McKinley di Alaska

Rombongan Mapala UI berhasil menaklukkan puncak tertinggi Amerika Utara. Ketemu sosok misterius. Tantyo Bangun, Project Officer pendakian menuliskan khusus untuk Matra (November 1989).

Norman keluar, diikuti Didiek, Deddy, dan Sute. Keempatnya melongok kiri dan kanan. Putih semua. Mata mereka mencari-cari perlengkapan pendakian yang terkubur hujan es semalam suntuk. “Huh… Tabiat asli Denali baru kelihatan. Kemarin-kemarin masih

tenang, hari ini mengamuk…” catat Didiek di buku hariannya. Denali adalah nama asli gunung McKinley. Dalam bahasa Indian Athabasca, Denali berarti Yang Tinggi. Hari itu adalah hari keempat pendakian. Mereka kini berada di ketinggian 3.165 meter sesudah Kahiltna Pass.

Memang, hari-hari pertama mereka menyapa Denali disambut dengan sopan. Cuaca begitu bagus sejak mereka meninggalkan kemah induk di Kahiltna Glacier, 2.195 meter. Akhir musim panas yang biasanya diwarnai dengan angin kencang di Alaska tak terlihat. Ketinggian demi ketinggian bertambah. Kesulitan hanya timbul dari masalah teknis kecil.

Sute, misalnya, harus sering terjatuh sebelum Kahiltna Pass. Kikuknya belum hilang dengan cara berjalan menggunakan snow shoe. Penyesuaian langkahnya keliru. Seharusnya, ia lebih banyak melangkah dengan menggeser telapak kakinya. Namun ia melangkah dengan langkah lebar, bak pria habis dikhitan. Snow shoe-nya yang lebar sering mengganjal. Terjungkallah dia. Memang tak mudah berjalan di salju dengan budaya Eskimo.

Halangan lain yang menimpa Sute adalah kesehatannya. Tak tahu kenapa, kondisi anak Sastra Prancis yang pendiam ini jadi menurun. Norman menulis di laporan pendakiannya: “Perjalanan terhambat karena Sute merasa pusing-pusing dan terpaksa berhenti. Sementara di kiri-kanan banyak sekali crevasse (jurang es).”

Didiek lain lagi masalahnya. Sepatu saljunya seringkali lepas. Untuk membetulkan dalam kondisi biasa mungkin tidak masalah. Tapi ia ada dalam tim. Satu orang berhenti, yang lain akan ikut berhenti. Norman yang biasanya tidak kenal kompromi, saat itu bersikap lain. Berkali-kali sled Didiek dihelanya mendaki lereng terjal. Dan rombongan “kura-kura” itu dapat mendaki sedikit lebih cepat.

Kahiltna Pass mereka lewati. Lereng salju semakin terjal. Sekali-kali mereka menengok ke arah Mount Foraker, “istri” dari Denali. Cuaca buruk terlihat mendatangi. Untuk yakinnya, Deddy dengan lensa panjang melihat puncak Denali. Benar, Lenticular Caps yang terbentuk dari hamburan es yang tertiup badai tampak menyelimutinya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti.

Deddy dan Didiek mengeluarkan sekop salju. Mereka harus menggali salju lebih dalam. Tenda harus tertanam lebih banyak untuk dapat menahan serangan badai. Hanya ujung atapnya saja yang boleh terlihat. Setengah jam menggali, selasai sudah bunker salju mereka.

Jam delapan malam badai menghantam mereka. Terus-menerus menderu. Kain tenda yang membeku karena tiupan badai berderak-derak suaranya. “Pertama-tama McKinley adalah gunung sub-Arctic. Udara ‘terhangat’ pada musim dingin adalah minus 40 derajat celcius, dengan rekor kecepatan angin 40 kilometer per jam,” begitu tulisan Bradford Washburn, Direktur Boston Museum of Science, kembali terlintas dalam benak mereka.

Washburn orang yang pertama kali membuka rute West Buttress pada tahun 1953. Ia, waktu itu, dihantam badai pada posisi yang sama dengan para pendaki Indonesia sekarang. Pendaki Jepang, pada beberapa tahun lalu juga terhantam di sini. Nasib buruk menimpa mereka. Mereka hilang disapu angin. “Fakta-fakta itu, terus terang membikin kami terjaga sepanjang malam,” tutur Didiek. McKinley malam itu memang sungguh menakutkan.

Syukurlah, ketakutan mereka tidak berkepanjangan. Di Jakarta, pukul setengah empat dinihari tanggal 11 Juli, mereka mengabarkan hal ini: “Sukses! Kami sudah sampai dengan selamat di Puncak McKinley tanggal 7 Juli. Nggak kurang sedikit pun. Pokoknya normal.” Itu kata-kata pertama dari facsimile yang kami tunggu-tunggu. Hilang semua kepenatan selama delapan bulan terakhir.

Memang, persiapan matang akhirnya menentukan. Mereka mendaki dengan cepat. Malah boleh dibilang terlalu cepat. Saya ingat telepon Didiek dari Talkeetna, beberapa saat sebelum terbang ke kemah induk di Kahiltna Glacier, “Sampai tanggal 22 Juli kami ada di McKinley. Kira-kira pendakian akan makan waktu tiga minggu.”

Ternyata tanggal 11 Juli mereka sudah di bawah lagi dan berhasil. Hasilnya memang di atas rata-rata. Pendakian tercepat di McKinley, sejak diresmikan menjadi taman nasional, tercatat 9 hari dan pendakian terpanjang 24 hari. Orang-orang tropis Indonesia ini baru pertama kali mencoba membukukan waktu 10 hari. Saya lalu teringat awal semua petualangan ini.

Waktu itu, dalam pertemuan di Jakarta, 29 Oktober 1988, semua yang hadir sibuk berdebat. Adi Seno dengan segala pengetahuannya tentang gunung salju di seluruh belahan bumi membeberkan pandangannya. Saya bersama Sulis, Eka dan Makky mendengarkan dengan antusias. Adi mengajukan usul sasaran ekspedisi berikutnya, setelah cukup berhasil menapaki pegunungan Andes pada bulan Juli.

“Yang paling mungkin memang McKinley. Ia layak dijadikan sasaran antara sebelum kita kembali ke Himalaya, atau meneruskan program “seven summit”, pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.” Kata Adi membandingkan Denali (McKinley) dengan kandidat lain, seperti Makalu (Nepal) dan Aconcagua (Argentina).

“Pat (Morrow) juga menyiapkan diri ke Everest dari McKinley dan Aconcagua. Sesudah itu baru puncak lainnya,” Adi menambahkan. Pat adalah rekan pendaki asal Kanada yang telah mencapai seven summit.

Rapat Badan Khusus Ekspedisi Mapala Universitas Indonesia hari itu selesai. Keputusannya secara bulat menetapkan Gunung McKinley sebagai sasaran tahun ini. Gunung itu menjulang menjadi titik tertinggi di Alaska. Letaknya yang 390 kilometer dari lingkaran Artik, menawarkan medan yang tidak bersahabat. Dan saya mendapat tugas berat untuk menjadi project officer-nya.

Setelah saya pikirkan selama seminggu, akhirnya saya terima tawaran itu. Sebab tugas itu punya banyak konsekuensi. Misalnya, harus menunda skripsi, menahan diri untuk tidak bisa ikut ekspedisi ke Irian, dan mengurangi perhatian ke masalah keluarga. Yang paling berat adalah mengatur sejumlah ego untuk bekerja bersama mencapai puncak McKinley.

Mengatur masalah ego ini dituntut kepintaran tertentu. Dengan tenaga yang ada sekarang, terus terang kepercayaan terhadap kemampuan teman-teman untuk sampai ke puncak McKinley tidak diragukan. Mula-mula tiga belas orang yang mendaftar seleksi. Tapi akhirnya terpilih empat orang. Semuanya cukup handal, dan “jam terbang” mereka lumayan panjang. Tapi rasanya ada yang kurang. Saya butuh motivator.

“Kenapa tidak mengajak Norman?” pertanyaan setengah usul dari Sulis.

Norman Edwin. Terbayang di kepala saya sebuah ego lain yang sangat dominan. Saya teringat pengalaman hitam dengannya. Tragedi Ekspedisi Arung Jeram Sungai Alas melintas kembali. Kami kehilangan Mas Budi Belek dan Tom Sukaryadi waktu itu. Jeram-jeram ganas sungai Alas mengalahkan mereka. Saat itulah saya melihat – untuk pertama kalinya – orang sekeras Norman bisa menangis. Tapi itu jelas bukan tangisnya yang pertama jika kehilangan teman dalam ekspedisi.

Tahun 1981, Norman juga menangis waktu mendengar Hartono Basuki meninggal di dinding Selatan Carstensz Pyramid. Saat itu ia yang menjadi ketua ekspedisinya. Walaupun secara teknis ekspedisi itu sukses, dengan korban satu nyawa tak urung Norman sempat “diadili”.

Pengalaman-pengalaman itu membuahkan anekdot-anekdot. Teman-temannya bilang kalau ia bertualang, pulangnya selalu membawa peti (mati). Di sisi lain dengan keberuntungannya yang tinggi, mereka berkomentar bahwa ia punya nyawa cadangan.

Tapi orang yang satu ini benar-benar fenomena kepribadian yang unik. Orang mungkin berpendapat, semangat egaliter yang sangat ditanamkan dalam keseharian di Mapala, membentuk pribadi-pribadi yang semau-maunya. Bebas. Dan paling buruk: tidak mengenal disiplin. Memang itu yang terjadi. Tapi ada nuansa lain juga dari pergaulan dengan alam.

Orang yang belajar dari alam tidak mengenal larangan. Namun siapa yang ceroboh, hukumannya adalah maut. Ini kalimat kunci dan itu yang menyebabkan terbentuknya kepribadian “tanpa larangan, tapi siap menanggung risiko”. Norman tak terkecuali.

Rambutnya gondrong berkuncir. Lelucon-leluconnya selalu menyerempet-nyerempet porno, dan hanya memiliki satu kemeja di antara seluruh T-shirtnya. Semuanya berkesan urakan. Tapi ada faktor yang berlawanan. Semangat hidupnya kadang terasa kelewatan.

Waktu pertama mendapat tawaran itu, sambutannya baik. “Tapi gua mesti ke Sulawesi dulu, barang sebulanlah,” begitu katanya. “Kalau bisa gua sudah dapat referensi yang mesti dibaca.”

Saya lalu menyodorkan Surviving Denali. “Problem paling besar menghadapi frostbite (sengatan dingin). Artinya perlengkapannya harus ultra ekstrem untuk bisa lewat di kondisi minus 40 derajat Celicius,” kata saya menjelaskan.

Anggota tim sudah terseleksi. Didiek Samsu sebagai orang kedua setelah Norman. Didiek dengan pengalaman Himalaya dan Andes punya cukup disiplin. Walaupun tulisannya seperti cakar ayam, pengaturan administrasinya cukup rapi. Dan yang penting ia dapat bekerja di bawah pimpinan Norman. Sarjana arkeologi ini bertekad hidup dari bergiat di alam bebas.Ini langka di sini, tapi saya butuh orang seperti itu. Saya tidak senang dengan orang yang setengah-setengah.

Personil lainnya adalah Deddy. Si “easy going” yang sangat menelantarkan kuliahnya di fakultas sastra ini bisa cocok untuk ekspedisi McKinley. Pengalaman saya bersamanya mendaki di Chimborazo, Andes memang menyiratkan apa yang perlu saya ketahui tentang dirinya. Untuk kepemimpinan memang Deddy tidak terlalu menonjol, tetapi sebagai pasukan komando, tidak pernah ada kata “tidak bisa” dalam kamusnya.

Deddy sangat jarang marah. Kalau marah pun mudah ketahuan. Ia akan menyendiri dan diam. Ini sikap marah yang “bagus”. Artinya tidak merusak ekspedisi dengan mengamuk dan mengomel tanpa kejelasan.

Anggota terakhir adalah anak paling muda dari kami. Sugihono Sutedjo. Ia meroket dengan cepat sebagai pendaki, dan mematahkan mitos bahwa anak sastra Perancis harus lemah lembut. Tahun 1987 ia masih anak bawang. Tapi dengan cepat ia belajar dan belajar. Januari lalu ia memimpin rekan-rekannya menaklukkan Mount Cook, gunung tertinggi di Selandia Baru.

Saat tengah menyeleksi tim McKinley, satu keputusan besar lagi saya buat. Saya memutuskan untuk tidak ikut. Saya merasa ini yang terbaik untuk tim. Dengan usaha fund raising selama enam bulan sudah cukup menyita waktu. Ditambah lagi persiapan fisik dan teknis untuk mendaki gunung dengan tingkat kesulitan seperti McKinley, sungguh di luar kemampuan.

Tim sudah ada, masalah belum terpecahkan. Orang-orang ini tetap punya ego yang sangat besar. Dalam stress berat bisa timbul konflik yang bisa merusak tim. Memikirkan bagaimana cara menyelaraskannya, saya bicara dengan beberapa psikolog. Saya tanyakan baiknya suatu program latihan. Mereka setuju dengan usul saya untuk mengumpulkan tim ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling tidak mereka terbiasa mengenal kepribadian teman seperjalanan ke Puncak McKinley. Saya satukan di rumah Norman selama dua bulan.

“Ini perlu untuk tim. Bayangkan saja beda usia gua dengan Sute sekitar tiga belas tahun. Dan dia entar jadi satu tim yang harus gua anggap punya kemampuan rata dengan lainnya. Paling tidak dia tidak usah sungkan sama gua. Jangan mentang-mentang gua lebih tua, Sute nggak berani menegur kalau gua salah. Kalau di McKinley bisa jadi bahaya.”

Kalau dari referensi Barat memang agak lain. Pendaki terkenal macam Reinhold Messner, Chris Bonington, Doug Scott, Lou Whittaker tidak memerlukan model seperti ini. Mereka profesional disitu. “Kerja”nya memang naik gunung. Paling tidak usia mereka pun matang.

Persiapan teknis mulai berjalan. Lari 10 kilometer sehari, latihan beban 3 kali seminggu, memanjat dan mendaki pada akhir minggu. Semua memang berat dan membosankan. “Camping dong sekali-sekali,” pinta Deddy.

Permintaan Deddy terkabul, saya aja mereka camping di dalam Cold Storage. Semalam berlangsung dengan aman. Suhu di awal kami masuk hanya 20 derajat di bawah nol. Makin lama perlahan merayap turun sampai titik minus 40. Kamera video 8 mm yang saya coba untuk mengabadikan mereka hanya bertahan lima menit. Baterainya ngadat membeku. Tapi hasil simulasi di Cold Storage ini banyak. Semua merasa siap untuk berada lebih lama di kebekuan itu.

Tapi ada halangan kecil lain. Dokter Dangsina Moeloek, pengamat medis tim ini menemukan bahwa Hb darah mereka turun setelah tes faal yang ketiga. “Pendaki gunung harus punya Hb tinggi. Di ketinggian oksigen susah diangkut ke otak kalau Hb rendah,” kata dokter Dangsina,“tapi saya akan cek ke PMI, apakah sesuai dengan kondisi Indonesia.”

Jawabannya positif, ternyata darah mereka masih lebih baik dibanding dengan kondisi darah rata-rata orang Indonesia. Saya kurang puas. Kami lakukan simulasi ketinggian di Lakespra Saryanto. Hasilnya bagus, saya puas.

Ekspedisi McKinley masuk tahap in action. Didiek dan Sute berangkat lebih awal seminggu. Di Anchorage mereka akan belanja di REI. Mapala UI tercatat sebagai member di sana. Paling tidak bisa dapat potongan. Tiap orang rata-rata menghabiskan biaya sebesar 4.000 dollar untuk perlengkapan pendakian di suhu ekstrem dingin. “Soal perlengakapan kami dipuji oleh pendaki lain. Untuk Alpine tacic memang tidak ada pilihan lain. Kami harus mendaki cepat dan aman. Peralatan yang baik jadi salah satu jaminan keamanan,” kata Didiek.

Norman dan Deddy menyusul mereka ke Anchorage, dan langsung ke Talkeetna. Siap-siap sebentar dan terbang lagi ke Kahiltna Glacier. Cepat memang, tapi bukannya berlangsung mulus. Rudi Badil, teman dekat Norman bertanya pada saya, “Siapa lagi kali ini yang jadi ”korban” sasaran amukan Norman?”

“Korban” memang tidak ada. Namun bukan berarti ia tidak keras. “Di lapangan ia kerasnya minta ampun. Untung kita-kita sudah hapal kelakuannya. Toh dia berlaku keras untuk kebaikan tim juga,” kata Sute yang entah kenapa jadi orang yang paling lemah kondisinya. Artinya ia jadi orang yang paling sering didorong-dorong semangatnya untuk tetap mendaki.

“Saya sempat diberi pilihan tidak enak oleh Norman. Bisa ikuti kecepatan yang lain sampai ke puncak McKinley atau menjaga kemah. Mungkin karena pilihan yang sulit seperti itu, semangat justru bangkit,” lanjut Sute.

Norman sendiri bukan tanpa cacat. Ia sempat panik waktu memanjat tebing es dengan kemiringan 75 derajat di atas Windy Corner, 3.930 meter. Crampoon-nya sering kali lepas. Dan memanjat tebing es tanpa crampoon sama seperti mengais pasir tanpa jari.

Bayangkan kondisinya waktu itu. Ia ada di tebing es, membungkuk membetulkan crampoon dan menahan beban 40 kilogram di punggungnya. “Perbedaharaan makian joroknya terlontar semua,” komentar Deddy.

Langkah-langkah akhir ke puncak McKinley mulai ditapakkan. Semuanya tampak beres. Tebing terjal Denali Pass di ketinggian 5.547 meter dirayapi dalam waktu dua jam. Dari atas, piramida puncak McKinley memanggil-manggil. Tapi terlihatnya tak lama, sebab kabut dan angin kencang segera menutupinya. Suhu langsung meluncur turun ke titik 25 di bawah nol derajat Celcius. Down Jacket harus segera dipakai.

Dua ratus meter menjelang puncak, Didiek menengok ke arah puncak Utara. Antara percaya dan tidak, terlihat sosok mengenakan jacket parka merah melambai-lambai. Dia memberitahu Norman, “Man, ada orang di Puncak Utara.”

Norman juga melihat tapi ia membisu dan mendaki terus. Deddy dan Sute yang ikut mendengar ucapan Didiek menyanggah. Didiek akhirnya terdiam dan melangkah terus. Soal sosok misterius ini tetap jadi misteri sampai mereka kembali.

Di dekat puncak, Norman diam. “Hampa banget waktu itu. Emosi gue hilang. Yang ada hanya keinginan sampai (puncak) dan kembali,” begitu ia menceritakan pikirannya waktu itu. McKinley, titik tertinggi di Amerika Utara setinggi 6.194 meter, pun akhirnya bisa dijejaki.

Bendera-bendera yang wajib diabadikan dikeluarkan satu per satu. Wajah-wajah di balik goggles menahan mual. Norman terserang kantuk hebat. Penyakit ketinggian sedang hebat-hebatnya menyerang. Untunglah mereka tahan. Terakhir, seperti ditulis Didiek di catatan hariannya: “Kami harus turun, karena masih ada puncak-puncak lain yang harus didaki.”

Quito

Berbagi cerita saat mengunjungi Quito untuk mendaki Cayambe dan Chimborazo. Mengiringi upaya teman-teman pendaki wanita yang mendaki puncak-puncak salju katulistiwa guna menggalang dana untuk penyakit Lupus. Semoga niat baik itu mendapat lindungan, lancar selama perjalanan dan selamat kembali ke tanah air.

Ibukota Ecuador dengan ketinggian 2.850 meter, Indian Inca dan Mestizo berbaur di sana. Ada permainan voli tiga orang yang menjadi arena judi. Wanitanya cantik-cantik. Sebelum mendaki gunung, Tantyo Bangun menceritakan perjalanannya.


Dua orang pria di downtown Quito (hanya jumpa satu foto Quito yang sudah terscan 🙂 ©1990

Suara pilot terdengar merdu di telinga. Mengumumkan bahwa pesawat akan segera menurunkan ketinggian, bersiap mendarat. Setelah tujuh jam terbang terguncang-guncang dari Mexico City karena cuaca buruk, akhirnya mendarat juga di bandar udara internasional Quito, ibukota Ecuador.  Lega rasanya bisa menginjak daratan lagi.

Begitu menuruni tangga pesawat, angin dingin langsung menerpa muka. Baru ingat kalau kota ini terletak hampir 3.000 meter di atas permukaan laut. Bisa jadi ia merupakan ibukota tertinggi di dunia.

Quito tampak dari udara bagaikan sarang lebah dipagari gundukan pegunungan Andes. Ia terletak di sisi Coldillera Blanca bagian tengah dari pegunungan Andes. Karena itu ia merupakan bagian yang unik. Geografisnya masuk di daerah tropis, tapi memiliki banyak gunung bersalju. Bahkan beberapa diantaranya masih aktif bergolak. Namun, ini bukan berarti situasi politik negeri itu juga turut bergolak. Paling tidak pada saat kunjungan saya.

Mulanya memang sempat terpikir bahwa negara ini situasinya ikut “panas” juga. Apalagi waktu masuk bagian imigrasinya. Banyak petugas berseragam militer mondar-mandir. Saya rasa mereka belum pernah mendengar nama Indonesia. Maka besar kemungkinan prosedur akan tambah rumit.

Untunglah dugaan saya meleset. Petugas imigrasi cuma heran, kamu datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk naik gunung. Tapi mereka tetap ramah juga. Hanya faktor bahasa saja yang sedikit menghambat. Kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi Ecuador ternyata minim, sedangkan untuk bahasa Spanyol, kami cuma mengandalkan kamus. Gejala ini ternyata jadi hal umum di Quito. Di sana orang masih jarang yang bisa berbahasa Inggris. Akibatnya kamus saku kecil keluaran Berlitz itu jadi kitab suci saya selama di Quito, selama belum pergi ke daerah pegunungan. Di daerah pegunungan, digunakan bahasa Indian Quencha.

Dari bandara, saya ke hotel dengan menyewa sebuah van. Dan ini merupakan pengalaman pertama saya tertipu dalam soal-soal transportasi. Si wanita pemiliknya berhasil meyakinkan saya bahwa Hotel Grand Casino, hotel yang saya tuju terletak jauh di kota tua. Jadilah ongkos yang saya bayar dua kali dari yang seharusnya. Dino, bell boy Hotel Grand Casino mentertawakan saya sewaktu mendengar cerita itu.

Hotel Grand Casino bukan hotel berbintang. Tanpa AC dan air hangat dan shower-nya hanya kadang-kadang saja keluarnya. Untungnya udara cukup dingin. Tentu saja sewanya murah. Hanya 7 dollar Amerika semalam untuk double room. Tetapi bukan karena sewanya murah saya pilih di situ, sebab rata-rata tarif hotel memang murah.

Bandingkan saja tarif Hotel Grand Casino dengan Residencial Los Alpes. Hotel kelas satu ini pun hanya pasang tarif 16 dollar Amerika untuk double room. Lalu kenapa saya pilih Grand Casino? Selain lokasinya, Grand Casino merupakan hotel transitnya para pendaki gunung mancanegara. Jadi minimal saya dapat bertukar pengalaman dengan mereka.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya menyaksikan kedua wajah Quito. Wajah Quito modern yang beranjak jadi kota metropolitan yang pertama kami lewati. Nampak kesibukan-kesibukan khas kota yang sedang membangun. Kultur orang-orangnya pun selintas terkesan sebagai masyarakat maju. Tapi jangan salah, daerah ini bukan down town-nya Quito.

Down town-nya Quito justru terletak di old city-nya. Di daerah ini, di sela-sela bangunan khas peninggalan Spanyol dari abad 16, terpusat kesibukan kota itu. Entah kenapa orang-orang Quito tampaknya senang bersibuk-sibuk di tempat yang sempit. Bayangkan, desain kota zaman dahulu yang tidak mengenal mobil, pasti jalannya sempit-sempit. Sepanjang Calle (semacam boullevard) dan Avenida (Avenue) yang hanya pas untuk dua mobil, terletak pusat-pusat mercado (pasar).

Di down town, kombinasi orangnya berbeda dengan di kota baru. Kalau di kota baru, umumnya orang-orang Meszo (keturunan Spanyol) yang tampak. Hidung mancung, rambut coklat dan pirang dan wajah yang rata-rata cantik mendominasi wanita-wanitanya. Pantaslah kalau wanita kawasan Amerika Latin sering mendominasi pemilihan ratu kecantikan.

Beruntung sekarang saya bisa menyaksikan wajah-wajah cantik yang khas itu. Seabad yang lalu, ketika pendaki besar Eropa yang menjelajah puncak-puncak tertinggi Ecuador – Edward Whymper – berada di Quito , wanita-wanitanya tak terlihat seluruh wajahnya. Tulisnya: “Di sini sebagaimana di bagian lain Amerika Selatan, kebiasaan wanitanya bila keluar rumah menyelimuti wajah dan tubuhnya. Tapi saya melihat ada ketimpangan di soal ini. buruh wanita-wanita miskin (Indian) tidak begitu mengindahkan aturan kesopanan ini. Rupanya, sejak abad ke 19, yang namanya perbedaan norma antara keturunan Spanyol dan penduduk asli sudah timbul.

Keadaan kota baru dengan wajah modern dan orang-orang kelas atas kontras dengan kota tuanya. Di daerah ini umumnya yang beredar orang-orang kelas menengah ke bawah (baca Indian). Mereka dengan pakaian khasnya ponco (semacam selimut yang jadi jaket) dan topi tampak mendominasi daerah ini. Terkadang tampak orang-orang negro, daerah inilah hotel grand casino terletak.

Lokasi hotel ini terletak di daerah down town yang punya atmosfer kota, jelasnya daerah Quito Selatan – kota tua di sekitar hotel itu, sejak tahun 1978 berada di bawah ordonansi UNESCO. Ia dideklarasikan sebagai salah satu cagar budaya dunia. Dan di kota tua Quito, bangunan dan perubahan lainnya diawasi sangat ketat.

Di siang hari, suasana kota kuno ini kurang terlihat karena terlalu penuh dengan hiruk-pikuknya manusia. Namun, bila malam tiba , ketika suhu udara mulai menggigilkan tubuh dan orang-orang mulai enggan keluar rumah, suasana itu baru terasa. Anda seolah-olah berjalan-jalan di masa lampau. Terbayang tentara-tentara Simon Bolivar, pahlawan nasional Ecuador, berbaris melewati jalan-jalan tua yang terbuat dari susunan batu. Cuma sekali-sekali saja renungan itu terganggu oleh ocehan orang-orang mabuk cerveza (bir), atau wino (anggur).

Suasana itu bikin saya betah. Nantinya, tiap-tiap perjalanan “pulang kandang”, saya selalu jalan kaki. Dari kumpulan bangunan berarsitektur maju di Quito Selatan ke arah kota tua. Anda seolah berjalan menyusuri lorong waktu. Dan saya selalu menggunakan variasi-variasi rute untuk pulang hingga selalu berjumpa dengan pemandangan berbeda.

Hari pertama di Quito tidak banyak yang bisa dilakukan. Kepala terasa berat dan pusing. Malas sekali untuk pergi. Sesiangan diisi dengan tidur-tiduran. Pusingnya kepala bukan karena jet lag tapi karena penyakit ketinggian. Ingat, Quito tingginya 2.850 meter di atas muka laut. Agak sore sedikit kemalasan baru bisa dikalahkan. Saya turun ke arah Plaza de la Independencia terus menyusuri Avenida Colombia. Maksud hati ingin melongok museum. Ini sesuai dengan anjuran teman saya yang pakar jalan-jalan. Nasehatnya, kalau untuk melihat satu tempat yang mewakili satu negara, museumlah tempatnya. Nyatanya saya terlambat. Casa de Cultura Museum di Avenida Colombia sudah tutup ketika saya tiba.

Acara utama saya untuk melihat museum jadi batal. Maka, tak tentulah arah jalan saya. Sampai di Parque La Alamed, hati agak terhibur. Di taman terbesar di Quito ini mata terpancing melihat kerumunan orang di pinggir lapangan. Saya mendekat. Rupanya ada permainan voli khas Ecuador yakni pada jumlah pemain. Kalau permainan bola voli internasional satu regu pemainnya enam orang, di sini hanya tiga. Dan ada keheranan waktu saya melihatnya.

Suporter kedua regu yang bertanding terlihat semangat sekali. Tapi saya tidak melihat bahwa itu suatu pertandingan serius. Paling tidak pemain-pemainnya tidak berpotongan atlet. Rata-rata gendut dan pakai jaket jeans. Bukan kostum olahraga. Kesannya malah main-main.

Rasa ingin tahu saya bangkit. Dengan sedikit susah payah bertanya dengan bahasa tarsan, saya mendapat informasi. Kesan saya tadi salah. Yang dikira pemain voli sembarangan ternyata lebih dari itu. Mereka ternyata pemain profesional. Kenapa? Ternyata kalau dilihat lagi, penonton tidak terbagi dua sebagai suporter dari dua regu. Mereka ada dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu orang terlihat serius mengamati pertandingan. Mereka adalah kelompok penjudi dengan para bandarnya. Pantas, pertandingannya sendiri kurang seru, tapi penontonnya semangat sekali. Mereka bertaruh rupanya.

Dengan sedikit mengkal, saya tinggalkan pertandingan voli tiga orang itu. Perut terasa lapar. Mata mulai mencari-cari rumah makan. Di mana-mana ternyata populer sekali yang namanya Pollo (ayam). Dari Pollo Superman sampai Pollo E.T ada semua. Harganya pun relatif murah. Makan model Lunch Box hanya 900 Sucre berdua. Itu kira-kira sama dengan 2.500 Rupiah.     

Keluar dari tempat makan malam hari belum terlalu larut. Tapi udara mulai mendingin. Saya jalan perlahan kembali ke hotel. Jalanan cepat sekali lengang. Tapi tengoklah di rumah-rumah minum, laki-laki mengobrol di  sana.

Di Grand Casino ternyata suasananya sama. Café hotel juga penuh dengan orang-orang yang menghabiskan malam di sana. Saya mengambil tempat duduk di tengah, dan memesan sebotol Cola. Sedang enak-enaknya mengamati tamu-tamu lainnya, mendadak seorang bertampang militer dengan jaket hijau tua berdiri di depan meja saya. “Boleh saya duduk di sini?” ia bertanya sopan.

Saya mengangguk. Tapi rupanya dia tidak sendirian. Ada dua orang gadis yang ikut bersamanya. Kami pun berkenalan. Si “militer” bernama Juan, seorang perwira polisi, sedangkan dua gadis temannya adalah Maria dan Theresa. Sambil bersalaman saya menduga-duga maksudnya. Ada pikiran jahil juga, jangan-jangan Juan mau menawarkan mereka pada saya. Memang dugaan saya beralasan. Seorang laki-laki, bawa dua gadis, dan menghampiri lelaki sendirian di Café sebuah hotel. Skenarionya cocok dengan “prosedur” mucikari.

Saya akui kedua gadis itu rata-rata cantik. Dan pikiran yang tidak-tidak itu berlangsung terus sampai kami sudah membuka obrolan. Ternyata dugaan saya meleset. Mereka ternyata hanya orang Quito yang ingin mencari teman untuk melakukan “conversation” bahasa Inggris. Lucu juga jadinya, memperdalam bahasa Inggris dengan orang Indonesia.

Waktu mereka tahu saya dari Indonesia, bukannya mereka sadar bahwa mereka “salah alamat”, tetapi justru tertarik. Macam-macam hal yang kami obrolkan, membanding-bandingkan keadaan negara masing-masing yang kebetulan sama-sama terletak di lingkar katulistiwa. Sampai suatu saat Juan menanyakan keadaan politik Indonesia. Dengan bangga saya jawab, “Indonesia adalah negara demokrasi paling damai di dunia.”

“Lalu, apakah sosialisme, komunisme, dan semacamnya diterima juga di Indonesia?” tanya Juan ingin tahu.

Saya jawab dengan yakin, “Apa sosialisme? Komunisme? Kami benci itu.”

Juan hanya tersenyum sedikit aneh mendengar jawaban saya. Tapi perhatian saya segera beralih ke topik-topik baru yang lebih menarik. Dan tahukah Anda betapa menyesalnya saya mengeluarkan pernyataan itu. Senyum anehnya Juan ternyata beralasan. Alasannya baru saya mengerti esok harinya ketika saya jalan lebih jauh ke Quito Utara. Sepanjang tembok jalan banyak sekali grafiti berisikan dukungan terhadap sosialisme. Ecuador baru saja melakukan Pemilu, dan pemenangnya Juan Antonio Borja dari pihak sosialis. Mau tidak mau was-was juga hati memikirkan akibat dari pernyataan benci sosialis tadi.

Hari selanjutnya saya isi tetap dengan niatan lama saya: melihat museum. Hari itu pelancongan dimulai agak pagi. Menyusuri Avenida 10 de Agosto, turun terus melewati Banco Central. Di depan Bank Sentral itu banyak anak sekolah berseragam antri. Mata mau tidak mau terangsang juga untuk memperhatikan lebih lanjut. Langkah kaki pun berbelok memasuki gedung Bank. Sesudah di dalam, baru teringat kalau di Bank Sentral ada museum juga. Bahkan dari omong-omong orang hotel, untuk koleksi arkeologisnya, Museo de Banco Central adalah yang paling baik di Ecuador.

Museum ini bisa jadi museum paling aman di dunia. Letaknya di tingkat atas Bank Sentral. Sebelum masuk saja saya harus melewati tatapan mata beberapa orang pengawal bersenjata laras panjang lengkap. Sesudah naik lift dan melangkah ke lantai museum, baru suasana museumnya terasa.         

Pajangan benda-benda dan artefak-artefak purbakala Ecuador menjadi pelengkap wawasan saya. Sesudah melihat wakil zaman kolonial dari arsitektur Spayol di kota lama. Displainya cukup apik. Dari koleksi tembikar, ornamen-ornamen emas, mumi, diikuti juga peralatan dan dokumentasi penggalian awal. Dari bukti-bukti arkeologi itu disimpulkan oleh arkeolog bahwa nenek moyang orang Ecuador berasal dari Asia Pasifik. Ada kemungkinan punya akar sejarah yang sama dengan kita.

Sejarah awal Ecuador dimulai dengan ekspansi suku Indian Inca dan Peru sekitar abad 14. Tapi, sekali lagi bukti arkeologi menyebutkan bahwa sejarah wilayah ini telah dimulai beribu-ribu tahun sebelumnya. Teori yang umum diterima adalah bahwa suku bangsa nomaden dari Asia menyeberang Selat Bering pada 25.000 tahun SM, dan mulai merambah bagian Selatan benua Amerika sekitar 12.000 tahun SM. Dan juga beberapa ribu tahun kemudian ada koloni Trans Pasifik dari orang-orang Polynesia. Buktinya, ditemukan juga beberapa perahu-perahu yang terbuat dari jerami yang sama dengan peninggalan di pulau-pulau Pasifik. Hanya umurnya saja yang lebih muda. Ternyata hubungan kita “dekat” dengan nenek moyang orang Ecuador.

Sesudah zaman batu itu, datang suku bangsa Inca yang mulai mengenal logam. Mereka punya peninggalan barang-barang emas yang jadi incaran kolektor-kolektor kelas dunia. Yang terkenal dari zaman ini adalah dinasti Atahualpa yang berkuasa sampai abad 16 hingga penjelajah Spanyol Pizarro yang pada 1532 tiba dengan rencana untuk menaklukan wilayah itu.

Ekspansi Pizarro bergerak dengan cepat dan dramatik. Pasukan berkuda, regu baju zirah dan pasukan meriamnya menebar teror, jadi lembaran hitam di kalangan suku Indian. Bekas itu pun masih tampak hingga kini. Suku Indian dan Mestizo keturunan Spanyol tampak tidak pernah jadi satu bangsa yang utuh.

Ecuador pun tidak merdeka dengan perjuangannya sendiri. Ecuador merdeka oleh idealisme pahlawan Amerika Latin Simon Bolivar. Pemberontak dari Venezuela ini berhasil mengusir Spanyol dari negerinya. Dia kemudian berderap bersama pasukannya turun ke Selatan. Mereka membebaskan Columbia pada tahun 1819 dan membantu orang-orang Guayaquil – kota kedua terbesar di Ecuador – waktu mereka mengklaim kemerdekaannya pada tanggal 9 Oktober 1820. Tapi semuanya makan waktu hampir dua tahun untuk membuat Ecuador benar-benar bebas dari kekuasaan Spanyol. Sampai diakhiri dengan perang besar Jendral Sucre, salah satu Jendral terbaik Simon Bolivar. Ia berhasil merebut Pichinca dan Quito. Atas jasanya, nama Jendral ini diabadikan sebagai nama mata uang Ecuador.

Tak terasa keluyuran di koridor-koridor museum menghabiskan waktu cukup banyak. Hari sudah tinggi begitu saya keluar dari gedung bank sentral. Hari terakhir saya di Quito ini harus maksimal pelancongannya. Sialnya, saya tidak punya rencana sasaran kunjungan, jadi hanya jalan-jalan asal tembak.  Begitu pula ketika keluar dari museum, mata saya langsung mencari-cari objek lain. Mata langsung terpaku pada Landmark dari Quito. “Perawan Quito” yang terletak di bukit Panecillo memang seolah-olah jadi pengayom kota ini. Ekspresi suci dari patung monumental setinggi tiga puluh meter itulah penyebabnya.

Untuk sampai ke sana, saya harus melakukan pendakian kecil. Sekitar seperempat jam mendaki sampai di kaki monumen itu dengan terengah-engah. Dengan membayar sekitar 30 Sucre saya masuk dan naik ke atas. Tapi sungguh mati saya menyesal naik ke atas.

Pemandangan di atas memang sangat ideal untuk mengamati lansekap kota Quito. Namun saya menyaksikannya dengan iri hati. Coba, dengan latar belakang hamparan kota Quito, serta sembulan gunung-gunung salju di kejauhan, sepasang anak muda asyik berciuman di depan saya. Saya menggerutu dengan keras, “Kalau enak lupa sekeliling!” Sepasang remaja itu tetap saja asyik masyuk, soalnya saya menggerutu dengan bahasa Indonesia.

Pemandangan di atas karena “terlalu menarik” membuat saya tidak berselera, lagipula waktu sudah habis. Saya putuskan turun kembali ke hotel. Dan di sana teman-teman sudah menunggu di bak belakang pick up yang akan mengangkut kami ke Cayambe, kota tua di Utara Quito untuk mendaki Gunung Cayambe dan kemudian lanjut ke Gunung Chimborazo. Wajah mereka cemberut, kesal menunggu saya mungkin. Nyatanya tidak. Kami tertipu lagi dalam soal transportasi. Mobil van yang dijanjikan berubah jadi mobil bak terbuka. Olala, kami berpanas-panas sepanjang jalan jadinya.

MATRA, Agustus 1990

VW Beetle, long time favorit. Saat turun dari Cayambe, gagal karena badai salju. Di Chimborazo cukup beruntung bisa ke puncak.

Aconcagua

Delapan belas tahun lalu di tanggal yang sama, saya merayakan ulang tahun di Buenos Aires, seturun mendaki Aconcagua. berikut tulisan saya soal pendakian itu:

Melunasi hutang Puncak Aconcagua, wartawan MATRA Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono mendakinya kembali. Terancam oksigen tipis dan bersaing dengan tim pendaki putri

Jalan panjang terlihat berkelok-kelok, seolah menembus dinding pegunungan Andes. Mobil van yang mengantar kami ke Puente del Inca tancap gas menelusuri terowongan-terowongan. Sungguh perjalanan yang bervariasi. Di bangku depan, dua orang staf kedutaan RI, Medy dan Didik terlihat terkantuk-kantuk. Mereka tampak lelah setelah perjalanan 1.200 kilometer dari Buenos Aires.

Saya sama lelahnya dengan mereka. Namun mata sulit terpejam. Apalagi setelah lewat dari Uspallata, sekitar satu jam sebelum Puente del Inca, mata jadi awas dan terjaga. Saya ingin secepatnya bisa melihat gunung Aconcagua. Tantangan dan tujuan kami.

Menjelang Puente de Vacas, di kejauhan terlihat menyembul segitiga hitam bersaput salju. Aconcagua mulai menampakkan dirinya. Rasa sedih dan senang muncul sekaligus tatkala bisa bertatapan muka dengan gunung itu. Sedih, karena di gunung inilah dua sahabat kami, Norman Edwin dan Didiek Samsu, melepas jiwa mereka. Senang, karena dengan sampainya kami di sini, kesempatan untuk memenuhi panggilan solidaritas kedua sahabat kami menjadi terbuka. Kali ini adalah kesempatan yang kedua bagi Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Aconcagua.

Saya menengok ke sebelah kiri. Ripto juga menatap ke arah yang sama. Matanya memantulkan semangat yang mirip dengan apa yang saya rasakan. Dengan segera ia mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa gambar puncak gunung yang terlihat dari jalan raya Argentina-Chili tersebut. Langit yang biru bersih membantu timbulnya kontras yang indah, “Tyo, akhirnya kesampaian juga niat kita mendaki gunung ini. Mudah-mudahan cuaca baik terus,” gumam Ripto.

Saya hanya bisa mengangguk. Kami berdua memang merasakan betul sulitnya perjalanan ini semenjak di Jakarta. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan kali ini. Dan semuanya menjadi beban berat untuk kami. Mulai dari tuduhan melanggar peraturan organisasi hingga prasangka bahwa kami ingin menggagalkan prestasi tim putri Indonesia yang pada saat ini juga tengah bersiap mendaki Aconcagua.

Padahal, awalnya sederhana sekali. Di bulan September, Ripto mengajak saya untuk mendaki Aconcagua sebelum memasang plakat peringatan meninggalnya Norman dan Didiek. Kami berdua waktu itu sepakat untuk menjadikannya sebagai proyek pribadi. Dengan berjalannya waktu, Badan Pengurus Mapala UI setuju untuk membantu.

Pada saat itu kami tahu ada beberapa tim pendaki Indonesia lainnya yang akan berangkat, antara lain rekan dari FPTI dan tim Putri Indonesia. Namun selera kami tidak bangkit untuk mendahului mereka. Kami tidak perduli dan hanya memikirkan bagaimana pendakian kami berhasil sebaik-baiknya. Halangan pertama muncul pada masalah imigrasi. Rute kami ke Argentina melalui Amerika Serikat terpaksa dirubah. Pasalnya, visa untuk Ripto ditolak tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya kesombongan negara adidaya terhadap orang Asia saja. Buktinya visa melewati Belanda dengan mudah kami dapat.

Halangan kedua timbul ketika pesawat Garuda ke Los Angeles penuh hingga awal Januari. Bantuan yang diberikan perusahaan penerbangan nasional ini jadi mubasir. Akhirnya memang kami harus mengubah penerbangan melalui Eropa.

Tanggal 24 Desember 1992 kami berangkat dari Jakarta. Setelah mengambil peralatan pendakian yang kami pesan dari Asbari Krishna di Amsterdam, perjalanan berlanjut ke Buenos Aires. Menempuh separuh lingkaran bumi. Beruntung, setelah halangan-halangan itu, perjalanan di daratan Argentina lancar. Bahkan duta besar Abdullatief Taman menyertakan dua orang stafnya mengantar hingga Puente del Inca. Jadilah Medy Jufri dan Didik Satria menjadi “manajer” kami.

Pada saat di Argentina, barulah kami tahu bahwa tim putri masih tertahan di Santiago karena urusan kargo dengan bea cukai Chili. Baru di sinilah semangat kompetisi kami timbul untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua. Sebelumnya, kemungkinan ini tidak terbayangkan karena tim putri berangkat tiga hari lebih dahulu dari kami.

Dan rupanya problem tim putri dengan bea cukai Chili cukup serius. Hingga kami berangkat ke Puente del Inca, kabar tentang keberangkatan tim putri belum terdengar. Padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke Menteri Lingkungan Hidup Mendoza, bertukar cerita mengenai masalah lingkungan di negara masing-masing.

Di Hosteria (hotel) Puente del Inca, suasana sepi siang itu. Angin musim panas bertiup lembut dari arah lembah Horcones. Kami segera masuk dan mendaftar. Jorge, manager hosteria untuk para pendaki Aconcagua itu langsung berseru, ketika membaca negara asal kami, “Si, todos ustedes amigo de Indonesio (kawan dari Indonesia)! Como esta (apa kabar) Rudy?”

“Bien, mui bien (baik, sangat baik),” jawab saya.

Jorge si ramah ini rupanya berteman akrab dengan Rudy Nurcahyo, teman kami yang sempat tinggal selama dua bulan di hosteria saat evakuasi jenasah Norman dan Didiek  dilakukan tahun lalu. Jorge sangat membantu persiapan kami di Puente del Inca. Amat membekas diingatannya bagaimana musibah yang pernah menimpa pendaki Indonesia dan ia tidak mau itu terulang, “Pokoknya kalau ingin bantuan apapun, katakan pada saya.” Janji Jorge pada kami.

Tak ketinggalan Fernando Grajales turut membantu. Veteran pendaki yang pada tahun 1953 sempat membuat rute baru di Aconcagua ini dengan tangkas menyediakan mulas (bagal) dan pendaki pendamping untuk kami. Pada pertemuan pertama singkat saja nasehatnya: “Jangan memaksa diri. Jika kalian juga gagal dalam pendakian kali ini, kapan-kapan kalian masih bisa kembali. Aconcagua itu akan tetap berada di sini sepanjang sejarah manusia.”

Pendapat Grajales itu sejiwa dengan semangat kami. Tak ada unsur dendam pada hati kami terhadap gunung yang telah menewaskan kedua teman kami itu. Emosi kami mendaki gunung ini kami anggap sama seperti pendakian puncak-puncak lain. Kalaupun ada tambahan, itu adalah semangat pantang menyerah dari almarhum kedua teman kami. Dan seandainya pendakian ini gagal, kami tidak akan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Ketika kami sedang mengurus bagal, maka datanglah rombongan pendaki putri Indonesia. Kejutan juga, karena menurut perkiraan mereka akan datang esok pagi. Dengan hangat kami sambut mereka sekaligus berkenalan. Pada awal pertemuan dengan Aryati, Jonet, Clara, Lala, dan Nina sebagai manajer mereka, kami terus terang agak kikuk juga.

Bagaimanapun saya yakin di dalam hati kami masing-masing timbul perasaan bersaing untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai Aconcagua. Saat ini kami berada pada posisi awal yang sama dan kesempatan yang sebanding. Namun perasaan bersaing itu tidak berkembang ke arah negatif. Sebagai orang sebangsa di negeri orang, kita tetap fair dan saling menolong.

Di dalam kamar, Ripto bertanya lagi masalah itu: “Tyo, bagaimana pandangan orang soal “persaingan” ini. Masalahnya kita kan berdua laki-laki, sedang mereka pendakinya empat-empatnya perempuan.”

Saya terdiam sejenak, lalu balik bertanya kepada Ripto. “Andaikan kita berdua perempuan juga. Apakah tidak akan terjadi persaingan ke Puncak? Tetap saja ada. Dan kalau memang kita tidak bisa mendaki lebih baik dari mereka, dan mereka sampai puncak lebih dahulu, ya kita terima saja.”

Ripto terdiam menyetujui. Hari-hari berikutnya kami tetap menyiapkan pendakian sesuai dengan jadual. Di hari kedua, gunung-gunung sekitar hosteria kami jelajahi untuk aklimatisasi. Malam yang hendak digunakan untuk beristirahat dibatalkan karena kami berpesta tahun baru dengan karyawan hotel.

Berkali-kali gelas sampanye diangkat untuk mendoakan kesuksesan bagi pendakian di musim ini. “Salut para Indonesio! Peli ano nuevo (selamat tahun baru)!” teriak Jorge, yang sudah setengah mabuk, berkali-kali.

Di luar, begitu lonceng tengah malam terakhir di tahun 1992 lewat, terdengar bunyi rententan senjata api ke udara dari markas Ejercito (pasukan serbu gunung) Argentina. Rupanya begitulah cara militer merayakan tahun baru.

Alhasil, rencana esok untuk berangkat pagi menuju Confluencia dan Plaza de Mulas batal. Kami kesiangan. Para penunggang bagal pengangkut barang kami juga minum-minum sampai pagi, sehingga bangun tengah hari. Akhirnya, kami baru berangkat dari Puente del Inca pukul tiga petang.

Perjalanan hari itu seperti mengantar kami memasuki gerbang ke alam lain. Jalan raya sudah kami tinggalkan. Sebagai gantinya, jalan setapak berliku-liku menuju Laguna (danau) Horcones. Tumbuhan-tumbuhan mulai menipis, gersang, dan berganti batuan. Padahal ketinggian belum sampai 3.500 meter.

Keganjilan alam Aconcagua membangkitkan inspirasi suku Indian Cuzco untuk menganggap gunung ini sebagai tempat bersemayamnya dewa mereka. Sang Dewa Putih, demikian arti gunung ini dalam bahasa Indian Cuencha. Di ketinggian Aconcagua, pendeta Indian Cuzco mengorbankan seorang anak kecil untuk persembahan bagi Dewa Matahari, dewa tertinggi mereka. Empat ratus lima puluh tahun kemudian mumi korban itu ditemukan. Sang saksi sejarah itu membuktikan peradaban tinggi manusia di Aconcagua.

SESAMPAINYA di Confluencia, hari menjelang senja. Panas matahari yang menghangatkan badan perlahan menghilang. Terlihat di tenda-tenda para pendaki yang ada, kompor mulai menyala untuk memasak makan malam. Kami pun merasa perut sudah berontak minta diisi. Ripto celingukan mencari bagal yang membawa barang kami. Tapi mereka tidak tampak.

Sial, bagal yang membawa perlengkapan memasak dan tidur belum sampai. Saya lalu meminta salah seorang penunggang bagal untuk menjemput ke bawah. Sambil menunggu, kami segera menyuruk ke dalam sebuah tenda kosong. Pemiliknya entah pergi kemana.

Tetapi masuk ke dalam tenda saja belum cukup. Udara dingin tetap saja menyerbu masuk. Badan yang hanya dilindungi sweater terasa dingin. Apalagi kalori yang ada tidak mencukupi. Jadilah kami menikmati malam itu berteman dingin dan lapar. Sang bagal baru tiba hampir tengah malam.

Paginya kami “balas dendam” dengan makan sebanyak mungkin. Hari ini jalanan panjang menyebrangi pada batu Playa Anca menuju Plaza de Mulas telah menanti. Alamnya pun berganti lagi. Gunung-gunung memagari lembah dengan bentuk yang bervariasi. Sementara terik matahari musim panas seperti mau membutakan mata. Topi dan kacamata pelindung mengurangi siksaan ini. Terkadang, kami harus menunduk menghindari gulungan debu yang terangkat naik oleh angin Aconcagua.

Yang paling menjengkelkan adalah ketika kami mulai memasuki daerah aliran glacier Horcones. Dalam satu lembah alirannya, terkadang terpecah menjadi berpuluh-puluh anak sungai. Kami terpaksa menjalani latihan intensif lompat jauh di sini. Berpuluh kali kami menyusur mencari lebar aliran glacier yang bisa dilompati.

Dengan berlompatan seperti itu tenaga cepat terkuras. Belum lagi jalan setapak yang kami tempuh menanjak. Aklimatisasi yang belum sempurna membuat badan makin lemah setiap menambah ketinggian. Air sebanyak tiga liter diteguk dengan hemat agar tidak cepat habis.

Di pertengahan perjalanan, terlihat pantulan cahaya menyilaukan dari arah Plaza de Mulas. Kami memicingkan mata memperhatikan dengan seksama. Samar-samar pantulan itu terlihat berasal dari atap sebuah bangunan. “Hotel Plaza de Mulas sudah terlihat. Kita sudah dekat,” kata Ripto dengan bersemangat.

Kami pun bergegas melangkah. Namun, setelah lama berjalan, tidak sampai-sampai juga. Kami sempat disusul oleh Mariano Casteli, pendaki pendamping yang ditugaskan Fernando Grajales. Ia dengan santainya naik bagal.

Empat jam berjalan sejak atap hotel kelihatan, barulah sampai di Plaza de Mulas. Puluhan tenda nampak menjamur memenuhi Plaza de Mulas. “Ini masih belum apa-apa. Minggu depan, di puncak musim pendakian, jumlah tenda bisa dua kali lipat,” kata Mariano.

Sesuai dengan rencana, kami bertiga beraklimatisasi di Plaza de Mulas selama tiga hari. Hari pertama istirahat, hari kedua treking ke Plaza Canada (4.800 m), dan hari ketiga istirahat lagi.

Selama di Plaza de Mulas, tidak ada keluhan terhadap perubahan ketinggian yang kami rasakan. Yang lebih dirasakan justru ujian mental. Tiap hari kami mendengar berita-berita buruk pendakian. Entah itu pendaki yang terpaksa turun karena menderita accute mountain sickness atau yang dipapah oleh ranger taman nasional karena terkena radang paru-paru. Puncaknya adalah tewasnya seorang pendaki Yunani di Refugio Berlin.

Berita itu cukup mengguncang kami. Trauma tewasnya Norman dan Didiek kembali teringat. Awal pendakian menjadi kurang menyenangkan. Kami berharap mayat itu segera diturunkan, hingga kami tidak perlu bertemu dengannya di atas nanti.

Harapan kami percuma. Hari berlalu tanpa ada usaha penurunan mayat. Mariano bilang: “Selama tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jenasah itu, ia tidak akan diturunkan. Soalnya ongkos penurunannya mahal, sekitar 5000 dollar.”

Pendakian lalu dimulai dengan menambah ketinggian ke Plaza Canada (4.800 m). Dihantam badai satu malam, kami turun lagi ke kemah induk. Sesudah istirahat, kami langsung mendaki ke Cambio Pediente (5.000 m). Esoknnya menambah ketinggian ke Nido de Condores (5.400 m). Semua masih berjalan lancar, kecuali saya sempat terserang sakit perut.

Lalu bagaimana dengan tim putri? Kami masih sempat saling menjamu di Plaza de Mulas. Hanya entah kenapa, mereka lebih perlahan penyesuaian dirinya. Saat kami tiba di Nido de Condores, mereka masih treking ke Plaza Canada. Lewat radio kami dengar bahwa salah satu dari mereka mountain sickness-nya tidak hilang-hilang.

Karena segala sesuatu berjalan lancar, di Nido de Condores kami menjadi agak lengah. Dengan agak tergesa diputuskan untuk summit attack esoknya. Hasilnya mengecewakan. Dengan memaksakan diri menambah ketinggian hingga lebih dari 1.000 meter dalam satu hari, paru-paru tersiksa oleh tipisnya oksigen.

Di Plaza Independencia (6.400 m) kami bertiga mulai limbung. Mariano yang sudah delapan kali mendaki Aconcagua pun tak bisa menghindar dari siksaan ini. Paru-paru kami menghisap udahra dengan susah payah. Di sini bernapas pun memerlukan tenaga besar. Habis enerji kami hanya untuk bernapas.

Rasanya sulit untuk meneruskan perjuangan ini. Badan terasa ringan, tetapi tak bertenaga. Keseimbangan tubuh sudah banyak berkurang. Empat ratus meter menjelang puncak Aconcagua, di mulut Canaleta, saya memutuskan untuk berhenti. Emosi saya berteriak ingin terus, tetapi rasio memerintahkan kaki untuk berhenti melangkah.

Begitu mendengar keputusan saya, Ripto memandang seolah tak percaya. Ia masih berkeras untuk terus. Kami kemudian berdebat agak lama, disaksikan Mariano yang kebingungan. Akhirnya dengan berkeras hari saya tetap memerintahkan turun. Ripto dengan muka masih penasaran menuruti.

Saat turun saya menghibur diri dengan berpikir bahwa yang baru saja kami lakukan adalah treking untuk aklimatisasi, bukan suatu pendakian ke puncak yang gagal. Tetapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya. Apakah keputusan saya ini terlalu dini? Apakah nanti kami masih memiliki kesempatan yang sama? Apakah kondisi tubuh kami nanti akan membaik? Yang terakhir, jika kami lama memulihkan diri, apakah tidak didahului oleh tim putri?

Pertanyaan itu kemudian terjawab satu demi satu. Cuaca bagus di hari-hari berikutnya. Kondisi kami yang kelelahan bisa pulih setelah satu hari beristirahat. Pada saat itu tim putri menyusul naik. Jadilah kami bersama-sama pindah kemah ke Refugio Berlin (5.800 m). Dari sini kami akan melakukan summit attack yang kedua.

Apakah keputusan saya terlalu dini sewaktu summit attack yang gagal? Ternyata tidak. Bagian Canaleta setinggi empat ratus meter menjelang puncak adalah nerakanya rute normal di Aconcagua. Kemiringan yang terjal dan batuan runtuh menghadang pendakian. Bila kami kemarin memaksakan diri, saya rasa akibatnya akan  fatal. Dalam kondisi yang lebih fit saja, kami menghabiskan waktu empat jam lebih berkutat di sana.

Ripto yang lebih cepat melangkah, berada duapuluh menit di depan saya. Menjelang puncak, ia seakan berhenti menanti saya. Rupanya ia ingin bersama-sama mencapai puncak. Saya berteriak-teriak menyuruhnya naik ke puncak secepatnya. Tetapi ia tetap tak bergeming.

Sekilas saya lihat titik-titik hitam bergerak di bawah. Rupanya tim putri masih konstan mendaki di bawah kami. Akhirnya saya memaksakan diri melangkah secepat mungkin menyusul Ripto. Sambil berlompatan saya merayap ke atas. Semangat rupanya terlalu tinggi, hingga berakibat ke pernapasan. Tiba-tiba kerongkongan saya seperti tercekik. Hidung seolah tak mampu lagi menghirup udara yang cukup. Tersedak-sedak napas dibuatnya. Kepala yang terbungkus wool terasa kegerahan di kebekuan Canaleta. Tak mampu lagi bertahan di udara tipis, saya jatuh terduduk.

Dengan mata terpejam, napas saya tarik dalam-dalam. Penglihatan yang tadinya gelap berangsur normal kembali. Saya kemudian melambaikan tangan ke arah Ripto, menyuruhnya naik ke puncak lebih dulu. Saya berhenti memulihkan diri.

Setelah agak tenang, kembali terdengar teriakan dari atas. Kali ini teriakan gembira karena Ripto telah berhasil mencapai puncak Aconcagua. Saya perlahan menyusulnya. Dataran puncak menyambut dengan hening. Ripto tampak sedang mengikat bendera Merah Putih di tongkat skinya.

Begitu melihat saya tiba, ia langsung berbalik. Kami bersalaman dan berpelukan dalam haru. Kami gembira, tetapi sekilas saya sempat melihat mata Ripto berair. Air matanya jatuh di puncak Aconcagua ketika mengenang kedua sahabat kami.

MATRA, April 1993