
Ada yang menarik dari daftar 40 orang terkaya Indonesia versi Forbes. Lebih dari 25% alias 11 orang terkaya Indonesia mendapatka
n kekayaan mereka dari batu bara. Banyak di antara mereka yang melejit masuk ke dalam daftar ini karena kekayaannya meroket di beberapa tahun terakhir. Bolehlah kita sebut Indonesia mengalami coal rush, gejala yang mengamini tingkat eksploitasi sumber daya alam yang mengkhawatirkan
Di lain pihak, hasil studi terakhir terhadap cadangan batu bara dunia menunjukkan bahwa dengan tingkat produksi seperti tahun 2009 saja, cadangan batu bara Indonesia hanya bertahan sekitar 17 tahun lagi. Dengan meningkatnya permintaan –dan otomatis juga harganya– tentunya tingkat produksi akan digenjot juga. Perkiraan 17 tahun itu kemungkinan besar menjadi perkiraan yang paling lama, kemungkinan besar lebih cepat dari itu.
© 2007
Pertanyaan besar menggantung di sini karena pertama kebutuhan di dalam negeri akan batubara untuk energi sepertinya terabaikan karena sebagian besar difokuskan untuk ekspor. Kondisi paling jelas adalah di Kalimantan, pulau penghasil batubara terbesar ini mempunyai masalah kronis soal listrik yang hidup segan mati tak mau.
Pertimbangan kedua adalah laju tingkat eksploitasi yang terjadi dibandingkan kerusakan lingkungannya. Dengan coal rush seperti yang terjadi sekarang ini, saat cadangan sedikit dan harga menggila –tahun depan diperkirakan akan meningkat dari $ 110/ ton menjadi $170/ ton– yang terjadi adalah hukum rimba di dalam eksploitasinya. Aturan-aturan perlindungan lingkungan menjadi terabaikan. Butuh bukti? Semuanya kasat mata bagi penduduk Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan hingga Jambi. Tanyakan orang di sana, dengan mudah mereka menunjukkannya.
Kemana larinya batu bara kita? Ke Chinalah mereka bermuara. China dengan pertumbuhan ekonomi fantastis dan jumlah penduduk terbesar membutuhkan pasokan energi yang luar biasa. China, yang lebih dari 70% listriknya dihasilkan dengan pembangkit batubara, akan membangun 600 gigawatt (GW) pembangkit batubara pada seperempat abad ke depan -sama banyak dengan daya pembangkit batubara saat ini di Amerika, Jepang dan Uni Eropa disatukan–.

Sumber: The Economist
China saat ini seperti sepons raksasa yang menyedot sumber daya alam negara-negara sekitarnya. Di lain pihak China juga bekerja keras untuk mengalihkan pemenuhan kebutuhan energi mereka menjadi energi terbarukan.
Bagaimana dengan Indonesia? Pertama kita merusak lingkungan kita sendiri dengan tingkat eksploitasi batu bara yang begitu cepat dan masif. Kedua, pada saat cadangan batu bara Indonesia menipis, kitalah yang akan berbalik menjadi konsumen energi terbarukan teknologi China. Apa langkah taktis kita? Mungkin 11 orang di atas lebih tahu jawabannya.
