Saat saya diminta untuk membantu mengelola sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan, hal di ataslah yang saya sampaikan kepada para pegiatnya. Karena tujuan organisasi adalah memecahkan masalah, tentunya harus dilakukan dengan cara yang terukur, dengan berbagai cara yang mungkin, dan dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Dalam bahasa mudah, saya mengajak segenap pemangku kepentingan di organisasi tersebut untuk bergerak bersama memecahkan masalah konservasi yang secara spesifik sudah dirumuskan dan melaksanakan pemecahannya secara efektif dan efisien dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan sumber daya seoptimal mungkin.
Sekilas, sikap di atas terkesan jumawa, mana mungkin masalah konservasi yang dimana-mana didengungkan sebagai masalah yang makin besar (perubahan iklim, pemanasan global) bisa dipecahkan. Kalau masalah yang lokal sudah dirumuskan spesifik, ya, kita harus bisa.

Pertanyaan lanjutan dari pernyataan memecahkan masalah konservasi dalam tempo sesingkat-singkatnya adalah: jika masalahnya sudah terpecahkan, organisasinya mau kerja apa lagi? Ini seperti Innovator’s Dilemma yang intinya jika melakukan inovasi yang sukses, seringkali yang menjadi korban adalah organisasi kita sendiri, apakah itu mematikan sebagian bisnis, menjadikan produk kita sendiri menjadi tidak relevan yang intinya adalah mengorbankan diri sendiri.
Dalam posisi ini, jika organisasi sudah mampu melakukan inovasi yang luar biasa, tentunya dia akan juga mampu survive dengan melahirkan inovasi terus-menerus, sepanjang kekuatan organisasinya terjaga. Kata kunci di sini adalah organisasi yang kuat. Organisasi yang kuat terletak di tangan orang-orang yang hebat. Jika sekumpulan orang hebat bekerjasama, mereka bisa melakukan apa saja, walaupun setelah mereka men-disrupt diri mereka sendiri.
