intanmutyara:

petani dan padi adalah dua hal pokok yang dibutuhkan oleh manusia. peranannya mampu menopang ketahanan pangan bagi kita semua.

hal seperti ini adalah hal-hal yang tidak jarang sekali diperhatikan oleh masyarakat sekitar, padahal pengambilan poto tersebut di ambil di sebuah gang kecil di Jl.patriaot, Garut.
petani tersebut sedang panen dan mengayak padinya untuk memisahkan padi yang kurang baik.

Ini adalah foto pilihan Kelompok 2 Garutpedia, hasil praktek pemetaan visual.

Another Public Mission, Photography Discussion with Pewarta Foto Indonesia (PFI)

It was fun to meet one of my community, photojournalists. We talked about the photojournalist’s relation with raising numbers photo enthusiasts appeared on the news scene. How to using new/ social media to empower photojournalist and how to embrace citizen journalistic to enrich photojournalistic.

It is important to make photojournalistic more down to earth and the same time increasing the public appreciation that taking journalistic photography is possible by the photography enthusiasts, not merely the professional one. Once the public widely supported photojournalistic, the photojournalistic community may evolved.   

Another Public Mission, Photography Discussion with Pewarta Foto Indonesia (PFI)

Sustainable Indonesia Book

Useful links:

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (04)

Daun musim semi ©2010

Kini saatnya kita memasuki pertimbangan mengenai waktu dalam menekuni preferensi fotografi. Pada pembahasan mengenai penentuan preferensi fotografi saya sempat menyinggung juga mengenai waktu, tetapi kaitannya antara kebiasaan kita dengan pilihan preferensi fotografi. Kini saatnya kita berbincang mengenai waktu sebagai sumber daya dalam mempertimbangkan pilihan preferensi fotografi.

Adakalanya dimensi waktu, berbanding lurus dengan dimensi ruang. Artinya, anda yang memiliki waktu yang cukup banyak untuk didekasikan untuk kegiatan fotografi, umumnya juga bisa memiliki keleluasaan untuk menjelajahi ruang alias tempat-tempat yang menarik. Tempat-tempat yang menarik bisa berarti terjadinya peristiwa yang menarik, kondisi alam yang tidak biasa atau manusia yang memiliki budaya atau kebiasaan unik. Ini adalah kondisi idealnya.

Saat ada di tempat yang menarik, terkadang waktunya tidak mengijinkan untuk berada lebih lama guna mengeksplorasi tempat tersebut lebih lanjut. Jika anda seorang pengusaha atau karyawan yang sering ditugaskan ke tempat-tempat yang menarik, dilema ini sering muncul. Alokasi waktu yang diberikan biasanya hanya betul-betul pas dengan kebutuhan pekerjaannya. Anda lalu berpikir,“Nanti saja pas liburan bersama keluarga bisa datang ke tempat ini lagi.”

Sebaiknya hal di atas jangan menjadi pertimbangan. Saat anda libur bersama keluarga, gunakan waktu itu bersama keluarga, dan belum tentu anda bisa datang ke tempat yang sama. Lagipula, ngapain berlibur ke tempat yang sudah pernah dikunjungi untuk kerja?

Saat anda ditugaskan ke tempat yang menarik (semua tempat sebetulnya menarik, tergantung cara anda melihatnya 🙂 usahakan ada waktu luang entah setengah hari atau sehari untuk memotret. Orang-orang yang berpikir memotret bisa dilakukan sambil traveling adalah pikiran yang keliru. Memotret harus dilakukan dengan dedikasi dan konsentrasi penuh, apapun preferensi fotografinya. Waktu serasa terbang ketika kita sedang asyik mengeksplorasi subyek untuk difoto.

Kondisi di atas adalah situasi yang cukup ideal, artinya waktu dan dana tersedia bagi seseorang untuk menyalurkan minat fotografinya. Bagaimana dengan yang memiliki waktu terbatas?

Waktu yang terbatas, bisa disiasati dengan kesiagaan fotografi secara penuh. Artinya, kamera selalu berada di sisi anda nyaris setiap saat. Karena waktu anda sempit, manfaatkan setiap jendela peluang fotografi yang terbuka untuk mengabadikannya. Ini mirip kerja seorang jurnalis foto.

Kemiripannya hanya sampai di situ, sama-sama memanfaatkan momentum, namun momentum yang anda manfaatkan terfilter oleh preferensi foto anda. Anda lebih mirip seorang kolektor visual yang mengabadikan scene kesukaan anda menjadi sebuah body of work alias koleksi foto yang memiliki benang merah.

Apabila anda gemar memotret halte bis, mungkin anda bisa memotretnya tiap anda bertemu dengan sebuah halte bus yang kondisinya unik, atau situasinya secara visual menggoda. Anda lakukan itu selama bertahun-tahun, dan saat anda mengamati lagi dengan seksama, anda akan kagum sendiri dengan kumpulan fotografi anda.

Anda tidak perlu pergi jauh untuk melakukan hal ini. Di sela-sela kesibukan sehari-hari “fotografi halte bus” bisa dilakukan. Atau, anda ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk fotografi karena anak-anak sudah sibuk masing-masing. Mainan masa kecil anak-anak anda bisa jadi obyek yang menarik, bahkan bisnis fotografi.

Satu hal yang jelas, dengan semakin seringnya anda memotret –apapun preferensinya– kepekaan anda dan fokus preferensi fotografi anda akan semakin menajam. Mata anda akan semakin peka terhadap subyek, komposisi atau pun kondisi cahaya yang menggoda tangan untuk meraih kamera dan membidiknya.

Jadi, andaikan waktu anda terbatas, gunakan kreatifitas anda untuk menyiasatinya. Kalau anda tekun, waktu untuk memotret serasa banyak. Kalau anda malas, seberapa banyak pun waktu yang tersedia, tak akan cukup.

Waktu, Uang dan Preferensi Fotografi (03)

Sekarang kita memasuki bagian ketiga dari perbincangan soal sumber daya kita dan preferensi fotografi. Masih berkisar soal jebakan dari pemilihan alat foto paling vital yaitu kamera. Di awal-awal fotografi digital, kita sering membaca para penggemar fotografi di Indonesia sering menyinggung-nyinggung masalah SARA dalam forum-forum diskusi, berkenaan dengan “agama” alias kefanatikan terhadap mereka kamera tertentu.

Mencari buah matang di senja hari, Gunung Halimun ©2007

Saat itu ada dua agama yang sama-sama berasal dari Jepang. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh para pemasarnya, semata-mata mendongkrak bisnis. Mengapa? Dengan mengangkat masalah SARA fotografi ini, akhirnya dua agama itulah yang “tampaknya” mendominasi jagat –terutama– kamera SLR.

Pangsa pasar SLR mungkin bukan yang terbesar dari jumlah unit yang terjual, tetapi jika dari margin keuntungan jelas paling besar. Pengguna kamera jenis ini akan cenderung mengembangkan dua hal, pertama memperbanyak koleksi lensanya dan kedua melakukan upgrade bodi kameranya. Ujung-ujungnya adalah menggemukkan kocek produsen.

Sebetulnya apa yang membuat timbulnya sebutan “agama” dalam pemilihan alat fotografi? Yang pertama-tama untuk seseorang pemeluk agama tertentu, ia kemungkinan besar selamanya akan memeluk agama tersebut. Akan sulit sekali bagi seseorang untuk pindah “agama”. Kalau memilih sistem kamera SLR tertentu yang membuatnya jadi semacam “agama” adalah koleksi lensanya.

Bagian yang termahal dari sebuah kamera adalah lensanya. Sistem optik ini biasanya berkembang sesuai dengan keahlian si fotografer. Ia akan melakukan investasi yang cukup besar untuk mempunyai jenis lensa yang cukup beragam agar ia bisa melakukan fotografi sesuai keinginannya.

Di sisi lain banyak pemula yang ingin belajar menggunakan kamera SLR kemudian terjebak oleh jargon “agama”. Membeli satu paket kamera dengan lensa kit seolah-olah sudah membuat sang pemula memeluk “agama” tertentu. Ini pemahaman yang kurang tepat.

Di ujung lain, sebetulnya “agama” fotografi di dalam ranah teknologi digital saat ini menjadi nisbi. Seperti disebutkan terdahulu, konvergensi teknologi memungkinkan semuanya itu. Munculnya teknologi baru yang dilakukan oleh para pemain baru dengan terobosan teknologi kini bisa mengambil alih dominasi merek-merek lama.

Di dunia komputer, lima tahun lalu kita tidak membayangkan bahwa Apple akan cukup mendominasi smartphone dengan iPhone. Di dunia kamera sinema, beberapa tahun lalu kita tak mendengar adanya kamera Red yang kini bahkan dipakai oleh sutradara Peter Jackson untuk membuat The Hobbit, prequel dari Lord of The Rings. Red bahkan didesain oleh pembuat kacamata Oakley, hampir tak ada hubungannya dengan dunia sinematografi bukan?

Di dunia kamera, terobosan-terobosan baru tidak saja dilakukan oleh para pelaku lama. Dulu kita tidak mengenal sistem 4/3 yang kini dipopulerkan oleh Panasonic dan Olympus. Sekarang bahkan berkembang model kamera SLR yang translucent mirror hingga yang mirror-less. Fuji X-100 bahkan mengembangkan hybrid view finder untuk mengisi celah pasar kamera range finder, yang belum diisi oleh Leica yang merajai jenis ini dengan seri M-nya.

Dengan melihat cakrawala perkembangan teknologi, memang “agama” di dalam fotogafi menjadi kurang relevan lagi. Yang membuat orang menjadi tetap memeluk “agama” fotografi adalah seberapa banyak lensa yang dia punya. Jika hanya 1-2 lensa rasanya belum “beragama” 🙂 Jadi, jangan terlalu fanatik dengan “agama”, jadilah humanis dahulu.