A slippery slope in Corporate Communications

Menarik mengikuti berita Kompas cetak sejak hari Kamis (26/07/‘12) minggu lalu. Ada berita dan foto aerial (atas) mengenai kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di mana kami juga sedang berkegiatan. Dan ternyata subyek itu (entah sengaja atau tidak) berturutan muncul di hari-hari berikutnya.

Pada hari Jum’at di headline halaman 1, termuat foto aerial dari kawasan yang sama, dengan subyek yang sama sekali berbeda (bawah). Dari sinilah cerita bergulir. Subyek foto di bawah adalah soal limbah tailing dari perusahaan Antam (Aneka Tambang) yang secara visual tampak memprihatinkan. Sementara berita di atas menyebutkan ada proyek terkait konservasi di TNGHS yang didukung oleh Antam. Kontradiktif bukan?

Cerita berlanjut pada Kompas hari berikutnya, Sabtu (foto bawah) di mana manajemen Antam memberikan pernyataan klarifikasi mengenai limbah tailingnya tersebut, namun berkembang karena ada pernyataan dari LSM pertambangan yang memberi komentar kritis mengenai bantahan tersebut.

Dari ketiga berita berturutan di atas, menarik dipelajari dari sisi komunikasi korporat. Berita pertama muncul karena pihak yang didukung oleh Antam dalam melakukan proyek konservasi di TNGHS berupaya mempublikasikan kegiatannya. Entah berkoordinasi dengan pihak komunikasi korporat Antam atau tidak (mengenai subyek mana yang bisa dipublikasi dan mana yang tidak) liputan itu pada awalnya memberi kesan yang positif terhadap Antam.

Namun, keadaan berbalik 180 derajat sejak munculnya foto headline mengenai tailing limbah Antam dari udara. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan foto itu, tailing limbah dari perusahaan tambang manapun akan tampak “horrible” jika difoto, apalagi dari udara. Itulah sebabnya maka perusahaan tambang akan sensitif sekali mengenai foto-foto yang akan keluar dari wilayah itu. Analoginya, sebuah rumah seindah apapun, sang pemilik tidak akan merelakan isi tempat sampahnya difoto dan dipublikasikan.

Pembelajaran dari ini semua adalah, berhati-hati dalam mengkomunikasikan sesuatu. Apalagi berkaitan dengan subyek-subyek yang sensitif seperti di atas. Koordinasi dengan pihak komunikasi korporat secara internal menjadi suatu keharusan. Lebih ironis lagi, direktur utama Antam, dua bulan yang lalu baru berkunjung ke redaksi Kompas untuk mengeratkan hubungan dengan media. Dengan urutan kejadian di atas upaya peningkatan komunikasi ke publik tampaknya menjadi defisit bagi Antam.

Indonesian Coal Rush

Ada yang menarik dari daftar 40 orang terkaya Indonesia versi Forbes. Lebih dari 25% alias 11 orang terkaya Indonesia mendapatka

n kekayaan mereka dari batu bara. Banyak di antara mereka yang melejit masuk ke dalam daftar ini karena kekayaannya meroket di beberapa tahun terakhir. Bolehlah kita sebut Indonesia mengalami coal rush, gejala yang mengamini tingkat eksploitasi sumber daya alam yang mengkhawatirkan

Di lain pihak, hasil studi terakhir terhadap cadangan batu bara dunia menunjukkan bahwa dengan tingkat produksi seperti tahun 2009 saja, cadangan batu bara Indonesia hanya bertahan sekitar 17 tahun lagi. Dengan meningkatnya permintaan –dan otomatis juga harganya– tentunya tingkat produksi akan digenjot juga. Perkiraan 17 tahun itu kemungkinan besar menjadi perkiraan yang paling lama, kemungkinan besar lebih cepat dari itu.

© 2007

Pertanyaan besar menggantung di sini karena pertama kebutuhan di dalam negeri akan batubara untuk energi sepertinya terabaikan karena sebagian besar difokuskan untuk ekspor. Kondisi paling jelas adalah di Kalimantan, pulau penghasil batubara terbesar ini mempunyai masalah kronis soal listrik yang hidup segan mati tak mau.

Pertimbangan kedua adalah laju tingkat eksploitasi yang terjadi dibandingkan kerusakan lingkungannya. Dengan coal rush seperti yang terjadi sekarang ini, saat cadangan sedikit dan harga menggila –tahun depan diperkirakan akan meningkat dari $ 110/ ton menjadi $170/ ton– yang terjadi adalah hukum rimba di dalam eksploitasinya. Aturan-aturan perlindungan lingkungan menjadi terabaikan. Butuh bukti? Semuanya kasat mata bagi penduduk Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan hingga Jambi. Tanyakan orang di sana, dengan mudah mereka menunjukkannya.

Kemana larinya batu bara kita? Ke Chinalah mereka bermuara. China dengan pertumbuhan ekonomi fantastis dan jumlah penduduk terbesar membutuhkan pasokan energi yang luar biasa. China, yang lebih dari 70% listriknya dihasilkan dengan pembangkit batubara, akan membangun 600 gigawatt (GW) pembangkit batubara pada seperempat abad ke depan -sama banyak dengan daya pembangkit batubara saat ini di Amerika, Jepang dan Uni Eropa disatukan–.

Sumber: The Economist

China saat ini seperti sepons raksasa yang menyedot sumber daya alam negara-negara sekitarnya. Di lain pihak China juga bekerja keras untuk mengalihkan pemenuhan kebutuhan energi mereka menjadi energi terbarukan.

Bagaimana dengan Indonesia? Pertama kita merusak lingkungan kita sendiri dengan tingkat eksploitasi batu bara yang begitu cepat dan masif. Kedua, pada saat cadangan batu bara Indonesia menipis, kitalah yang akan berbalik menjadi konsumen energi terbarukan teknologi China. Apa langkah taktis kita? Mungkin 11 orang di atas lebih tahu jawabannya.


   

Sudiyo (04)

Ngenuman, hanya situs itu yang paling langgeng di sepanjang riwayat Hutan Wonosadi. Di jaman PKI, situs itu menjadi benteng hijau terakhir yang menaungi hutan di sana. Lima pohon besar menjadi saksi zaman akan pasang surut kepedulian manusia terhadap alam lingkungannya.

Tiap tahun, di awal bulan Juli serombongan penduduk desa tampak menaiki Hutan

Wonosadi menuju Ngenuman. Para pria dewasa berpakaian ala petani, berbaju hitam dengan ikat kepala. Ibu-ibunya walau berkebaya juga turut ke hutan. Sementara anak-anak ikut pula menyemarakkan upacara dengan berpakaian anak petani.

Di situs pusat hutan itu, mereka melakukan upacara tahunan nyadran sebagai ucapan terima kasih kepada yang membuat hutan tersebut. Yang unik, selain mengucapkan doa untuk arwah para leluhur, mereka juga melantunkan tembang-tembang dengan alat musik rinding dengan formasi lengkap yang disebut Rinding Gumbeng. Ada 5 orang peniup rinding, 7 orang pemukul gumbeng , dan 3 orang sebagai sinden alias pelantun tembang.

© 2010

Ritual itu punya makna ganda, pertama ia dilakukan sebagai penghormatan kepada yang dipercaya sebagai sang pencipta musik itu, yaitu mbah Onggoloco. Selain itu, Mbah Onggoloco sendiri menurut hikayat menciptakan musik rinding untuk menghormati Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pertanian.

Rinding adalah kepeloporan lain dari Sudiyo. Sebagai sebuah bentuk budaya, musik dan alat musik ini sempat memudar di tahun 1960-an hingga 1980-an. Sudiyo yang sepertinya tak pernah berhenti melakukan revitalisasi kehidupan di desanya, kemudian mulai membuat kembali alat musik itu dan memainkannya dalam bentuk formasi lengkap dengan gumbeng.

Kedua alat ini susah-susah gampang memainkannya. Namun bunyi yang keluar –kombinasi resonansi dari rongga mulut, hembusan nafas dan getaran pipih bambu– adalah gaung yang unik. Dimainkan di dalam hutan, sukma terasa mendayu. Ia bukanlah musik yang menghentak, tetapi semacam alunan musik yang selaras dengan suasana alam.

Seperti siang itu ketika Sudiyo memainkannya bersama cucunya yang remaja bernama Yogo Pangestu. Yogo memainkan Rinding bersama Sudiyo dengan fasihnya. Saling sahut dengan nada harmonis dihiasi oleh alunan tembang dari mulut Sudiyo. 

Sudiyo biasa berlatih dengan salah satu dari 3 Kelompok Rinding Gumbeng di Desa Beji: kelompok kasepuhan yang terdiri dari para orang tua, kelompok remaja dan kelompok anak-anak. ”Regenerasi pemain Rinding Gumbeng penting agar tidak mengalami kepaten obor (kehilangan generasi) seperti masa lalu,” papar Sudiyo lagi sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Hutan Wonosadi, menuju salah satu mata airnya.

Upaya Sudiyo yang multi dimensi itu dalam Tahun 2009 menghasilkan penghargaan Kehati Award dalam kategori Prakarsa Lestari. Penganugerahan itu sepertinya makin memacu upayanya akan kehidupan desa yang berkesinambungan. Mengambil nama dari penghargaan yang diterimanya,”Saya sekarang membuat taman kehati (keanekaragaman hayati), mulai tahun 2009 seluas 5 hektar,” jelas Sudiyo.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Kidul menyambut baik upaya ini dan membantu lebih dari 3.000 batang tanaman yang terdiri dari 71 jenis. Jika selama ini Hutan Wonosadi menjadi rujukan penelitian hayati bagi kalangan akademisi, nantinya hutan tersebut juga akan digarap sebagai taman wisata. Beberapa tempat sudah dipersiapkan sebagai homestay bagi mereka yang ingin menikmati desa, budaya dan alamnya.

Sebanyak 3.300 batang bibit tanaman seperti bendo (Artocarpus elasticus), wadang (Pterospermum javanicum), johar (Senna siamea), hingga duwet (Syzygium cumini) telah ditanam di taman kehati Wonosadi. Warga sekitar turut berswadaya menanam aneka tanaman obat tradisional jenis rempah-rempah seperti buah wuni (Antidesma bunins) atau daunnya yang disebut mojar.

Sebagian bibit itu sempat ditengok Sudiyo saat berjalan ke arah hutan. Menelusuri pipa yang mengalirkan air minum ke desa, usia tampaknya tak berpengaruh terhadap semangat Sudiyo melestarikan alam desanya. Jalan yang makin mendaki ditapakinya dengan langkah pelan namun tegap.

Setibanya di bak penampungan mata air, Sudiyo sempat membetulkan sambungan pipa yang merembeskan air sedikit. Lalu ia dengan penuh nikmat menampung air segar dengan kedua tangan dan meminumnya langsung. Sang cucu juga mengikuti kakeknya menghilangkan dahaga dengan air sumber kehidupan yang mereka jaga selama ini.

Melihat semangat pelestarian antar generasi yang mewujud seperti ini, gelora jiwa sang kakek tanpa banyak petuah dan wejangan tampaknya sudah mengalir ke generasi-generasi di bawahnya. Sudiyo hanya memberi contoh nyata bahwa alam, religi, pengetahuan dan seni budaya dapat berpadu selaras untuk hidup yang ramah lingkungan. Memberi contoh tanpa mengenal kata henti, seperti mata air yang terus mengalir karena lestarinya hutan sekelilingnya.

End

Sudiyo (02)

Hutan Wonosadi memang bukan hutan desa biasa. Namanya menyiratkan keunikan riwayatnya. “Hutan ini dinamakan Wonosadi. Wono itu artinya alas atau hutan, sedangkan sadi berarti rahasia,” jelas Sudiyo.

Namanya rahasia, sampai sekarang menurut Sudiyo tak ada yang tahu rahasianya apa. Selain namanya menyimpan teka-teki, riwayatnya pun berselimut misteri. Menurut sejarah lisan, pada sekitar abad 15 –ketika Majapahit runtuh karena diserang oleh Demak, salah seorang bangsawannya mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kidul.


Jika dirunut data sejarah, lebih mungkin hal itu terjadi pada sekitar pertengahan abad 16 saat  terjadi perang antara Daha (pecahan Majapahit akibat perang saudara antara Ranawijaya yang mengalahkan Kertabhumi) dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi.

Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527.Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.

Dari data sejarah itulah bisa diduga bahwa kemungkinan bangsawan Majapahit yang datang ke Desa Wonosadi adalah bagian dari anggota keluarga kerajaan yang dikalahkan oleh Demak. Menurut cerita turun temurun sang bangsawan adalah putra ke dua dari istri kelima Prabu Ranawijaya. Dalam kepercayaan masyarakat Wonosadi, beliau itu disebut sebagai Mbah Onggoloco. Sebagai pelarian, wajar bila nama aslinya mungkin tidak pernah akan bisa diketahui.  

Mbah Onggoloco datang bersama adiknya yang disebut Raden Gadingmas. Mereka melakukan pertapaan tepatnya di Dusun Nduren. Sesuai dengan titah ayahanda prabu, mereka datang untuk mencari wahyu keraton. Dengan wahyu itu mereka dipercaya bisa menjadi raja lagi.

Walaupun disebutnya bertapa, tetapi pengertiannya justru melakukan bakti terhadap masyarakat setempat.”Kalau orang dulu namanya  topo ngrambe, artinya bertapa dengan membantu masyarakat yang ada. Lalu dikumpulkan orang desa, Mbah Onggoloco berbagi pengalaman dan pengetahuan,” tutur Sudiyo lagi.

Bakti yang dilakukan oleh Mbah Onggolojo saat itu adalah memberikan bekal sumber kehidupan bagi masyarakat desa dengan bertapa sambil membuat hutan di Wonosadi. Adiknya Raden Gadingmas bertapa di utara, sebelah hutan wonosadi.

Sambil melakukan penanaman hutan, Mbah Onggoloco juga memberikan pelajaran pada orang setempat. Ia mendirikan perguruan. Oleh masyarakat yang menganggapnya sebagai orang yang berpengetahuan ia lalu disebut Ki Ageng.

Memang tidak terlalu jelas mengapa pilihan Mbah Onggoloco itu menghutankan kawasan bukit di atas Dusun Nduren itu. Bisa jadi memang ia berwawasan lingkungan atau mungkin beliau hanya membutuhkan tempat bertapa yang sunyi, daripada dikejar-kejar oleh tentara  Kerajaaan Demak.

Mbah Onggoloco bersemayam di Hutan Wonosadi hingga hari tuanya. Ia meninggal di sana, namun kesaktiannya makin dipercaya karena saat meninggal tidak ada seorangpun yang tahu dan tidak ditemukan jasadnya,”Istilahnya moksa,” jelas Sudiyo.

Keyakinan masyarakat Wonosadi Mbah Onggoloco telah mencapai tahapan moksa yang dalam pengertian Hindu artinya telah mencapai kesempurnaan dengan kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas dari putaran reinkarnasi –kelahiran kembali– kehidupan. Mereka percaya akan hal itu karena terkadang terdengar suara, tetapi tidak terlihat wujud orangnya.

Hutan itu pun kemudian dianggap keramat. Dengan mengeramatkan hutan itu, orang tidak akan merusak. Sudah dipesankan oleh Mbah Onggolojo jangan sampai merusak hutan wonosadi karena merupakan peninggalan anak cucu. Dosa akibatnya.

Kepercayaan akan berdosa jika merusak hutan ini diyakini cukup ampuh untuk menjaga kelestarian Hutan Wonosadi. ”Kalau merusak hutan dianggap bersalah yang mengadili hukum di dunia saja. Tetapi kalau merusak hutan dianggap berdosa hukumannya di akhirat dan dunia,” jelas Sudiyo.

Lagipula,”Kalo seseorang bersalah hukumannya hanya di bumi. Jika bibirnya pinter bicara dan punya uang banyak, bisa bebas. Makanya kami tekankan jangan merusak Hutan Wonosadi, dosa!” tandas Sudiyo.

Namun pendekatan kekeramatan itu seperti kehilangan khasiatnya ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) naik panggung politik di masa-masa 1960-an. Bukan berarti mereka lebih sakti, namun teori dialektika materi yang secara umum melandasi komunisme menyebabkan mereka tidak menyandarkan diri pada kepercayaan agama.  Dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional serta keluar dari kebenaran materi, orang-orang PKI kerap melabrak rambu-rambu tradisi. Seperti kepercayaan tradisional atas kekeramatan Hutan Wonosadi.

”Ya memang saat itu Hutan Wonosadi rusak karena politik. Dulu bupati Gunung Kidul ketua PKI, anggota-anggotanya banyak. Sampai lurah di sini juga, dia yang menyuruh orang-orang untuk menebang,” kenang Sudiyo.

Mungkin Mbah Onggoloco memang telah moksa, namun sifat-sifat melindungi dan menyayangi hutan tampaknya merintis pada Sudiyo sebagai salah satu keturunanannya. Setelah tumpasnya PKI Sudiyo memotori penanaman kembali Hutan Wonosadi. Ia juga menghidupkan kembali nilai kekeramatan hutan itu.

Bila bupati pada masa PKI menjadi pihak yang tidak mempercayai akan adanya kekeramatan atas hutan-hutan yang ada, sehingga masyarakat lalu meninggalkan nilai itu dan menebang hutan, Bupati Gunung Kidul pasca era PKI justru menjadi pendorong kembali kehijauan di Wonosadi. Pada tahun 1970 ia datang dan melihat  apa yang dikerjakan masyarakat untuk hutan di sana. Ia menyatakan Wonosadi menjadi contoh dan mengintruksikan agar masyarakat Gunung Kidul yang lain belajar ke sana.

bersambung…

International Year of Forests 2011, Indonesia style

Tahun ini adalah Tahun Hutan Internasional (THI 2011), namun apakah Indonesia yang mengaku sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia akan ikut merayakannya? Kita tengok kalender kegiatan PBB dalam rangka Tahun Hutan Internasional, tak ada satu pun agenda kegiatan internasional yang berasal dari Indonesia.

Siaran pers Kementerian Kehutanan soal THI 2011 baru diterbitkan tanggal 14 Januari, itu pun isinya hanya sekedar harapan ke jajaran kementerian kehutanan untuk ikut merayakannya. Perayaannya secara internasional akan dicanangkan Senin besok tanggal 24 Januari, sementara Presiden SBY menurut siaran pers yang sama baru akan merayakan THI 2011 di Indonesia bulan April.

Kita lihat apakah pencanangan THI di Indonesia oleh SBY akan juga menjadi peristiwa pencanangan moratorium kehutanan atau tidak. Ironisnya justru di awal Tahun Hutan Internasional ini lobi industri kehutanan dan perkebunan ingin membatalkan rencana itu. Jika lobi ini berhasil, lengkap sudah potret Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar dari sektor kehutanan.

Moratorium kehutanan diperlukan selain sebagai jeda bagi hutan-hutan kita untuk bertumbuh, juga untuk memberi waktu sektor kehutanan dan perkebunan membenahi diri dari sisi data, administrasi dan regulasi. Ibarat orang berlari maraton yang tali sepatunya lepas. Moratorium kehutanan memberi kita kesempatan untuk mengikat tali sepatu itu secara benar dan melanjutkan maraton, daripada terus berlari dan terjerembab dalam petaka lingkungan.