Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (04)

Daun musim semi ©2010

Kini saatnya kita memasuki pertimbangan mengenai waktu dalam menekuni preferensi fotografi. Pada pembahasan mengenai penentuan preferensi fotografi saya sempat menyinggung juga mengenai waktu, tetapi kaitannya antara kebiasaan kita dengan pilihan preferensi fotografi. Kini saatnya kita berbincang mengenai waktu sebagai sumber daya dalam mempertimbangkan pilihan preferensi fotografi.

Adakalanya dimensi waktu, berbanding lurus dengan dimensi ruang. Artinya, anda yang memiliki waktu yang cukup banyak untuk didekasikan untuk kegiatan fotografi, umumnya juga bisa memiliki keleluasaan untuk menjelajahi ruang alias tempat-tempat yang menarik. Tempat-tempat yang menarik bisa berarti terjadinya peristiwa yang menarik, kondisi alam yang tidak biasa atau manusia yang memiliki budaya atau kebiasaan unik. Ini adalah kondisi idealnya.

Saat ada di tempat yang menarik, terkadang waktunya tidak mengijinkan untuk berada lebih lama guna mengeksplorasi tempat tersebut lebih lanjut. Jika anda seorang pengusaha atau karyawan yang sering ditugaskan ke tempat-tempat yang menarik, dilema ini sering muncul. Alokasi waktu yang diberikan biasanya hanya betul-betul pas dengan kebutuhan pekerjaannya. Anda lalu berpikir,“Nanti saja pas liburan bersama keluarga bisa datang ke tempat ini lagi.”

Sebaiknya hal di atas jangan menjadi pertimbangan. Saat anda libur bersama keluarga, gunakan waktu itu bersama keluarga, dan belum tentu anda bisa datang ke tempat yang sama. Lagipula, ngapain berlibur ke tempat yang sudah pernah dikunjungi untuk kerja?

Saat anda ditugaskan ke tempat yang menarik (semua tempat sebetulnya menarik, tergantung cara anda melihatnya 🙂 usahakan ada waktu luang entah setengah hari atau sehari untuk memotret. Orang-orang yang berpikir memotret bisa dilakukan sambil traveling adalah pikiran yang keliru. Memotret harus dilakukan dengan dedikasi dan konsentrasi penuh, apapun preferensi fotografinya. Waktu serasa terbang ketika kita sedang asyik mengeksplorasi subyek untuk difoto.

Kondisi di atas adalah situasi yang cukup ideal, artinya waktu dan dana tersedia bagi seseorang untuk menyalurkan minat fotografinya. Bagaimana dengan yang memiliki waktu terbatas?

Waktu yang terbatas, bisa disiasati dengan kesiagaan fotografi secara penuh. Artinya, kamera selalu berada di sisi anda nyaris setiap saat. Karena waktu anda sempit, manfaatkan setiap jendela peluang fotografi yang terbuka untuk mengabadikannya. Ini mirip kerja seorang jurnalis foto.

Kemiripannya hanya sampai di situ, sama-sama memanfaatkan momentum, namun momentum yang anda manfaatkan terfilter oleh preferensi foto anda. Anda lebih mirip seorang kolektor visual yang mengabadikan scene kesukaan anda menjadi sebuah body of work alias koleksi foto yang memiliki benang merah.

Apabila anda gemar memotret halte bis, mungkin anda bisa memotretnya tiap anda bertemu dengan sebuah halte bus yang kondisinya unik, atau situasinya secara visual menggoda. Anda lakukan itu selama bertahun-tahun, dan saat anda mengamati lagi dengan seksama, anda akan kagum sendiri dengan kumpulan fotografi anda.

Anda tidak perlu pergi jauh untuk melakukan hal ini. Di sela-sela kesibukan sehari-hari “fotografi halte bus” bisa dilakukan. Atau, anda ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk fotografi karena anak-anak sudah sibuk masing-masing. Mainan masa kecil anak-anak anda bisa jadi obyek yang menarik, bahkan bisnis fotografi.

Satu hal yang jelas, dengan semakin seringnya anda memotret –apapun preferensinya– kepekaan anda dan fokus preferensi fotografi anda akan semakin menajam. Mata anda akan semakin peka terhadap subyek, komposisi atau pun kondisi cahaya yang menggoda tangan untuk meraih kamera dan membidiknya.

Jadi, andaikan waktu anda terbatas, gunakan kreatifitas anda untuk menyiasatinya. Kalau anda tekun, waktu untuk memotret serasa banyak. Kalau anda malas, seberapa banyak pun waktu yang tersedia, tak akan cukup.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (03)

Sekarang kita memasuki bagian ketiga dari perbincangan soal sumber daya kita dan preferensi fotografi. Masih berkisar soal jebakan dari pemilihan alat foto paling vital yaitu kamera. Di awal-awal fotografi digital, kita sering membaca para penggemar fotografi di Indonesia sering menyinggung-nyinggung masalah SARA dalam forum-forum diskusi, berkenaan dengan “agama” alias kefanatikan terhadap mereka kamera tertentu.

Mencari buah matang di senja hari, Gunung Halimun ©2007

Saat itu ada dua agama yang sama-sama berasal dari Jepang. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh para pemasarnya, semata-mata mendongkrak bisnis. Mengapa? Dengan mengangkat masalah SARA fotografi ini, akhirnya dua agama itulah yang “tampaknya” mendominasi jagat –terutama– kamera SLR.

Pangsa pasar SLR mungkin bukan yang terbesar dari jumlah unit yang terjual, tetapi jika dari margin keuntungan jelas paling besar. Pengguna kamera jenis ini akan cenderung mengembangkan dua hal, pertama memperbanyak koleksi lensanya dan kedua melakukan upgrade bodi kameranya. Ujung-ujungnya adalah menggemukkan kocek produsen.

Sebetulnya apa yang membuat timbulnya sebutan “agama” dalam pemilihan alat fotografi? Yang pertama-tama untuk seseorang pemeluk agama tertentu, ia kemungkinan besar selamanya akan memeluk agama tersebut. Akan sulit sekali bagi seseorang untuk pindah “agama”. Kalau memilih sistem kamera SLR tertentu yang membuatnya jadi semacam “agama” adalah koleksi lensanya.

Bagian yang termahal dari sebuah kamera adalah lensanya. Sistem optik ini biasanya berkembang sesuai dengan keahlian si fotografer. Ia akan melakukan investasi yang cukup besar untuk mempunyai jenis lensa yang cukup beragam agar ia bisa melakukan fotografi sesuai keinginannya.

Di sisi lain banyak pemula yang ingin belajar menggunakan kamera SLR kemudian terjebak oleh jargon “agama”. Membeli satu paket kamera dengan lensa kit seolah-olah sudah membuat sang pemula memeluk “agama” tertentu. Ini pemahaman yang kurang tepat.

Di ujung lain, sebetulnya “agama” fotografi di dalam ranah teknologi digital saat ini menjadi nisbi. Seperti disebutkan terdahulu, konvergensi teknologi memungkinkan semuanya itu. Munculnya teknologi baru yang dilakukan oleh para pemain baru dengan terobosan teknologi kini bisa mengambil alih dominasi merek-merek lama.

Di dunia komputer, lima tahun lalu kita tidak membayangkan bahwa Apple akan cukup mendominasi smartphone dengan iPhone. Di dunia kamera sinema, beberapa tahun lalu kita tak mendengar adanya kamera Red yang kini bahkan dipakai oleh sutradara Peter Jackson untuk membuat The Hobbit, prequel dari Lord of The Rings. Red bahkan didesain oleh pembuat kacamata Oakley, hampir tak ada hubungannya dengan dunia sinematografi bukan?

Di dunia kamera, terobosan-terobosan baru tidak saja dilakukan oleh para pelaku lama. Dulu kita tidak mengenal sistem 4/3 yang kini dipopulerkan oleh Panasonic dan Olympus. Sekarang bahkan berkembang model kamera SLR yang translucent mirror hingga yang mirror-less. Fuji X-100 bahkan mengembangkan hybrid view finder untuk mengisi celah pasar kamera range finder, yang belum diisi oleh Leica yang merajai jenis ini dengan seri M-nya.

Dengan melihat cakrawala perkembangan teknologi, memang “agama” di dalam fotogafi menjadi kurang relevan lagi. Yang membuat orang menjadi tetap memeluk “agama” fotografi adalah seberapa banyak lensa yang dia punya. Jika hanya 1-2 lensa rasanya belum “beragama” 🙂 Jadi, jangan terlalu fanatik dengan “agama”, jadilah humanis dahulu.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (02)

Sebelum kita bahas jebakan ketiga dalam memilih kamera, patutlah dicatat bahwa jebakan-jebakan ini bukanlah sesuatu yang dibuat oleh industri fotografi dengan sengaja untuk memperdaya konsumen. Industri fotografi memang mau tidak mau harus mengembangkan pemasaran produknya sedemikian rupa sehingga berlebihan, karena industri fotografi itu sendiri mengalami perubahan besar. Kalau di produk elektronik kita mengenal konvergensi, hal itu merambat pula ke produk kamera.

Air menghitam di Bengawan Solo © 2009

Dahulu kita hanya mengenal beberapa merek kamera saja, seperti Nikon, Canon, Pentax, Olympus, Hasselblad, dan lain-lain. Kita mengenal Sony, tetapi sebagai peralatan video, juga Samsung sebagai peralatan elektronik. Karena teknologi digital, yang terjadi sekarang adalah konvergensi (pembauran) dalam industri –terutama– elektronik. Industri kamera pun sekarang dasarnya adalah industri elektronik yang memakai sarana optik (lensa).

Handphone (hp) bisa buat memotret, kamera still bisa merekam suara dan video, bahkan menjadi GPS. Pabrik kamera terbesar, paling tidak dua tahun lalu, bukanlah Nikon atau Canon, melainkan Nokia. Karena tiap hp yang dibuat memiliki kamera. Bahkan GE (General Electric) pun sekarang membuat kamera digital.

Dengan mudah dan murahnya memotret, pasar kamera digital juga meledak beberapa tahun terakhir. Namun dengan harga murah, tingkat keuntungan juga menipis dan daur hidup kemajuan teknologinya memendek. Akhirnya mau tidak mau mereka berlomba menawarkan fitur-fitur baru tiap bulan, bahkan tiap pekan.

Konsumen banyak yang diuntungkan, tapi banyak pula yang dirugikan. Yang diuntungkan adalah yang bisa memilih, karena punya informasi yang cukup. Yang dirugikan adalah yang tidak bisa memilih karena tidak punya informasi atau terlalu banyak informasi sehingga kebingungan.

Kita ambil contoh pemilihan kamera pertama bagi seorang pemula. Banyak orang yang ingin belajar fotografi memiliki kamera point and shoot (poket). Di jaman fotografi analog pemula tidak sesulit kelarang memilih kamera poket. Saat itu hanya ada dua jenis, yang lensanya fixed (biasanya 35mm) atau yang lensanya zoom.

Saat ini kamera pocket digital dibagi lagi untuk yang: pemula awam; yang pemula tapi stylish (biasanya ditandai dengan desain menarik, atau warna yang atraktif); yang pemula mahir ditandai dengan fungsi manual atau fitur lebih lengkap, body metal; sampai pemula yang suka jalan-jalan dengan fitur body tahan banting dan tahan siraman air.

Untuk yang SLR (single lens reflex) pun saat ini terbagi-bagi pula. SLR terbagi pada tingkatan pemula, lanjutan hingga profesional. Yang tingkatan pemula biasanya mudah ditandai dengan mteod penjualan bundling alias paket body plus lensa. Nah saat ini bahkan untuk kamera-kamera SLR yang di tingkat lanjutan dan profesional pun ditawarkan dengan bundling. Gejala apa ini?

Jika para fotografer profesional dan mahir yang ingin mengupgrade kameranya dengan model yang lebih baru, mereka rata-rata sudah memiliki lensa yang cukup. Jadi pembelian pun hanya body kameranya saja. Artinya, banyak pemula yang terjebak untuk membeli kamera guna belajar dengan membeli kamera untuk tingkat lanjutan secara bundling.  Pemula seperti ini biasanya memiliki banyak uang dan menganggap dengan membeli kamera mahal fotonya akan menjadi lebih bagus 😉

Di bawah ini sekilas pembagian kamera digital saat ini. Bila ada yang kurang jelas silakan tanya, atau tunggu ulasan berikutnya.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (01)

Ini adalah bagian kedua membumikan preferensi fotografi kita dengan dua sumber daya yang lain yaitu waktu dan uang. Jangan sampai terbuai oleh godaan-godaan hasil foto yang indah tanpa anda memikirkan prosesnya. Proses pertama tentunya menyangkut pengadaan alat dan biaya-biaya untuk melakukan melaksanakan kegemaran ini.

Serasah di dasar rawa gambut, Tanjung Puting ©2002

Alat yang esensial adalah kamera. Untuk masalah memilih kamera ini banyak jebakan-jebakannya yang berujung pada bolongnya kantong kita alias bokek. Jebakan pertama adalah soal pixel. Pixel alias picture element adalah satuan untuk mengukur besaran imaji digital. Makin besar kemampuan sensor untuk menangkap pixel umumnya berbanding lurus dengan besarnya imaji yang dihasilkan.

Hingga akhir tahun lalu kita masih mendengar perlombaan pixel di dalam industri kamera yang berlomba menghasilkan sensor dengan ukuran lebih besar yang berarti lebih bagus atau lebih hebat. Banyak juga fotografer yang kemudian mengincar sensor yang besar dengan asumsi fotonya akan lebih bagus.

Sampai derajat tertentu, asumsi itu benar. Artinya ada minimal pixel yang diperlukan untuk menghasilkan foto yang bagus, menunjukkan cukup banyak pixel yang tertangkap untuk menampilkan detil gambar, saturasi warna, hingga menghilangkan fringement foto pada situasi intensitas cahaya rendah. Namun tentunya ada juga besaran optimal dari pixel untuk kegunaan fotografi itu sendiri.

Berapa besaran pixel yang optimal? Tidak ada angka yang pasti, semuanya tergantung kegunaan. Anda harus kembali pada penggunaan foto-foto yang dihasilkan. Sebagian besar foto yang kita hasilkan berujung untuk display pada layar monitor komputer, baik itu di monitor kita ataupun monitor orang lain saat kita berbagi foto itu melalui jejaring sosial. Untuk memenuhi layar monitor saat ini, resolusi yang umum adalah 1280 x 800 pixel. Ukuran sebesar itu sudah bisa dipenuhi oleh sensor sekecil 3 Megapixel, bahkan kurang.

Sebagian orang akan bertanya, apa kita tidak sebaiknya memotret dengan kamera dengan sensor sebesar mungkin? Jika filenya dibutuhkan untuk cetak besar 20R guna pameran bagaimana? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita sebaliknya bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak kita mencetak foto dalam setahun atau dua tahun terakhir? Seberapa besar cetakannya?

Saya yakin sebagian besar orang tidak mencetak lebih besar dari ukuran 10R. Untuk mencetak sebesar itu sensor sebesar 6 Megapixel sudah cukup. Kalaupun ingin lebih sempurna gambarnya dan bisa mencetak sebesar ukuran A3 (297mm × 420mm) dengan ukuran 10-11 Megapixel sudah bisa tercapai.

Sampai di sini sebetulnya sudah cukup batasan besar pixel sensor yang umumnya kita butuhkan. Saat ini banyak iming-iming industri fotografi dengan embel-embel kategori kamera “prosummer” dan menaikkan kapasitas sensornya hingga 16-18 mega pixel. Sungguh, kecuali anda benar-benar ingin mencetak ukuran besar lebih besar dari A3 atau menjadi profesional, tidak perlu termakan oleh iming-iming itu.

Jebakan kedua adalah teknologi. Kita akan membicarakan dua contoh jebakan teknologi di sini. Pertama adalah hype soal HDR (High Dynamic Range), yang mana teknologi mencoba mensimulasikan kemampuan mata kita dalam menangkap spektrum intensitas cahaya dalam suatu adegan.

Mata kita mempunyai sensor yang luar biasa hingga bisa menangkap intensitas cahaya sebuah benda dalam bayangan di bawah terik matahari siang bolong. Sensor kamera hingga saat ini masih menyerah dalam kondisi intensitas cahaya yang ekstrem perbedaannya. Untuk itu dipakai teknologi HDR dengan mengambil sebuah adegan yang sama berulang kali dengan variasi penyerapan cahaya yang berbeda-beda.

Biasanya cahaya intensitas tinggi, intensitas sedang dan intensitas rendah yang direkam. Kemudian hasilnya dikomputasi dan digabungkan sehingga mendapatkan sebuah foto yang menangkap intensitas tinggi sampai rendah di dalam sebuah adegan yang kontras cahayanya besar.

Teknologi ini berguna, tetapi jangan sampai termakan kecap industri fotografi dengan adanya HDR ini masalah kontras yang besar dalam foto bisa diatasi. Dalam keadaan tertentu HDR sangat bermanfaat untuk foto-foto pemandangan dan foto-foto keadaan yang still lainnya (arsitektur dan lain-lain).

Apabila anda senang memotet keadaan yang dinamis seperti manusia dan polah tingkahnya, peristiwa kemanusiaan ataupun olahraga, jangan berpikiran HDR akan membantu. Karena HDR digunakan dengan mengambil foto beberapa kali dan mensadwichnya di dalam prosesor. Jika sebuah adegan obyek bergerak, ia akan menjadi seperti multiple shots dalam satu frame atau time lapse photography. Tentunya anda tidak ingin ini terjadi pada foto anda. Mungkin suatu saat teknologi HDR bisa dikemas dalam satu kali pengambilan, nah itu saatnya kita menggunakannya secara optimal.

Contoh jebakan teknologi lain adalah perkembangan kamera 3 dimensi saat ini. Teknologi 3D adalah sesuatu yang baru, dan sebagai teknologi yang layak dikonsumsi sebetulnya masih prematur. Namun tuntutan persaingan industri mengharuskan para produsen untuk berlomba menghadirkan teknologi dan terkadang konsumen menjadi seperti “kelinci percobaan” untuk mengetes produknya.

Menghadapi tawaran teknologi canggih itu, tidak ada cara selain bersabar dan mengikuti perkembangan teknologi tersebut hingga cukup “matang” di tingkat konsumen, artinya kemudahan penggunaan, format yang universal dan lain-lain. Itu pun setelah matang harus kita timbang lagi apakah kita memang membutuhkannya?

bersambung…

Sesuaikan Preferensi Fotografi

Melalui proses penajaman, anda sudah menemukan preferensi fotografi. Sekumpulan foto yang menunjukkan selera dan kegemaran telah terpilih. Apakah langsung bisa ditekuni? Saatnya untuk memadupadankan dengan dua hal, yang pertama dengan cara hidup/ pandangan anda, kedua dengan sumber daya yang tersedia.

Punggung Geger Bentang dilihat dari arah kawah Gunung Gede ©2007

Idealnya preferensi fotografi anda sesuai dengan cara hidup anda. Contoh, foto bentang alam atau lansekap yang luar biasa indah adalah favorit, namun sehari-hari anda tidak pernah bangun tidur sebelum jam 06.30. Hal ini akan menyulitkan bila ingin menekuni fotografi bentang alam atau lansekap. Cahaya yang terindah untuk fotografi bentang alam adalah saat matahari di kondisi kemiringannya, alias awal pagi atau awal petang.

Anda bisa saja tetap memotret bentang alam tengah hari sekalipun, tidak ada yang melarang. Tetapi dengan arah cahaya sudah terlalu tinggi, tekstur bentukan alam dan dimensi-dimensi kedalaman bentangan alam akan sulit dimunculkan dan menjadi dramatis. Bisa, tetapi tidak optimal.

Contoh lain adalah soal foto portrait. Fotografi adalah seni visual, jadi wajar kalau kita senang akan wajah-wajah indah. Anda senang dengan foto-foto portrait glamour. Wajah-wajah dan manusia yang secara fisik nyaris sempurna. Namun sehari-hari anda luar biasa pemalu atau pendiam. Sifat seperti itu agak kurang cocok untuk mendapatkan foto portrait yang akrab.

Untuk memotret manusia, salah satu unsur keberhasilan adalah komunikasi. Seorang fotografer portrait yang berhasil apabila ia bisa mencapai tingkatan komunikasi tertentu dengan subyeknya. Ada seorang fotografer Inggris yang bisa memotret seorang presiden dengan mudahnya dan dalam pose yang tidak biasa. Tentunya hal ini membutuhkan kepercayaan diri yang besar dan bukan orang pemalu pastinya.

Jika memang preferensi fotografi anda tidak sesuai dengan cara hidup dan kepribadian, ada dua cara: pertama anda berupaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan subyek preferensi fotografi anda, atau anda memilih subyek yang sesuai dengan kepribadian anda.

Untuk mereka yang sulit bangun pagi, mungkin harus mulai belajar bangun pagi. Pertama-tama mungkin dengan bantuan alarm, tetapi lama kelamaan motivasi anda meninggi. Lihat bedanya foto bentang alam yang dihasilkan oleh cahaya awal hari, saat matahari terbit dan beberapa waktu setelahnya dengan foto bentang alam di siang bolong. Seiring kepuasan anda terhadap hasil karya, akan meningkatkan motivasi untuk bangun pagi dan mengejar cahaya.

Namun bila merubah kebiasaan menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk anda, mungkin pilihlah subyek yang sesuai dengannya. Anda terlalu pemalu untuk mendekati orang dan membuatnya santai, sehingga dapat mengabadikannya dengan pose sealami mungkin? Jika mendekati orang saja membuat anda berkeringat, lebih baik anda memilih subyek fotografi yang tidak banyak bersentuhan dengan manusia.

Macro fotografi yang memfokuskan pada dunia benda kecil bisa menjadi pilihan karena tak bersentuhan dengan manusia. Pilihan lain adalah fotografi benda (still life). Anda bisa berdialog dengan benda dan membuatnya berkarakter yang seolah hidup dengan memberikan cahaya pada bagian dan arah yang tepat. Jadi, setelah anda mengenali preferensi fotografi, kendali di tangan anda.

Mempertajam Preferensi Fotografi

Orangutan di sekolah rimba, membiasakan kebiasaan alami tumbuh kembali ©2008

Setelah mengumpulkan foto-foto yang mewakili selera pribadi, kini saatnya menyeleksinya. Terkadang pada saat mengumpulkan foto-foto itu mungkin saja kita menyenangi lebih dari satu subyek. Artinya bisa menyenangi foto-foto lansekap, tapi juga sama senangnya dengan foto-foto travel dan portrait umpamanya.

Hal semacam itu wajar saja terjadi. Boleh-boleh saja memiliki beberapa fokus kegemaran subyek fotografi, namun harus diingat, untuk kepentingan pembelajaran, tentunya kita harus membatasi fokus preferensi fotografi. Mendalami fotografi juga dibatasi oleh sumber daya yang dimiliki seperti dana, waktu dan kecakapan artistik serta teknis.

Jika memiliki beberapa subyek kegemaran, tentunya sebaiknya kita melakukan urutan. Pertama tentunya berdasarkan tingkat kegemaran. Foto-foto jenis apa yang paling  disukai? Untuk menyeleksinya sebaiknya pisahkan foto-foto itu dalam folder terpisah di komputer. Kemudian review masing-masing foto, bila anda tertarik, pisahkan dalam folder seleksi tahap berikutnya. Kemudian adu lagi dengan foto-foto yang lain, dan pilih yang lebih disukai. Lakukan itu berulang hingga mendapatkan 10 foto terbaik.

Satu hal yang perlu diingat, dalam mempertajam preferensi fotografi ini, lupakan kaidah “foto yang baik” dari teori-teori yang anda baca. Artinya tidak perlu foto-foto yang dipilih itu pencahayaannya harus terang, warnanya harus cerah, modelnya harus cantik jelita, momennya harus tepat dan lain sebagainya. Foto-foto ini dikumpulkan bukan untuk kursus fotografi, foto-foto itu dikumpulkan untuk menemukan selera pribadi anda.

Kalau anda senang dengan foto yang kurang fokus, itu sah-sah saja. Senang dengan foto yang abstrak sehingga tidak ketahuan bentuknya, boleh. Gemar dengan potret wajah orang yang menunjukkan guratan-guratan dari kerasnya hidup, dibandingkan dengan wajah mulus ayu seorang gadis, silakan. Yang penting, ikuti intuisi bahwa anda suka foto itu, tidak usah dicarikan alasannya. Selera itu personal, tidak usah repot-repot menjelaskan.

Setelah itu, jangan langsung diputuskan bahwa foto yang paling anda sukai itulah yang akan didalami tehniknya (ingat di tataran ini kita belum melakukan investasi untuk peralatan fotografi sama sekali, kalaupun sudah sebaiknya minimal saja). Endapkan preferensi fotografi yang sudah anda “temukan” karena itu adalah tuntutan artistik dan selera pribadi. Tahap berikutnya adalah kembali ke dunia nyata, menghitung sumber daya yang ada. Kita bicarakan dalam posting berikutnya.

Menemukan preferensi fotografi

Gadis kecil dan reruntuhan rumahnya, Ambon, © 2002 .

Di tengah kehadiran teknologi informasi digital, kita menghadapi “content explosion”, mulai dari teks, foto, audio hingga video membanjiri relung-relung kehidupan kita. Sebagai gambaran, di situs berbagi fotografi online Flickr, tiap hari ada foto membanjiri situs itu (ada yang menyebut 4.000 foto/ menit hingga 3 juta-5 juta foto/ hari). Belum lagi di Facebook dan situs-situs lain. Di Youtube, tiap menit rata-rata 24 jam video yang diupload (jika frame rate video secara umum 30 frame/ detik itu sama dengan 3,7 milyar lebih still frame/ hari di upload).

Tentu ada yang bependapat, apa pengaruhnya bagi kita untuk belajar fotografi? Banyak sekali. Yang terutama, dengan begitu mudahnya orang memotret, terkadang justru membuat mereka “tersesat secara visual”. Para peminat fotografi tidak menemukan jalan setapak yang jelas menuntun ke arah pembelajaran yang benar tentang fotografi.

Jika kita mengamati forum-forum berbagi pendapat, perdebatan yang muncul seolah menunjukkan semua pendapat benar asal disertai dengan tehnik argumen yang baik. Demikian pula mengenai gambar yang baik. Terkadang pendapat yang satu menunjukkan genre foto ini baik, lalu ada pula yang menyebutkan foto seperti itu yang sedang tren.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada pegangan bahwa fotografi adalah selera pribadi. Jika kita ingin memulai proses pembelajaran, langkah pertama adalah mengetahui selera dan kesukaan kita akan fotografi. Bagian mana, bentuk seperti apa, mood seperti apa, hingga subyek seperti apa yang menarik kita. Bagi hal-hal seperti itulah layak kita curahkan perhatian untuk mendalaminya.

Banyak yang bertanya, mengapa tidak berbicara tehnik memotret dahulu? Buat saya, di era digital ini tehnik menjadi nomer dua. Nomer satu adalah visi. Tehnologi fotografi digital di masa kini sudah sangat memanjakan penggunanya. Ibaratnya, memotret dengan mata terpejam pun pasti jadi :).  Kurva pembelajarannya menjadi berbeda sama sekali di banding era fotografi analog.

Saya beruntung masih mengalami proses memotret secara profesional dengan media film negatif dan transparansi (slides), sehingga merasa sangat dimudahkan dengan teknologi fotografi digital masa kini. Bagi mereka yang tidak mengalami itu, tentu tidak terlalu mensyukurinya. Tapi percayalah, dengan perkembangan teknologi, tehnik foto bisa dipelajari sambil jalan.

Kembali ke visi pribadi, bagaimana menemukannya? Salah satu cara yang paling sering saya sarankan ke beberapa rekan adalah mempertajamnya dengan menggunakan preferensi visual. Kumpulkan foto-foto favorit, bisa dari mana saja: majalah, koran, flickr, internet secara umum. Jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Sekitar 50 hingga 100 foto mungkin ideal.

Kumpulkan foto-foto yang benar-benar disukai. Setelah itu bentangkan dalam tampilan thumbnails yang agak besar (bisa menggunakan Picasa atau yang sejenisnya) dan review secara keseluruhan. Pelajari foto-foto itu dan temukan benang merahnya. Apakah mempunyai kesamaan subyek? Apakah karena kecemerlangan warnanya? Sudut pengambilan? Atau karena pesan atau makna dari foto itu sendiri.

Anda sendiri yang harus mencari dan menemukan. Bagaimana cara untuk melakukan seleksi, penajaman dan bisa menangkap benang merah preferensi fotografi atau visual? Kita akan bahas dalam posting berikutnya.