuatu yang dibuat oleh industri fotografi dengan sengaja untuk memperdaya konsumen. Industri fotografi memang mau tidak mau harus mengembangkan pemasaran produknya sedemikian rupa sehingga berlebihan, karena industri fotografi itu sendiri mengalami perubahan besar. Kalau di produk elektronik kita mengenal konvergensi, hal itu merambat pula ke produk kamera.

Air menghitam di Bengawan Solo © 2009

Dahulu kita hanya mengenal beberapa merek kamera saja, seperti Nikon, Canon, Pentax, Olympus, Hasselblad, dan lain-lain. Kita mengenal Sony, tetapi sebagai peralatan video, juga Samsung sebagai peralatan elektronik. Karena teknologi digital, yang terjadi sekarang adalah konvergensi (pembauran) dalam industri –terutama– elektronik. Industri kamera pun sekarang dasarnya adalah industri elektronik yang memakai sarana optik (lensa).

Handphone (hp) bisa buat memotret, kamera still bisa merekam suara dan video, bahkan menjadi GPS. Pabrik kamera terbesar, paling tidak dua tahun lalu, bukanlah Nikon atau Canon, melainkan Nokia. Karena tiap hp yang dibuat memiliki kamera. Bahkan GE (General Electric) pun sekarang membuat kamera digital.

Dengan mudah dan murahnya memotret, pasar kamera digital juga meledak beberapa tahun terakhir. Namun dengan harga murah, tingkat keuntungan juga menipis dan daur hidup kemajuan teknologinya memendek. Akhirnya mau tidak mau mereka berlomba menawarkan fitur-fitur baru tiap bulan, bahkan tiap pekan.

Konsumen banyak yang diuntungkan, tapi banyak pula yang dirugikan. Yang diuntungkan adalah yang bisa memilih, karena punya informasi yang cukup. Yang dirugikan adalah yang tidak bisa memilih karena tidak punya informasi atau terlalu banyak informasi sehingga kebingungan.

Kita ambil contoh pemilihan kamera pertama bagi seorang pemula. Banyak orang yang ingin belajar fotografi memiliki kamera point and shoot (poket). Di jaman fotografi analog pemula tidak sesulit kelarang memilih kamera poket. Saat itu hanya ada dua jenis, yang lensanya fixed (biasanya 35mm) atau yang lensanya zoom.

Saat ini kamera pocket digital dibagi lagi untuk yang: pemula awam; yang pemula tapi stylish (biasanya ditandai dengan desain menarik, atau warna yang atraktif); yang pemula mahir ditandai dengan fungsi manual atau fitur lebih lengkap, body metal; sampai pemula yang suka jalan-jalan dengan fitur body tahan banting dan tahan siraman air.

Untuk yang SLR (single lens reflex) pun saat ini terbagi-bagi pula. SLR terbagi pada tingkatan pemula, lanjutan hingga profesional. Yang tingkatan pemula biasanya mudah ditandai dengan mteod penjualan bundling alias paket body plus lensa. Nah saat ini bahkan untuk kamera-kamera SLR yang di tingkat lanjutan dan profesional pun ditawarkan dengan bundling. Gejala apa ini?

Jika para fotografer profesional dan mahir yang ingin mengupgrade kameranya dengan model yang lebih baru, mereka rata-rata sudah memiliki lensa yang cukup. Jadi pembelian pun hanya body kameranya saja. Artinya, banyak pemula yang terjebak untuk membeli kamera guna belajar dengan membeli kamera untuk tingkat lanjutan secara bundling.  Pemula seperti ini biasanya memiliki banyak uang dan menganggap dengan membeli kamera mahal fotonya akan menjadi lebih bagus 😉

Di bawah ini sekilas pembagian kamera digital saat ini. Bila ada yang kurang jelas silakan tanya, atau tunggu ulasan berikutnya.

Sudiyo (01)

Kakek itu masih berjalan dengan tegapnya mendaki ke arah kawasan hutan di atas bukit desanya. Di beberapa titik ia berhenti dan menyapa beberapa pria yang sedang bekerja di pembibitan pohon. Sampai di jalan masuk hutan, ia berhenti dan duduk di atas pipa yang mengalirkan air dari tiga sumber di Hutan Adat Wonosadi.

©2010

Cucunya yang sejak tadi mengiringi mengambil tempat tak jauh darinya. Sepilah bambu sejengkal tangan dikeluarkan, dipegang di depan mulutnya dan ditarik berbareng dengan hembusan getaran udara dari rongga mulut. Sang kakek meningkahi dengan denting senar-senar yang membujur di atas sebatang bambu bulat. Tak lama kemudian menggaung suara eksotik di dalam hutan dari duet kakek-cucu. Sang kakek menembang dengan syahdu.

Alat musik yang bernama rinding itu hanya salah satu dari upaya Sudiyo, sang kakek, untuk melestarikan alam dan budaya desanya. Upaya pelestarian lainnya adalah hutan itu sendiri. Hutan yang diberi nama Hutan Adat Desa Wonosadi itu membentang seluas 25 hektar, rimbun kukuh di perbukitan batas desa.

Melihat topografinya, hutan ini memang layak dilestarikan. Tingkat kemiringannya pun mengisyaratkan terjadinya erosi, bahkan ancaman tanah longsor apabila tak ada pepohonan rimbun yang menyerap dan menampung air hujan. Bencana bukan tak pernah singgah di Wonosadi,“Tahun 1964-1965 hutan ini gundul sebanyak 99 persen. Mata air mati, terjadi erosi, banjir kerikil dari gunung,” kenang Sudiyo.

Sudiyo mengakui bahwa kondisi politik masa itulah yang menjadi salah satu pendorong rusaknya hutan Wonosadi. ”Waktu itu kan pamong desanya kan ketua PKI. Lurah juga orang PKI, dia bilang,’itu kan hutanmu, di-tegori (tebangi-red) aja kalau butuh.’ Waktu itu politiknya PKI kan membodohi masyarakat agar miskin. Kalau sudah  miskin harta, miskin pengetahuan, kan mudah dipengaruhi.”

Waktu itu Sudiyo sudah menjadi guru selama 6 tahun. Walaupun dipandang cukup berpendidikan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dominasi kekuatan politik PKI waktu itu. ”Saya juga takut,” akunya.

Selewat tahun 1965, lurah desa dijabat seorang polisi, saat itulah ia meminta Sudiyo yang dianggap sebagai seorang muda yang berpengetahuan untuk memulihkan hutan Wonosadi. Selain dipandang berpengetahuan seorang Sudiyo muda juga dipandang pantas karena keluarganya turun temurun menjadi juru kunci hutan itu.

Setelah saya memulihkan hutan tahun 1966, lalu  masyarakat kami kerahkan untuk menanam pada musim penghujan menanam kayu-kayuan dalam hutan, kayu apa saja, dengan syarat tidak boleh mematikan tumbuhan kayu yang tumbuh dengan sendirinya,” kenangnya.

Masyarakat desa menuruti ajakan Sudiyo. Tentunya menanami hutan kembali tidak bisa segera terlihat hasilnya. Mereka bekerja bersama hingga tahun 1969 terlihat pohon-pohon mulai tumbuh lagi. Pohon kayu semacam pohon jati (tectona grandis), pohon sengon (albizia falcataria), pohon johar (senna siamea) dan pohon mahoni (swietenia macrophylla) mereka tanam. Selain menanam baru, pokok-pokok tegakan pohon di hutan yang masih ada seperti pohon gondang (keluarga beringin, ficus variegata) dan pohon sengkek dibiarkan tumbuh.

Diakui oleh Sudiyo, masyarakat desa mengikuti ajakannya bukan karena pertimbangan lingkungan semata. Masalah kepercayaan juga menjadi latar belakang keinginan mereka memperbaiki Hutan Wonosadi. Mereka percaya orang-orang PKI yang tertumpas pada tahun 1965 itu sebagian disebabkan karena tingkah laku menebang hutan serampangan.

Ada cerita pula bagaimana sebuah keluarga melanggar pantang untuk menebang kayu di musim kemarau untuk membuat rumah. Rumah yang mereka bangun lalu  terbakar. ”Itu karena kekuatan gaib,” yakin Sudiyo.

Kekuatan gaib itu diyakininya bisa selaras juga dengan ajaran religi. Seperti keimanan yang meyakini bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, disepakati oleh Sudiyo.”Kalau menguasai alam untuk hidup itu tidak apa-apa. Misalnya tumbuhan untuk dimakan ya boleh dilakukan. Tapi bagi tumbuhan yang memastikan kelanjutan hutan ya tidak boleh. Kalau lebih banyak merusaknya seperti menebang hutan dan tumbuhan hingga mengeringkan mata air itu kan memutus hidup namanya. Sebagai khalifah di dunia, manusia itu harus memelihara daripada ciptaan Tuhan, iya toh?”

Pandangan lain soal hutan dan alam oleh Sudiyo adalah posisi kita sebagai pelaku di tengah jaman. Dari generasi sebelumnya kita mengusung amanat orang tua, bagi generasi berikutnya kita dititipi sumber daya itu agar bisa dimanfaatkan oleh anak cucu.

Posisi terhadap generasi sebelumnya dijabarkan olehnya,”Sopo sing urip-urip  –siapa yang memelihara–? Orangtua, maka taatilah mereka.  Seperti menjaga hutan ya taatilah, jangan dirusak hutannya orangtua. Orang jawa bilang mikul dhuwur mendem jero, menjunjung tinggi contoh yang baik dari orang tua dan menguburkan dalam-dalam hal yang kurang baik.”

Ia juga meyakini tanggung jawab berikutnya,”bahwa hutan ini bukan hutan kita tapi titipan anak cucu, ini tertulis di dalam aturan soal hutan ada Wonosadi. Dalam agama, kalo mati hanya membawa 3 hal. Pertama, ibadah. Kedua, ngamal. Kita buat hutan kan beramal buat anak cucu. Ketiga, kiriman anak cucu. Kiriman itu apa? Ya doa dari anak cucu. Kalau kita membuat hutan, kita mendapat ucapan terimakasih dari anak cucu. Anak cucu kita ingat, ’untung si mbah dulu membuat hutan.”

Keyakinan-keyakinan itu ditularkannya ke masyarakat desa. Tidak dengan model menggurui, tetapi dengan –istilah Sudiyo– nggonceng alias menumpang. Di desa yang masih kental dengan peristiwa-peristiwa komunal dimanfaatkannya. Misalnya ada rapat dusun atau upacara orang habis melahirkan atau kematian, mereka jagongan –berkumpul sambil berbincang–. Untuk berbincang mengenai pelestarian hutan, Sudiyo memulainya dengan pertanyaan sederhana. Apakah ada sesuatu yang buat kita lakukan untuk anak cucu?

bersambung…

Notes: ini adalah seri profil bersambung untuk buku mengenai Kehati Award.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (01)

Ini adalah bagian kedua membumikan preferensi fotografi kita dengan dua sumber daya yang lain yaitu waktu dan uang. Jangan sampai terbuai oleh godaan-godaan hasil foto yang indah tanpa anda memikirkan prosesnya. Proses pertama tentunya menyangkut pengadaan alat dan biaya-biaya untuk melakukan melaksanakan kegemaran ini.

Serasah di dasar rawa gambut, Tanjung Puting ©2002

Alat yang esensial adalah kamera. Untuk masalah memilih kamera ini banyak jebakan-jebakannya yang berujung pada bolongnya kantong kita alias bokek. Jebakan pertama adalah soal pixel. Pixel alias picture element adalah satuan untuk mengukur besaran imaji digital. Makin besar kemampuan sensor untuk menangkap pixel umumnya berbanding lurus dengan besarnya imaji yang dihasilkan.

Hingga akhir tahun lalu kita masih mendengar perlombaan pixel di dalam industri kamera yang berlomba menghasilkan sensor dengan ukuran lebih besar yang berarti lebih bagus atau lebih hebat. Banyak juga fotografer yang kemudian mengincar sensor yang besar dengan asumsi fotonya akan lebih bagus.

Sampai derajat tertentu, asumsi itu benar. Artinya ada minimal pixel yang diperlukan untuk menghasilkan foto yang bagus, menunjukkan cukup banyak pixel yang tertangkap untuk menampilkan detil gambar, saturasi warna, hingga menghilangkan fringement foto pada situasi intensitas cahaya rendah. Namun tentunya ada juga besaran optimal dari pixel untuk kegunaan fotografi itu sendiri.

Berapa besaran pixel yang optimal? Tidak ada angka yang pasti, semuanya tergantung kegunaan. Anda harus kembali pada penggunaan foto-foto yang dihasilkan. Sebagian besar foto yang kita hasilkan berujung untuk display pada layar monitor komputer, baik itu di monitor kita ataupun monitor orang lain saat kita berbagi foto itu melalui jejaring sosial. Untuk memenuhi layar monitor saat ini, resolusi yang umum adalah 1280 x 800 pixel. Ukuran sebesar itu sudah bisa dipenuhi oleh sensor sekecil 3 Megapixel, bahkan kurang.

Sebagian orang akan bertanya, apa kita tidak sebaiknya memotret dengan kamera dengan sensor sebesar mungkin? Jika filenya dibutuhkan untuk cetak besar 20R guna pameran bagaimana? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita sebaliknya bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak kita mencetak foto dalam setahun atau dua tahun terakhir? Seberapa besar cetakannya?

Saya yakin sebagian besar orang tidak mencetak lebih besar dari ukuran 10R. Untuk mencetak sebesar itu sensor sebesar 6 Megapixel sudah cukup. Kalaupun ingin lebih sempurna gambarnya dan bisa mencetak sebesar ukuran A3 (297mm × 420mm) dengan ukuran 10-11 Megapixel sudah bisa tercapai.

Sampai di sini sebetulnya sudah cukup batasan besar pixel sensor yang umumnya kita butuhkan. Saat ini banyak iming-iming industri fotografi dengan embel-embel kategori kamera “prosummer” dan menaikkan kapasitas sensornya hingga 16-18 mega pixel. Sungguh, kecuali anda benar-benar ingin mencetak ukuran besar lebih besar dari A3 atau menjadi profesional, tidak perlu termakan oleh iming-iming itu.

Jebakan kedua adalah teknologi. Kita akan membicarakan dua contoh jebakan teknologi di sini. Pertama adalah hype soal HDR (High Dynamic Range), yang mana teknologi mencoba mensimulasikan kemampuan mata kita dalam menangkap spektrum intensitas cahaya dalam suatu adegan.

Mata kita mempunyai sensor yang luar biasa hingga bisa menangkap intensitas cahaya sebuah benda dalam bayangan di bawah terik matahari siang bolong. Sensor kamera hingga saat ini masih menyerah dalam kondisi intensitas cahaya yang ekstrem perbedaannya. Untuk itu dipakai teknologi HDR dengan mengambil sebuah adegan yang sama berulang kali dengan variasi penyerapan cahaya yang berbeda-beda.

Biasanya cahaya intensitas tinggi, intensitas sedang dan intensitas rendah yang direkam. Kemudian hasilnya dikomputasi dan digabungkan sehingga mendapatkan sebuah foto yang menangkap intensitas tinggi sampai rendah di dalam sebuah adegan yang kontras cahayanya besar.

Teknologi ini berguna, tetapi jangan sampai termakan kecap industri fotografi dengan adanya HDR ini masalah kontras yang besar dalam foto bisa diatasi. Dalam keadaan tertentu HDR sangat bermanfaat untuk foto-foto pemandangan dan foto-foto keadaan yang still lainnya (arsitektur dan lain-lain).

Apabila anda senang memotet keadaan yang dinamis seperti manusia dan polah tingkahnya, peristiwa kemanusiaan ataupun olahraga, jangan berpikiran HDR akan membantu. Karena HDR digunakan dengan mengambil foto beberapa kali dan mensadwichnya di dalam prosesor. Jika sebuah adegan obyek bergerak, ia akan menjadi seperti multiple shots dalam satu frame atau time lapse photography. Tentunya anda tidak ingin ini terjadi pada foto anda. Mungkin suatu saat teknologi HDR bisa dikemas dalam satu kali pengambilan, nah itu saatnya kita menggunakannya secara optimal.

Contoh jebakan teknologi lain adalah perkembangan kamera 3 dimensi saat ini. Teknologi 3D adalah sesuatu yang baru, dan sebagai teknologi yang layak dikonsumsi sebetulnya masih prematur. Namun tuntutan persaingan industri mengharuskan para produsen untuk berlomba menghadirkan teknologi dan terkadang konsumen menjadi seperti “kelinci percobaan” untuk mengetes produknya.

Menghadapi tawaran teknologi canggih itu, tidak ada cara selain bersabar dan mengikuti perkembangan teknologi tersebut hingga cukup “matang” di tingkat konsumen, artinya kemudahan penggunaan, format yang universal dan lain-lain. Itu pun setelah matang harus kita timbang lagi apakah kita memang membutuhkannya?

bersambung…