Quito

Berbagi cerita saat mengunjungi Quito untuk mendaki Cayambe dan Chimborazo. Mengiringi upaya teman-teman pendaki wanita yang mendaki puncak-puncak salju katulistiwa guna menggalang dana untuk penyakit Lupus. Semoga niat baik itu mendapat lindungan, lancar selama perjalanan dan selamat kembali ke tanah air.

Ibukota Ecuador dengan ketinggian 2.850 meter, Indian Inca dan Mestizo berbaur di sana. Ada permainan voli tiga orang yang menjadi arena judi. Wanitanya cantik-cantik. Sebelum mendaki gunung, Tantyo Bangun menceritakan perjalanannya.


Dua orang pria di downtown Quito (hanya jumpa satu foto Quito yang sudah terscan 🙂 ©1990

Suara pilot terdengar merdu di telinga. Mengumumkan bahwa pesawat akan segera menurunkan ketinggian, bersiap mendarat. Setelah tujuh jam terbang terguncang-guncang dari Mexico City karena cuaca buruk, akhirnya mendarat juga di bandar udara internasional Quito, ibukota Ecuador.  Lega rasanya bisa menginjak daratan lagi.

Begitu menuruni tangga pesawat, angin dingin langsung menerpa muka. Baru ingat kalau kota ini terletak hampir 3.000 meter di atas permukaan laut. Bisa jadi ia merupakan ibukota tertinggi di dunia.

Quito tampak dari udara bagaikan sarang lebah dipagari gundukan pegunungan Andes. Ia terletak di sisi Coldillera Blanca bagian tengah dari pegunungan Andes. Karena itu ia merupakan bagian yang unik. Geografisnya masuk di daerah tropis, tapi memiliki banyak gunung bersalju. Bahkan beberapa diantaranya masih aktif bergolak. Namun, ini bukan berarti situasi politik negeri itu juga turut bergolak. Paling tidak pada saat kunjungan saya.

Mulanya memang sempat terpikir bahwa negara ini situasinya ikut “panas” juga. Apalagi waktu masuk bagian imigrasinya. Banyak petugas berseragam militer mondar-mandir. Saya rasa mereka belum pernah mendengar nama Indonesia. Maka besar kemungkinan prosedur akan tambah rumit.

Untunglah dugaan saya meleset. Petugas imigrasi cuma heran, kamu datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk naik gunung. Tapi mereka tetap ramah juga. Hanya faktor bahasa saja yang sedikit menghambat. Kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi Ecuador ternyata minim, sedangkan untuk bahasa Spanyol, kami cuma mengandalkan kamus. Gejala ini ternyata jadi hal umum di Quito. Di sana orang masih jarang yang bisa berbahasa Inggris. Akibatnya kamus saku kecil keluaran Berlitz itu jadi kitab suci saya selama di Quito, selama belum pergi ke daerah pegunungan. Di daerah pegunungan, digunakan bahasa Indian Quencha.

Dari bandara, saya ke hotel dengan menyewa sebuah van. Dan ini merupakan pengalaman pertama saya tertipu dalam soal-soal transportasi. Si wanita pemiliknya berhasil meyakinkan saya bahwa Hotel Grand Casino, hotel yang saya tuju terletak jauh di kota tua. Jadilah ongkos yang saya bayar dua kali dari yang seharusnya. Dino, bell boy Hotel Grand Casino mentertawakan saya sewaktu mendengar cerita itu.

Hotel Grand Casino bukan hotel berbintang. Tanpa AC dan air hangat dan shower-nya hanya kadang-kadang saja keluarnya. Untungnya udara cukup dingin. Tentu saja sewanya murah. Hanya 7 dollar Amerika semalam untuk double room. Tetapi bukan karena sewanya murah saya pilih di situ, sebab rata-rata tarif hotel memang murah.

Bandingkan saja tarif Hotel Grand Casino dengan Residencial Los Alpes. Hotel kelas satu ini pun hanya pasang tarif 16 dollar Amerika untuk double room. Lalu kenapa saya pilih Grand Casino? Selain lokasinya, Grand Casino merupakan hotel transitnya para pendaki gunung mancanegara. Jadi minimal saya dapat bertukar pengalaman dengan mereka.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya menyaksikan kedua wajah Quito. Wajah Quito modern yang beranjak jadi kota metropolitan yang pertama kami lewati. Nampak kesibukan-kesibukan khas kota yang sedang membangun. Kultur orang-orangnya pun selintas terkesan sebagai masyarakat maju. Tapi jangan salah, daerah ini bukan down town-nya Quito.

Down town-nya Quito justru terletak di old city-nya. Di daerah ini, di sela-sela bangunan khas peninggalan Spanyol dari abad 16, terpusat kesibukan kota itu. Entah kenapa orang-orang Quito tampaknya senang bersibuk-sibuk di tempat yang sempit. Bayangkan, desain kota zaman dahulu yang tidak mengenal mobil, pasti jalannya sempit-sempit. Sepanjang Calle (semacam boullevard) dan Avenida (Avenue) yang hanya pas untuk dua mobil, terletak pusat-pusat mercado (pasar).

Di down town, kombinasi orangnya berbeda dengan di kota baru. Kalau di kota baru, umumnya orang-orang Meszo (keturunan Spanyol) yang tampak. Hidung mancung, rambut coklat dan pirang dan wajah yang rata-rata cantik mendominasi wanita-wanitanya. Pantaslah kalau wanita kawasan Amerika Latin sering mendominasi pemilihan ratu kecantikan.

Beruntung sekarang saya bisa menyaksikan wajah-wajah cantik yang khas itu. Seabad yang lalu, ketika pendaki besar Eropa yang menjelajah puncak-puncak tertinggi Ecuador – Edward Whymper – berada di Quito , wanita-wanitanya tak terlihat seluruh wajahnya. Tulisnya: “Di sini sebagaimana di bagian lain Amerika Selatan, kebiasaan wanitanya bila keluar rumah menyelimuti wajah dan tubuhnya. Tapi saya melihat ada ketimpangan di soal ini. buruh wanita-wanita miskin (Indian) tidak begitu mengindahkan aturan kesopanan ini. Rupanya, sejak abad ke 19, yang namanya perbedaan norma antara keturunan Spanyol dan penduduk asli sudah timbul.

Keadaan kota baru dengan wajah modern dan orang-orang kelas atas kontras dengan kota tuanya. Di daerah ini umumnya yang beredar orang-orang kelas menengah ke bawah (baca Indian). Mereka dengan pakaian khasnya ponco (semacam selimut yang jadi jaket) dan topi tampak mendominasi daerah ini. Terkadang tampak orang-orang negro, daerah inilah hotel grand casino terletak.

Lokasi hotel ini terletak di daerah down town yang punya atmosfer kota, jelasnya daerah Quito Selatan – kota tua di sekitar hotel itu, sejak tahun 1978 berada di bawah ordonansi UNESCO. Ia dideklarasikan sebagai salah satu cagar budaya dunia. Dan di kota tua Quito, bangunan dan perubahan lainnya diawasi sangat ketat.

Di siang hari, suasana kota kuno ini kurang terlihat karena terlalu penuh dengan hiruk-pikuknya manusia. Namun, bila malam tiba , ketika suhu udara mulai menggigilkan tubuh dan orang-orang mulai enggan keluar rumah, suasana itu baru terasa. Anda seolah-olah berjalan-jalan di masa lampau. Terbayang tentara-tentara Simon Bolivar, pahlawan nasional Ecuador, berbaris melewati jalan-jalan tua yang terbuat dari susunan batu. Cuma sekali-sekali saja renungan itu terganggu oleh ocehan orang-orang mabuk cerveza (bir), atau wino (anggur).

Suasana itu bikin saya betah. Nantinya, tiap-tiap perjalanan “pulang kandang”, saya selalu jalan kaki. Dari kumpulan bangunan berarsitektur maju di Quito Selatan ke arah kota tua. Anda seolah berjalan menyusuri lorong waktu. Dan saya selalu menggunakan variasi-variasi rute untuk pulang hingga selalu berjumpa dengan pemandangan berbeda.

Hari pertama di Quito tidak banyak yang bisa dilakukan. Kepala terasa berat dan pusing. Malas sekali untuk pergi. Sesiangan diisi dengan tidur-tiduran. Pusingnya kepala bukan karena jet lag tapi karena penyakit ketinggian. Ingat, Quito tingginya 2.850 meter di atas muka laut. Agak sore sedikit kemalasan baru bisa dikalahkan. Saya turun ke arah Plaza de la Independencia terus menyusuri Avenida Colombia. Maksud hati ingin melongok museum. Ini sesuai dengan anjuran teman saya yang pakar jalan-jalan. Nasehatnya, kalau untuk melihat satu tempat yang mewakili satu negara, museumlah tempatnya. Nyatanya saya terlambat. Casa de Cultura Museum di Avenida Colombia sudah tutup ketika saya tiba.

Acara utama saya untuk melihat museum jadi batal. Maka, tak tentulah arah jalan saya. Sampai di Parque La Alamed, hati agak terhibur. Di taman terbesar di Quito ini mata terpancing melihat kerumunan orang di pinggir lapangan. Saya mendekat. Rupanya ada permainan voli khas Ecuador yakni pada jumlah pemain. Kalau permainan bola voli internasional satu regu pemainnya enam orang, di sini hanya tiga. Dan ada keheranan waktu saya melihatnya.

Suporter kedua regu yang bertanding terlihat semangat sekali. Tapi saya tidak melihat bahwa itu suatu pertandingan serius. Paling tidak pemain-pemainnya tidak berpotongan atlet. Rata-rata gendut dan pakai jaket jeans. Bukan kostum olahraga. Kesannya malah main-main.

Rasa ingin tahu saya bangkit. Dengan sedikit susah payah bertanya dengan bahasa tarsan, saya mendapat informasi. Kesan saya tadi salah. Yang dikira pemain voli sembarangan ternyata lebih dari itu. Mereka ternyata pemain profesional. Kenapa? Ternyata kalau dilihat lagi, penonton tidak terbagi dua sebagai suporter dari dua regu. Mereka ada dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu orang terlihat serius mengamati pertandingan. Mereka adalah kelompok penjudi dengan para bandarnya. Pantas, pertandingannya sendiri kurang seru, tapi penontonnya semangat sekali. Mereka bertaruh rupanya.

Dengan sedikit mengkal, saya tinggalkan pertandingan voli tiga orang itu. Perut terasa lapar. Mata mulai mencari-cari rumah makan. Di mana-mana ternyata populer sekali yang namanya Pollo (ayam). Dari Pollo Superman sampai Pollo E.T ada semua. Harganya pun relatif murah. Makan model Lunch Box hanya 900 Sucre berdua. Itu kira-kira sama dengan 2.500 Rupiah.     

Keluar dari tempat makan malam hari belum terlalu larut. Tapi udara mulai mendingin. Saya jalan perlahan kembali ke hotel. Jalanan cepat sekali lengang. Tapi tengoklah di rumah-rumah minum, laki-laki mengobrol di  sana.

Di Grand Casino ternyata suasananya sama. Café hotel juga penuh dengan orang-orang yang menghabiskan malam di sana. Saya mengambil tempat duduk di tengah, dan memesan sebotol Cola. Sedang enak-enaknya mengamati tamu-tamu lainnya, mendadak seorang bertampang militer dengan jaket hijau tua berdiri di depan meja saya. “Boleh saya duduk di sini?” ia bertanya sopan.

Saya mengangguk. Tapi rupanya dia tidak sendirian. Ada dua orang gadis yang ikut bersamanya. Kami pun berkenalan. Si “militer” bernama Juan, seorang perwira polisi, sedangkan dua gadis temannya adalah Maria dan Theresa. Sambil bersalaman saya menduga-duga maksudnya. Ada pikiran jahil juga, jangan-jangan Juan mau menawarkan mereka pada saya. Memang dugaan saya beralasan. Seorang laki-laki, bawa dua gadis, dan menghampiri lelaki sendirian di Café sebuah hotel. Skenarionya cocok dengan “prosedur” mucikari.

Saya akui kedua gadis itu rata-rata cantik. Dan pikiran yang tidak-tidak itu berlangsung terus sampai kami sudah membuka obrolan. Ternyata dugaan saya meleset. Mereka ternyata hanya orang Quito yang ingin mencari teman untuk melakukan “conversation” bahasa Inggris. Lucu juga jadinya, memperdalam bahasa Inggris dengan orang Indonesia.

Waktu mereka tahu saya dari Indonesia, bukannya mereka sadar bahwa mereka “salah alamat”, tetapi justru tertarik. Macam-macam hal yang kami obrolkan, membanding-bandingkan keadaan negara masing-masing yang kebetulan sama-sama terletak di lingkar katulistiwa. Sampai suatu saat Juan menanyakan keadaan politik Indonesia. Dengan bangga saya jawab, “Indonesia adalah negara demokrasi paling damai di dunia.”

“Lalu, apakah sosialisme, komunisme, dan semacamnya diterima juga di Indonesia?” tanya Juan ingin tahu.

Saya jawab dengan yakin, “Apa sosialisme? Komunisme? Kami benci itu.”

Juan hanya tersenyum sedikit aneh mendengar jawaban saya. Tapi perhatian saya segera beralih ke topik-topik baru yang lebih menarik. Dan tahukah Anda betapa menyesalnya saya mengeluarkan pernyataan itu. Senyum anehnya Juan ternyata beralasan. Alasannya baru saya mengerti esok harinya ketika saya jalan lebih jauh ke Quito Utara. Sepanjang tembok jalan banyak sekali grafiti berisikan dukungan terhadap sosialisme. Ecuador baru saja melakukan Pemilu, dan pemenangnya Juan Antonio Borja dari pihak sosialis. Mau tidak mau was-was juga hati memikirkan akibat dari pernyataan benci sosialis tadi.

Hari selanjutnya saya isi tetap dengan niatan lama saya: melihat museum. Hari itu pelancongan dimulai agak pagi. Menyusuri Avenida 10 de Agosto, turun terus melewati Banco Central. Di depan Bank Sentral itu banyak anak sekolah berseragam antri. Mata mau tidak mau terangsang juga untuk memperhatikan lebih lanjut. Langkah kaki pun berbelok memasuki gedung Bank. Sesudah di dalam, baru teringat kalau di Bank Sentral ada museum juga. Bahkan dari omong-omong orang hotel, untuk koleksi arkeologisnya, Museo de Banco Central adalah yang paling baik di Ecuador.

Museum ini bisa jadi museum paling aman di dunia. Letaknya di tingkat atas Bank Sentral. Sebelum masuk saja saya harus melewati tatapan mata beberapa orang pengawal bersenjata laras panjang lengkap. Sesudah naik lift dan melangkah ke lantai museum, baru suasana museumnya terasa.         

Pajangan benda-benda dan artefak-artefak purbakala Ecuador menjadi pelengkap wawasan saya. Sesudah melihat wakil zaman kolonial dari arsitektur Spayol di kota lama. Displainya cukup apik. Dari koleksi tembikar, ornamen-ornamen emas, mumi, diikuti juga peralatan dan dokumentasi penggalian awal. Dari bukti-bukti arkeologi itu disimpulkan oleh arkeolog bahwa nenek moyang orang Ecuador berasal dari Asia Pasifik. Ada kemungkinan punya akar sejarah yang sama dengan kita.

Sejarah awal Ecuador dimulai dengan ekspansi suku Indian Inca dan Peru sekitar abad 14. Tapi, sekali lagi bukti arkeologi menyebutkan bahwa sejarah wilayah ini telah dimulai beribu-ribu tahun sebelumnya. Teori yang umum diterima adalah bahwa suku bangsa nomaden dari Asia menyeberang Selat Bering pada 25.000 tahun SM, dan mulai merambah bagian Selatan benua Amerika sekitar 12.000 tahun SM. Dan juga beberapa ribu tahun kemudian ada koloni Trans Pasifik dari orang-orang Polynesia. Buktinya, ditemukan juga beberapa perahu-perahu yang terbuat dari jerami yang sama dengan peninggalan di pulau-pulau Pasifik. Hanya umurnya saja yang lebih muda. Ternyata hubungan kita “dekat” dengan nenek moyang orang Ecuador.

Sesudah zaman batu itu, datang suku bangsa Inca yang mulai mengenal logam. Mereka punya peninggalan barang-barang emas yang jadi incaran kolektor-kolektor kelas dunia. Yang terkenal dari zaman ini adalah dinasti Atahualpa yang berkuasa sampai abad 16 hingga penjelajah Spanyol Pizarro yang pada 1532 tiba dengan rencana untuk menaklukan wilayah itu.

Ekspansi Pizarro bergerak dengan cepat dan dramatik. Pasukan berkuda, regu baju zirah dan pasukan meriamnya menebar teror, jadi lembaran hitam di kalangan suku Indian. Bekas itu pun masih tampak hingga kini. Suku Indian dan Mestizo keturunan Spanyol tampak tidak pernah jadi satu bangsa yang utuh.

Ecuador pun tidak merdeka dengan perjuangannya sendiri. Ecuador merdeka oleh idealisme pahlawan Amerika Latin Simon Bolivar. Pemberontak dari Venezuela ini berhasil mengusir Spanyol dari negerinya. Dia kemudian berderap bersama pasukannya turun ke Selatan. Mereka membebaskan Columbia pada tahun 1819 dan membantu orang-orang Guayaquil – kota kedua terbesar di Ecuador – waktu mereka mengklaim kemerdekaannya pada tanggal 9 Oktober 1820. Tapi semuanya makan waktu hampir dua tahun untuk membuat Ecuador benar-benar bebas dari kekuasaan Spanyol. Sampai diakhiri dengan perang besar Jendral Sucre, salah satu Jendral terbaik Simon Bolivar. Ia berhasil merebut Pichinca dan Quito. Atas jasanya, nama Jendral ini diabadikan sebagai nama mata uang Ecuador.

Tak terasa keluyuran di koridor-koridor museum menghabiskan waktu cukup banyak. Hari sudah tinggi begitu saya keluar dari gedung bank sentral. Hari terakhir saya di Quito ini harus maksimal pelancongannya. Sialnya, saya tidak punya rencana sasaran kunjungan, jadi hanya jalan-jalan asal tembak.  Begitu pula ketika keluar dari museum, mata saya langsung mencari-cari objek lain. Mata langsung terpaku pada Landmark dari Quito. “Perawan Quito” yang terletak di bukit Panecillo memang seolah-olah jadi pengayom kota ini. Ekspresi suci dari patung monumental setinggi tiga puluh meter itulah penyebabnya.

Untuk sampai ke sana, saya harus melakukan pendakian kecil. Sekitar seperempat jam mendaki sampai di kaki monumen itu dengan terengah-engah. Dengan membayar sekitar 30 Sucre saya masuk dan naik ke atas. Tapi sungguh mati saya menyesal naik ke atas.

Pemandangan di atas memang sangat ideal untuk mengamati lansekap kota Quito. Namun saya menyaksikannya dengan iri hati. Coba, dengan latar belakang hamparan kota Quito, serta sembulan gunung-gunung salju di kejauhan, sepasang anak muda asyik berciuman di depan saya. Saya menggerutu dengan keras, “Kalau enak lupa sekeliling!” Sepasang remaja itu tetap saja asyik masyuk, soalnya saya menggerutu dengan bahasa Indonesia.

Pemandangan di atas karena “terlalu menarik” membuat saya tidak berselera, lagipula waktu sudah habis. Saya putuskan turun kembali ke hotel. Dan di sana teman-teman sudah menunggu di bak belakang pick up yang akan mengangkut kami ke Cayambe, kota tua di Utara Quito untuk mendaki Gunung Cayambe dan kemudian lanjut ke Gunung Chimborazo. Wajah mereka cemberut, kesal menunggu saya mungkin. Nyatanya tidak. Kami tertipu lagi dalam soal transportasi. Mobil van yang dijanjikan berubah jadi mobil bak terbuka. Olala, kami berpanas-panas sepanjang jalan jadinya.

MATRA, Agustus 1990

VW Beetle, long time favorit. Saat turun dari Cayambe, gagal karena badai salju. Di Chimborazo cukup beruntung bisa ke puncak.

Membumikan Preferensi Fotografi

Kini saatnya bangun dari mimpi indah. Anda membayangkan akan memulai dan mengabadikan foto-foto sesuai selera anda. Mendownloadnya dan menampilkan di monitor, memolesnya sedikit dengan photoshop dan dishare ke teman-teman minta tanggapan.

Still-life ukiran daun ©2004

Sepertinya saat-saat seperti itu masih belum tiba. Sekarang adalah saatnya untuk melakukan reality check setelah anda menyesuaikan preferensi fotografi anda. Kita menghitung sumber daya yang tersedia untuk melakukan kegiatan fotografi kegemaran kita.

Pertama-tama yang kita tengok adalah kantong kita. Seberapa dalam saku itu, dan seberapa tebal lembaran-lembaran uang di sana? Kita buka situs-situs toko kamera online, lihat seberapa mahal harga kamera digital di sana. Memang jika dibandingkan dengan jaman fotografi analog dulu, saat ini kamera digital dan perlengkapan fotografi lainnya harganya relatif sudah jauh lebih murah. Namun, bukan berarti ia barang murah. Fotografi seindah apapun, bagi kebanyakan orang adalah kebutuhan tersier (bukan sekunder, apalagi primer).

Kedua, fotografi adalah kesenangan yang bisa membuat kecanduan. Kecanduan disebabkan oleh faktor penarik dan pendorong (push & pull factor). Faktor pendorong berasal dari diri kita yang suka memiliki barang canggih (walaupun belum tentu tahu memanfaatkan secara optimal), karena fungsi kamera saat ini adalah bagian penting dari konvergensi gadget.

Faktor penarik berasal dari industri fotografi. Saat ini hampir tiap minggu benak kita disesaki oleh perkembangan fitur kecanggihan kamera. Kamera untuk di helm, ada. Kamera untuk mikroskop, ada. Kamera untuk periksa mesin mobil, ada juga. Dan semuanya ada pada tataran konsumen (consumer goods) bukan cuma milik profesional saja.

Jika melihat tawaran-tawaran menarik, peri kecil bernama “konsumsi” di lubuk hati kita akan menggelitik kalbu dengan bisikan “beli… beli…”. Namun kita harus maklum apa yang kita hadapi di balik tawaran-tawaran kecanggihan kamera itu. Jangan hanya memandang kamera-kamera digital sekarang sebagai alat optik perekam gambar. Pandanglah kamera sekarang sebagai sebuah komputer yang perkembangannya mengikuti kaidah Moore. Dengan kata lain, jangan terseret arus kecanggihan kamera dalam mengomsumsinya.

Untuk memikirkan seberapa jauh tingkat konsumsi peralatan fotografi kita, gunakanlah pencabangan preferensi fotografi kita. Coba uraikan preferensi fotografi anda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Cobalah membayangkan (jangan dibeli dahulu) kelengkapan alat yang diperlukan untuk mendukung arah itu. Berikut ini ilustrasi kemungkinan apa yang bisa dikembangkan bila anda menyenangi fotografi manusia.

Kita lihat, beberapa pengembangan pencapaian artistik akan berakibat ke meningkatnya kebutuhan akan alat fotografi. Jadi sebaiknya membeli alat fotografi sebaiknya karena kebutuhan dari sisi pencapain teknis, bukan dari keinginan memiliki saja. Apalagi kalau sekedar ingin tampak canggih.

Masalah sumber daya lain adalah soal waktu dan tenaga. Tapi kita akan bahas di lain waktu.

Sesuaikan Preferensi Fotografi

Melalui proses penajaman, anda sudah menemukan preferensi fotografi. Sekumpulan foto yang menunjukkan selera dan kegemaran telah terpilih. Apakah langsung bisa ditekuni? Saatnya untuk memadupadankan dengan dua hal, yang pertama dengan cara hidup/ pandangan anda, kedua dengan sumber daya yang tersedia.

Punggung Geger Bentang dilihat dari arah kawah Gunung Gede ©2007

Idealnya preferensi fotografi anda sesuai dengan cara hidup anda. Contoh, foto bentang alam atau lansekap yang luar biasa indah adalah favorit, namun sehari-hari anda tidak pernah bangun tidur sebelum jam 06.30. Hal ini akan menyulitkan bila ingin menekuni fotografi bentang alam atau lansekap. Cahaya yang terindah untuk fotografi bentang alam adalah saat matahari di kondisi kemiringannya, alias awal pagi atau awal petang.

Anda bisa saja tetap memotret bentang alam tengah hari sekalipun, tidak ada yang melarang. Tetapi dengan arah cahaya sudah terlalu tinggi, tekstur bentukan alam dan dimensi-dimensi kedalaman bentangan alam akan sulit dimunculkan dan menjadi dramatis. Bisa, tetapi tidak optimal.

Contoh lain adalah soal foto portrait. Fotografi adalah seni visual, jadi wajar kalau kita senang akan wajah-wajah indah. Anda senang dengan foto-foto portrait glamour. Wajah-wajah dan manusia yang secara fisik nyaris sempurna. Namun sehari-hari anda luar biasa pemalu atau pendiam. Sifat seperti itu agak kurang cocok untuk mendapatkan foto portrait yang akrab.

Untuk memotret manusia, salah satu unsur keberhasilan adalah komunikasi. Seorang fotografer portrait yang berhasil apabila ia bisa mencapai tingkatan komunikasi tertentu dengan subyeknya. Ada seorang fotografer Inggris yang bisa memotret seorang presiden dengan mudahnya dan dalam pose yang tidak biasa. Tentunya hal ini membutuhkan kepercayaan diri yang besar dan bukan orang pemalu pastinya.

Jika memang preferensi fotografi anda tidak sesuai dengan cara hidup dan kepribadian, ada dua cara: pertama anda berupaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan subyek preferensi fotografi anda, atau anda memilih subyek yang sesuai dengan kepribadian anda.

Untuk mereka yang sulit bangun pagi, mungkin harus mulai belajar bangun pagi. Pertama-tama mungkin dengan bantuan alarm, tetapi lama kelamaan motivasi anda meninggi. Lihat bedanya foto bentang alam yang dihasilkan oleh cahaya awal hari, saat matahari terbit dan beberapa waktu setelahnya dengan foto bentang alam di siang bolong. Seiring kepuasan anda terhadap hasil karya, akan meningkatkan motivasi untuk bangun pagi dan mengejar cahaya.

Namun bila merubah kebiasaan menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk anda, mungkin pilihlah subyek yang sesuai dengannya. Anda terlalu pemalu untuk mendekati orang dan membuatnya santai, sehingga dapat mengabadikannya dengan pose sealami mungkin? Jika mendekati orang saja membuat anda berkeringat, lebih baik anda memilih subyek fotografi yang tidak banyak bersentuhan dengan manusia.

Macro fotografi yang memfokuskan pada dunia benda kecil bisa menjadi pilihan karena tak bersentuhan dengan manusia. Pilihan lain adalah fotografi benda (still life). Anda bisa berdialog dengan benda dan membuatnya berkarakter yang seolah hidup dengan memberikan cahaya pada bagian dan arah yang tepat. Jadi, setelah anda mengenali preferensi fotografi, kendali di tangan anda.

Mempertajam Preferensi Fotografi

Orangutan di sekolah rimba, membiasakan kebiasaan alami tumbuh kembali ©2008

Setelah mengumpulkan foto-foto yang mewakili selera pribadi, kini saatnya menyeleksinya. Terkadang pada saat mengumpulkan foto-foto itu mungkin saja kita menyenangi lebih dari satu subyek. Artinya bisa menyenangi foto-foto lansekap, tapi juga sama senangnya dengan foto-foto travel dan portrait umpamanya.

Hal semacam itu wajar saja terjadi. Boleh-boleh saja memiliki beberapa fokus kegemaran subyek fotografi, namun harus diingat, untuk kepentingan pembelajaran, tentunya kita harus membatasi fokus preferensi fotografi. Mendalami fotografi juga dibatasi oleh sumber daya yang dimiliki seperti dana, waktu dan kecakapan artistik serta teknis.

Jika memiliki beberapa subyek kegemaran, tentunya sebaiknya kita melakukan urutan. Pertama tentunya berdasarkan tingkat kegemaran. Foto-foto jenis apa yang paling  disukai? Untuk menyeleksinya sebaiknya pisahkan foto-foto itu dalam folder terpisah di komputer. Kemudian review masing-masing foto, bila anda tertarik, pisahkan dalam folder seleksi tahap berikutnya. Kemudian adu lagi dengan foto-foto yang lain, dan pilih yang lebih disukai. Lakukan itu berulang hingga mendapatkan 10 foto terbaik.

Satu hal yang perlu diingat, dalam mempertajam preferensi fotografi ini, lupakan kaidah “foto yang baik” dari teori-teori yang anda baca. Artinya tidak perlu foto-foto yang dipilih itu pencahayaannya harus terang, warnanya harus cerah, modelnya harus cantik jelita, momennya harus tepat dan lain sebagainya. Foto-foto ini dikumpulkan bukan untuk kursus fotografi, foto-foto itu dikumpulkan untuk menemukan selera pribadi anda.

Kalau anda senang dengan foto yang kurang fokus, itu sah-sah saja. Senang dengan foto yang abstrak sehingga tidak ketahuan bentuknya, boleh. Gemar dengan potret wajah orang yang menunjukkan guratan-guratan dari kerasnya hidup, dibandingkan dengan wajah mulus ayu seorang gadis, silakan. Yang penting, ikuti intuisi bahwa anda suka foto itu, tidak usah dicarikan alasannya. Selera itu personal, tidak usah repot-repot menjelaskan.

Setelah itu, jangan langsung diputuskan bahwa foto yang paling anda sukai itulah yang akan didalami tehniknya (ingat di tataran ini kita belum melakukan investasi untuk peralatan fotografi sama sekali, kalaupun sudah sebaiknya minimal saja). Endapkan preferensi fotografi yang sudah anda “temukan” karena itu adalah tuntutan artistik dan selera pribadi. Tahap berikutnya adalah kembali ke dunia nyata, menghitung sumber daya yang ada. Kita bicarakan dalam posting berikutnya.

International Year of Forests 2011, Indonesia style

Tahun ini adalah Tahun Hutan Internasional (THI 2011), namun apakah Indonesia yang mengaku sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia akan ikut merayakannya? Kita tengok kalender kegiatan PBB dalam rangka Tahun Hutan Internasional, tak ada satu pun agenda kegiatan internasional yang berasal dari Indonesia.

Siaran pers Kementerian Kehutanan soal THI 2011 baru diterbitkan tanggal 14 Januari, itu pun isinya hanya sekedar harapan ke jajaran kementerian kehutanan untuk ikut merayakannya. Perayaannya secara internasional akan dicanangkan Senin besok tanggal 24 Januari, sementara Presiden SBY menurut siaran pers yang sama baru akan merayakan THI 2011 di Indonesia bulan April.

Kita lihat apakah pencanangan THI di Indonesia oleh SBY akan juga menjadi peristiwa pencanangan moratorium kehutanan atau tidak. Ironisnya justru di awal Tahun Hutan Internasional ini lobi industri kehutanan dan perkebunan ingin membatalkan rencana itu. Jika lobi ini berhasil, lengkap sudah potret Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar dari sektor kehutanan.

Moratorium kehutanan diperlukan selain sebagai jeda bagi hutan-hutan kita untuk bertumbuh, juga untuk memberi waktu sektor kehutanan dan perkebunan membenahi diri dari sisi data, administrasi dan regulasi. Ibarat orang berlari maraton yang tali sepatunya lepas. Moratorium kehutanan memberi kita kesempatan untuk mengikat tali sepatu itu secara benar dan melanjutkan maraton, daripada terus berlari dan terjerembab dalam petaka lingkungan.

Menemukan preferensi fotografi

Gadis kecil dan reruntuhan rumahnya, Ambon, © 2002 .

Di tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata 24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/ detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).

Tentu ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi? Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret, terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah pembelajaran yang benar tentang fotografi.

Jika kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi. Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.

Banyak yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi :).  Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.

Saya beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari sambil jalan.

Kembali ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin ideal.

Kumpulkan foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.

Anda sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.

Aconcagua

Delapan belas tahun lalu di tanggal yang sama, saya merayakan ulang tahun di Buenos Aires, seturun mendaki Aconcagua. berikut tulisan saya soal pendakian itu:

Melunasi hutang Puncak Aconcagua, wartawan MATRA Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono mendakinya kembali. Terancam oksigen tipis dan bersaing dengan tim pendaki putri

Jalan panjang terlihat berkelok-kelok, seolah menembus dinding pegunungan Andes. Mobil van yang mengantar kami ke Puente del Inca tancap gas menelusuri terowongan-terowongan. Sungguh perjalanan yang bervariasi. Di bangku depan, dua orang staf kedutaan RI, Medy dan Didik terlihat terkantuk-kantuk. Mereka tampak lelah setelah perjalanan 1.200 kilometer dari Buenos Aires.

Saya sama lelahnya dengan mereka. Namun mata sulit terpejam. Apalagi setelah lewat dari Uspallata, sekitar satu jam sebelum Puente del Inca, mata jadi awas dan terjaga. Saya ingin secepatnya bisa melihat gunung Aconcagua. Tantangan dan tujuan kami.

Menjelang Puente de Vacas, di kejauhan terlihat menyembul segitiga hitam bersaput salju. Aconcagua mulai menampakkan dirinya. Rasa sedih dan senang muncul sekaligus tatkala bisa bertatapan muka dengan gunung itu. Sedih, karena di gunung inilah dua sahabat kami, Norman Edwin dan Didiek Samsu, melepas jiwa mereka. Senang, karena dengan sampainya kami di sini, kesempatan untuk memenuhi panggilan solidaritas kedua sahabat kami menjadi terbuka. Kali ini adalah kesempatan yang kedua bagi Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Aconcagua.

Saya menengok ke sebelah kiri. Ripto juga menatap ke arah yang sama. Matanya memantulkan semangat yang mirip dengan apa yang saya rasakan. Dengan segera ia mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa gambar puncak gunung yang terlihat dari jalan raya Argentina-Chili tersebut. Langit yang biru bersih membantu timbulnya kontras yang indah, “Tyo, akhirnya kesampaian juga niat kita mendaki gunung ini. Mudah-mudahan cuaca baik terus,” gumam Ripto.

Saya hanya bisa mengangguk. Kami berdua memang merasakan betul sulitnya perjalanan ini semenjak di Jakarta. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan kali ini. Dan semuanya menjadi beban berat untuk kami. Mulai dari tuduhan melanggar peraturan organisasi hingga prasangka bahwa kami ingin menggagalkan prestasi tim putri Indonesia yang pada saat ini juga tengah bersiap mendaki Aconcagua.

Padahal, awalnya sederhana sekali. Di bulan September, Ripto mengajak saya untuk mendaki Aconcagua sebelum memasang plakat peringatan meninggalnya Norman dan Didiek. Kami berdua waktu itu sepakat untuk menjadikannya sebagai proyek pribadi. Dengan berjalannya waktu, Badan Pengurus Mapala UI setuju untuk membantu.

Pada saat itu kami tahu ada beberapa tim pendaki Indonesia lainnya yang akan berangkat, antara lain rekan dari FPTI dan tim Putri Indonesia. Namun selera kami tidak bangkit untuk mendahului mereka. Kami tidak perduli dan hanya memikirkan bagaimana pendakian kami berhasil sebaik-baiknya. Halangan pertama muncul pada masalah imigrasi. Rute kami ke Argentina melalui Amerika Serikat terpaksa dirubah. Pasalnya, visa untuk Ripto ditolak tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya kesombongan negara adidaya terhadap orang Asia saja. Buktinya visa melewati Belanda dengan mudah kami dapat.

Halangan kedua timbul ketika pesawat Garuda ke Los Angeles penuh hingga awal Januari. Bantuan yang diberikan perusahaan penerbangan nasional ini jadi mubasir. Akhirnya memang kami harus mengubah penerbangan melalui Eropa.

Tanggal 24 Desember 1992 kami berangkat dari Jakarta. Setelah mengambil peralatan pendakian yang kami pesan dari Asbari Krishna di Amsterdam, perjalanan berlanjut ke Buenos Aires. Menempuh separuh lingkaran bumi. Beruntung, setelah halangan-halangan itu, perjalanan di daratan Argentina lancar. Bahkan duta besar Abdullatief Taman menyertakan dua orang stafnya mengantar hingga Puente del Inca. Jadilah Medy Jufri dan Didik Satria menjadi “manajer” kami.

Pada saat di Argentina, barulah kami tahu bahwa tim putri masih tertahan di Santiago karena urusan kargo dengan bea cukai Chili. Baru di sinilah semangat kompetisi kami timbul untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua. Sebelumnya, kemungkinan ini tidak terbayangkan karena tim putri berangkat tiga hari lebih dahulu dari kami.

Dan rupanya problem tim putri dengan bea cukai Chili cukup serius. Hingga kami berangkat ke Puente del Inca, kabar tentang keberangkatan tim putri belum terdengar. Padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke Menteri Lingkungan Hidup Mendoza, bertukar cerita mengenai masalah lingkungan di negara masing-masing.

Di Hosteria (hotel) Puente del Inca, suasana sepi siang itu. Angin musim panas bertiup lembut dari arah lembah Horcones. Kami segera masuk dan mendaftar. Jorge, manager hosteria untuk para pendaki Aconcagua itu langsung berseru, ketika membaca negara asal kami, “Si, todos ustedes amigo de Indonesio (kawan dari Indonesia)! Como esta (apa kabar) Rudy?”

“Bien, mui bien (baik, sangat baik),” jawab saya.

Jorge si ramah ini rupanya berteman akrab dengan Rudy Nurcahyo, teman kami yang sempat tinggal selama dua bulan di hosteria saat evakuasi jenasah Norman dan Didiek  dilakukan tahun lalu. Jorge sangat membantu persiapan kami di Puente del Inca. Amat membekas diingatannya bagaimana musibah yang pernah menimpa pendaki Indonesia dan ia tidak mau itu terulang, “Pokoknya kalau ingin bantuan apapun, katakan pada saya.” Janji Jorge pada kami.

Tak ketinggalan Fernando Grajales turut membantu. Veteran pendaki yang pada tahun 1953 sempat membuat rute baru di Aconcagua ini dengan tangkas menyediakan mulas (bagal) dan pendaki pendamping untuk kami. Pada pertemuan pertama singkat saja nasehatnya: “Jangan memaksa diri. Jika kalian juga gagal dalam pendakian kali ini, kapan-kapan kalian masih bisa kembali. Aconcagua itu akan tetap berada di sini sepanjang sejarah manusia.”

Pendapat Grajales itu sejiwa dengan semangat kami. Tak ada unsur dendam pada hati kami terhadap gunung yang telah menewaskan kedua teman kami itu. Emosi kami mendaki gunung ini kami anggap sama seperti pendakian puncak-puncak lain. Kalaupun ada tambahan, itu adalah semangat pantang menyerah dari almarhum kedua teman kami. Dan seandainya pendakian ini gagal, kami tidak akan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Ketika kami sedang mengurus bagal, maka datanglah rombongan pendaki putri Indonesia. Kejutan juga, karena menurut perkiraan mereka akan datang esok pagi. Dengan hangat kami sambut mereka sekaligus berkenalan. Pada awal pertemuan dengan Aryati, Jonet, Clara, Lala, dan Nina sebagai manajer mereka, kami terus terang agak kikuk juga.

Bagaimanapun saya yakin di dalam hati kami masing-masing timbul perasaan bersaing untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai Aconcagua. Saat ini kami berada pada posisi awal yang sama dan kesempatan yang sebanding. Namun perasaan bersaing itu tidak berkembang ke arah negatif. Sebagai orang sebangsa di negeri orang, kita tetap fair dan saling menolong.

Di dalam kamar, Ripto bertanya lagi masalah itu: “Tyo, bagaimana pandangan orang soal “persaingan” ini. Masalahnya kita kan berdua laki-laki, sedang mereka pendakinya empat-empatnya perempuan.”

Saya terdiam sejenak, lalu balik bertanya kepada Ripto. “Andaikan kita berdua perempuan juga. Apakah tidak akan terjadi persaingan ke Puncak? Tetap saja ada. Dan kalau memang kita tidak bisa mendaki lebih baik dari mereka, dan mereka sampai puncak lebih dahulu, ya kita terima saja.”

Ripto terdiam menyetujui. Hari-hari berikutnya kami tetap menyiapkan pendakian sesuai dengan jadual. Di hari kedua, gunung-gunung sekitar hosteria kami jelajahi untuk aklimatisasi. Malam yang hendak digunakan untuk beristirahat dibatalkan karena kami berpesta tahun baru dengan karyawan hotel.

Berkali-kali gelas sampanye diangkat untuk mendoakan kesuksesan bagi pendakian di musim ini. “Salut para Indonesio! Peli ano nuevo (selamat tahun baru)!” teriak Jorge, yang sudah setengah mabuk, berkali-kali.

Di luar, begitu lonceng tengah malam terakhir di tahun 1992 lewat, terdengar bunyi rententan senjata api ke udara dari markas Ejercito (pasukan serbu gunung) Argentina. Rupanya begitulah cara militer merayakan tahun baru.

Alhasil, rencana esok untuk berangkat pagi menuju Confluencia dan Plaza de Mulas batal. Kami kesiangan. Para penunggang bagal pengangkut barang kami juga minum-minum sampai pagi, sehingga bangun tengah hari. Akhirnya, kami baru berangkat dari Puente del Inca pukul tiga petang.

Perjalanan hari itu seperti mengantar kami memasuki gerbang ke alam lain. Jalan raya sudah kami tinggalkan. Sebagai gantinya, jalan setapak berliku-liku menuju Laguna (danau) Horcones. Tumbuhan-tumbuhan mulai menipis, gersang, dan berganti batuan. Padahal ketinggian belum sampai 3.500 meter.

Keganjilan alam Aconcagua membangkitkan inspirasi suku Indian Cuzco untuk menganggap gunung ini sebagai tempat bersemayamnya dewa mereka. Sang Dewa Putih, demikian arti gunung ini dalam bahasa Indian Cuencha. Di ketinggian Aconcagua, pendeta Indian Cuzco mengorbankan seorang anak kecil untuk persembahan bagi Dewa Matahari, dewa tertinggi mereka. Empat ratus lima puluh tahun kemudian mumi korban itu ditemukan. Sang saksi sejarah itu membuktikan peradaban tinggi manusia di Aconcagua.

SESAMPAINYA di Confluencia, hari menjelang senja. Panas matahari yang menghangatkan badan perlahan menghilang. Terlihat di tenda-tenda para pendaki yang ada, kompor mulai menyala untuk memasak makan malam. Kami pun merasa perut sudah berontak minta diisi. Ripto celingukan mencari bagal yang membawa barang kami. Tapi mereka tidak tampak.

Sial, bagal yang membawa perlengkapan memasak dan tidur belum sampai. Saya lalu meminta salah seorang penunggang bagal untuk menjemput ke bawah. Sambil menunggu, kami segera menyuruk ke dalam sebuah tenda kosong. Pemiliknya entah pergi kemana.

Tetapi masuk ke dalam tenda saja belum cukup. Udara dingin tetap saja menyerbu masuk. Badan yang hanya dilindungi sweater terasa dingin. Apalagi kalori yang ada tidak mencukupi. Jadilah kami menikmati malam itu berteman dingin dan lapar. Sang bagal baru tiba hampir tengah malam.

Paginya kami “balas dendam” dengan makan sebanyak mungkin. Hari ini jalanan panjang menyebrangi pada batu Playa Anca menuju Plaza de Mulas telah menanti. Alamnya pun berganti lagi. Gunung-gunung memagari lembah dengan bentuk yang bervariasi. Sementara terik matahari musim panas seperti mau membutakan mata. Topi dan kacamata pelindung mengurangi siksaan ini. Terkadang, kami harus menunduk menghindari gulungan debu yang terangkat naik oleh angin Aconcagua.

Yang paling menjengkelkan adalah ketika kami mulai memasuki daerah aliran glacier Horcones. Dalam satu lembah alirannya, terkadang terpecah menjadi berpuluh-puluh anak sungai. Kami terpaksa menjalani latihan intensif lompat jauh di sini. Berpuluh kali kami menyusur mencari lebar aliran glacier yang bisa dilompati.

Dengan berlompatan seperti itu tenaga cepat terkuras. Belum lagi jalan setapak yang kami tempuh menanjak. Aklimatisasi yang belum sempurna membuat badan makin lemah setiap menambah ketinggian. Air sebanyak tiga liter diteguk dengan hemat agar tidak cepat habis.

Di pertengahan perjalanan, terlihat pantulan cahaya menyilaukan dari arah Plaza de Mulas. Kami memicingkan mata memperhatikan dengan seksama. Samar-samar pantulan itu terlihat berasal dari atap sebuah bangunan. “Hotel Plaza de Mulas sudah terlihat. Kita sudah dekat,” kata Ripto dengan bersemangat.

Kami pun bergegas melangkah. Namun, setelah lama berjalan, tidak sampai-sampai juga. Kami sempat disusul oleh Mariano Casteli, pendaki pendamping yang ditugaskan Fernando Grajales. Ia dengan santainya naik bagal.

Empat jam berjalan sejak atap hotel kelihatan, barulah sampai di Plaza de Mulas. Puluhan tenda nampak menjamur memenuhi Plaza de Mulas. “Ini masih belum apa-apa. Minggu depan, di puncak musim pendakian, jumlah tenda bisa dua kali lipat,” kata Mariano.

Sesuai dengan rencana, kami bertiga beraklimatisasi di Plaza de Mulas selama tiga hari. Hari pertama istirahat, hari kedua treking ke Plaza Canada (4.800 m), dan hari ketiga istirahat lagi.

Selama di Plaza de Mulas, tidak ada keluhan terhadap perubahan ketinggian yang kami rasakan. Yang lebih dirasakan justru ujian mental. Tiap hari kami mendengar berita-berita buruk pendakian. Entah itu pendaki yang terpaksa turun karena menderita accute mountain sickness atau yang dipapah oleh ranger taman nasional karena terkena radang paru-paru. Puncaknya adalah tewasnya seorang pendaki Yunani di Refugio Berlin.

Berita itu cukup mengguncang kami. Trauma tewasnya Norman dan Didiek kembali teringat. Awal pendakian menjadi kurang menyenangkan. Kami berharap mayat itu segera diturunkan, hingga kami tidak perlu bertemu dengannya di atas nanti.

Harapan kami percuma. Hari berlalu tanpa ada usaha penurunan mayat. Mariano bilang: “Selama tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jenasah itu, ia tidak akan diturunkan. Soalnya ongkos penurunannya mahal, sekitar 5000 dollar.”

Pendakian lalu dimulai dengan menambah ketinggian ke Plaza Canada (4.800 m). Dihantam badai satu malam, kami turun lagi ke kemah induk. Sesudah istirahat, kami langsung mendaki ke Cambio Pediente (5.000 m). Esoknnya menambah ketinggian ke Nido de Condores (5.400 m). Semua masih berjalan lancar, kecuali saya sempat terserang sakit perut.

Lalu bagaimana dengan tim putri? Kami masih sempat saling menjamu di Plaza de Mulas. Hanya entah kenapa, mereka lebih perlahan penyesuaian dirinya. Saat kami tiba di Nido de Condores, mereka masih treking ke Plaza Canada. Lewat radio kami dengar bahwa salah satu dari mereka mountain sickness-nya tidak hilang-hilang.

Karena segala sesuatu berjalan lancar, di Nido de Condores kami menjadi agak lengah. Dengan agak tergesa diputuskan untuk summit attack esoknya. Hasilnya mengecewakan. Dengan memaksakan diri menambah ketinggian hingga lebih dari 1.000 meter dalam satu hari, paru-paru tersiksa oleh tipisnya oksigen.

Di Plaza Independencia (6.400 m) kami bertiga mulai limbung. Mariano yang sudah delapan kali mendaki Aconcagua pun tak bisa menghindar dari siksaan ini. Paru-paru kami menghisap udahra dengan susah payah. Di sini bernapas pun memerlukan tenaga besar. Habis enerji kami hanya untuk bernapas.

Rasanya sulit untuk meneruskan perjuangan ini. Badan terasa ringan, tetapi tak bertenaga. Keseimbangan tubuh sudah banyak berkurang. Empat ratus meter menjelang puncak Aconcagua, di mulut Canaleta, saya memutuskan untuk berhenti. Emosi saya berteriak ingin terus, tetapi rasio memerintahkan kaki untuk berhenti melangkah.

Begitu mendengar keputusan saya, Ripto memandang seolah tak percaya. Ia masih berkeras untuk terus. Kami kemudian berdebat agak lama, disaksikan Mariano yang kebingungan. Akhirnya dengan berkeras hari saya tetap memerintahkan turun. Ripto dengan muka masih penasaran menuruti.

Saat turun saya menghibur diri dengan berpikir bahwa yang baru saja kami lakukan adalah treking untuk aklimatisasi, bukan suatu pendakian ke puncak yang gagal. Tetapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya. Apakah keputusan saya ini terlalu dini? Apakah nanti kami masih memiliki kesempatan yang sama? Apakah kondisi tubuh kami nanti akan membaik? Yang terakhir, jika kami lama memulihkan diri, apakah tidak didahului oleh tim putri?

Pertanyaan itu kemudian terjawab satu demi satu. Cuaca bagus di hari-hari berikutnya. Kondisi kami yang kelelahan bisa pulih setelah satu hari beristirahat. Pada saat itu tim putri menyusul naik. Jadilah kami bersama-sama pindah kemah ke Refugio Berlin (5.800 m). Dari sini kami akan melakukan summit attack yang kedua.

Apakah keputusan saya terlalu dini sewaktu summit attack yang gagal? Ternyata tidak. Bagian Canaleta setinggi empat ratus meter menjelang puncak adalah nerakanya rute normal di Aconcagua. Kemiringan yang terjal dan batuan runtuh menghadang pendakian. Bila kami kemarin memaksakan diri, saya rasa akibatnya akan  fatal. Dalam kondisi yang lebih fit saja, kami menghabiskan waktu empat jam lebih berkutat di sana.

Ripto yang lebih cepat melangkah, berada duapuluh menit di depan saya. Menjelang puncak, ia seakan berhenti menanti saya. Rupanya ia ingin bersama-sama mencapai puncak. Saya berteriak-teriak menyuruhnya naik ke puncak secepatnya. Tetapi ia tetap tak bergeming.

Sekilas saya lihat titik-titik hitam bergerak di bawah. Rupanya tim putri masih konstan mendaki di bawah kami. Akhirnya saya memaksakan diri melangkah secepat mungkin menyusul Ripto. Sambil berlompatan saya merayap ke atas. Semangat rupanya terlalu tinggi, hingga berakibat ke pernapasan. Tiba-tiba kerongkongan saya seperti tercekik. Hidung seolah tak mampu lagi menghirup udara yang cukup. Tersedak-sedak napas dibuatnya. Kepala yang terbungkus wool terasa kegerahan di kebekuan Canaleta. Tak mampu lagi bertahan di udara tipis, saya jatuh terduduk.

Dengan mata terpejam, napas saya tarik dalam-dalam. Penglihatan yang tadinya gelap berangsur normal kembali. Saya kemudian melambaikan tangan ke arah Ripto, menyuruhnya naik ke puncak lebih dulu. Saya berhenti memulihkan diri.

Setelah agak tenang, kembali terdengar teriakan dari atas. Kali ini teriakan gembira karena Ripto telah berhasil mencapai puncak Aconcagua. Saya perlahan menyusulnya. Dataran puncak menyambut dengan hening. Ripto tampak sedang mengikat bendera Merah Putih di tongkat skinya.

Begitu melihat saya tiba, ia langsung berbalik. Kami bersalaman dan berpelukan dalam haru. Kami gembira, tetapi sekilas saya sempat melihat mata Ripto berair. Air matanya jatuh di puncak Aconcagua ketika mengenang kedua sahabat kami.

MATRA, April 1993

 

Pulang sekolah, menyelam.

Anak suku bajau ini belum sampai rumah sudah tidak tahan untuk meloncat masuk ke dalam air. Kampung orang bajau kecil di Pulau Buton ini apakah masih berbentuk seperti ini atau sudah berubah, masih menjadi pertanyaan. Saya memotretnya hampir sepuluh tahun lalu. Namun memori visual ini memudahkan kita untuk memahami bagaimana dekatnya laut dengan kehidupan orang bajau.

Secara utuh tampilan visual ini –dengan rumah di atas air dan sosok anak “melayang” di air sebagai latar depan– membantu kita untuk memahami betapa berbedanya kehidupan mereka dengan kehidupan kita yang mayoritas berada di daratan. Bagaimana membesarkan anak-anak di lingkungan yang sekelilingnya air saja menjadi satu tantangan tersendiri, belum lagi bila mereka berpindah tempat tinggal, karena orang bajau dikenal juga sebagai pengembara lautan.