Reinkarnasi JELAJAH

image

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya dan beberapa teman pernah membuat majalah perjalanan/ petualangan dengan judul Jelajah. Waktu itu kami bersama FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) menerbitkan bersama. Di penghujung 2004 kami sempat tawarkan ke beberapa ribu pembaca apakah Jelajah akan dijadikan reguler? Mereka menyambut antusias. Namun takdir berkata lain.

Saya saat itu diminta untuk menyiapkan dan menerbitkan National Geographic Indonesia. Tawaran yang sangat sulit untuk ditolak. Akhirnya selama kurang lebih lima tahun berikutnya waktu tersita untuk menerbitkan dan mengelola media tersebut. Di tahun 2010 saya mundur dari media tersebut dan membantu keluarga di Brussels.

Sekembali ke Indonesia, saya selama dua tahun terakhir ini mengamati media khususnya yang berkaitan dengan petualangan dan konservasi. Ternyata, tidak ada yang menyentuhnya. Mengapa?

  • Media cetak mendekati masa senjanya.
  • Media online umumnya walaupun tidak punya keterbatasan fisik dari sisi panjang isinya, justru sangat ringkas (itupun masih sering typo). Karena sifatnya news –berpacu dengan waktu–.
  • Tidak ada yang menjembatani antara online media dengan longform journalism, sementara di Barat kerinduan itu dijembatani oleh kehadiran Medium, dan lain-lain.

Kami melihat peluang itu, dan kali ini mencoba menghadirkan secara lebih serius dan sekaligus lebih longgar JELAJAH. Seperti apa perkembangannya? Mungkin lebih baik mengalir saja, seperti kata mentor saya almarhum Budi Laksmono (kami bersama ketika beliau tewas di Ekspedisi Sungai Alas tahun 1986) tentang Sungai: 

“Langit mendadak runduk kelabu
Di sini kita tak sempat lagi bicara tentang sepi dan
membenahi jejak mimpi selama ini
“Hidup tak perlu ditangisi”, katamu
Untuk memulai hidup ini dibutuhkan keberanian
Namun tak usah berlebihan
Karena gerimis luruh pun menyimpan kemungkinan
Sungai tak angkuh tengadah dipermainkan musim
Menjebak hidup kita dari gelombang tak terduga
“Hidup harus lebih dari sekedarnya”

Untuk itu JELAJAH bermoto Hidup Berarti (baca: Hidup harus lebih dari sekedarnya).

Indonesia di posisi ke 4 di dunia sebagai pengguna WordPress sebagai platform pengembangan website. Persentasenya 3,5% alias 2,31 juta website dari total sekitar 60 juta website berdasar WordPress di seluruh dunia.

Apakah angka ini sepadan dengan peran web developer ID untuk mengembangkan platform ini? Apakah kita berpuas diri hanya sebagai user saja?

Greenweb ID + LOFmart + WordPress= amazing, stay tuned. 🙂

A slippery slope in Corporate Communications

Menarik mengikuti berita Kompas cetak sejak hari Kamis (26/07/‘12) minggu lalu. Ada berita dan foto aerial (atas) mengenai kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di mana kami juga sedang berkegiatan. Dan ternyata subyek itu (entah sengaja atau tidak) berturutan muncul di hari-hari berikutnya.

Pada hari Jum’at di headline halaman 1, termuat foto aerial dari kawasan yang sama, dengan subyek yang sama sekali berbeda (bawah). Dari sinilah cerita bergulir. Subyek foto di bawah adalah soal limbah tailing dari perusahaan Antam (Aneka Tambang) yang secara visual tampak memprihatinkan. Sementara berita di atas menyebutkan ada proyek terkait konservasi di TNGHS yang didukung oleh Antam. Kontradiktif bukan?

Cerita berlanjut pada Kompas hari berikutnya, Sabtu (foto bawah) di mana manajemen Antam memberikan pernyataan klarifikasi mengenai limbah tailingnya tersebut, namun berkembang karena ada pernyataan dari LSM pertambangan yang memberi komentar kritis mengenai bantahan tersebut.

Dari ketiga berita berturutan di atas, menarik dipelajari dari sisi komunikasi korporat. Berita pertama muncul karena pihak yang didukung oleh Antam dalam melakukan proyek konservasi di TNGHS berupaya mempublikasikan kegiatannya. Entah berkoordinasi dengan pihak komunikasi korporat Antam atau tidak (mengenai subyek mana yang bisa dipublikasi dan mana yang tidak) liputan itu pada awalnya memberi kesan yang positif terhadap Antam.

Namun, keadaan berbalik 180 derajat sejak munculnya foto headline mengenai tailing limbah Antam dari udara. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan foto itu, tailing limbah dari perusahaan tambang manapun akan tampak “horrible” jika difoto, apalagi dari udara. Itulah sebabnya maka perusahaan tambang akan sensitif sekali mengenai foto-foto yang akan keluar dari wilayah itu. Analoginya, sebuah rumah seindah apapun, sang pemilik tidak akan merelakan isi tempat sampahnya difoto dan dipublikasikan.

Pembelajaran dari ini semua adalah, berhati-hati dalam mengkomunikasikan sesuatu. Apalagi berkaitan dengan subyek-subyek yang sensitif seperti di atas. Koordinasi dengan pihak komunikasi korporat secara internal menjadi suatu keharusan. Lebih ironis lagi, direktur utama Antam, dua bulan yang lalu baru berkunjung ke redaksi Kompas untuk mengeratkan hubungan dengan media. Dengan urutan kejadian di atas upaya peningkatan komunikasi ke publik tampaknya menjadi defisit bagi Antam.