
Tahun ini adalah Tahun Hutan Internasional (THI 2011), namun apakah Indonesia yang mengaku sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia akan ikut merayakannya? Kita tengok kalender kegiatan PBB dalam rangka Tahun Hutan Internasional, tak ada satu pun agenda kegiatan internasional yang berasal dari Indonesia.
Siaran pers Kementerian Kehutanan soal THI 2011 baru diterbitkan tanggal 14 Januari, itu pun isinya hanya sekedar harapan ke jajaran kementerian kehutanan untuk ikut merayakannya. Perayaannya secara internasional akan dicanangkan Senin besok tanggal 24 Januari, sementara Presiden SBY menurut siaran pers yang sama baru akan merayakan THI 2011 di Indonesia bulan April.
Kita lihat apakah pencanangan THI di Indonesia oleh SBY akan juga menjadi peristiwa pencanangan moratorium kehutanan atau tidak. Ironisnya justru di awal Tahun Hutan Internasional ini lobi industri kehutanan dan perkebunan ingin membatalkan rencana itu. Jika lobi ini berhasil, lengkap sudah potret Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar dari sektor kehutanan.
Moratorium kehutanan diperlukan selain sebagai jeda bagi hutan-hutan kita untuk bertumbuh, juga untuk memberi waktu sektor kehutanan dan perkebunan membenahi diri dari sisi data, administrasi dan regulasi. Ibarat orang berlari maraton yang tali sepatunya lepas. Moratorium kehutanan memberi kita kesempatan untuk mengikat tali sepatu itu secara benar dan melanjutkan maraton, daripada terus berlari dan terjerembab dalam petaka lingkungan.
