PEGUNUNGAN MULLER

Bagian terberat dari Ekspedisi Kapuas Mahakam adalah memintas pegunungan Muller. Mengarungi jeram-jeram dan hutan perawan di perbatasan Kalbar-Kaltim. Darah pun dihisap pacet tiap hari. Tantyo Bangun, wartawan MATRA, bercerita khusus untuk Anda* (tahun ini tepat 20 tahun perjalanan kami).

          Pelangi membelah hutan hujan Kalimantan sore itu. Warna cahaya putih yang dibiaskan oleh air menjadi lima unsur warna melarik indah di atas kanopi hutan yang berselimut kabut tipis. Beberapa orang suku Dayak Punan yang sedang berenang di sungai Bungan terhenyak sebentar menyaksikan karunia alam bagi hidup mereka. Pemandangan itu memperkaya batin.

 Tanggal 15 Juni 1894, Nieuwenhuis berangkat bersama kontrolir Kapuas Hulu, van Velthuysen dan Geolog Mullengraaf. Mereka dibantu oleh 19 prajurit Hindia Belanda, 5 kuli Melayu, 8 orang Iban Batang Lupar, dan 85 orang suku Dayak Kayan Mendalam yang mengemudikan 24 sampan.

            Untuk saya, pemandangan itu menganggu kerja. Sehabis hujan di Tanjung Lokang, desa terujung di kaki pegunungan Muller, kami sedang sibuk-sibuknya mengepak dan menghitung lagi perbekalan yang akan dibawa selama dua belas hari melintas di pegunungan Muller. Tidak kurang dari 72 koli logistik yang akan kami bawa. Indahnya pemandangan membuat kerja terhenti sebentar. Kami ingin menikmatinya. Namun, tak percuma rasanya kami berhenti bekerja. Sebab pemandangan-pemandangan seperti inilah yang menjadi salah satu alasan kami melintas hutan hujan Kalimantan.

image

            Gendon, dibantu Zaenal, Tya, Dolly dan Iyun tampak berkeringat – meski sudah telanjang dada. Mereka sibuk dengan puluhan sak hijau yang berisi mulai dari makanan kaleng hingga radio all band. Selagi bekerja memang lebih enak bertelanjang dada daripada mengenakan kaus. Udara Kalimantan yang panas dan sangat lembab menyebabkan baju cepat basah. Iyun bilang, badannya sudah bukan sekedar berkeringat, tetapi “berkuah”.

            Hari itu, 30 Juni, memang hari terakhir untuk mengepak segala macam logistik yang diperlukan untuk perjalanan menembus jantung Kalimantan. Kami akan berjalan terus ke hulu, menelusuri mata-mata air sungai Kapuas, menyeberangi pegunungan Muller, melintas batas propinsi Kalimantan Barat dan Timur, dan menuruni anak-anak sungai Mahakam dan mencumbu riam-riamnya.

            Di luar rumah panggung yang kami tempati sekarang, Don Hasman, wartawan foto veteran yang dalam ekspedisi ini bertugas mengurusi porter, sibuk kasak kusuk soal kepastian jumlah porter. Soal pengangkut barang ini memang bukan hal yang mudah diurus di pedalaman. Saat kami datang, laki-laki di pedalaman Kalimantan sedang sibuk untuk membuka ladang dan membakarnya. Mereka siap menyambut musim hujan dan untuk menanam.

            Dengan jaminan Tumenggung Dalung, kepala adat Dayak Bungan di Tanjung Lokang, maka terkumpulnya para pengangkut barang. Persoalan harga menjadi masalah. Sebab mereka harus menunda waktu membuka ladang. Maka, sebagai kompensasi, mereka meminta bayaran lebih tinggi.

            Dengan berat hati permintaan ini diluluskan, namun dengan negosiasi yang alot. Itu pun kami masih harus mengimpor lebih dari dua puluh orang porter dari Matalunai.

            Ekspedisi Kapuas Mahakam ini memang akhirnya menyibukkan orang sepanjang Kapuas Mahakam selama lebih dari satu bulan. Di daerah yang masih agak ke hilir, masyarakat setempat memanjakan ekspedisi dengan sajian-sajian budaya yang jarang digelar. Dan kini, di ujung hulu Kapuas, ekspedisi pun masih merepotkan orang desa dengan penyedotan tenaga kerja laki-laki di saat mereka akan membuka ladang.

            Pada awalnya, ekspedisi dengan dua puluhan anggota ini – rombongan “topeng monyet” istilah saya – agak kerepotan menjelaskan maksud dan tujuannya. “Bapak mau mengikuti Belanda-Belanda dulu?” tanya beberapa penduduk pada Rudy Badil, pimpinan ekspedisi. Tentu tidak.

            Tetapi, ekspedisi ini memang diilhami oleh perjalanan yang dipimpin oleh seorang dokter militer sekaligus antropolog Belanda, Anton W Nieuwenhuis dalam sebuah misi pemerintah kolonial Belanda tepat seratus tahun yang lalu. Meski ekspedisinya adalah ekspedisi pemerintah kolonial, namun sebagai seorang ilmuwan banyak perhatian Nieuwenhuis yang tersita justru pada segi etnografi dan medis dari manusia Dayak dan alam sepanjang Kapuas-Mahakam.

            Semangat penjelajahan Nieuwenhuislah yang mengantar kami untuk menelusuri alam budaya Kalimantan selama empat puluh hari. Kalimantan dalam kurun waktu seratus tahun, tentulah banyak berubah. Jika dulu yang terjadi adalah perang antarsuku Dayak, kini yang terjadi di pulau ketiga terbesar di dunia ini adalah perang suku antara “suku” aktivis lingkungan yang memujanya sebagai paru-paru dunia dengan “suku” para pengusaha kayu yang melihatnya sebagai tambang emas hijau.

            Lalu kami termasuk “suku” apa? Ekspedisi kami rupa-rupanya tidak mempunyai warna politik apa pun. Kami berjalan di antara konflik, dan bersikap seperti negatif film, bereaksi terhadap sinar yang menerpa. Merekam apa-apa yang kami lihat, apa-apa yang terpancar dari hijaunya warna daun, birunya warna air, dan indahnya suara burung.

            Tanggal 15 Juni 1894, Nieuwenhuis berangkat bersama kontrolir Kapuas Hulu, van Velthuysen dan Geolog Mullengraaf. Mereka dibantu oleh 19 prajurit Hindia Belanda, 5 kuli Melayu, 8 orang Iban Batang Lupar, dan 85 orang suku Dayak Kayan Mendalam yang mengemudikan 24 sampan. Ekspedisi ini hanya bertahan selama sebulan karena dihadang berita permusuhan suku Dayak di Mahakam. Ekspedisi kedualah yang mencatat hasil gemilang, di mana rutenya kami ikuti. Dari Hulu Kapuas, kami memasuki anak sungai Bungan, naik lagi ke hulu sungan Bulit. Kami lalu memintas pegunungan Muller dan turun di sungai Penaneh dan Kasau, lalu bersua dengan urat nadi Kalimantan Timur, sungai Mahakam.

            Tanggal 1 Juli 1994, dimulailah perjalanan kami menembus hutan selama dua belas hari menuju hulu Mahakam. Dua puluh orang anggota Ekspedisi sudah turun dari rumah panggung. Pendamping kami adalah 19 porter dari Mata Lunai, 37 porter dari Tanjung Lokang dan 14 motoris spid (sebutan untuk speed boat di Kapuas) yang dipimpin oleh Lujung, Kepala urusan pemerintahan desa Tanjung Lokang. Tiga belas perahu spid juga telah berjejer di tepi sungai Bungan.

            Pengangkut barang yang mengantar kami sangat berbeda dengan masa Nieuwenhuis. Pada saat ini kami didampingi oleh beragam suku. Ada suku Bungan, penduduk asli Tanjung Lokang, juga Dayak Punan, Kayan Mendalam, Embaloh, hingga orang dari Mandai. Saat ini orang-orang Dayak memang sudah saling bercampur dalam tempat tinggal. Tiada lagi sisa kebudayaan ayau (memenggal kepala) dari perang suku zaman dahulu.

            Camat Yusuf dari Putussibau dan Tumenggung Dalung melepas kami dengan penuh haru. Merekalah yang telah bekerja keras menyiapkan segala sesuatunya hingga kami bisa berangkat pagi ini, melintas menuju Kalimantan Timur.

            Air sungai Bungan di awal musim kemarau ini lebih turun lagi permukaannya dibanding kemarin. Hujan selama dua hari sebelumnya tidak banyak menolong. Dengan teriakan-teriakan keras kami menyeru desa Tanjung Lokang seraya meninggalkannya. Bunyi mesin-mesin perahu segera membahana di tengah hutan. Para motoris memainkan gasnya dengan piawai. Naik ke hulu melawan arus dan jeram.

            Kondisi itu hanya bisa dinikmati pada beberapa jam pertama. Pada jeram-jeram selanjutnya, perahu kerap ditarik karena air sungai terlalu dangkal untuk baling-baling motor tempel. Apalagi sesudah kami masuk ke sungai Bulit yang lebih kecil. Beberapa motoris masih nekat mengemudikan perahunya di air dangkal. Akibatnya, pen baling-balingnya patah. Hitung punya hitung, kami harus melewati 42 jeram besar dan kecil hari itu.

image

            Motoris perahu kami tampak sabar. Tiap kali air dangkal, baling-baling diangkat naik dan perahu didorong. Saya dan Muke harus turun dan membantu mendorong. Sementara Iis dan Cenil, dua wanita dalam ekspedisi ini, tetap duduk di perahu. Mereka bukannya tidak mau turun membantu, tetapi jika turun pun tidak akan banyak membantu – malah merepotkan. Jangan disangka mendorong perahu melawan arus itu ringan, Sudah beratnya bukan main, kaki harus tahan karena terantuk batu kali berkali-kali.

            Di sepanjang sungai kami tidak menemui kampung satu pun, kecuali beberapa pondok untuk menunggu ladang. Ini menandakan bahwa kami benar-benar menuju ujung akhir peradaban di sungai Kapuas. Kami akan mulai pergaulan kami dengan alam secara langsung, tanpa embel-embel peradaban lagi.

            Pergaulan itu ditandai dengan tidur berdinding hutan dengan beranda tepian sungai. Suara kumbang malam mulai berderik dengan kencang, menandakan senja telah tiba. Asap pun mulai mengepul dari kayu-kayu bakar yang digunakan porter untuk memasak di tepi sungai. Nikmatnya makan malam di pinggiran arus sungai, tidak melenakan kami untuk bermalam tepat di tepi sungai. Kami harus naik ke atas sedikit untuk menghindari air pasang di malam hari.

            Etape kedua akan berlanjut ke Liu Banyu, sebuah tempat berkemah yang sangat ideal. Ia juga menjadi kemah induk kami untuk mendaki Gunung Terata. Perjalanan ke Liu Banyu mulai memakan korban. Cenil, yang sepatunya jebol di hari pertama, terpelanting ketika menuruni anak sungai. Muke, Iis, Hary Sur dan Heri sibuk dengan pacet dan lintahnya. Sementara Tya dan saya mendapat pengalaman terpeleset dan hampir masuk ke lubuk sungai.

            Setibanya di Liu Banyu, Don Hasman, Toto, Caca, Rama, Letkol Sumadji (pendamping kami dari Pemda Kalbar) dan Wardi, wartawan Suara Kaltim segera menyiapkan perbekalan untuk mendaki Gunung Terata. Saat itu mereka salah paham soal konsumsi. Toto minta mi instant dikurangi dan beras ditambah. Ternyata yang terjadi adalah mi instant dikurangi tetapi beras tidak ditambah. Akibatnya selama dua hari mendaki Terata, mereka mengumbar segudang keluh kesah. Nasi satu rantang dimakan bersepuluh. Keadaan diperburuk dengan hujan terus menerus di daerah puncak Terata.

            Puncak ini walaupun tidak tinggi sekali, memang penting untuk didaki. Sebab di sepanjang pegunungan di Kalimantan, daerah ini punya vegetasi yang khas. Beberapa lumut emas ditemukan di sini. Tumbuhan parasit kantung semar yang unik juga ada.

            Sisa tim yang menunggu di Liu Banyu menghabiskan waktu dengan istirahat dan merancang perjalanan selanjutnya. Porter-porter dari Mata Lunai dipulangkan hari itu, karena kebutuhan tenaga sudah berkurang. Malamnya, Zekky yang bertugas melakukan komunikasi mencoba menghubungi Sekretariat Mapala UI di Salemba, Jakarta dengan radio All-band.

            Sebenarnya sukses tidaknya hubungan radio ini sangat tergantung pada desain antenna dan medannya. Zekky memang sudah menyiapkan desain antenna, tetapi pemasangan antenanya tetaplah bergantung pada orang-orang Dayak. Lawing, si orang Punan, dengan tenang memanjat pohon setinggi 10 hingga 20 meter, sampai-sampai kabelnya hampir tidak cukup. Dan hubungan radio pun sukses. Melihat ini, Agung berkomentar, “Ini sih yang hebat bukan Zekky, tetapi orang Dayaknya.”

            Sedang asyik-asyiknya kami mendengarkan suara dari dunia ramai, tiba-tiba ketenangan malam di hutan yang berhujan rintik itu terpecah oleh kegaduhan para porter dari arah sungai. Mata yang setengah mengantuk sesudah makan malam mendadak sontak terbuka mendengar teriakan: “Ular, ular!”

            Beberapa orang segera memburu ke bawah. Tampak tujuh orang porter sedang memegangi sebentuk benda seperti batang kayu sepanjang lima meter. Ternyata itu bukan batang kayu, melainkan ular piton yang telah terkulai. Kepalanya hampir lepas tersabet oleh mandaunya Nyuk, seorang porter Tanjung Lokang.

            Nyuk sedang mencari binatang buruan malam itu. Ketika ia menyisir sungai mengharap babi hutan, ternyata ular yang datang. Naluri mempertahankan hidupnya seketika keluar. Ia bukannya lari melihat ular sebesar tiang telepon itu, tetapi malah dikejarnya. Hasilnya, ia menyibukkan seisi kemah induk. Malam yang tenang tiba-tiba menjadi hidup oleh kesibukan menguliti dan mengasap daging ular agar tidak busuk.

            Berjalan bersama orang-orang Dayak yang sedari kecil diasuh oleh ganasnya sungai dan hutan, membuat kita kagum dan berpikir-pikir. Saya pribadi merasa bahwa konsep pelestarian lingkungan yang mereka kenal bukanlah membatasi diri untuk tidak menebang pohon atau pun membunuhi binatang. Mereka akan tetap menebang pohon untuk membuka ladang, memburu binatang untuk dimakan, selama itu merupakan pemenuhan kebutuhan lokal, kebutuhan subsistensinya. Dengan mengikuti hukum alam, semoga tidak melebihi daya dukung lingkungannya. Lain dengan para perusak hutan yang berkedok di balik industri perkayuan dan pulp. Mereka serakah sekali.

Perjalanan berlanjut dengan memotong punggung bukit dan menyusuri sungai. Kali ini kami menuju Nanga Bohoang di tepi sungai Bungan Lewa. Perjalanan ini agak berat karena jalan menjadi sangat licin diguyur hujan bertubi-tubi. Sungai Bungan Lewa pun naik airnya sehingga kami harus menyeberang dengan air setinggi perut. Ransel-ransel terpaksa dipanggul di atas kepala.

            Di Nanga Bohoang (Nanga: muara) kemah yang sudah disiapkan oleh Tya dan Agung sehari sebelumnya telah berdiri. Babi hutan pun sudah didapat untuk santapan para porter. Lagi-lagi tempat ini sangat ideal untuk tempat tinggal manusia. Dalam hati saya bertanya-tanya, pemberian nama-nama tempat berkemah ini mirip nama kampung. Apa memang dulu pernah ditinggali? Dan rupanya, dari cerita-cerita para porter pada malam-malam selanjutnya, pertanyaan itu terjawab.

            Dulu, tempat-tempat di Liu Banyu dan Nanga Bohoang itu memang merupakan perkampungan suku-suku Dayak. Pijar, salah satu porter bahkan pernah menemukan bekas tiang Totem mereka di Nanga Bohoang. Lalu, beriring dengan waktu, terjadi proses penghiliran dari suku-suku Dayak di pedalaman. Tempat tinggal mereka makin turun ke sungai-sungai utama seperti Kapuas dan Mahakam. Alasannya macam-macam, mulai dari ekonomi hingga pendidikan.

            Malam-malam di Bohoang, para porter membuat keributan lagi. Kali ini bukan soal ular, tetapi sebagian dari mereka hendak cepat pulang untuk membuka ladang. Dari tujuh puluh orang pada saat berangkat hari pertama, di Nanga Bohoang tinggal 25 orang yang akan lanjut hingga akhir perjalanan. Sementara koli barang yang harus diangkat masih banyak.

            Akhirnya, saya bersama Caca dan Agung tinggal untuk menjadi tim penyapu dan melakukan operasi logistik. Menyeleksi barang yang tidak perlu. Tim besar berangkat ke Soa Apun dan beberapa porter akan bolak-balik menjemput kami lagi.

            Di rute inilah saya ketiban sial. Ketika hendak menuruni sungai, kaki saya terpeleset akar. Seluruh badan melayang dan hanya sebuah pergelangan tangan kanan yang menahan berat badan plus ransel dua puluh kilo. Klek! Terdengar pergelangan tangan berbunyi. Teriakan kesakitan saya menggema dalam hutan.

            Saya pikir tangan saya patah. Namun jari-jari saya masih bisa digerakkan. Berarti tulang masih normal. Hanya pergelangan berdenyut sakit. Akhirnya saya yang bertugas sebagai tim resque dalam perjalanan ini terpaksa berjalan dengan tangan terbalut. Esoknya pergelangan itu membengkak besar.

            Soa Apun menjadi tempat yang paling menyengsarakan selama perjalanan. Tempatnya merupakan sebuah sudut lereng bukit Baring Apun, perbatasan Kalbar-Kaltim. Kami bermalam di kemiringan lerengnya. Dengan sendirinya suhu udara di sana menjadi paling dingin. Airnya sedikit. Dan tangan yang membengkak berdenyut-denyut sepanjang malam.

            Esok, target kami adalah menembus dua etape sekaligus untuk menyusul rombongan besar. Turun ke sungai Penaneh, melewati Nanga Popong dan terus menembus ke Lepuhun Keto, tempat berakhirnya perjalanan menembus pegunungan Muller.

            Target boleh jauh, namun apa daya kaki tidak mampu. Walau sudah mulai berjalan sepagi mungkin, tetap saja Lepuhun Keto tidak sampai. Kami berjalan secepat mungkin turun Baring Apun.

            Nah, begitu menghiliri sungai Penaneh, kesulitan timbul. Rute orang Dayak selalu mengikuti sungai. Maka repotlah kami karena hampir setiap kelokan sungai, jalan setapak terlihat memotong sungai. Kami pun harus menyeberanginya. Hitung-hitung, hari itu lebih dari 30 kali kami menyeberangi sungai. Tenaga habis untuk berjalan di atas batu-batu sungai yang licin. Belum lagi beberapa bagian bisa setinggi pinggang hingga dada.

image

            Gendon sempat hampir tercebur. Beruntung Agung sempat menahannya dari belakang. Hingga mendekati Magrib, tuntas sudah 9 jam kami berjalan hari itu. Ini adalah rute terberat yang kami tempuh, dan ditutup dengan makan malam yang mengenaskan hati. Tiada nasi untuk malam ini.

            Pasalnya, makanan pokok seperti beras dan mi instant terbawa oleh porter yang melaju di depan kami untuk menyusul rombongan di depan. Konsumsi kami tinggal buah berkaleng-kaleng dan lauk berbungkus-bungkus. Malam pun lewat dengan cocktail dan opor ayam. Perpaduan yang sangat menurunkan selera.

            Berbekal dendam terhadap nasi, hari terakhir kami berjalan secepat kemarin. Hingga di suatu muara sungai, kami turun dengan cepat dan mendengar suara orang di depan. Rendi dan Unun, dua orang porter paling depan berteriak-teriak. Teriakan itu disahuti. Dan muncullah dua orang suku Dayak Aoheng memegang senapan tabur. Mereka adalah motoris dari Tiong Ohang yang menjemput kami. “Wah bapak-bapak tadi hampir kami tembak,” katanya.

            Rupanya, sambil berjalan mereka mencari-cari rusa. Dan saat bersua seekor rusa di pinggir kali, ternyata rusa itu berada di antara kami. Laras yang sudah dibidikkan pun terpaksa diturunkan. Salah-salah menembak rusa, mendapat manusia.

            Para motoris perahu ces itu lalu berebutan membawa barang kami. Dengan segala gengsi, kami pura-pura menolak, padahal kegirangan. Akhirnya, selama dua belas hari perjalanan ini, sempat juga kami satu jam berjalan lenggang. Kini kami mengakhiri perjalanan darat, dan siap mengarungi jeram-jeram Mahakam.

*MATRA, September 1994. 

McKinley di Alaska

Rombongan Mapala UI berhasil menaklukkan puncak tertinggi Amerika Utara. Ketemu sosok misterius. Tantyo Bangun, Project Officer pendakian menuliskan khusus untuk Matra (November 1989).

Norman keluar, diikuti Didiek, Deddy, dan Sute. Keempatnya melongok kiri dan kanan. Putih semua. Mata mereka mencari-cari perlengkapan pendakian yang terkubur hujan es semalam suntuk. “Huh… Tabiat asli Denali baru kelihatan. Kemarin-kemarin masih

tenang, hari ini mengamuk…” catat Didiek di buku hariannya. Denali adalah nama asli gunung McKinley. Dalam bahasa Indian Athabasca, Denali berarti Yang Tinggi. Hari itu adalah hari keempat pendakian. Mereka kini berada di ketinggian 3.165 meter sesudah Kahiltna Pass.

Memang, hari-hari pertama mereka menyapa Denali disambut dengan sopan. Cuaca begitu bagus sejak mereka meninggalkan kemah induk di Kahiltna Glacier, 2.195 meter. Akhir musim panas yang biasanya diwarnai dengan angin kencang di Alaska tak terlihat. Ketinggian demi ketinggian bertambah. Kesulitan hanya timbul dari masalah teknis kecil.

Sute, misalnya, harus sering terjatuh sebelum Kahiltna Pass. Kikuknya belum hilang dengan cara berjalan menggunakan snow shoe. Penyesuaian langkahnya keliru. Seharusnya, ia lebih banyak melangkah dengan menggeser telapak kakinya. Namun ia melangkah dengan langkah lebar, bak pria habis dikhitan. Snow shoe-nya yang lebar sering mengganjal. Terjungkallah dia. Memang tak mudah berjalan di salju dengan budaya Eskimo.

Halangan lain yang menimpa Sute adalah kesehatannya. Tak tahu kenapa, kondisi anak Sastra Prancis yang pendiam ini jadi menurun. Norman menulis di laporan pendakiannya: “Perjalanan terhambat karena Sute merasa pusing-pusing dan terpaksa berhenti. Sementara di kiri-kanan banyak sekali crevasse (jurang es).”

Didiek lain lagi masalahnya. Sepatu saljunya seringkali lepas. Untuk membetulkan dalam kondisi biasa mungkin tidak masalah. Tapi ia ada dalam tim. Satu orang berhenti, yang lain akan ikut berhenti. Norman yang biasanya tidak kenal kompromi, saat itu bersikap lain. Berkali-kali sled Didiek dihelanya mendaki lereng terjal. Dan rombongan “kura-kura” itu dapat mendaki sedikit lebih cepat.

Kahiltna Pass mereka lewati. Lereng salju semakin terjal. Sekali-kali mereka menengok ke arah Mount Foraker, “istri” dari Denali. Cuaca buruk terlihat mendatangi. Untuk yakinnya, Deddy dengan lensa panjang melihat puncak Denali. Benar, Lenticular Caps yang terbentuk dari hamburan es yang tertiup badai tampak menyelimutinya. Tak ada pilihan lain kecuali berhenti.

Deddy dan Didiek mengeluarkan sekop salju. Mereka harus menggali salju lebih dalam. Tenda harus tertanam lebih banyak untuk dapat menahan serangan badai. Hanya ujung atapnya saja yang boleh terlihat. Setengah jam menggali, selasai sudah bunker salju mereka.

Jam delapan malam badai menghantam mereka. Terus-menerus menderu. Kain tenda yang membeku karena tiupan badai berderak-derak suaranya. “Pertama-tama McKinley adalah gunung sub-Arctic. Udara ‘terhangat’ pada musim dingin adalah minus 40 derajat celcius, dengan rekor kecepatan angin 40 kilometer per jam,” begitu tulisan Bradford Washburn, Direktur Boston Museum of Science, kembali terlintas dalam benak mereka.

Washburn orang yang pertama kali membuka rute West Buttress pada tahun 1953. Ia, waktu itu, dihantam badai pada posisi yang sama dengan para pendaki Indonesia sekarang. Pendaki Jepang, pada beberapa tahun lalu juga terhantam di sini. Nasib buruk menimpa mereka. Mereka hilang disapu angin. “Fakta-fakta itu, terus terang membikin kami terjaga sepanjang malam,” tutur Didiek. McKinley malam itu memang sungguh menakutkan.

Syukurlah, ketakutan mereka tidak berkepanjangan. Di Jakarta, pukul setengah empat dinihari tanggal 11 Juli, mereka mengabarkan hal ini: “Sukses! Kami sudah sampai dengan selamat di Puncak McKinley tanggal 7 Juli. Nggak kurang sedikit pun. Pokoknya normal.” Itu kata-kata pertama dari facsimile yang kami tunggu-tunggu. Hilang semua kepenatan selama delapan bulan terakhir.

Memang, persiapan matang akhirnya menentukan. Mereka mendaki dengan cepat. Malah boleh dibilang terlalu cepat. Saya ingat telepon Didiek dari Talkeetna, beberapa saat sebelum terbang ke kemah induk di Kahiltna Glacier, “Sampai tanggal 22 Juli kami ada di McKinley. Kira-kira pendakian akan makan waktu tiga minggu.”

Ternyata tanggal 11 Juli mereka sudah di bawah lagi dan berhasil. Hasilnya memang di atas rata-rata. Pendakian tercepat di McKinley, sejak diresmikan menjadi taman nasional, tercatat 9 hari dan pendakian terpanjang 24 hari. Orang-orang tropis Indonesia ini baru pertama kali mencoba membukukan waktu 10 hari. Saya lalu teringat awal semua petualangan ini.

Waktu itu, dalam pertemuan di Jakarta, 29 Oktober 1988, semua yang hadir sibuk berdebat. Adi Seno dengan segala pengetahuannya tentang gunung salju di seluruh belahan bumi membeberkan pandangannya. Saya bersama Sulis, Eka dan Makky mendengarkan dengan antusias. Adi mengajukan usul sasaran ekspedisi berikutnya, setelah cukup berhasil menapaki pegunungan Andes pada bulan Juli.

“Yang paling mungkin memang McKinley. Ia layak dijadikan sasaran antara sebelum kita kembali ke Himalaya, atau meneruskan program “seven summit”, pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.” Kata Adi membandingkan Denali (McKinley) dengan kandidat lain, seperti Makalu (Nepal) dan Aconcagua (Argentina).

“Pat (Morrow) juga menyiapkan diri ke Everest dari McKinley dan Aconcagua. Sesudah itu baru puncak lainnya,” Adi menambahkan. Pat adalah rekan pendaki asal Kanada yang telah mencapai seven summit.

Rapat Badan Khusus Ekspedisi Mapala Universitas Indonesia hari itu selesai. Keputusannya secara bulat menetapkan Gunung McKinley sebagai sasaran tahun ini. Gunung itu menjulang menjadi titik tertinggi di Alaska. Letaknya yang 390 kilometer dari lingkaran Artik, menawarkan medan yang tidak bersahabat. Dan saya mendapat tugas berat untuk menjadi project officer-nya.

Setelah saya pikirkan selama seminggu, akhirnya saya terima tawaran itu. Sebab tugas itu punya banyak konsekuensi. Misalnya, harus menunda skripsi, menahan diri untuk tidak bisa ikut ekspedisi ke Irian, dan mengurangi perhatian ke masalah keluarga. Yang paling berat adalah mengatur sejumlah ego untuk bekerja bersama mencapai puncak McKinley.

Mengatur masalah ego ini dituntut kepintaran tertentu. Dengan tenaga yang ada sekarang, terus terang kepercayaan terhadap kemampuan teman-teman untuk sampai ke puncak McKinley tidak diragukan. Mula-mula tiga belas orang yang mendaftar seleksi. Tapi akhirnya terpilih empat orang. Semuanya cukup handal, dan “jam terbang” mereka lumayan panjang. Tapi rasanya ada yang kurang. Saya butuh motivator.

“Kenapa tidak mengajak Norman?” pertanyaan setengah usul dari Sulis.

Norman Edwin. Terbayang di kepala saya sebuah ego lain yang sangat dominan. Saya teringat pengalaman hitam dengannya. Tragedi Ekspedisi Arung Jeram Sungai Alas melintas kembali. Kami kehilangan Mas Budi Belek dan Tom Sukaryadi waktu itu. Jeram-jeram ganas sungai Alas mengalahkan mereka. Saat itulah saya melihat – untuk pertama kalinya – orang sekeras Norman bisa menangis. Tapi itu jelas bukan tangisnya yang pertama jika kehilangan teman dalam ekspedisi.

Tahun 1981, Norman juga menangis waktu mendengar Hartono Basuki meninggal di dinding Selatan Carstensz Pyramid. Saat itu ia yang menjadi ketua ekspedisinya. Walaupun secara teknis ekspedisi itu sukses, dengan korban satu nyawa tak urung Norman sempat “diadili”.

Pengalaman-pengalaman itu membuahkan anekdot-anekdot. Teman-temannya bilang kalau ia bertualang, pulangnya selalu membawa peti (mati). Di sisi lain dengan keberuntungannya yang tinggi, mereka berkomentar bahwa ia punya nyawa cadangan.

Tapi orang yang satu ini benar-benar fenomena kepribadian yang unik. Orang mungkin berpendapat, semangat egaliter yang sangat ditanamkan dalam keseharian di Mapala, membentuk pribadi-pribadi yang semau-maunya. Bebas. Dan paling buruk: tidak mengenal disiplin. Memang itu yang terjadi. Tapi ada nuansa lain juga dari pergaulan dengan alam.

Orang yang belajar dari alam tidak mengenal larangan. Namun siapa yang ceroboh, hukumannya adalah maut. Ini kalimat kunci dan itu yang menyebabkan terbentuknya kepribadian “tanpa larangan, tapi siap menanggung risiko”. Norman tak terkecuali.

Rambutnya gondrong berkuncir. Lelucon-leluconnya selalu menyerempet-nyerempet porno, dan hanya memiliki satu kemeja di antara seluruh T-shirtnya. Semuanya berkesan urakan. Tapi ada faktor yang berlawanan. Semangat hidupnya kadang terasa kelewatan.

Waktu pertama mendapat tawaran itu, sambutannya baik. “Tapi gua mesti ke Sulawesi dulu, barang sebulanlah,” begitu katanya. “Kalau bisa gua sudah dapat referensi yang mesti dibaca.”

Saya lalu menyodorkan Surviving Denali. “Problem paling besar menghadapi frostbite (sengatan dingin). Artinya perlengkapannya harus ultra ekstrem untuk bisa lewat di kondisi minus 40 derajat Celicius,” kata saya menjelaskan.

Anggota tim sudah terseleksi. Didiek Samsu sebagai orang kedua setelah Norman. Didiek dengan pengalaman Himalaya dan Andes punya cukup disiplin. Walaupun tulisannya seperti cakar ayam, pengaturan administrasinya cukup rapi. Dan yang penting ia dapat bekerja di bawah pimpinan Norman. Sarjana arkeologi ini bertekad hidup dari bergiat di alam bebas.Ini langka di sini, tapi saya butuh orang seperti itu. Saya tidak senang dengan orang yang setengah-setengah.

Personil lainnya adalah Deddy. Si “easy going” yang sangat menelantarkan kuliahnya di fakultas sastra ini bisa cocok untuk ekspedisi McKinley. Pengalaman saya bersamanya mendaki di Chimborazo, Andes memang menyiratkan apa yang perlu saya ketahui tentang dirinya. Untuk kepemimpinan memang Deddy tidak terlalu menonjol, tetapi sebagai pasukan komando, tidak pernah ada kata “tidak bisa” dalam kamusnya.

Deddy sangat jarang marah. Kalau marah pun mudah ketahuan. Ia akan menyendiri dan diam. Ini sikap marah yang “bagus”. Artinya tidak merusak ekspedisi dengan mengamuk dan mengomel tanpa kejelasan.

Anggota terakhir adalah anak paling muda dari kami. Sugihono Sutedjo. Ia meroket dengan cepat sebagai pendaki, dan mematahkan mitos bahwa anak sastra Perancis harus lemah lembut. Tahun 1987 ia masih anak bawang. Tapi dengan cepat ia belajar dan belajar. Januari lalu ia memimpin rekan-rekannya menaklukkan Mount Cook, gunung tertinggi di Selandia Baru.

Saat tengah menyeleksi tim McKinley, satu keputusan besar lagi saya buat. Saya memutuskan untuk tidak ikut. Saya merasa ini yang terbaik untuk tim. Dengan usaha fund raising selama enam bulan sudah cukup menyita waktu. Ditambah lagi persiapan fisik dan teknis untuk mendaki gunung dengan tingkat kesulitan seperti McKinley, sungguh di luar kemampuan.

Tim sudah ada, masalah belum terpecahkan. Orang-orang ini tetap punya ego yang sangat besar. Dalam stress berat bisa timbul konflik yang bisa merusak tim. Memikirkan bagaimana cara menyelaraskannya, saya bicara dengan beberapa psikolog. Saya tanyakan baiknya suatu program latihan. Mereka setuju dengan usul saya untuk mengumpulkan tim ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling tidak mereka terbiasa mengenal kepribadian teman seperjalanan ke Puncak McKinley. Saya satukan di rumah Norman selama dua bulan.

“Ini perlu untuk tim. Bayangkan saja beda usia gua dengan Sute sekitar tiga belas tahun. Dan dia entar jadi satu tim yang harus gua anggap punya kemampuan rata dengan lainnya. Paling tidak dia tidak usah sungkan sama gua. Jangan mentang-mentang gua lebih tua, Sute nggak berani menegur kalau gua salah. Kalau di McKinley bisa jadi bahaya.”

Kalau dari referensi Barat memang agak lain. Pendaki terkenal macam Reinhold Messner, Chris Bonington, Doug Scott, Lou Whittaker tidak memerlukan model seperti ini. Mereka profesional disitu. “Kerja”nya memang naik gunung. Paling tidak usia mereka pun matang.

Persiapan teknis mulai berjalan. Lari 10 kilometer sehari, latihan beban 3 kali seminggu, memanjat dan mendaki pada akhir minggu. Semua memang berat dan membosankan. “Camping dong sekali-sekali,” pinta Deddy.

Permintaan Deddy terkabul, saya aja mereka camping di dalam Cold Storage. Semalam berlangsung dengan aman. Suhu di awal kami masuk hanya 20 derajat di bawah nol. Makin lama perlahan merayap turun sampai titik minus 40. Kamera video 8 mm yang saya coba untuk mengabadikan mereka hanya bertahan lima menit. Baterainya ngadat membeku. Tapi hasil simulasi di Cold Storage ini banyak. Semua merasa siap untuk berada lebih lama di kebekuan itu.

Tapi ada halangan kecil lain. Dokter Dangsina Moeloek, pengamat medis tim ini menemukan bahwa Hb darah mereka turun setelah tes faal yang ketiga. “Pendaki gunung harus punya Hb tinggi. Di ketinggian oksigen susah diangkut ke otak kalau Hb rendah,” kata dokter Dangsina,“tapi saya akan cek ke PMI, apakah sesuai dengan kondisi Indonesia.”

Jawabannya positif, ternyata darah mereka masih lebih baik dibanding dengan kondisi darah rata-rata orang Indonesia. Saya kurang puas. Kami lakukan simulasi ketinggian di Lakespra Saryanto. Hasilnya bagus, saya puas.

Ekspedisi McKinley masuk tahap in action. Didiek dan Sute berangkat lebih awal seminggu. Di Anchorage mereka akan belanja di REI. Mapala UI tercatat sebagai member di sana. Paling tidak bisa dapat potongan. Tiap orang rata-rata menghabiskan biaya sebesar 4.000 dollar untuk perlengkapan pendakian di suhu ekstrem dingin. “Soal perlengakapan kami dipuji oleh pendaki lain. Untuk Alpine tacic memang tidak ada pilihan lain. Kami harus mendaki cepat dan aman. Peralatan yang baik jadi salah satu jaminan keamanan,” kata Didiek.

Norman dan Deddy menyusul mereka ke Anchorage, dan langsung ke Talkeetna. Siap-siap sebentar dan terbang lagi ke Kahiltna Glacier. Cepat memang, tapi bukannya berlangsung mulus. Rudi Badil, teman dekat Norman bertanya pada saya, “Siapa lagi kali ini yang jadi ”korban” sasaran amukan Norman?”

“Korban” memang tidak ada. Namun bukan berarti ia tidak keras. “Di lapangan ia kerasnya minta ampun. Untung kita-kita sudah hapal kelakuannya. Toh dia berlaku keras untuk kebaikan tim juga,” kata Sute yang entah kenapa jadi orang yang paling lemah kondisinya. Artinya ia jadi orang yang paling sering didorong-dorong semangatnya untuk tetap mendaki.

“Saya sempat diberi pilihan tidak enak oleh Norman. Bisa ikuti kecepatan yang lain sampai ke puncak McKinley atau menjaga kemah. Mungkin karena pilihan yang sulit seperti itu, semangat justru bangkit,” lanjut Sute.

Norman sendiri bukan tanpa cacat. Ia sempat panik waktu memanjat tebing es dengan kemiringan 75 derajat di atas Windy Corner, 3.930 meter. Crampoon-nya sering kali lepas. Dan memanjat tebing es tanpa crampoon sama seperti mengais pasir tanpa jari.

Bayangkan kondisinya waktu itu. Ia ada di tebing es, membungkuk membetulkan crampoon dan menahan beban 40 kilogram di punggungnya. “Perbedaharaan makian joroknya terlontar semua,” komentar Deddy.

Langkah-langkah akhir ke puncak McKinley mulai ditapakkan. Semuanya tampak beres. Tebing terjal Denali Pass di ketinggian 5.547 meter dirayapi dalam waktu dua jam. Dari atas, piramida puncak McKinley memanggil-manggil. Tapi terlihatnya tak lama, sebab kabut dan angin kencang segera menutupinya. Suhu langsung meluncur turun ke titik 25 di bawah nol derajat Celcius. Down Jacket harus segera dipakai.

Dua ratus meter menjelang puncak, Didiek menengok ke arah puncak Utara. Antara percaya dan tidak, terlihat sosok mengenakan jacket parka merah melambai-lambai. Dia memberitahu Norman, “Man, ada orang di Puncak Utara.”

Norman juga melihat tapi ia membisu dan mendaki terus. Deddy dan Sute yang ikut mendengar ucapan Didiek menyanggah. Didiek akhirnya terdiam dan melangkah terus. Soal sosok misterius ini tetap jadi misteri sampai mereka kembali.

Di dekat puncak, Norman diam. “Hampa banget waktu itu. Emosi gue hilang. Yang ada hanya keinginan sampai (puncak) dan kembali,” begitu ia menceritakan pikirannya waktu itu. McKinley, titik tertinggi di Amerika Utara setinggi 6.194 meter, pun akhirnya bisa dijejaki.

Bendera-bendera yang wajib diabadikan dikeluarkan satu per satu. Wajah-wajah di balik goggles menahan mual. Norman terserang kantuk hebat. Penyakit ketinggian sedang hebat-hebatnya menyerang. Untunglah mereka tahan. Terakhir, seperti ditulis Didiek di catatan hariannya: “Kami harus turun, karena masih ada puncak-puncak lain yang harus didaki.”

Aconcagua

Delapan belas tahun lalu di tanggal yang sama, saya merayakan ulang tahun di Buenos Aires, seturun mendaki Aconcagua. berikut tulisan saya soal pendakian itu:

Melunasi hutang Puncak Aconcagua, wartawan MATRA Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono mendakinya kembali. Terancam oksigen tipis dan bersaing dengan tim pendaki putri

Jalan panjang terlihat berkelok-kelok, seolah menembus dinding pegunungan Andes. Mobil van yang mengantar kami ke Puente del Inca tancap gas menelusuri terowongan-terowongan. Sungguh perjalanan yang bervariasi. Di bangku depan, dua orang staf kedutaan RI, Medy dan Didik terlihat terkantuk-kantuk. Mereka tampak lelah setelah perjalanan 1.200 kilometer dari Buenos Aires.

Saya sama lelahnya dengan mereka. Namun mata sulit terpejam. Apalagi setelah lewat dari Uspallata, sekitar satu jam sebelum Puente del Inca, mata jadi awas dan terjaga. Saya ingin secepatnya bisa melihat gunung Aconcagua. Tantangan dan tujuan kami.

Menjelang Puente de Vacas, di kejauhan terlihat menyembul segitiga hitam bersaput salju. Aconcagua mulai menampakkan dirinya. Rasa sedih dan senang muncul sekaligus tatkala bisa bertatapan muka dengan gunung itu. Sedih, karena di gunung inilah dua sahabat kami, Norman Edwin dan Didiek Samsu, melepas jiwa mereka. Senang, karena dengan sampainya kami di sini, kesempatan untuk memenuhi panggilan solidaritas kedua sahabat kami menjadi terbuka. Kali ini adalah kesempatan yang kedua bagi Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Aconcagua.

Saya menengok ke sebelah kiri. Ripto juga menatap ke arah yang sama. Matanya memantulkan semangat yang mirip dengan apa yang saya rasakan. Dengan segera ia mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa gambar puncak gunung yang terlihat dari jalan raya Argentina-Chili tersebut. Langit yang biru bersih membantu timbulnya kontras yang indah, “Tyo, akhirnya kesampaian juga niat kita mendaki gunung ini. Mudah-mudahan cuaca baik terus,” gumam Ripto.

Saya hanya bisa mengangguk. Kami berdua memang merasakan betul sulitnya perjalanan ini semenjak di Jakarta. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan kali ini. Dan semuanya menjadi beban berat untuk kami. Mulai dari tuduhan melanggar peraturan organisasi hingga prasangka bahwa kami ingin menggagalkan prestasi tim putri Indonesia yang pada saat ini juga tengah bersiap mendaki Aconcagua.

Padahal, awalnya sederhana sekali. Di bulan September, Ripto mengajak saya untuk mendaki Aconcagua sebelum memasang plakat peringatan meninggalnya Norman dan Didiek. Kami berdua waktu itu sepakat untuk menjadikannya sebagai proyek pribadi. Dengan berjalannya waktu, Badan Pengurus Mapala UI setuju untuk membantu.

Pada saat itu kami tahu ada beberapa tim pendaki Indonesia lainnya yang akan berangkat, antara lain rekan dari FPTI dan tim Putri Indonesia. Namun selera kami tidak bangkit untuk mendahului mereka. Kami tidak perduli dan hanya memikirkan bagaimana pendakian kami berhasil sebaik-baiknya. Halangan pertama muncul pada masalah imigrasi. Rute kami ke Argentina melalui Amerika Serikat terpaksa dirubah. Pasalnya, visa untuk Ripto ditolak tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya kesombongan negara adidaya terhadap orang Asia saja. Buktinya visa melewati Belanda dengan mudah kami dapat.

Halangan kedua timbul ketika pesawat Garuda ke Los Angeles penuh hingga awal Januari. Bantuan yang diberikan perusahaan penerbangan nasional ini jadi mubasir. Akhirnya memang kami harus mengubah penerbangan melalui Eropa.

Tanggal 24 Desember 1992 kami berangkat dari Jakarta. Setelah mengambil peralatan pendakian yang kami pesan dari Asbari Krishna di Amsterdam, perjalanan berlanjut ke Buenos Aires. Menempuh separuh lingkaran bumi. Beruntung, setelah halangan-halangan itu, perjalanan di daratan Argentina lancar. Bahkan duta besar Abdullatief Taman menyertakan dua orang stafnya mengantar hingga Puente del Inca. Jadilah Medy Jufri dan Didik Satria menjadi “manajer” kami.

Pada saat di Argentina, barulah kami tahu bahwa tim putri masih tertahan di Santiago karena urusan kargo dengan bea cukai Chili. Baru di sinilah semangat kompetisi kami timbul untuk menjadi orang Indonesia pertama di Aconcagua. Sebelumnya, kemungkinan ini tidak terbayangkan karena tim putri berangkat tiga hari lebih dahulu dari kami.

Dan rupanya problem tim putri dengan bea cukai Chili cukup serius. Hingga kami berangkat ke Puente del Inca, kabar tentang keberangkatan tim putri belum terdengar. Padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke Menteri Lingkungan Hidup Mendoza, bertukar cerita mengenai masalah lingkungan di negara masing-masing.

Di Hosteria (hotel) Puente del Inca, suasana sepi siang itu. Angin musim panas bertiup lembut dari arah lembah Horcones. Kami segera masuk dan mendaftar. Jorge, manager hosteria untuk para pendaki Aconcagua itu langsung berseru, ketika membaca negara asal kami, “Si, todos ustedes amigo de Indonesio (kawan dari Indonesia)! Como esta (apa kabar) Rudy?”

“Bien, mui bien (baik, sangat baik),” jawab saya.

Jorge si ramah ini rupanya berteman akrab dengan Rudy Nurcahyo, teman kami yang sempat tinggal selama dua bulan di hosteria saat evakuasi jenasah Norman dan Didiek  dilakukan tahun lalu. Jorge sangat membantu persiapan kami di Puente del Inca. Amat membekas diingatannya bagaimana musibah yang pernah menimpa pendaki Indonesia dan ia tidak mau itu terulang, “Pokoknya kalau ingin bantuan apapun, katakan pada saya.” Janji Jorge pada kami.

Tak ketinggalan Fernando Grajales turut membantu. Veteran pendaki yang pada tahun 1953 sempat membuat rute baru di Aconcagua ini dengan tangkas menyediakan mulas (bagal) dan pendaki pendamping untuk kami. Pada pertemuan pertama singkat saja nasehatnya: “Jangan memaksa diri. Jika kalian juga gagal dalam pendakian kali ini, kapan-kapan kalian masih bisa kembali. Aconcagua itu akan tetap berada di sini sepanjang sejarah manusia.”

Pendapat Grajales itu sejiwa dengan semangat kami. Tak ada unsur dendam pada hati kami terhadap gunung yang telah menewaskan kedua teman kami itu. Emosi kami mendaki gunung ini kami anggap sama seperti pendakian puncak-puncak lain. Kalaupun ada tambahan, itu adalah semangat pantang menyerah dari almarhum kedua teman kami. Dan seandainya pendakian ini gagal, kami tidak akan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Ketika kami sedang mengurus bagal, maka datanglah rombongan pendaki putri Indonesia. Kejutan juga, karena menurut perkiraan mereka akan datang esok pagi. Dengan hangat kami sambut mereka sekaligus berkenalan. Pada awal pertemuan dengan Aryati, Jonet, Clara, Lala, dan Nina sebagai manajer mereka, kami terus terang agak kikuk juga.

Bagaimanapun saya yakin di dalam hati kami masing-masing timbul perasaan bersaing untuk menjadi orang Indonesia pertama yang mencapai Aconcagua. Saat ini kami berada pada posisi awal yang sama dan kesempatan yang sebanding. Namun perasaan bersaing itu tidak berkembang ke arah negatif. Sebagai orang sebangsa di negeri orang, kita tetap fair dan saling menolong.

Di dalam kamar, Ripto bertanya lagi masalah itu: “Tyo, bagaimana pandangan orang soal “persaingan” ini. Masalahnya kita kan berdua laki-laki, sedang mereka pendakinya empat-empatnya perempuan.”

Saya terdiam sejenak, lalu balik bertanya kepada Ripto. “Andaikan kita berdua perempuan juga. Apakah tidak akan terjadi persaingan ke Puncak? Tetap saja ada. Dan kalau memang kita tidak bisa mendaki lebih baik dari mereka, dan mereka sampai puncak lebih dahulu, ya kita terima saja.”

Ripto terdiam menyetujui. Hari-hari berikutnya kami tetap menyiapkan pendakian sesuai dengan jadual. Di hari kedua, gunung-gunung sekitar hosteria kami jelajahi untuk aklimatisasi. Malam yang hendak digunakan untuk beristirahat dibatalkan karena kami berpesta tahun baru dengan karyawan hotel.

Berkali-kali gelas sampanye diangkat untuk mendoakan kesuksesan bagi pendakian di musim ini. “Salut para Indonesio! Peli ano nuevo (selamat tahun baru)!” teriak Jorge, yang sudah setengah mabuk, berkali-kali.

Di luar, begitu lonceng tengah malam terakhir di tahun 1992 lewat, terdengar bunyi rententan senjata api ke udara dari markas Ejercito (pasukan serbu gunung) Argentina. Rupanya begitulah cara militer merayakan tahun baru.

Alhasil, rencana esok untuk berangkat pagi menuju Confluencia dan Plaza de Mulas batal. Kami kesiangan. Para penunggang bagal pengangkut barang kami juga minum-minum sampai pagi, sehingga bangun tengah hari. Akhirnya, kami baru berangkat dari Puente del Inca pukul tiga petang.

Perjalanan hari itu seperti mengantar kami memasuki gerbang ke alam lain. Jalan raya sudah kami tinggalkan. Sebagai gantinya, jalan setapak berliku-liku menuju Laguna (danau) Horcones. Tumbuhan-tumbuhan mulai menipis, gersang, dan berganti batuan. Padahal ketinggian belum sampai 3.500 meter.

Keganjilan alam Aconcagua membangkitkan inspirasi suku Indian Cuzco untuk menganggap gunung ini sebagai tempat bersemayamnya dewa mereka. Sang Dewa Putih, demikian arti gunung ini dalam bahasa Indian Cuencha. Di ketinggian Aconcagua, pendeta Indian Cuzco mengorbankan seorang anak kecil untuk persembahan bagi Dewa Matahari, dewa tertinggi mereka. Empat ratus lima puluh tahun kemudian mumi korban itu ditemukan. Sang saksi sejarah itu membuktikan peradaban tinggi manusia di Aconcagua.

SESAMPAINYA di Confluencia, hari menjelang senja. Panas matahari yang menghangatkan badan perlahan menghilang. Terlihat di tenda-tenda para pendaki yang ada, kompor mulai menyala untuk memasak makan malam. Kami pun merasa perut sudah berontak minta diisi. Ripto celingukan mencari bagal yang membawa barang kami. Tapi mereka tidak tampak.

Sial, bagal yang membawa perlengkapan memasak dan tidur belum sampai. Saya lalu meminta salah seorang penunggang bagal untuk menjemput ke bawah. Sambil menunggu, kami segera menyuruk ke dalam sebuah tenda kosong. Pemiliknya entah pergi kemana.

Tetapi masuk ke dalam tenda saja belum cukup. Udara dingin tetap saja menyerbu masuk. Badan yang hanya dilindungi sweater terasa dingin. Apalagi kalori yang ada tidak mencukupi. Jadilah kami menikmati malam itu berteman dingin dan lapar. Sang bagal baru tiba hampir tengah malam.

Paginya kami “balas dendam” dengan makan sebanyak mungkin. Hari ini jalanan panjang menyebrangi pada batu Playa Anca menuju Plaza de Mulas telah menanti. Alamnya pun berganti lagi. Gunung-gunung memagari lembah dengan bentuk yang bervariasi. Sementara terik matahari musim panas seperti mau membutakan mata. Topi dan kacamata pelindung mengurangi siksaan ini. Terkadang, kami harus menunduk menghindari gulungan debu yang terangkat naik oleh angin Aconcagua.

Yang paling menjengkelkan adalah ketika kami mulai memasuki daerah aliran glacier Horcones. Dalam satu lembah alirannya, terkadang terpecah menjadi berpuluh-puluh anak sungai. Kami terpaksa menjalani latihan intensif lompat jauh di sini. Berpuluh kali kami menyusur mencari lebar aliran glacier yang bisa dilompati.

Dengan berlompatan seperti itu tenaga cepat terkuras. Belum lagi jalan setapak yang kami tempuh menanjak. Aklimatisasi yang belum sempurna membuat badan makin lemah setiap menambah ketinggian. Air sebanyak tiga liter diteguk dengan hemat agar tidak cepat habis.

Di pertengahan perjalanan, terlihat pantulan cahaya menyilaukan dari arah Plaza de Mulas. Kami memicingkan mata memperhatikan dengan seksama. Samar-samar pantulan itu terlihat berasal dari atap sebuah bangunan. “Hotel Plaza de Mulas sudah terlihat. Kita sudah dekat,” kata Ripto dengan bersemangat.

Kami pun bergegas melangkah. Namun, setelah lama berjalan, tidak sampai-sampai juga. Kami sempat disusul oleh Mariano Casteli, pendaki pendamping yang ditugaskan Fernando Grajales. Ia dengan santainya naik bagal.

Empat jam berjalan sejak atap hotel kelihatan, barulah sampai di Plaza de Mulas. Puluhan tenda nampak menjamur memenuhi Plaza de Mulas. “Ini masih belum apa-apa. Minggu depan, di puncak musim pendakian, jumlah tenda bisa dua kali lipat,” kata Mariano.

Sesuai dengan rencana, kami bertiga beraklimatisasi di Plaza de Mulas selama tiga hari. Hari pertama istirahat, hari kedua treking ke Plaza Canada (4.800 m), dan hari ketiga istirahat lagi.

Selama di Plaza de Mulas, tidak ada keluhan terhadap perubahan ketinggian yang kami rasakan. Yang lebih dirasakan justru ujian mental. Tiap hari kami mendengar berita-berita buruk pendakian. Entah itu pendaki yang terpaksa turun karena menderita accute mountain sickness atau yang dipapah oleh ranger taman nasional karena terkena radang paru-paru. Puncaknya adalah tewasnya seorang pendaki Yunani di Refugio Berlin.

Berita itu cukup mengguncang kami. Trauma tewasnya Norman dan Didiek kembali teringat. Awal pendakian menjadi kurang menyenangkan. Kami berharap mayat itu segera diturunkan, hingga kami tidak perlu bertemu dengannya di atas nanti.

Harapan kami percuma. Hari berlalu tanpa ada usaha penurunan mayat. Mariano bilang: “Selama tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas jenasah itu, ia tidak akan diturunkan. Soalnya ongkos penurunannya mahal, sekitar 5000 dollar.”

Pendakian lalu dimulai dengan menambah ketinggian ke Plaza Canada (4.800 m). Dihantam badai satu malam, kami turun lagi ke kemah induk. Sesudah istirahat, kami langsung mendaki ke Cambio Pediente (5.000 m). Esoknnya menambah ketinggian ke Nido de Condores (5.400 m). Semua masih berjalan lancar, kecuali saya sempat terserang sakit perut.

Lalu bagaimana dengan tim putri? Kami masih sempat saling menjamu di Plaza de Mulas. Hanya entah kenapa, mereka lebih perlahan penyesuaian dirinya. Saat kami tiba di Nido de Condores, mereka masih treking ke Plaza Canada. Lewat radio kami dengar bahwa salah satu dari mereka mountain sickness-nya tidak hilang-hilang.

Karena segala sesuatu berjalan lancar, di Nido de Condores kami menjadi agak lengah. Dengan agak tergesa diputuskan untuk summit attack esoknya. Hasilnya mengecewakan. Dengan memaksakan diri menambah ketinggian hingga lebih dari 1.000 meter dalam satu hari, paru-paru tersiksa oleh tipisnya oksigen.

Di Plaza Independencia (6.400 m) kami bertiga mulai limbung. Mariano yang sudah delapan kali mendaki Aconcagua pun tak bisa menghindar dari siksaan ini. Paru-paru kami menghisap udahra dengan susah payah. Di sini bernapas pun memerlukan tenaga besar. Habis enerji kami hanya untuk bernapas.

Rasanya sulit untuk meneruskan perjuangan ini. Badan terasa ringan, tetapi tak bertenaga. Keseimbangan tubuh sudah banyak berkurang. Empat ratus meter menjelang puncak Aconcagua, di mulut Canaleta, saya memutuskan untuk berhenti. Emosi saya berteriak ingin terus, tetapi rasio memerintahkan kaki untuk berhenti melangkah.

Begitu mendengar keputusan saya, Ripto memandang seolah tak percaya. Ia masih berkeras untuk terus. Kami kemudian berdebat agak lama, disaksikan Mariano yang kebingungan. Akhirnya dengan berkeras hari saya tetap memerintahkan turun. Ripto dengan muka masih penasaran menuruti.

Saat turun saya menghibur diri dengan berpikir bahwa yang baru saja kami lakukan adalah treking untuk aklimatisasi, bukan suatu pendakian ke puncak yang gagal. Tetapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya. Apakah keputusan saya ini terlalu dini? Apakah nanti kami masih memiliki kesempatan yang sama? Apakah kondisi tubuh kami nanti akan membaik? Yang terakhir, jika kami lama memulihkan diri, apakah tidak didahului oleh tim putri?

Pertanyaan itu kemudian terjawab satu demi satu. Cuaca bagus di hari-hari berikutnya. Kondisi kami yang kelelahan bisa pulih setelah satu hari beristirahat. Pada saat itu tim putri menyusul naik. Jadilah kami bersama-sama pindah kemah ke Refugio Berlin (5.800 m). Dari sini kami akan melakukan summit attack yang kedua.

Apakah keputusan saya terlalu dini sewaktu summit attack yang gagal? Ternyata tidak. Bagian Canaleta setinggi empat ratus meter menjelang puncak adalah nerakanya rute normal di Aconcagua. Kemiringan yang terjal dan batuan runtuh menghadang pendakian. Bila kami kemarin memaksakan diri, saya rasa akibatnya akan  fatal. Dalam kondisi yang lebih fit saja, kami menghabiskan waktu empat jam lebih berkutat di sana.

Ripto yang lebih cepat melangkah, berada duapuluh menit di depan saya. Menjelang puncak, ia seakan berhenti menanti saya. Rupanya ia ingin bersama-sama mencapai puncak. Saya berteriak-teriak menyuruhnya naik ke puncak secepatnya. Tetapi ia tetap tak bergeming.

Sekilas saya lihat titik-titik hitam bergerak di bawah. Rupanya tim putri masih konstan mendaki di bawah kami. Akhirnya saya memaksakan diri melangkah secepat mungkin menyusul Ripto. Sambil berlompatan saya merayap ke atas. Semangat rupanya terlalu tinggi, hingga berakibat ke pernapasan. Tiba-tiba kerongkongan saya seperti tercekik. Hidung seolah tak mampu lagi menghirup udara yang cukup. Tersedak-sedak napas dibuatnya. Kepala yang terbungkus wool terasa kegerahan di kebekuan Canaleta. Tak mampu lagi bertahan di udara tipis, saya jatuh terduduk.

Dengan mata terpejam, napas saya tarik dalam-dalam. Penglihatan yang tadinya gelap berangsur normal kembali. Saya kemudian melambaikan tangan ke arah Ripto, menyuruhnya naik ke puncak lebih dulu. Saya berhenti memulihkan diri.

Setelah agak tenang, kembali terdengar teriakan dari atas. Kali ini teriakan gembira karena Ripto telah berhasil mencapai puncak Aconcagua. Saya perlahan menyusulnya. Dataran puncak menyambut dengan hening. Ripto tampak sedang mengikat bendera Merah Putih di tongkat skinya.

Begitu melihat saya tiba, ia langsung berbalik. Kami bersalaman dan berpelukan dalam haru. Kami gembira, tetapi sekilas saya sempat melihat mata Ripto berair. Air matanya jatuh di puncak Aconcagua ketika mengenang kedua sahabat kami.

MATRA, April 1993