
Foto Story:
Tiga Tahun Festival Ningkam Haumeni, upaya pemberdayaan masyarakat adat.
Oleh : Feri Latief
Rombongan tetua adat dari tiga suku. Amatun, Amanuban, dan Mollo, berjalan beriringan. Melewati jalan yang membelah hutan pohon Atapupu di perbukitan Mollo, Timur Tengah Selatan. Sampai di sebuah batu mereka berkumpul. Salah seorang tetua adat memimpin ritual meletakan di atas batu itu perhiasan-perhiasan dan selembar kertas yang tertulis beberapa baris kata. Lalu dimulailah ritual adat. Tetua adat itu berdiri lalu berdoa memohon untuk agar dikabulkan sumpah mereka yang tertera dalam kata yang tertulis itu.
Itulah acara terpenting dari Festival Ningkam Haumeni yang ketiga kali ini. Sumpah itu lalu diikuti ratusan masyarakat adat yang menghadiri festival pada keesokan harinya. Mereka berjanji akan melestarikan alam di mana mereka tinggal. Mereka tak akan berburu di hutan, tak akan merusak lingkungan, tak akan menebang pohon. Mereka masih trauma akan kerusakan lingkungan mereka dikarenakan masuknya perusahaan tambang yang mengambil batu-batu di bukit-bukit mereka. Tanah Timor yang tandus mengandalkan batu-batu karst itu untuk menampung air. Saat batu-batu itu ditambang kekeringan dan tanah longsor melanda kehidupan mereka.
Sumpah itu juga membawa mereka untuk kembali menanam pohon Cendana yang mulai punah dan menjaga madu di hutan-hutan di Nusa Tenggara Timur. Ningkam Haumeni secara harfiah memang berarti Lilin Madu dan Kayu Cendana. Festival ini sudah tiga tahun berlangsung berturut-turut. Selalu diadakan di bukit batu Naususu, yang artinya ibu yang menyusui anak. Bukit itulah yang dulu ditambang. Masyarakat menamai demikian karena di kakinya terdapat mata air yang jernih. Masyarakat yang terdiri dari tiga suku wilyah itu kemudian bergerak untuk menghentikannya. Ratusan kaum ibu dipimpin Mama Aleta Baun, mendatangi tambang itu dan mulai menenun di sana. Akhirnya tambang itu berhenti beroperasi. Sebagai peristiwa kemenangan kaum ibu itu dibuatlah festival tersebut.
Kini di tahun ketiga ratusan masyarakat adat dari tiga suku itu kembali berkumpul di bukit Naususu. Hawa dingin di pegunungan Mutis itu tak menghalangi mereka untuk berkumpul di sana. Sumpah adat akan ditularkan ke desa-desa sekitarnya. Hari-harin festival di Naususu selalu ada musik dan tari tradisonla. Sambil bergembira mereka bertukar ilmu dan berbagi pengalaman dari mulai menenun kain, berbagi bibit tanaman pangan, sampai bergotong royong membangun rumah adat. Di Naususu ada harapan lestari, di sana masyarakat adat tiga suku memberdayakan diri.