Hutan Wonosadi memang bukan hutan desa biasa. Namanya menyiratkan keunikan riwayatnya. “Hutan ini dinamakan Wonosadi. Wono itu artinya alas atau hutan, sedangkan sadi berarti rahasia,” jelas Sudiyo.
Namanya rahasia, sampai sekarang menurut Sudiyo tak ada yang tahu rahasianya apa. Selain namanya menyimpan teka-teki, riwayatnya pun berselimut misteri. Menurut sejarah lisan, pada sekitar abad 15 –ketika Majapahit runtuh karena diserang oleh Demak, salah seorang bangsawannya mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kidul.

Jika dirunut data sejarah, lebih mungkin hal itu terjadi pada sekitar pertengahan abad 16 saat terjadi perang antara Daha (pecahan Majapahit akibat perang saudara antara Ranawijaya yang mengalahkan Kertabhumi) dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi.
Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527.Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.
Dari data sejarah itulah bisa diduga bahwa kemungkinan bangsawan Majapahit yang datang ke Desa Wonosadi adalah bagian dari anggota keluarga kerajaan yang dikalahkan oleh Demak. Menurut cerita turun temurun sang bangsawan adalah putra ke dua dari istri kelima Prabu Ranawijaya. Dalam kepercayaan masyarakat Wonosadi, beliau itu disebut sebagai Mbah Onggoloco. Sebagai pelarian, wajar bila nama aslinya mungkin tidak pernah akan bisa diketahui.
Mbah Onggoloco datang bersama adiknya yang disebut Raden Gadingmas. Mereka melakukan pertapaan tepatnya di Dusun Nduren. Sesuai dengan titah ayahanda prabu, mereka datang untuk mencari wahyu keraton. Dengan wahyu itu mereka dipercaya bisa menjadi raja lagi.
Walaupun disebutnya bertapa, tetapi pengertiannya justru melakukan bakti terhadap masyarakat setempat.”Kalau orang dulu namanya topo ngrambe, artinya bertapa dengan membantu masyarakat yang ada. Lalu dikumpulkan orang desa, Mbah Onggoloco berbagi pengalaman dan pengetahuan,” tutur Sudiyo lagi.
Bakti yang dilakukan oleh Mbah Onggolojo saat itu adalah memberikan bekal sumber kehidupan bagi masyarakat desa dengan bertapa sambil membuat hutan di Wonosadi. Adiknya Raden Gadingmas bertapa di utara, sebelah hutan wonosadi.
Sambil melakukan penanaman hutan, Mbah Onggoloco juga memberikan pelajaran pada orang setempat. Ia mendirikan perguruan. Oleh masyarakat yang menganggapnya sebagai orang yang berpengetahuan ia lalu disebut Ki Ageng.
Memang tidak terlalu jelas mengapa pilihan Mbah Onggoloco itu menghutankan kawasan bukit di atas Dusun Nduren itu. Bisa jadi memang ia berwawasan lingkungan atau mungkin beliau hanya membutuhkan tempat bertapa yang sunyi, daripada dikejar-kejar oleh tentara Kerajaaan Demak.
Mbah Onggoloco bersemayam di Hutan Wonosadi hingga hari tuanya. Ia meninggal di sana, namun kesaktiannya makin dipercaya karena saat meninggal tidak ada seorangpun yang tahu dan tidak ditemukan jasadnya,”Istilahnya moksa,” jelas Sudiyo.
Keyakinan masyarakat Wonosadi Mbah Onggoloco telah mencapai tahapan moksa yang dalam pengertian Hindu artinya telah mencapai kesempurnaan dengan kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas dari putaran reinkarnasi –kelahiran kembali– kehidupan. Mereka percaya akan hal itu karena terkadang terdengar suara, tetapi tidak terlihat wujud orangnya.
Hutan itu pun kemudian dianggap keramat. Dengan mengeramatkan hutan itu, orang tidak akan merusak. Sudah dipesankan oleh Mbah Onggolojo jangan sampai merusak hutan wonosadi karena merupakan peninggalan anak cucu. Dosa akibatnya.
Kepercayaan akan berdosa jika merusak hutan ini diyakini cukup ampuh untuk menjaga kelestarian Hutan Wonosadi. ”Kalau merusak hutan dianggap bersalah yang mengadili hukum di dunia saja. Tetapi kalau merusak hutan dianggap berdosa hukumannya di akhirat dan dunia,” jelas Sudiyo.
Lagipula,”Kalo seseorang bersalah hukumannya hanya di bumi. Jika bibirnya pinter bicara dan punya uang banyak, bisa bebas. Makanya kami tekankan jangan merusak Hutan Wonosadi, dosa!” tandas Sudiyo.
Namun pendekatan kekeramatan itu seperti kehilangan khasiatnya ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) naik panggung politik di masa-masa 1960-an. Bukan berarti mereka lebih sakti, namun teori dialektika materi yang secara umum melandasi komunisme menyebabkan mereka tidak menyandarkan diri pada kepercayaan agama. Dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional serta keluar dari kebenaran materi, orang-orang PKI kerap melabrak rambu-rambu tradisi. Seperti kepercayaan tradisional atas kekeramatan Hutan Wonosadi.
”Ya memang saat itu Hutan Wonosadi rusak karena politik. Dulu bupati Gunung Kidul ketua PKI, anggota-anggotanya banyak. Sampai lurah di sini juga, dia yang menyuruh orang-orang untuk menebang,” kenang Sudiyo.
Mungkin Mbah Onggoloco memang telah moksa, namun sifat-sifat melindungi dan menyayangi hutan tampaknya merintis pada Sudiyo sebagai salah satu keturunanannya. Setelah tumpasnya PKI Sudiyo memotori penanaman kembali Hutan Wonosadi. Ia juga menghidupkan kembali nilai kekeramatan hutan itu.
Bila bupati pada masa PKI menjadi pihak yang tidak mempercayai akan adanya kekeramatan atas hutan-hutan yang ada, sehingga masyarakat lalu meninggalkan nilai itu dan menebang hutan, Bupati Gunung Kidul pasca era PKI justru menjadi pendorong kembali kehijauan di Wonosadi. Pada tahun 1970 ia datang dan melihat apa yang dikerjakan masyarakat untuk hutan di sana. Ia menyatakan Wonosadi menjadi contoh dan mengintruksikan agar masyarakat Gunung Kidul yang lain belajar ke sana.
bersambung…