Update: tulisan ini mencerminkan penilaian saya tetapi hasil akhir bisa berbeda karena kesepakatan seluruh juri dan direksi korporasi yang bersangkutan.
Penjurian Lomba Foto Lingkungan sebuah bank swasta “Sungai dan Kehidupan”
Lomba Foto dari sebuah bank swasta Peduli Lingkungan tahun 2013 bertemakan “Sungai dan Kehidupan” yang terbagi menjadi 2 kategori:
- Sungai dan manfaatnya
- Sungai dan masalahnya

Dari kedua kategori itu sebagian besar peserta mengirimkan karya ke kategori pertama dengan jumlah 796 (setelah peserta yang salah kategori dipindah dan dikurangi dengan foto-foto formulir dan KTP) dan kategori ke dua berjumlah 297 foto. Kemungkinan peserta menemui kesulitan untuk memvisualkan secara artistik masalah di sungai.
Seleksi kemudian dilakukan atas 3 kriteria utama yaitu:
- Teknis fotografi yang meliputi: pencahayaan, komposisi dan keseluruhan nilai artistik dari sebuah foto.
- Kesesuaian dengan tema lomba foto.
- Pesan yang disampaikan dari sebuah foto.
Penjurian kategori 1
Secara keseluruhan dewan juri cukup kesulitan untuk memilih 10 besar, –terutama di kategori pertama– karena rata-rata karya yang dikirimkan cukup baik. Dilakukan penyaringan hingga 5 tahap sehingga menghasilkan 10 besar. Untuk menentukan pemenang 1 dan 2 tidak ditemukan kesulitan karena keduanya cukup unik dan menonjol, namun untuk urutan ke 3 agak kesulitan karena dari sisi teknis fotografi tidak terlalu istimewa, tetapi pesannya kuat.
Pilihan pertama kategori ini dengan judul “Jernihnya Sungaiku”1 mengabadikan seorang suku Baduy sedang meminum air langsung dari sungai. Foto ini sangat menonjol, sehingga sejak seleksi tahap pertama ia sudah mencuri perhatian dewan juri. Secara teknis foto ini bagus, namun tidak sempurna. Kesempurnaannya dicapai dengan pesan yang sangat kuat. Pesan mengenai manfaat sungai sebagai sumber utama air untuk kehidupan kita.

Dengan makin menurunnya kualitas lingkungan hidup, pemandangan ini sudah semakin langka di Indonesia. Bahkan di dalam lomba foto ini hanya satu foto inilah yang menunjukkan bahwa ada air sungai yang masih bisa dikonsumsi langsung tanpa harus diproses. Ia menjadi saksi akan wilayah Baduy yang masyarakatnya masih teguh memegang prinsip kehidupan selaras dengan alam dengan pepatah: “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”, yang artinya panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.
Pilihan kedua (foto teratas) menyajikan kombinasi dari manfaat dan masalah sekaligus. Foto berjudul “Manfaatkan Air Sungai” karya Agung M Rajasa ini menyampaikan informasi yang padat, tetapi dengan artistik yang terjaga, ditambah sedikit rasa humor yang muncul. Sang ibu-ibu sibuk mencuci, sementara di belakangnya serombongan bebek berenang melintas. Ironi yang tampil adalah mengenai bagaimana air sungai sebagai sumber daya makin menjadi langka. Gerombolan bebek menjadikannya tempat mencari makan, sementara ibu-ibu memanfatkannya sebagai tempat membersihkan pakaian, sekaligus mencemarinya.

Pilihan ketiga juga muncul dari kekuatan pesan dan tidak adanya pesaing. Mungkin karena peserta kebanyakan fotografer “kota” sehingga manfaat air sungai di kawasan pegunungan untuk pembangkit listrik seperti yang ditampilkan pemenang ketiga ini nyaris tidak ada pesaingnya. Dari sisi teknis tampak biasa, namun kekuatan pesannya menjadikannya tanpa pesaing.
Penjurian Kategori 2
Penjurian foto kategori 2 secara teknis lebih mudah dinilai bukan hanya karena jumlah foto yang lebih sedikit, melainkan juga secara teknis lebih sulit menghasilkan foto yang menonjol di kategori ini. Bagaimana menyajikan masalah seperti sampah, polusi, kekeringan dan lain-lain masalah yang berkaitan dengan sungai tetapi tetap “enak dipandang”. Penyeleksian hanya membutuhkan 3 tahap untuk menghasilkan 10 besar. Hanya saja suasana di bagian ini agak “depressing” karena menyadarkan kita bahwa kondisi lingkungan sungai kita sudah sangat memprihatinkan.

Pilihan pertama kategori 2 seperti juga di kategori 1, foto “Berangkat Dagang” ini menampilkan sungai dan masalahnya berupa kekeringan yang ekstrem. Terlihat seorang petani sedang memikul sayuran menyeberangi jembatan kecil dengan sebuah perahu kecil tertambat di pinggir –yang tadinya– sungai, dengan tanah pecah merekah. Pemandangan ini terasa ekstrem sehingga mencuri perhatian dewan juri. Apalagi di kota-kota besar tidak terlalu muncul problem kekeringan –terima kasih pada teknologi sumur bor dan artesis yang menguras air tanah kita dan meningkatkan infiltrasi air laut ke daratan–, sehingga pilihan ini menjadi semakin kuat.

Pilihan kedua menyajikan pemandangan seorang nelayan yang mencari ikan dengan latar belakang pintu air. Ironisnya adalah busa deterjen menutupi sebagian besar muka air sungai yang menjadi sumber penghidupan sang nelayan. Ikan di tempat seperti ini tentunya menjadi semakin jarang. Kalaupun ada tentunya sudah terkotaminasi oleh unsur polutan. Foto ini secara komposisi, momen dan pesan terkemas dengan sangat baik.

Pilihan ketiga menyajikan perspektif yang tidak biasa dari sesuatu yang tampaknya biasa. Foto ini ditampilkan vertikal dengan menunjukkan serombongan anak sekolah sedang menyeberangi jembatan yang terendam banjir. Permasalahan banjir yang melanda di wilayah hulu, karena makin gundulnya hutan dan meningkatnya erosi, tersajikan dengan apik di sini. Tidak menggurui dan enak dipandang, namun pesannya juga sampai
Secara keseluruhan misi dari lomba foto ini berhasil untuk menggugah minat dan perhatian komunitas peduli lingkungan. Manfaat dan masalah dari salah satu sumber daya alam yang penting ini sudah coba digambarkan. Kesan yang muncul adalah makin rendahnya apresiasi dari manusia yang mengambil manfaat langsung dan tidak langsung atas sungai. Ini mungkin memotifasi kita untuk melakukan sesuatu terhadap sungai-sungai kita. Semoga kita tidak menyikapinya sebagai “sekedar” lomba foto saja.
Jakarta, 5 Juni 2013
Tantyo Bangun/ Greenweb Indonesia
Juri
Disclosure: obyek foto tersebut adalah Sanip –secara pribadi saya mengenalnya karena jika ke Jakarta ia menginap di rumah saya– oleh sebab itu pada saat pemilihan foto tersebut sebagai pilihan pertama, saya tidak melakukan “pengarahan”, tetapi membiarkan juri yang lain memilihnya untuk menjaga obyektifitas. Walaupun terus terang saya senang sekali foto itu terpilih sebagai pilihan pertama.
