garutpedia:

Tadi malam adalah kunjungan ke Galeri Foto Jurnalistik Antara setelah sekian tahun. Bertemu dengan Oscar Motuloh, kurator GFJA, sahabat lama yang setia mengayomi perkembangan foto jurnalistik di tanah air.
“Wah ini baru pertama kali model media komunitas dan melibatkan anak SMA dalam foto jurnalistik seperti ini,” saat kami diskusi tentang Garutpedia bersama Goenawan Widjaja yg sehari2 menggawangi Galeri. Kami sepakat bahwa Pameran Garutpedia di GFJA akan menjadi semacam “kado” ultah Jakarta dari siswa SMA Garut (dari data ini sudah bisa kira2 kapan pameran akan berlangsung kan?).
Nantinya diharapkan anak2 SMA Garut bisa berbagi mengenai pengalaman mendokumentasi kotanya pada teman2nya di SMA2 Jakarta. Dan menjadikan Garutpedia sebagai media komunitas mereka.
Buat para akang & teteh di Garutpedia, ini momentum untuk memperkaya isi Garutpedia agar bisa “unjuk gigi” di Jakarta…:))

Mantap…

Garutpedia, Generasi Baru, Media Baru

image

Tidak ada yang lebih melegakan ketika cerita foto demi cerita foto terunggah di garutpedia.com. Hasil jerih payah 20 pelajar SMA Garut selama kurang lebih empat bulan seolah terbayar ketika cerita-cerita yang penuh inspirasi dan membuka mata tentang Kota Garut ini bisa dinikmati khalayak Garut, Jawa Barat, hingga seluruh Indonesia dan Dunia. 

Empat bulan lalu, kami mengawali program ini dengan lebih dari 50 pelajar yang mendaftar. Berjalannya waktu, secara alami para pelajar yang gigih dan mempunyai minat besarlah yang bertahan. Dan kini kita dengan bangga bisa menyaksikan karya-karya yang sudah bisa sebanding dengan karya fotojurnalis profesional.

Para peserta Garutpedia sudah bisa melihat tidak saja dengan mata harfiah, tetapi juga mulai terbuka mata hatinya. Mengungkap apa yang ada di balik permukaan, membuat yang biasa menjadi luar biasa. Dengan generasi muda seperti ini, kita semakin yakin akan masa depan Garut yang lebih partisipatif dan inklusif.

Ini karya Aini , yang terpilih menjadi peserta terbaik program beasiswa fotografi Garutpedia. Semangat dan potensinya luar biasa.

garutpedia:

Regenerasi Batik Garutan

Selasa, (26/03). Ibu Kenah atau pengelola Batik Garutan beken, tidak pelit untuk memberi ilmu kepada siapapun yang mau belajar membatik. Baik itu untuk lomba, untuk usaha, atau hanya sekedar hobi. Ibu Kenah mengaku bahwa beliau tidak takut tersaingi, karena kualitas batik buatannya dengan yang lain akan berbeda dan menurut Ibu Kenah rejeki pun tidak akan kemana. Ibu Kenah ingin melestarikan budaya yang ia kuasai untuk diwarisi, dan ia pun ingin meregenerasi batik garutan ini.

Motif Batik Garutan yang asli ada 5, yaitu merak, bulu hayam, angkin, kumeli, dan sada mukti. Juga, ada beberapa motif yang ditiru oleh suatu daerah yaitu adu manis, lereng sintung, suliga, dan siki bonteng. Beliau mengetahui segala macam motif batik yang ada dari dulu hingga sekarang tapi tidak pernah dibukukan, hanya ada di dalam karya-karya terdahulunya.

Awal usaha batik Garutan ini dimulai tahun 1965 oleh almarhumah ibunya Ibu Kenah, dan mulai dilanjutkan oleh Ibu Kenah dari tahun 1982.

Ibu Kenah selalu menggunakan motif buhun dalam setiap batik yang dibuatnya. Akan tetapi Ibu Kenah pun suka membuat batik corak moderen dengan meambahkan corak bunga dan kupu-kupu.

Ibu Kenah mendapatkan kain untuk proses membatiknya dari daerah Yogyakarta, canting dan malam didapatkan dari Tasik. Selain mempunyai usaha Batik Garutan Beken ini, Ibu kenah juga dengan rajinnya mengurus koperasi, dan membuka warung.

Ibu Kenah mempunyai seorang suami yang sakit stroke. Setiap hari Ibu Kenah mengurus suaminya dengan sabar dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Seperti memandikan, memberi obat, dan menyuapi makan.

Aini Novianty – SMA Negeri 1 Garut