Slowing down to higher profit

Menarik apa yang dikemukakan oleh Eivind Kolding, CEO Maersk Line, perusahaan pelayaran terbesar di dunia pada bincang tentang logistik di CNBC sabtu malam, “Jika kami mengurangi kecepatan dengan 20% kami akan menghemat konsumsi bahan bakar sebanyak 40%. Jadi mengurangi kecepatan akan sangat menghemat biaya.”

Pengurangan kecepatan kapal kargo alias slow steaming itu juga berarti slow service, alias 2-3 hari lebih lambat mereka sampai di tujuan. Namun, klien-klien Maersk Line menerima konsekuensi itu. “Mereka menerimanya selama kami bisa diandalkan dan bisa mengirimkan kontainer sesuai dengan waktu yang kami janjikan,” jelas Eivind lagi. Hasil akhirnya adalah win-win untuk setiap pihak.

Di Indonesia kebijakan yang sama dengan alasan yang berbeda diterapkan oleh PT Kereta Api: kecepatan maksimal akan diturunkan rata- rata lima persen dari kecepatan awal. Dicontohkan, bila sebelumnya kecepatan maksimal di lintasan Jawa Tengah bagian selatan sekitar 90 kilometer per jam, kini menjadi 80 kilometer per jam. Alasannya? Mengurangi tingkat kecelakaan KA dan merespons meningkatnya laporan adanya lintasan KA yang patah.

Bagaimana kondisi kereta api kita? 348 unit dari 380 unit kereta kelas ekonomi umurnya di atas 30 tahun harus diganti. Panjang rel kereta kita dibandingkan jaman penjajahan sudah berkurang jauh. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ada sumbangan kelemahan republik, tetapi juga ada lobi kalangan industri. Kita akan bicarakan di lain posting.

Foto ini diambil dengan suasana sekelilingnya sebagai acuan. Saat itu salju telah selesai turun dan saya berjalan di taman Malou menikmati indahnya kebekuan. Di jalan dengan pagar-pagar pohon gundul ini secara visual sudah menjadi frame yang menarik, tinggal saya menunggu apa point of interestnya.

Sekitar setengah jam saya berjalan-jalan dan mengabadikan beberapa kemungkinan-kemungkinan. Akhirnya di bagian belakang taman saya bertemu dengan petugas kebersihan yang sedang memeriksa tempat-tempat sampah di taman itu mengenakan pakaian safety berwarna merah scothlight. Tuhan memang maha pemurah 🙂

Saya tunggu dan ikuti beliau sampai pada saat dan posisi yang tepat…

Foto ini menarik dari 2 sisi, momentum dan pesan. Saat di dalam Fine Art Museum di Brussels di salah satu ruangan karya seni rupa klasik, lukisan-lukisan yang terpajang menampilkan suasana-suasana musim dingin di Eropa.

Ada seorang ibu dan 3 anak datang, saya pikir mereka akan berhenti sebentar kemudian pergi, namun ternyata si ibu mengajak mereka duduk di depan lukisan itu dan menceritakan isinya. Sampai di sini foto ini sudah punya pesan.

Lalu saya melihat ke arah jendela, di pemandangan musim dingin di luar dengan pohon-pohon rontok daun menampilkan apa yang terjadi di lukisan. Saya pun lalu melakukan metering di tengah-tengah, agar mendapatkan cahaya yang cukup untuk mengabadikan adegan di dalam dan suasana di luar.