Memotret Untuk Menang?

Sebuah penjurian foto yang berkepanjangan

Setelah menentukan pilihan saya, ternyata ada beberapa masalah di Lomba Foto ini. Foto pilihan pertama saya yang kemudian dinyatakan sebagai juara 1 melanggar aturan: “Hasil karya yang dikirim belum pernah dipublikasi di media massa atau belum pernah memenangkan kontes lomba foto lainnya.”

Seorang netter yang bermata jeli lalu mengirimkan link ini (scroll ke bawah) dan memang terlihat jelas bahwa foto yang dipilih sebagai pemenang pertama mirip sekali dengan foto di link tersebut. Panitia pun sepakat untuk mendiskualifakasi pemenang nomer 1 tersebut. Sebuah kejadian yang patut disayangkan (padahal saya sudah memujinya setinggi langit).

image

Yang dinyatakan sebagai pemenang

image

Yang pernah menang

Namun si empunya foto kemudian memiliki argumen bahwa dua foto itu berbeda, karena filenya beda:

  • Pada foto bawah posisi tangan subjek yang meminum air tidak sampai ke mulut si subjek sedangkan pada lomba foto kiri posisi tangan si subjek berada pada mulut.
  • Posisi jatuhnya gemercik air pada foto pemenang 2008 berada di luar area bebatuan, sedang kan pada lomba foto berada di dalam bebatuan.
  • Sedangkan untuk point ke 3 pada lomba tahun 2008 adalah posisi batu tidak inframe, sedang di lomba foto inframe.

Ia juga menyertakan contoh kasus bahwa ada lomba foto yang membiarkan pemenang (foto bawah, kanan) dengan foto serupa tapi beda file (foto bawah, kiri tahun 2011, fotokita.net):

image

Dengan argumen seperti di atas justru menambah keyakinan saya bahwa perlu ada edukasi mengenai foto yang sama dan berbeda. Jika menyandarkan diri pada alasan teknis semata, bahwa foto yang beda file adalah foto yang beda, itu tampaknya kita mengingkari bahwa sebuah foto adalah karya visual, dimana yang kita lihat adalah apa yang kita tangkap dari keseluruhan imaji itu, bukan detil per detil dan teknis file.

Jika sebuah foto diambil dari sudut yang sama, dengan komposisi yang sama, dengan pencahayaan yang sama, dengan obyek yang sama dan pesan yang disampaikan serta kesan yang ditimbulkan sama, walaupun beda file, itu adalah foto yang sama secara substansi.

Dengan teknologi fotografi digital saat ini memang lebih dimungkinkan memotret continues mode dengan beberapa frame per detik (karena media penyimpanan digital berkapasitas makin besar). Pemotretan ini di kalangan profesional juga kerap dilakukan untuk bracketing dari sisi momen ataupun pencahayaan. Namun pada saat editing mereka memilih yang terbaik dari rangkaian foto itu, dengan demikian mereka menganggap rangkaian foto yang sangat mirip itu sebagai satu foto yang sama secara substansi.

Namun sebetulnya apapun yang dipermasalahkan mengenai sebuah foto dalam lomba, mungkin sudah saatnya kita bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita ingin memotret semata-mata untuk memenangkan lomba? Fotografi pertama-tama adalah seni berpadu dengan teknologi. Di dalam seni, etika dan rasa juga memegang peranan penting. Memotretlah (dan ikut lomba foto) dengan hati.

*disclaimer: ini adalah pendapat pribadi saya sebagai juri. Sangat terbuka untuk mendiskusikan pendapat di atas.